BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Emosi Naya


__ADS_3

Meski awalnya canggung, namun akhirnya Sahir dan Ayana bisa berbincang dengan santai. Ternyata dibalik sifatnya yang dingin, Sahir memiliki sisi hangat yang baru saja Ayana lihat. Dan gadis itu pun langsung merasa nyaman didekatnya.


"Kapan kau akan kembali ke asrama?" tanya Sahir saat keduanya sampai di depan rumah Ayana.


"Besok siang kak..." sahut Ayana.


"Bolehkah jika aku yang mengantarmu ke asrama?"


"Hah?"


"Iya... besok aku tidak ada kegiatan... jadi, bolehkan jika aku mengantarmu?"


"I... iya... kak..." sahut Ayana terbata.


Sungguh saat ini Ayana tak menyangka jika dalam waktu singkat Sahir bisa berubah bersikap begitu lembut padanya. Gadis itu tak bisa menyembunyikan perasaannya yang menghangat karena perlakuan Sahir padanya. Wajahnya langsung saja merona saat Sahir berinisiatif untuk mengantarnya saat kembali ke asrama. Percakapan keduanya pun terhenti saat mereka sampai di depan rumah Ayana.


"Kakak tidak mau mampir dulu ke dalam?" tanya Ayana setelah ia membuka sabuk pengamannya.


"Mungkin lain kali saja Ay..." sahut Sahir sambil menyunggingkan senyumannya yang lagi-lagi membuat hati Ayana meleleh.


Ayana pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian ia pun membuka pintu mobil dan hendak keluar dari dalam mobil. Namun Sahir menahannya.


"Tunggu Ay..."


"Iya kak?"


"Boleh aku tahu nomor ponselmu?"


"I... iya... kak..." sahut Ayana lalu ia pun menyebutkan nomor ponselnya pada cowok itu.


Tak lama ponsel Ayana pun berbunyi.


"Yang barusan itu nomorku... kamu simpan ya..." pinta Sahir yang dijawab dengan anggukan oleh Ayana.


Setelah drama nomor ponsel, akhirnya Ayana pun bisa masuk ke dalam rumahnya. Sementara Sahir tidak langsung pergi sebelum memastikan Ayana benar-benar masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan Ayana masuk ke dalam rumah barulah pemuda itu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.


Sementara Ayana yang tengah berada di dalam kamarnya tampak tengah memandangi layar ponselnya. Terdapat panggilan terbaru dengan nomor asing disana. Dan ia tahu siapa pelakunya. Tapi ia masih ragu untuk memberi nama apa pada nomor asing itu. Apa nama si empunya ataukah nama panggilan lain? Ayana menggigit bibirnya dan dengan sedikit gemetar ia pun mengetikkan sesuatu disana...


"My Prince"


Ayana menyunggingkan senyumannya. Sedikit meruntuki keberaniannya menyebut Sahir sebagai Pangerannya. Tapi bukankah cowok itu tidak akan mengetahuinya? jadi tidak masalah bukan? batinnya berperang. Disaat ia tengah gundah tiba-tiba ponselnya justru berbunyi dan nama "My Prince" tertera di layar ponselnya. Gugup Ayana pun mengangkat panggilan dari Sahir itu.


"Ha... halo... assalamulaikum?"


"Waalaikum salam... kamu sedang apa Ay?"


"A... aku baru saja selesai bicara dengan oma kak... ada apa ya?" terpaksa Ayana berbohong.


"Hemmm... besok bisakan aku menjemputmu lebih awal?"


"Memang ada apa kak?" tanya Ayana khawatir.


"Bukan apa-apa... hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu sebelum kamu kembali ke asrama..." terang Sahir yang membuat Ayana langsung melambung.


Salahkah jika kini ia berharap lebih pada sikap Sahir padanya?


"Bagaimana?" tanya Sahir yang menyadarkan Ayana dari lamunannya.


"I... iya kak..." sahut Ayana terbata dengan wajah merona.


