
Kartika dibawa ke sebuah rumah sakit ternama yang terletak tak jauh dari lokasi apartemen yang hancur. Selama dalam perjalanan ia mendapatkan pertolongan pertama agar lukanya tak terkena infeksi. Luka pada badan bagian atas tubuhnya sepertinya tidak perlu dikhawatirkan. Namun kakinya yang sempat tertimpa beton harus mendapatkan perawatan khusus karena mengalami patah tulang. Meski begitu ia masih bersyukur nyawanya dapat selamat. Entah bagaimana nasib korban lainnya yang juga ikut tertimbun reruntuhan bangunan. Seketika Kartika tersentak saat teringat tentang Amira yang tadi sempat terlupakan olehnya.
Apakah Amira juga ditemukan oleh tim penyelamat? apa nyawanya masih bisa diselamatkan? berbagai fikiran memenuhi kepalanya yang membuat dirinya menjadi pusing. Saat ia akan menanyakan keadaan Amira pada petugas medis yang merawatnya ambulans yang membawanya telah sampai di rumah sakit dan para petugas medis langsung memindahkannya ke brankar rumah sakit. Mereka pun langsung membawanya ke ruang IGD agar mendapatkan perawatan lebih lanjut. Hingga Kartika pun mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang Amira. Ia harus fokus dengan kesehatannya sendiri sekarang... fikirnya.
Setelah melakukan berbagai pemeriksaan akhirnya Kartika dibawa ke ruang perawatan biasa setelah dokter merawat kakinya yang patah akibat tertimpa beton. Oleh karena itu kedua kaki Kartika pun harus di gips selama dalam masa penyembuhan. Saat berada di ruang perawatan itulah Kartika kembali teringat pada cincin Amira yang tadi sempat dipakainya saat petugas penyelamat menemukannya. Dipandanginya cincin Amira yang kini telah tersemat dijari manisnya. Bentuk cincin itu terlihat sederhana namun terlihat elegan dengan berlian bertahta diatasnya.
"Cantik sekali... pasti harganya sangat mahal... kau sangat beruntung Amira... memiliki suami seperti tuan Sam. Sudah tampan... perhatian... kaya lagi" batin Kartika sambil memainkan cincin Amira dijari manisnya itu.
"Kau benar-benar wanita yang sangat beruntung... apalagi dengan tubuhmu yang tidak proporsional... sungguh kau sudah seperti upik abu yang mendapatkan sang pangeran..." sambungnya dalam hati dengan perasaan yang mulai iri.
Saat ia tengah asyik bermain dengan cincin Amira tanpa sengaja ia mendengar suara seseorang memanggil nama Amira dari luar ruang perawatan. Sepertinya orang itu tidak tahu pasti dimana ruangan Amira dirawat. Dengan cepat Kartika melepas cincin Amira dari jari tangannya yang sebenarnya agak kebesaran untuknya dan menyembunyikannya di dalam laci nakas yang berada disamping brankarnya. Tak lama pintu ruang perawatannya dibuka tergesa dari luar.
"Amira!" seru tuan Sam saat baru saja memasuki ruangan.
Namun langkahnya terhenti saat melihat yang berbaring diatas brankar bukanlah istrinya tapi Kartika.
"Dimana Amira?" tanya tuan Sam datar.
"Saya tidak tahu tuan..." jawab Kartika gugup.
"Kau jangan berbohong padaku! katakan dimana Amira? kenapa sinyal GPS pada cincinnya berasal dari kamar ini?" desak tuan Sam tak sabar.
Kartika meneguk ludahnya kasar. Ia tak menyangka jika cincin Amira ada alat GPSnya. Dengan tangan bergetar ia pun membuka laci nakas dan mengambil cincin Amira.
"Ini tuan..." kata Kartika memberikan cincin Amira dengan ketakutan melihat wajah tuan Sam yang sangat menakutkan.
"Bagaimana cincin ini bisa berada ditanganmu hah?" sentak tuan Sam marah karena Kartika berani mengambil cincin milik istrinya itu.
"Ma... maaf tuan... saya tidak sengaja mengambilnya..." kata Kartika terbata.
"Tadi saat kami hendak menyelamatkan diri tiba-tiba Amira terpeleset dari tangga dan bergelantungan pada pegangan tangga. Saya sudah mencoba menyelamatkannya... tapi saya tidak kuat menahan tubuh Amira hingga pegangan tangan kami terlepas dan saya hanya bisa mendapatkan cincin miliknya..." terang Kartika berbohong.
