
Tuan Sam menggengam tangan Amira dengan erat seolah tak ingin kehilangan Amira lagi. Dan meski Amira belum mengenali tuan Sam namun ia tak menolak perlakuan tuan Sam padanya.
"Apa benar kau Db?" tanya Amira.
Tuan Sam menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan Amira.
"Kau tahu... nama itu kau yang memberikannya padaku Meyaa..." terang tuan Sam.
"Benarkah? kenapa aku memberimu nama seperti itu?" tanya Amira.
"Karena itu kependekan dari Dilbar... yang artinya kekasih... karena itulah kau memanggilku dengan nama itu..." terang tuan Sam.
"Kalau begitu siapa namamu sebenarnya?"
"Sam... Samudra... itu namaku"
"Lalu Meyaa..."
"Meyaa itu nama yang kuberikan padamu... karena kau memanggilku Db..." sahut tuan Sam.
"Singkatan dari Mere Yaara yang artinya kekasihku..." sambung tuan Sam.
"Lalu nama asliku?"
"Amira... itu namamu" sahut tuan Sam.
"Apa kita sudah menikah?" tanya Amira yang sebenarnya cemas dengan statusnya karena kini ia sedang mengandung.
"Ya... kita sudah menikah... bahkan kita juga sudah mempunyai dua orang putra..." jawab tuan Sam sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Amira tak menyangka jika kehamilannya kali ini merupakan kehamilan calon anaknya yang ketiga.
"Iya... kita sudah punya dua putra kembar sebelumnya..." terang tuan Sam sambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
Dibukanya galeri pada ponselnya dan ditunjukkannya foto-foto pernikahannya dengan Amira dulu... kehamilan dan kelahiran kedua putra kembar mereka hingga foto terakhir keluarga kecil mereka saat berlibur bersama dan menaiki London Eye. Melihat foto-foto yang ditunjukkan oleh tuan Sam membuat sudut mata Amira menggenang. Bagaimana bisa ia melupakan begitu banyak kenangannya bersama keluarga kecilnya. Terutama pada kedua bocah tampan yang memiliki wajah yang sama itu. Juga pria yang kini berada di hadapannya... yang merupakan suaminya.
"Orangtuaku?"
"Mereka sudah meninggal saat kau baru lulus SMU... jadi aku tidak sempat mengenal mereka..." terang tuan Sam.
Amira menundukkan kepalanya menahan gejolak didadanya. Otaknya seketika berusaha membuka ingatan yang kini terlupakan hingga membuat kepala Amira terasa sangat sakit. Amira pun memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Aaarrrgghh...." serunya sambil menahan sakit.
"Kau kenapa Meyaa?" tanya tuan Sam panik saat melihat Amira memegangi kepalanya sambil meringis menahan sakit.
Lukas yang sedari tadi hanya memperhatikan keduanya dari pintu kamar pun langsung memanggil dokter yang merawat Amira. Tak lama dokter dan perawat datang untuk memberikan pertolongan pada Amira. Setelah mendapatkan suntikan penenang akhirnya Amira pun tertidur.
"Apa yang terjadi pada istri saya dok? kenapa tiba-tiba dia seperti ini?" tanya tuan Sam setelah dokter selesai menangani Amira.
"Sepertinya istri anda memaksakan dirinya untuk mengingat masa lalunya sehingga membuat kepalanya sakit... maka dari itu saya harap agar tuan bisa menjaganya agar tidak terlalu memaksakan dirinya untuk mengingat masa lalunya... biarkan semua berjalan mengalir apa adanya apa lagi saat ini istri anda tengah hamil" terang sang dokter.
Tuan Sam mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak menyangka jika masalahnya menjadi semakin rumit.
__ADS_1
"Apa istri saya bisa saya bawa pulang dokter? mungkin dengan begitu ia bisa mengingat semuanya tanpa merasa tertekan..." tanya tuan Sam.
"Mungkin besok kami baru bisa mengizinkannya pulang tuan... biar malam ini ia dirawat dulu disini..." kata sang dokter.
"Baiklah dokter... terima kasih..." ucap tuan Sam.
Kemudian dokter pun pamit untuk kembali ke ruangannya.
"Lukas... lebih baik kau kembali ke hotel saja sekarang dan temani anak-anak bersama Lusi... biar aku disini menemani istriku" titah tuan Sam saat dokter sudah meninggalkan ruang perawatan Amira.
"Baik tuan..." sahut Lukas lalu ia pun segera keluar dari sana untuk kembali ke hotel.
Sementara tuan Sam masih setia duduk di samping brankar Amira sambil menggenggam tangan istrinya. Lukas yang sudah sampai di kamar hotel tuan Sam langsung mendapati Lusi yang tengah menidurkan Samir dan Sahir.