Seandainya saja Sahir ada di depannya pasti sudah bisa melihat wajah Ayana yang kini sudah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Jadi... bagaimana jika aku menjemputmu sebelum jam makan siang... jadi kita bisa makan siang bersama..." usul Sahir.


"Baik kak..." sahut Ayana yang membuat Sahir sangat bahagia.


"Baiklah kalau begitu besok aku akan menjemputmu di rumah..."


"Iya kak..."


Mereka pun berbincang sebentar sebelum akhirnya menutup ponselnya. Dan setelah itu keduanya sama-sama memasang wajah bahagia sambil memeluk ponsel di dalam kamar mereka masing-masing.


Keesokan harinya...


Pagi ini Bara sudah diizinkan untuk pulang. Karenanya sebelum pulang ia pun menyempatkan diri untuk menjenguk Sadira di ruang perawatannya. Keadaan Sadira pun semakin membaik membuat semua orang merasa positif jika tak lama lagi gadis itu juga sudah akan diperbolehkan pulang. Saat Bara sampai di ruang perawatan Sadira tampak gadis itu tengah ditemani oleh bundanya. Dengan ramah Amira menyambut kedatangan Bara dan kembali mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa Sadira.


Mereka berbincang ringan namun Bara harus menahan sikapnya karena ada Amira. Hingga saat Amira menerima telfon dan berbicara di luar ruang perawatan Sadira. Bara pun langsung menunjukkan perhatiannya pada gadis yang kemarin baru saja menjadi kekasihnya itu. Meski hanya sebentar, karena Amira tidak lama saat menerima telfonnya. Namun itu sudah cukup bagi keduanya untuk menunjukkan rasa sayang diantara keduanya. Bara tak bisa berlama-lama di ruang perawatan Sadira karena keluarganya sudah menjemputnya.


Beberapa hari berlalu...


Sadira sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit dan juga sudah mulai masuk sekolah. Hubungan Sahir dan Ayana pun semakin dekat. Bahkan kini keduanya sudah resmi jadian meski hanya Sadira yang mengetahuinya karena Ayana yang memberitahunya. Alasannya apa lagi kalau bukan karena usia Ayana yang masih sangat muda. Apa lagi Sahir tidak ingin jika adik kembarnya itu meledeknya. Meski begitu, tanpa diberitahu pun Samir sudah dapat menebaknya jika kakaknya yang ia sebut manusia es itu sudah berubah menghangat karena seorang gadis bernama Ayana. Namun ia berpura-pura tidak tahu saja agar si manusia es tidak murka.


Di sekolah, berita tentang Bara dan Sadira yang jadian pun cepat menyebar. Hal ini tentu saja membuat Naya sangat marah. Padahal semua orang tahu jika selama ini dia selalu saja berusaha untuk mendekati cowok itu dan bahkan dengan berani mengklaim cowok itu sebagai miliknya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! berani sekali cewek udik itu menggoda Bara..." gumam Naya geram di dalam kelasnya.


Para sahabatnya yang duduk didekatnya pun semakin mengompori gadis itu untuk membuat perhitungan dengan Sadira agar gadis itu tidak berani dekat dengan Bara. Hati Naya semakin terbakar akibat perkataan para sahabatnya itu. Dengan wajah penuh amarah, ia pun segera keluar dari dalam kelas untuk menemui Sadira sebelum bel pelajaran berbunyi. Ketiga temannya pun langsung mengikuti dari belakang. Di lorong sekolah terjadi kehebohan saat genk Naya lewat. Bagaimana tidak... mereka lewat seolah milik mereka hingga jika ada anak yang menurut mereka menghalangi akan segera mereka libas.


Para murid semakin heboh karena wajah Naya yang tampak emosi. Sehingga para murid secara diam-diam mengikuti kemana mereka pergi. Di kelasnya, Sadira tengah bercengkrama dengan teman sekelasnya saat dengan tiba-tiba Naya masuk dan menggebrak meja Sadira.


Braakk!


