BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Menyusul


__ADS_3

Tuan Bram terbangun dari tidurnya saat mendengar suara dari dalam kamar mandi dikamarnya. Dengan perlahan dibukanya matanya dan saat ia menoleh tak tampak nyonya sarah disampingnya. Dan saat ia melihat kearah kamar mandi terlihat pintu kamar mandi sedikit terbuka dan tampak seseorang sedang berada didalamnya. Segera tuan Bram bangun dan menghampirinya. Ia sudah dapat menduga jika itu istrinya. Namun saat mendekat ia dapat mendengar suara isakan istrinya itu. Dengan panik ia segera membuka lebar pintu kamar mandi dan memeriksanya.


"Kau kenapa sayang?" ucapnya saat melihat nyonya Sarah berdiri terisak di depan kaca wastafel.


Nyonya Sarah berbalik kearah suaminya namun isakannya malah berubah menjadi tangisan yang membuat tuan Bram semakin panik.


"Katakan padaku apa yang sudah membuatmu menangis seperti ini?" tanya tuan Bram sambil memegang pundak istrinya.


Dengan perlahan nyonya Sarah menurunkan tangan tuan Bram dari pundaknya lalu ia pun mengambil sesuatu dari atas meja wastafel dan meletakkannya diatas telapak tangan tuan Bram. Tuan Bram pun terkejut saat melihat benda yang ada ditangannya. Apalagi saat melihat dua garis yang terpampang jelas disana.


"Kau...?" ucap tuan Bram memandang wajah istrinya.


Nyonya Sarah mengangguk. Tuan Bram langsung menciumi wajah istrinya itu lalu memeluk tubuh nyonya Sarah dengan bahagia. Bahkan kini ia juga ikut meneteskan air mata.


"Aku merasa sangat bahagia sayang" bisiknya di telinga nyonya Sarah.


Nyonya Sarah hanya bisa mengangguk karena masih merasa tak percaya jika ia kembali hamil.


"Kita kembali ke kamar ya..." ucap tuan Bram lalu menggendong ala brydal style istrinya itu menuju tempat tidur.


Sampai disana dibaringkannya nyonya Sarah kemudian ia pun ikut berbaring disamping istrinya itu. Dipandanginya wajah istrinya yang terlihat sedikit sembab sehabis menangis.


"Kau jangan menangis lagi... tidak baik untuk calon anak kita" ucapnya sambil mengelus kepala nyonya Sarah lembut.


"Aku hanya terlalu bahagia mas.... Allah kembali memberi kepercayaan kepada kita" sahut nyonya Sarah yang menyusup ke dalam dada suaminya.


"Aku tahu..." kata tuan Bram sambil memeluk tubuh nyonya Sarah.


"Kapan kau merasa curiga jika kau hamil?" tanya tuan Bram masih memeluk istrinya itu.


"Bukan aku mas... tapi Amira... dia bahkan yang membelikan test pack itu siang tadi" tutur nyonya Sarah.


"Amira?". Nyonya Sarah mengangguk.


"Ternyata gadis itu jeli juga..." kata tuan Bram.


Nyonya Sarah pun mengiyakan ucapan suaminya itu.


"Kalau begitu mungkinkah Amira dan kak Sam menginap malam ini untuk memastikan dugaannya?" tanya tuan Bram.


"Mungkin saja mas..." sahut nyonya Sarah.


"Kalau begitu dia pasti senang karena dugaannya benar" sambung tuan Bram.


Nyonya Sarah pun mengangguk sambil tersenyum. Tuan Bram kembali mengelus perut rata istrinya dengan lembut. Saat ini rasanya kebahagiaannya bertambah berkali lipat karena kehamilan istrinya itu. Setelah hampir saja rumah tangganya hancur karena kebodohannya. Untung saja ia memiliki istri seperti nyonya Sarah yang masih mau memaafkan kesalahannya dan mau menerimanya kembali. Jika tidak entah apa yang akan ia alami sekarang. Mungkin saja ia akan kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya yaitu keluarga.


Terdengar suara adzan subuh yang kali ini terdengar lebih merdu ditelinga tuan Bram karena baru mendapatkan kebahagiaan yang besar. Dituntunnya nyonya Sarah ke kamar mandi untuk bergantian mengambil air wudhu. Keduanya kemudian melaksanakan sholat berjamaah. Keduanya mengucap banyak syukur telah dapat melalui ujian berat dalam perkawinan mereka dan kini akan mendapatkan buah hati kembali. Semoga saja kehadirannya dapat mempererat hubungan keduanya dan menambah keramaian di rumah mereka. Do'a itulah yang kini keduanya panjatkan.


