BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Rahasia Hati


__ADS_3

Anna mendengus kesal. Gara-gara Devan paginya jadi berantakan. Dengan malas Anna keluar dari dalam mobilnya setelah sang sopir mengantarnya ke sekolahnya. Sekolah Anna dan Adit memang tak berjarak jauh. Hanya sekitar satu blok saja dan masih satu arah. Saat Anna memasuki ruang kelasnya tampak teman-temannya tengah heboh dengan foto yang diunggah oleh Sari di ponselnya. Tampak mereka sangat penasaran mengapa gadis itu bisa berfoto dengan idola mereka Devan secara pribadi. Sedangkan yang lainya hanya bisa berfoto secara berkelompok.


Ternyata Sari sengaja mengedit fotonya dengan menghilangkan wajah Anna sehingga yang terlihat jika dia hanya foto berdua dengan Devan. Tentu saja hal ini membuat banyak siswi yang merasa iri dengan Sari. Meski begitu mereka tidak bisa berbuat banyak karena itu memang sudah keberuntungan Sari.


"Maafkan aku Ann..." ucap Sari saat keduanya hanya berdua di dalam kelas saat jam istirahat.


"Kenapa?"


"Itu... aku mengedit foto kita agar yang terlihat cuma aku dengan kak Devan..." terang Sari.


"Oh..."


"Kamu ga marah?"


"Kenapa aku harus marah? kan kamu yang ngefans sama dia bukan aku... jadi tidak masalah mau ada atau tidak wajah aku di foto itu..." sahut Anna tenang.


"Makasih Ann... sebenarnya aku melakukan itu agar bisa memamerkannya sama anak-anak..." ungkap Sari yang sepertinya ingin mendapatkan perhatian dari teman sekelas lainnya.


"Iya... ga pa-pa..." sahut Anna dan mereka pun keluar menuju kantin.


Sepulang sekolah Anna langsung pulang ke rumahnya dengan Adit. Adiknya itu sudah dijemput terlebih dahulu oleh sang sopir. Untung saja dalam perjalanan pulang Adit tidak lagi menggodanya tentang Devan membuat Anna merasa tenang. Saat keduanya sampai di rumah tampak Ara sudah terlihat rapi begitu juga dengan mama mereka.


"Mama sama Ara mau kemana?" tanya Adit penasaran.


"Mama mau ke rumah bunda kalian... soalnya tadi pagi Om Raja datang dari New York..." terang nyonya Sarah.


"Kalau begitu Adit ikut ya ma..."


"Iya... sana ganti baju saja dulu!" kata nyonya Sarah sambil menggelengkan kepalanya melihat antusias Adit yang ingin bertemu dengan Raja.


Memang selain dekat dengan ketiga anak-anak Amira, Raja juga dekat dengan ketiga anak-anaknya.


"Anna apa mau ikut juga?" tawar nyonya Sarah saat melihat putrinya itu sedari tadi diam saja.


"Tidak ma... hari ini aku sudah ada janji dengan Sari... kami ingin pergi ke toko buku..." sahut Anna memberi alasan.


"Ya sudah... apa nanti Sari akan menjemputmu atau..."


"Kami akan bertemu di toko buku ma..."


"Kalau begitu kamu diantar oleh pak sopir saja setelah dia mengantar kami ya..." kata nyonya Sarah.


Anna hanya mengangguk mengiyakan perkataan mamanya. Kemudian gadis itu langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Sementara nyonya Sarah dan kedua putra putrinya yang lain langsung pergi ke rumah Amira. Di dalam kamarnya Anna tampak termenung. Sebenarnya ia tak memiliki janji apa pun dengan Sari. Ia hanya memberi alasan pada mamanya agar ia tidak perlu ikut ke rumah Amira. Bukan tanpa sebab Anna enggan ke rumah bundanya itu. Kehadiran pria itu yang selama ini mengisi hatinya dan telah membuatnya tak pernah tertarik dengan pemuda sebayanya itulah yang menjadi alasannya.


Om Raja...


Entah sejak kapan nama pria itu mulai mengisi hatinya. Yang Anna tahu sejak pria itu membantunya dan sering mengantar jemput dirinya saat latihan karate membuat hatinya yang kala itu masih berusia 12 tahun mulai merasakan suka pada pria yang selalu dipanggilnya dengan Om itu. Dan seiring dengan berjalannya waktu rasa itu semakin besar hingga saat ia berusia 15 tahun ia baru menyadari arti dari rasa yang selama ini ia simpan dalam hatinya.


Cinta...


Ya cinta... ia baru menyadarinya...