Sadira dan beberapa temannya tampak terkejut dengan aksi Naya yang bar-bar. Sementara itu di dalam kelasnya Bara dikejutkan dengan kedatangan Reno yang terlihat terengah-engah karena habis berlari.


"Gawaaat! Bara... gawaat!" teriak Reno begitu berada dihadapan Bara dan Rafa yang tengah berbincang.


"Gawaat... benar-benar gawat Bara... ini lebih menakutkan dari melihat hantu!"


"Hei! bilang yang jelas jangan cuman gawat-gawat saja dari tadi..." ujar Bara yang tidak sabar.


"Naya! Naya sepertinya akan melabrak pacarmu..." kata Reno masih dengan nafas terengah-engah.


"Apa!" seru Bara dan Rafa berbarengan.


Reno menganggukkan kepalanya tegas pertanda apa yang ia katakan tadi adalah benar. Bara langsung bangkit dari duduknya dan bergegas ke kelas Sadira. Meski ia tahu Sadira gadis yang kuat, namun ia tidak bisa membiarkan begitu saja seseorang yang ingin menyakiti gadisnya. Rafa pun langsung mengekor dibelakang Bara. Begitu juga dengan Reno setelah ia berhasil mengatur kembali nafasnya.


Sedangkan di kelas Sadira...


"Apa maksud kakak berbuat kacau seperti ini?" tanya Sadira yang tak mau emosi menghadapi Naya.


"Kau! berani sekali kau menantangku ya..."


"Maksud kakak apa?"


"Kau berani menggoda Bara!" teriak Naya sambil berusaha untuk menjambak rambut Sadira.


Namun Sadira langsung bergerak lincah menghindari gerakan tangan Naya yang mengincar rambutnya.


"Menggoda? buat apa aku menggoda kak Bara?" tanya Sadira dengan nada remeh.


"Tanpa aku goda pun dia sudah tergoda dengan sendirinya..." sambung Sadira sambil tersenyum sinis.


Inilah sebenarnya alasan dirinya tidak ingin ada yang tahu tentang hubungannya dengan Bara. Bukan apa-apa... rasanya sungguh memalukan jika harus berebut seorang pria. Apa lagi lawannya termasuk orang yang tidak beretika dan mengedepankan emosi seperti Naya. Dan ini ada di lingkungan sekolah. Sungguh ia tidak mau jika orangtuanya sampai dipanggil ke sekolah hanya gara-gara masalah ini.

__ADS_1


"Kau! dasar cewek murahan... pasti kau menggoda Bara saat kau pura-pura tersesat di hutan kan?" tuduh Naya yang membuat semua siswa saling berbisik.


Sadira yang sadar jika perkataan Naya bisa menghancurkan kepercayaan teman-temannya yang tulus mencemaskannya saat ia tersesat, tidak bisa tinggal diam.


"Untuk apa aku pura-pura tersesat hah? kalau pun iya... bagaimana aku bisa yakin jika yang akan menemukanku benar kak Bara atau bukan..." sanggah Sadira.


Para murid kembali berbisik membenarkan perkataan Sadira.


"Yang seharusnya dituduh menggoda itu kakak sendiri!" tunjuk Sadira pada Naya.


"Buat apa menggenakan pakaian seksi diatas pegunungan... bukankah itu aneh?" balik Sadira yang membuat para murid semakin mendukungnya.


Sedangkan Naya dan genk nya tampak tak bisa berkelit.


"Jadi sekarang katakan! siapa yang menggoda kak Bara sebenarnya?" sambung Sadira sambil menyedekapkan tangannya diatas dada.


Para murid pun mulai kembali berbisik, membuat suasana kelas menjadi berisik dan berdengung.


"Sudah... cukup! kalau bukan menggoda apa namanya jika kau jadian dengan Bara!" seru Naya tak mau kalah.


"Hei! kakak ini pura-pura bodoh... atau memang benar-benar bodoh? kalau kami jadian itu bukan berarti aku menggoda kak Bara... tapi bisa jadi dia yang sudah menggodaku lebih dulu... hingga aku jadi jatuh hati padanya" kata Sadira panjang lebar yang membuat Naya semakin emosi.