__ADS_1
Ia merasa tak mungkin berkata jujur pada tuan Sam bahwa dirinya melupakan Amira saat ia telah ditemukan oleh tim penyelamat. Melihat wajah garang tuan Sam tadi saat tidak menemukan Amira membuat nyalinya ciut untuk berkata jujur. Apa jadinya dirinya jika tuan Sam tahu yang sebenarnya... bisa-bisa ia yang baru saja selamat akan kembali meregang nyawa ditangan pria itu jika ia tahu Kartika melupakan istrinya untuk diselamatkan.
Tuan Sam langsung merampas cincin Amira yang dipegang oleh Kartika. Di pandanginya cincin pernikahan yang ia berikan pada Amira dulu...
"Lalu apa kau ingat dimana lokasi terakhir kali kau bersamanya?" tanya tuan Sam masih berharap dapat menemukan istrinya dari keterangan Kartika.
Kartika menggelengkan kepalanya pelan dengan mimik wajah sedih. Membuat tuan Sam bertambah frustasi untuk bisa menemukan istrinya.
"Saya sungguh tidak ingat tuan... karena setelahnya gedung itu langsung roboh dan saya tertimpa reruntuhan bangunan... tapi mengingat posisi kami yang masih berada di lantai atas... kemungkinan Amira..." Kartika tidak melanjutkan kalimatnya.
Ia memandang tuan Sam dengan tatapan penuh penyesalan. Tuan Sam yang mendengar penjelasan Kartika pun sudah bisa menduga dengan kelanjutan kalimat yang ingin dikatakan oleh Kartika. Bahwa kemungkinan Amira untuk selamat sangat kecil mengingat mereka yang berada di lantai atas saat Amira terlepas dari genggaman Kartika ditambah gedung itu roboh. Tuan Sam langsung keluar dari ruang perawatan Kartika dan berlari tak tentu arah di lorong rumah sakit. Saat ia berhenti di salah satu sudut lorong rumah sakit ia mulai meninju dinding yang ada di depannya untuk meluapkan rasa kesal dan sedihnya. Setelah puas dan telapak tangannya penuh dengan darah ia pun baru berhenti dan menyandarkan kepalanya ke dinding.
Dengan wajah menghadap ke dinding ia pun mulai terisak. Hatinya hancur menghadapi kenyataan jika Amira benar telah tiada. Ternyata mimpinya itu mengisyaratkan jika Amira tengah berpamitan padanya.
"Kenapa kau meninggalkanku Meyaa... kau tahu aku dan kedua putra kita masih sangat membutuhkanmu..." ucap tuan Sam disela tangisnya.
Tuan Sam menangis hingga tubuh kekarnya pun ikut terguncang. Keadaan pria itu sungguh sangat mengenaskan. Rasa sakit pada kedua tangannya yang terluka tampak tidak dirasakan sama sekali olehnya kecuali rasa sakit karena kehilangan istrinya. Dan tanpa tuan Sam sadari jika disaat ia tengah larut didalam kesedihannya saat itulah tubuh Amira tengah dibawa di atas brankar dan lewat tepat belakangnya menuju ke ruang operasi karena kondisinya yang sangat kritis akibat luka dikepalanya dan kehilangan banyak darah. Bahkan rambut wanita itu tampak sudah lengket akibat terkena darah yang terus saja mengalir dari luka dikepalanya.
Meski begitu para dokter dan perawat yang membawanya mengakui jika wanita yang sedang mereka rawat memiliki semangat hidup yang cukup kuat. Terbukti meski terluka parah dan kehilangan banyak darah wanita itu terus bertahan meski tubuhnya kini semakin melemah. Sampai di ruang operasi para dokter dikejutkan dengan hasil pemeriksaan yang menunjukkan jika Amira tengah hamil muda. Diperkirakan usia kandungannya baru memasuki empat minggu. Mungkin karena itulah wanita itu terus berusaha untuk bertahan demi janin yang kini sedang dikandungnya. Begitulah kira-kira yang difikirkan oleh para dokter dan perawat yang hendak melakukan tindakan operasi pada Amira.
Karena resiko kelumpuhan dan juga kehilangan ingatan sangatlah besar akan diderita oleh Amira pasca operasi nanti. Walau demikian mereka tetap berusaha sekuat tenaga melakukan yang terbaik untuk menolong nyawa pasiennya itu. Sementara Lukas yang menyusul tuan Sam setelah markirkan mobilnya hanya mendapati Kartika yang ada diruang rawatnya. Kartika pun kembali mengulang kebohongannya pada Lukas saat pria itu menanyakan tentang tuan Sam dan Amira.
"Kau berkata jujurkan?" tanya Lukas dengan wajah datarnya.