Tapi ia juga menyadari jika apa yang tengah ia rasakan adalah suatu hal yang mustahil. Meski Raja hanya kakak angkat Amira namun ia sudah seperti keluarga. Ditambah lagi perbedaan usia mereka yang terlampau jauh yaitu 23 tahun membuat Anna harus menelan pil pahit. Cinta pertamanya harus pupus sebelum berkembang. Bahkan sebelum ia bisa mengungkapkannya pada Raja. Karena itulah sejak dua tahun yang lalu ia selalu menghindar jika bertemu dengan Raja. Bukan karena ia membencinya tapi karena Anna menyadari jika ia belum bisa menghapus perasaannya pada pria itu yang ia anggap terlarang.


Anna menghembuskan nafasnya pelan. Saat itulah terdengar ponselnya berdering. Ketika Anna mengangkatnya ternyata Sari yang bersuara diseberang sana.

__ADS_1


"Halo Sar... ada apa?" tanya Anna dengan suara berat.


"Hemm... Ann... aku bisa minta tolong?"


"Apa?"


"Aku baru saja mendapat undangan ke pesta peluncuran film terbaru kak Dave... apa kau mau menemaniku?"


Anna menghembuskan nafasnya pelan sebelum menjawab permintaan Sari.


"Kapan?"


"Sore ini..."


"Kenapa kau tidak bilang tadi di sekolah?" tanya Anna gemas.


"Maaf... tapi aku juga baru mendapatkan undangannya dari kak Devan langsung" terang Sari.


"Dia menelfonmu?" tanya Anna penasaran.


"Hemmm... iya..." sahut Sari malu-malu.


"Baiklah... kalau begitu aku akan bersiap... kita bertemu di toko buku saja..." kata Anna akhirnya.


"Yey! terima kasih Ann... kamu memang selalu yang terbaik!" seru Sari.


"Ya sudah... aku tutup dulu telfonnya..." sahut Anna.


Setelah memutuskan sambungan ponselnya dengan Sari, Anna pun segera mengganti pakaiannya dan memoles wajahnya dengan riasan tipis agar terlihat lebih segar. Setelah selesai ia pun segera keluar dari dalam kamar dan menunggu sopir yang akan mengantarnya.


Entah apakah yang lainnya menyadarinya atau tidak. Tapi Raja dapat merasakan jika gadis kecil itu tengah menjaga jarak dengannya. Bahkan beberapa kali gadis kecil itu tidak ikut dengan saudaranya yang lain saat berlibur di New York di rumahnya. Memang saat itu ada alasan kuat mengapa gadis kecil itu tidak bisa ikut ke New York. Namun saat ia berkunjung ke Indo pun gadis itu lebih sering menghindar dengan tidak ikut ke rumah Amira. Seperti kali ini... total sudah dua tahun ia tak pernah lagi melihat gadis itu secara langsung.


Jujur ia juga sangat merindukan gadis kecil itu. Sifatnya yang tenang dan sedikit bar-bar saat dipertandingan membuat Raja seperti melihat Amira dalam versi mungil. Wajahnya yang cantik dan garis wajah bule membuatnya seperti boneka barbie dalam versi manusia. Ah... kenapa ia kini malah membayangkan wajah gadis kecil itu...


Raja mengusak rambutnya dengan kasar. Apa dia sudah mulai gila? membayangkan Anna seperti ini? ingat Raja... dia adalah keponakan Amira... dan itu berarti dia juga keponakanmu! bisik suara dalam hati Raja. Membuat pria itu semakin gusar.


"Jangan katakan jika aku mulai tertarik pada gadis kecil itu! tidak... aku bukan seorang pedofil!" seru Raja dalam hati dengan frustasi.


"Kakak kenapa?" tanya Amira tiba-tiba membuat Raja terkejut dan tersadar dari lamunannya.


"Ah... hemm... tidak apa-apa..." sahut Raja bingung.


"Oh iya kak... ayo makan malam bersama... semua sudah menunggu kakak di meja makan..." ucap Amira.


Raja pun mengangguk dan mengikuti langkah Amira menuju meja makan. Lagi... Anna tidak terlihat di meja makan bersama mereka. Padahal papanya tuan Bram pun juga ikut makan malam bersama. Ingin rasanya Raja menanyakan keberadaan gadis itu pada nyonya Sarah... namun entah mengapa bibirnya menjadi kelu.


"Ma kenapa kakak tidak menyusul kita kemari untuk makan malam?" tanya Ara yang seolah mewakili perasaan Raja saat ini.


"Hemm... kakakmu sedang menemani temannya ke pesta..." sahut nyonya Sarah.


"Pesta? bukannya Anna tidak suka dengan hal-hal seperti itu kak?" tanya Amira yang tahu tentang sifat Anna.