"Kau fikir Bara itu selevel denganmu... hingga dia mengodamu lebih dulu?"


"Jika itu kenyataannya... lalu kenapa? kakak marah? silahkan... tapi jangan padaku... sana ke kak Bara dan tanyakan kenapa dia lebih tertarik padaku dari pada kakak..." tantang Sadira.


"Kau benar-benar hama pengganggu!" seru Naya kembali melayangkan tangannya untuk menampar Sadira.


Namun tangannya langsung tertahan di udara akibat cekalan seseorang.


"Cukup Naya!" sentak Bara yang membuat Naya terkejut karena orang yang mencekal tangannya adalah Bara.


"Sejak kapan kau merasa memiliki aku? hingga berani-beraninya kau mengganggu kekasihku!" seru Bara yang membuat semua orang terpana dan reflek bertepuk tangan.


Bagaimana tidak... ini berarti Bara secara resmi mengakui Sadira sebagai kekasihnya didepan semua orang.


"Jangan mempermalukan dirimu sendiri karena tingkahmu yang arogan dan kekanak-kanakan... sekarang kembali ke kelasmu sendiri!" usir Bara pada Naya dan juga genk nya.


Tak bisa berkutik, Naya pun langsung meninggalkan kelas Sadira sambil menghentakkan kakinya tak terima dengan perlakuan Bara padanya. Anggota genk nya pun langsung mengikuti Naya keluar dari sana. Setelah kepergian Naya dan genk nya, Bara meminta Sadira untuk berbicara berdua mumpung masih ada waktu sebelum jam pelajaran dimulai. Tak ingin menambah keributan, Sadira pun menyetujuinya. Keduanya pun keluar dari kelas Sadira dan berbicara di lorong depan kelas.


"Benarkan apa yang aku takutkan terjadi? kakak sih... kenapa ga sembunyi-sembunyi aja dulu..." protes Sadira langsung sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Iya maaf... tapi bukannya hal ini malah bagus sayang... semua orang akhirnya tahu jika kita sepasang kekasih, dan tidak akan ada lagi cowok yang akan berani menginginkanmu untuk dijadikan kekasih karena mereka tahu jika kau adalah milikku..." sahut Bara dengan tenang.


"Iya... tapi aku malu... bagaimana jika ada yang melaporkan pada guru? kan nanti orangtuaku bisa tahu..." rengek Sadira sambil memukul dada Bara pelan.


"Tenang saja... itu tidak akan pernah terjadi, oke? sudah... sekarang masuklah ke kelas, sebentar lagi jam pelajaran sudah di mulai..." kata Bara sambil membetulkan anak rambut di dahi Sadira.


Sadira pun mengangguk pelan dan menuruti perkataan Bara dengan masuk ke dalam kelasnya.


"Cie... cie... yang udah jadian... ditunggu traktirannya dong..." seru teman sekelas Sadira saat gadis itu masuk ke dalam kelas.


"Ish... apaan sih kalian... kalau mau tratiran bilang aja... ga usah pakai acara alasan segala..." sungut Sadira namun dengan wajah memerah dan bibir yang tersenyum.


"Jadi bener nih... nanti istirahat kita ditraktir?" tanya temannya yang lain.


"Iya-iya... sudah nanti kalian tinggal pesan saja di kantin..." sahut Sadira yang langsung disambut dengan heboh oleh teman-teman sekelasnya.


"Kamu ga pa-pa kan Ra? maaf tadi aku ga berani untuk bela kamu didepan kak Naya..." ucap Hana penuh penyesalan.


"Ga pa-pa kok Han... lagi pula aku bisa mengatasinya sendiri kok... jangan khawatir..." ujar Sadira mencoba menenangkan Hana.

__ADS_1


Hana memang bukan gadis yang kuat seperti dirinya dan juga Ayana, namun Hana cukup setia kawan. Meski tak berani terang-terangan membelanya, tapi Sadira yakin jika Hana tetap akan membelanya meski sembunyi-sembunyi.


__ADS_2