"A... apa maksud tuan? untuk apa saya berbohong pada anda dan juga tuan Sam!" sahut Kartika dengan wajah memerah.
Bukan karena marah namun lebih karena rasa malu sebab ternyata ada juga orang yang menyadari kebohongannya.
"Baguslah kalau begitu... sebab jika kau berani berbohong secuil saja maka kau harus mau menanggung akibatnya... karena aku dan majikanku bukan orang yang bisa mengampuni seseorang yang sudah menipu kami apalagi mengenai nyonya Amira" sahut Lukas sambil memberikan pandangan tajam pada Kartika.
Seketika jantung Kartika seakan berhenti berdetak saat mendengar perkataan Lukas. Wajahnya yang masih sedikit pucat kini bertambah pucat menyadari kesalahan yang baru saja diperbuatnya.
__ADS_1
"S**t! kenapa insting pria ini sangat tajam?" batin Kartika.
Setelah melihat reaksi Kartika ia pun langsung keluar dari sana untuk mencari tuan Sam. Setelah menyusuri lorong rumah sakit akhirnya ia dapat menemukan tuannya itu yang tengah terduduk dilantai dengan badan bersandar pada dinding rumah sakit. Terlihat oleh Lukas kedua tangan tuan Sam yang terluka dan mengeluarkan darah.
"Tuan..." panggil Lukas pada tuan Sam yang terlihat menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Tuan!" panggil Lukas lagi yang membuat tuan Sam tersentak.
"Lukas!" seru tuan Sam yang tersadar karena panggilan asistennya itu.
"Kita harus kembali kesana untuk mencarinya!" sambungnya.
"Iya tuan... tapi anda harus merawat luka anda dulu..." sahut Lukas.
Tuan Sam memandang kedua tangannya yang terluka.
"Ini tidak masalah bagiku..." tolak tuan Sam langsung berdiri dari duduknya.
"Tapi tuan... itu akan menghambat kita dalam mencari nyonya..." kata Lukas yang ingin agar tuan Sam segera mengobati lukanya.
Tuan Sam mendengus kesal... tapi ia juga membenarkan perkataan Lukas.
"Baiklah..." sahutnya.
Kemudian keduanya pun segera menuju IGD untuk merawat luka tuan Sam terlebih dahulu. Sementara di dalam ruang perawatannya Kartika tampak masih ketakutan karena telah terlanjur berbohong pada tuan Sam dan juga Lukas.
"Bagaimana jika mereka berhasil menemukan Amira dan dia mengingat semuanya? aku sudah pasti akan mati ditangan mereka..." batin Kartika ketakutan.
Sejenak ia berfikir untuk melarikan diri dari rumah sakit tapi saat menatap kedua kakinya yang digips ia langsung sadar ia tak mungkin melakukannya. Kini Kartika hanya bisa berharap bahwa mereka tidak akan menemukan Amira dalam keadaan hidup. Ya insting bertahan hidupnya yang selama ini ia gunakan untuk bertahan selama hidup sendirian sejak di panti asuhan membuat Kartika menjadi pribadi yang egois jika sudah menyangkut menyelamatkan dirinya sendiri meski itu berarti ia harus melakukan segala cara dan mengorbankan orang lain. Yang terpenting baginya adalah terus bertahan dan tidak perduli dengan keadaan orang disekitarnya.
"Tapi bagaiamana jika Amira ternyata selamat dan mereka berhasil menemukannya?" batin Kartika sambil menggigit ujung kukunya.
__ADS_1
"Ah... lebih baik aku tidak terlalu memikirkannya toh saat terakhir aku melihatnya wanita itu sudah terlalu lemah untuk bertahan hidup... jadi ayolah Kartika... siapkan saja rencana baru agar hidupmu jadi lebih baik lagi kedepannya... mungkin kau bisa meraih hati tuan Sam yang sebentar lagi akan menjadi duda..." batin Kartika sambil terkekeh sendiri dengan pemikirannya barusan.
Dari pada berharap pada Castillo yang jelas-jelas menginginkan nyawanya akan lebih baik jika ia mendekati tuan Sam yang terlihat lebih baik dan bermasa depan meski sudah mempunyai dua anak. Dan dia akan memulainya dengan cara mendekati kedua anak tuan Sam terlebih dahulu. Kedekatannya dengan Sahir dan Samir sebelumnya membuatnya sangat yakin bahwa ia bisa menggantikan posisi Amira dengan mudah pada keluarga kecilnya. Kini meski keadaan kakinya yang keduanya dalam balutan gips tapi hati Kartika sedang bahagia karena merasa jika masa depannya akan semakin cerah saat ia mulai menjalankan rencananya.