"Iya... tapi tadi temannya Sari minta ditemani Anna untuk pergi ke pesta premier film terbaru Devan... dan kau tahu kan... Anna tak pernah bisa menolak permintaan temannya yang satu itu..." terang nyonya Sarah.


"Kenapa mama ga bilang kalau kak Anna pergi ke pesta kak Devan? kan Ara mau ikut..." rajuk Ara yang juga fans Devan.

__ADS_1


"Hei itu pesta orang dewasa Ara!" seru Dira pada sepupunya itu.


"Tapi kak Anna kan juga belum dewasa..." sahut Ara yang masih tidak terima kakaknya yang bukan fans Devan bisa ikut datang ke pesta aktor idolanya itu.


"Dia sudah 17 tahun Ara... itu artinya sebentar lagi dia sudah dewasa..." timpal Sahir yang gemas dengan tingkah Ara.


"Sudah-sudah... jangan ribut dimeja makan... lagi pula kakak kalian hanya mengantar dan tidak akan berlama-lama disana..." kata nyonya Sarah menghentikan perdebatan para bocah di meja makan.


Mereka pun kembali melanjutkan makan malam mereka. Sementara Anna yang kini sudah berada di tempat pesta setelah tadi para tamu undangan diajak menonton film terbaru Devan terlebih dahulu tampak sudah merasa tidak nyaman. Gadis itu sudah sedari tadi ingin segera pulang setelah selesai menonton film Devan.


"Sari kita pulang sekarang yuk!" ajak Anna pada Sari yang sedari tadi sibuk mencari Devan.


"Sebentar Anna... kita pamitan dulu dengan kak Devan... setidaknya dia tahu kalau kita sudah datang kemari memenuhi undangannya..." ujar Sari.


"Baiklah..." sahut Anna pasrah.


Gadis itu pun lalu ikut mengedarkan pandangannya untuk mencari Devan agar bisa segera berpamitan pulang. Tak lama orang yang mereka cari justru datang menghampiri keduanya.


"Hai... terima kasih kalian berdua sudah mau datang memenuhi undanganku..." ucap Devan sambil terus menatap Anna.


"Kami yang seharusnya berterima kasih pada kak Devan... sudah mengundang kami ke acara seperti ini..." sahut Sari dengan wajah merona.


Bisa dilihat jika gadis itu benar-benar terpesona pada Devan dan mungkin saja ia kini mengharapkan lebih dari perhatian Devan padanya.


"Kenapa kau terlihat tidak tenang Ann?" tanya Devan yang sedari tadi memperhatikan jika Anna yang terlihat agak gelisah.


Sari terkejut dengan ucapan Devan yang terlihat memberi perhatian pada Anna. Seketika gadis itu menoleh kearah Anna. Anna yang merasa jika tatapan Sari sedikit berbeda padanya pun merasa tidak enak.


"Ga pa-pa... aku hanya kurang nyaman berada di sini" ungkap Anna.


"Ayo Sar... kita pulang!" ajak Anna pada temannya itu.


Sari membelalakkan matanya seolah meminta Anna untuk mau tinggal sedikit lebih lama. Tapi Anna tidak lagi perduli karena ia benar-benar sudah ingin pulang.


"Kalau kalian ingin pulang sekarang biar asistenku yang akan mengantarkan kalian... kalian tidak diantar oleh sopirkan?" tanya Devan.


"Tidak"


"Iya"


Jawab Sari dan Anna bersamaan. Devan memandang kedua gadis itu secara bergantian.


"Maksudnya tadi kami kemari diantar oleh sopir keluarga saya kak... tapi kemudian dia langsung pulang karena harus mengantar mamaku ke pesta pernikahan anak temannya..." terang Sari gugup.


"O... lalu kalian pulang naik apa?"


"Taksi" jawab Anna cepat.


"Lebih baik kalian diantar asistenku saja..." ucap Devan.


"Iya kak..." sahut Sari cepat.


"Kalau begitu sebentar..." kata Devan lalu ia memanggil salah satu asistennya untuk mengantar Anna dan Sari pulang.


Setelah mengucapkan terima kasih keduanya pun pergi diantar oleh asisten Devan. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil yang di tunjuk oleh asisten Devan. Namun saat sang asisten hendak masuk ke kursi kemudi tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dan menyuruh pria itu untuk kembali ke dalam karena orang itu yang akan menggantikannya mengantarkan kedua gadis itu. Kedua gadis yang ada sudah berada di dalam mobil tidak menyadari jika yang mengantarkan mereka bukanlah asisten Devan.

__ADS_1


__ADS_2