Sedangkan di kamar tuan Sam tampak Amira yang tengah berusaha untuk membangunkan suaminya. Walau sudah berkali-kali ia mencoba tapi tetap saja tuan Sam tak mau bangun yang membuat Amira menjadi kesal. Akhirnya sebagai usaha terakhir wanita itu pun memencet hidung bangir suaminya itu hingga pria itu tersentak karena tak bisa bernafas.

__ADS_1


"Kau ingin melihatku kehabisan nafas?" sungut tuan Sam dengan wajah memerah begitu juga dengan hidungnya yang tadi terlalu kencang dipencet oleh Amira.


Amira hanya terkikik... puas melihat wajah suaminya yang memerah.


"Salah sendiri dari tadi dibangunin lembut ga mempan...." sahut Amira.


"Kau ini memang ga ada manis-manisnya membangunkan suami".


"Dari tadi udah aku bangunin dengan manis tapi ga bangun juga makanya sekarang pakai yang pahit ... langsung bangunkan?" ucap Amira tak mau kalah.


"Kau..."


Tuan Sam tak jadi melanjutkan kalimatnya karena percuma saja ia tak akan pernah menang jika melawan Amira. Akhirnya dengan wajah ditekuk tuan Sam pun melangkahkan kakinya untuk mengambil air wudhu. Sementara Amira segera menyiapkan peralatan sholat mereka.


Selesai melaksanakan ibadahnya keduanya langsung keluar dari dalam kamar. Amira segera menuju ke dapur untuk membuatkan kopi yang biasa diminum oleh tuan Sam setiap pagi. Sedang tuan Sam memilih untuk berolah raga di halaman belakang. Setelah meletakkan kopi untuk tuan Sam di meja yang ada di teras belakang Amira pun ikut membantu bik Marni membuat sarapan.


Saat semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk sarapan pagi, tuan Bram terlebih dahulu memberikan pengumuman tentang kehamilan nyonya Sarah. Amira tampak sangat senang hingga langsung memeluk iparnya itu. Begitu juga dengan Anna dan Adit yang ikut memeluk mama mereka. Tuan Sam pun tampak bahagia dengan kabar kehamilan adiknya itu.


"Kau sangat beruntung Bram" ucapnya.


Tuan Bram mengangguk setuju dengan ucapan kakak iparnya itu. Tampak wajah lelaki itu terharu dengan kebahagiaan yang ia dapatkan.


"Kali ini jangan sampai kau mengecewakan kami lagi" sambung Tuan Sam.


"Iya kak... aku berjanji" sahut tuan Bram mantap.


Sudah dua bulan usia kandungan nyonya Sarah dan selama itu ia sering kali mengidam yang membuat repot tuan Bram dan tuan Sam. Bahkan Lukas pun ikut jadi korban ngidam nyonya Sarah yang kadang aneh. Jika tuan Bram tampak tak keberatan melakukan semua keinginan istrinya itu maka lain halnya dengan tuan Sam apalagi Lukas yang masih jomblo. Kedua pria itu tampak sering kali tersungut-sungut saat memenuhi permintaan ngidam nyonya Sarah. Namun apa daya keduanya tak mungkin menolak permintaan ibu hamil itu apalagi jika ia sudah mengeluarkan jurus andalannya yaitu menangis yang membuat para pria itu tak berkutik.


Sementara dengan Amira tampak nyonya Sarah malah memanjakannya dengan selalu mengajak Amira ikut menikmati semua jerih payah para pria dalam mencarikan hal yang diidamkan bumil itu. Dan tampaknya Amira pun sangat menikmatinya. Apalagi saat melihat wajah suaminya dan Lukas yang sering kali ditekuk saat nyonya Sarah meminta mereka memenuhi ngidamnya. Jarang-jarang ia melihat suaminya yang berwajah datar dan sering memerintah itu berada dalam posisi tak berdaya akibat ulah adiknya yang sedang ngidam.


Seperti kali ini sejak pagi nyonya Sarah sudah menghubungi kakaknya agar mau mengantarkan Amira ke rumahnya. Saat di tanya alasannya nyonya Sarah hanya menjawab jika ia ingin Amira menemaninya menonton drama korea kesukaannya. Saat tuan Sam hendak menolaknya Amira langsung memberi peringatan dengan tatapannya agar tuan Sam tak menolak permintaan adiknya itu.


"Kau kenapa sih selalu memilih dia dari pada aku suamimu sendiri!" sungut tuan Sam.


"Sabar B... itu kan kemauan bayinya... apa kau mau punya keponakan yang ileran?"