"Apa mereka berdua sudah tidur?" tanya Lukas pelan namun masih terdengar oleh Lusi.
"Baru saja..." sahut Lusi juga pelan sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah menunggu beberapa saat untuk meyakinkan jika kedua bocah itu sudah benar-benar terlelap keduanya pun kemudian berpindah duduk di sofa agar tidak mengganggu kedua bocah itu tidur.
"Bagaimana?" tanya Lusi yang sudah tidak sabar saat keduanya sudah duduk di sofa.
"Syukurlah... ternyata benar nyonya Amira ada disana dan dia baik-baik saja... bahkan ternyata dia sekarang sedang hamil muda" kata Lukas.
"Syukurlah..." ucap Lusi yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Tapi nyonya sekarang kehilangan ingatannya meski tidak permanen..." tambah Lukas.
"Apa? nyonya Amira kehilangan ingatannya? tapi bagaimana bisa?" tanya Lusi yang terkejut dengan penuturan Lukas.
"Lalu bagaimana dengan perempuan itu? Kartika... apa kau tidak mencurigainya?"
"Maksud kamu?" tanya Lukas tak mengerti.
"Ya... apa kau tidak curiga jika perempuan itu mungkin saja sudah berbohong pada kalian?"
"Aku juga sudah mencurigainya Lus... tapi aku belum sempat menyelidikinya lebih lanjut karena fokus mencari keberadaan nyonya Amira..." kata Lukas.
"Tapi sekarang kau sudah bisa menyelidikinya kan? secara nyonya Amira sudah ditemukan dan dia selamat meski pun amnesia" cecar Lusi yang tak ingin kekasihnya melakukan kesalahan sebab sudah sejak lama ia curiga pada perempuan bernama Kartika itu.
"Kau benar... aku memang harus segera memastikan apa alasan sebenarnya perempuan itu berbohong pada kami saat mengatakan alasannya mendapatkan cincin nyonya Amira... sebab tadi aku bertemu salah satu orang yang menemukan keduanya pertama kali dan berkata jika posisi keduanya berdekatan dan masih dalam satu ruangan" sahut Lukas.
"Jadi dia benar membohongi kalian?"
Lukas menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu jangan lupa... kau juga harus selidiki siapa saja orang yang dekat dengannya terutama kekasihnya..." sambung Lusi.
"Iya... aku tahu... aku juga menyesal kenapa aku dulu ceroboh hanya mengandalkan informasi data dari tempatnya bekerja dan tidak menyelidiki pergaulan perempuan itu selama di London..." aku Lukas.
"Sudahlah... tak perlu menyesal dan menyalahkan dirimu sendiri Luk... tapi kali ini kau juga harus memberitahu pada tuan Sam tentang semua kecurigaanmu itu meski pun kita belum memiliki bukti kuat... setidaknya biar tuan Sam lebih waspada pada perempuan itu terutama jika berada didekat nyonya Amira..." nasehat Lusi.
"Baiklah... akan kuhubungi tuan Sam sekarang..." ujar Lukas yang langsung menghubungi tuan Sam.
__ADS_1
Tuan Sam yang baru saja tertidur terbangun saat getaran ponselnya mengganggunya. Dengan sedikit malas tuan Sam pun mengangkatnya.
"Tuan..." terdengar suara Lukas diseberang sana saat tuan Sam menjawab telfonnya.
"Ada apa Lukas?" tanya tuan Sam yang sedikit heran asistennya itu menelfonnya padahal mereka baru saja berpisah.
Lukas pun lalu menjelaskan tentang semua kecurigaannya dan Lusi pada Kartika karena saat ia tadi bertanya pada salah satu anggota tim penyelamat yang menolong Amira saat bertemu di rumah sakit ia mendapatkan fakta jika posisi Amira dan Kartika berdekatan dan bukan di area tangga namun di ruangan sebuah apartemen yang sudah kosong ditinggalkan penghuninya menyelamatkan diri saat pengeboman terjadi. Itu berarti jika perempuan itu sengaja berbohong dan menutupi keadaan Amira.
"Dasar j*l**g! berani sekali dia berbohong dan mencuri cincin istriku!" kata tuan Sam geram.
Jika saja Lukas tidak langsung mengingatkanya agar tidak bertindak gegabah demi mengetahui motif Kartika berbohong maka saat ini juga dia pasti sudah mendatangi perempuan itu dan langsung membuat perhitungan dengannya.
"Kau selidikilah dengan baik Lukas... aku mengandalkanmu... dan jangan lupa besok aku ingin tur melihat rumah itu tetap dilaksanakan... kau ajak saja Samir dan Sahir kemari untuk ikut menjemput istriku setelah itu kami akan melihat rumah itu bersama-sama..." kata tuan Sam.
Lukas pun mengiyakan perintah tuannya lalu tuan Sam pun menutup telfonnya. Dipandanginya wajah Amira yang tampak damai saat tertidur.
"Maafkan aku Meyaa... aku terlalu sibuk hingga aku lalai dalam menjagamu..." ucap tuan Sam lirih sambil mengecup pelan telapak tangan Amira.
Tak lama pria itu pun kembali tertidur disamping Amira dalam posisi duduk dengan kepala menyandar dibrankar Amira. Serta tangannya tak lepas menggenggam tangan Amira. Baru kali ini ia bisa tertidur pulas meski dalam posisi tidak nyaman setelah berhari-hari ia tidak bisa tidur dan hanya bisa memejamkan matanya sejenak saat Amira belum ditemukan.
Lewat tengah malam Amira terbangun karena merasa haus dan ia terkejut saat melihat tuan Sam tertidur dalam posisi duduk dengan kepala tertelungkup disampingnya. Seketika timbul rasa iba dan rasa bersalah pada pria itu karena ia belum juga mengingatnya.
"Maafkan aku karena belum bisa mengingatmu dan keluarga kecil kita Db..." ucap Amira lirih.
Ia pun memberanikan dirinya untuk menyentuh ujung rambut tuan Sam dan membelainya perlahan. Saat itulah ia merasakan hatinya berdesir seakan tubuhnya mengingat pernah melakukan hal itu sebelumnya.
"Apa aku sering melakukan hal ini padamu dulu?" gumam Amira masih setia mengusap perlahan puncak kepala tuan Sam.
"Kenapa hatiku merasa nyaman jika berdekatan dengannya? apa ini yang dikatakan ikatan batin? jika benar aku mohon ya Allah... bukalah ingatanku padanya... sesungguhnya saat menatap wajahnya saja aku sudah merasa bahagia" batin Amira.
Tanpa Amira sadari jika perbuatannya membuat tuan Sam terbangun. Namun pria itu enggan membuka matanya sebab ia tak ingin Amira menghentikan kegiatannya. Sentuhan Amira padanya merupakan obat bagi rasa resahnya setelah beberapa hari frustasi mencari keberadaan Amira. Setelah puas membelai kepala suaminya Amira pun bergeser hendak mengambil gelas minuman yang ada diatas nakas. Gerakannya itu seketika membuat tuan Sam mendongak mencaritahu apa yang ingin dilakukan istrinya itu.
"Kau mau apa?" tanya tuan Sam.
"Emm... aku haus..." ujar Amira pelan.
"Baiklah akan aku ambilkan..." kata tuan Sam yang langsung mengambilkan gelas minuman untuk Amira.
Setelah meminum air yang diambilkan oleh tuan Sam, Amira mengucapkan terima kasih pada suaminya itu. Saat tuan Sam hendak kembali merebahkan kepalanya diatas brankar Amira melarangnya.
"Jangan tidur seperti itu... sini... berbaringlah disini!" kata Amira sambil menggeser tubuhnya dan menepuk sisi kosong disebelahnya.
Tuan Sam menatap Amira tak percaya jika istrinya itu menyuruhnya untuk berbaring disampingnya.
"Kenapa? bukannya kita suami istri?" tanya Amira yang melihat tuan Sam yang hanya terdiam.
"I..iya..." sahut tuan Sam terbata.
"Tapi apa kau tidak merasa keberatan?" tanya tuan Sam ragu.
"Tentu saja tidak... karena kau suamiku meski pun aku belum mengingatmu... tapi jujur hatiku sudah merasa nyaman didekatmu... mungkin juga ini bawaan bayi yang ada didalam kandunganku ini..." ucap Amira dengan wajah yang merona saat mengungkapkan perasaan hatinya.
Tuan Sam tersenyum bahagia. Meski Amira belum mengingatnya dan semua kenangan mereka berdua setidaknya seperti yang dikatakan Amira bahwa hati dan tubuhnya masih bisa mengingatnya. Tuan Sam pun langsung naik keatas brankar Amira dan langsung berbaring disamping wanita itu. Tanpa diduga Amira langsung menyusupkan kepalanya di dada tuan Sam dan langsung tertidur.
__ADS_1
Sepertinya detak jantung tuan Sam sudah seperti nyanyian nina bobo bagi ibu hamil itu. Terbukti dalam waktu singkat ia langsung tertidur nyaman di dada tuan Sam. Tuan Sam pun tidak menyia-nyiakan hal itu, ia juga langsung memeluk tubuh istrinya yang sudah lama ia rindukan dan langsung ikut memejamkan matanya. Dan malam ini untuk pertama kalinya keduanya bisa kembali tidur berdampingan lagi setelah sekian lama.