Tuan Sam hanya mendengus. Memang dia tidak akan pernah menang melawan dua wanita yang sangat dicintainya itu. Saat tuan Sam sedang berganti pakaian untuk ke kantor tiba-tiba Amira menutup hidungnya dan langsung mengomel pada tuan Sam.


"Kamu itu kenapa sih B... pakai parfum kok yang ga enak banget baunya..."


"Lho ini kan parfum yang biasa aku pakai Meyaa" sahut tuan Sam.


"Tapi baunya ga enak banget B.... aku jadi mual, kamu mandi lagi aja biar baunya hilang" kata Amira tak mau dibantah.


"Tapi Sarah sudah menunggu kita lho ..."


"Makanya kamu cepat mandinya ..."


Akhirnya tuan Sam pun pasrah dan langsung kembali mandi agar bau parfum yang dipakainya hilang.

__ADS_1


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian tampak Amira sangat puas karena suaminya sudah tak memakai parfum dan hanya tercium bau wangi sabun mandi dan shampo.


"Nah ini baru enak baunya B..." ujar Amira setelah mengendus tubuh suaminya memastikan jika tuan Sam tak memakai parfum lagi.


"Kau ini sudah seperti kucing saja"


"Biar saja yang penting mulai sekarang kamu ga boleh pakain parfum lagi" kata Amira.


"Tapi bagaimana kalau nanti badanku bau Meyaa?"


"Biar saja ... jadi ga akan ada perempuan yang mau dekat-dekat sama kamu"


Tuan Sam hanya bisa menghela nafasnya pelan. Entah mengapa hari ini tingkah istrinya itu berubah seratus delapan puluh derajat. Padahal biasanya Amira sangat cuek dengan apa yang di pakai oleh suaminya dan tak merasa cemburu hanya karena ia memakai parfum.


"Kamu kenapa sayang? apa ada masalah hingga tingkahmu aneh sekali hari ini" tanya tuan Sam lembut.


"Aku tidak ada masalah apa-apa B..."


"Ya sudah kalau begitu" ucap tuan Sam pasrah.


Keduanya pun lalu sarapan dan kemudian langsung ke rumah nyonya Sarah karena sejak tadi ia telah berkali-kali menghubungi tuan Sam dan menyuruhnya segera datang bersama Amira. Sesampainya di rumah nyonya Sarah tampak Anna dan Adit tengah bersiap berangkat sekolah di antar oleh tuan Bram.


Nyonya Sarah langsung memeluk Amira seperti sudah lama tak bertemu saja. Padahal hampir setiap hari Amira datang kesana. Bahkan Anna dan Adit sampai menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah mama mereka yang lebay.


"Ayo Ra... kita sarapan bareng ya..." ajaknya.


"Maaf kak ... tadi aku sudah sarapan dari rumah"


"Ya sudah ga pa-pa"


Tiba-tiba saat tuan Bram dan kedua anaknya hendak berpamitan pada nyonya Sarah, Amira langsung menutup hidung dan mulutnya dengan tangan


"Kak kenapa hari ini kak Bram bau sekali? aku jadi mual" ucap Amira lalu segera berlari ke kamar mandi.


"Ada apa dengannya?" tanya tuan Bram.


"Aku juga tidak tahu... sejak tadi dia tidak tahan mencium bau parfumku... dan sekarang bau parfummu..." kata tuan Sam lalu menyusul istrinya.


"Jangan-jangan...." ucap nyonya Sarah terkejut sambil menutup mulutnya.


Dengan sedikit berlari ia segera menyusul Amira dan tuan Sam ke kamar mandi. Dilihatnya Amira sedang berjongkok di depan kloset dan mengeluarkan isi perutnya. Sedang tuan Sam memijit tengkuk Amira pelan. Setelah merasa lega Amira pun berkumur dan membersihkan wajahnya yang sedikit sembab karena saat muntah tadi ia sampai memgeluarkan air mata. Tuan Sam dengan telaten memapah Amira untuk duduk di ruang makan. Nyonya Sarah segera menyuruh Artnya untuk membawakan air minum hangat untuk Amira. Setelah minum tampak Amira merasa lebih baik.


"Kak lebih baik sekarang kakak bawa Amira ke rumah sakit" kata nyonya Sarah.


"Ga usah kak... paling cuma masuk angin biasa" tolak Amira.


"Jangan menolak ...benar kata Sarah kita ke rumah sakit saja agar kamu diperiksa" kata tuan Sam yang tidak dapat dibantah oleh Amira.


--

__ADS_1


__ADS_2