BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Curiga


__ADS_3

Hari ini nyonya Sarah akan pergi untuk bertemu dengan teman-teman arisannya yang merupakan istri dari para relasi tuan Bram. Meski tidak begitu suka namun demi menjaga hubungan baik dengan para relasi suaminya nyonya Sarah pun ikut dalam lingkungan sosial mereka meski hanya sekedar saja. Untung saja Amira juga ikut dalam acara tersebut sehingga nyonya Sarah bisa sedikit merasa lega karena iparnya itu sefrekuensi dengannya.


Anna yang ditinggal sendiri di rumah bersama putranya tidak merasa keberatan. Bahkan tadi saat nyonya Sarah mengajaknya untuk ikut Anna malah menolaknya. Setelah kepergian mamanya Anna membawa putranya bermain di kebun belakang. Taman bermain mini yang di persiapkan oleh papanya sudah rampung karena hanya berupa perosotan dan juga ayunan untuk bermain. Namun begitu tuan Bram juga berencana membuat rumah pohon mungil untuk cucunya kesayangannya itu. Oleh karena itu di sana masih ada para pekerja yang tengah sibuk untuk menyelesaikannya.


Sultan tampak senang bermain prosotan mini hingga berulang kali balita itu meminta untuk memainkannya. Meski harus dibantu oleh Anna. Keceriaan putranya membuat Anna melupakan kesedihannya karena sejak pulang dari Inggris ia belum lagi bermimpi bertemu dengan Raja. Rasa rindu pada suaminya itu membuat Anna berfikir untuk memberanikan diri mendatangi makam suaminya itu. Namun Anna menunggu waktu yang tepat agar bisa ke sana bersama kedua orangtuanya. Sebab Anna tidak yakin jika dirinya akan bisa kuat jika ke sana sendirian.


Saat Anna tengah melamun ia tak menyadari jika putranya tengah berjalan menjauhinya. Balita itu yang sudah mengenali Raja langsung menghampiri pria itu yang tengah sibuk memasang beberapa papan untuk membuat rumah pohon.


"Papa!" seru balita itu saat ia telah berada di dekat Raja.


Raja langsung menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah Sultan. Balita itu langsung tersenyum dan berlari kecil untuk memeluk Raja.


"Kenapa kemari hem?" tanya Raja saat Sultan telah berada di dalam dekapannya.


"Mau main..." sahut Sultan polos.


"Main apa?"


Sultan langsung menunjuk pada ayunan yang tadi belum sempat ia mainkan. Raja tersenyum dan langsung membopong putranya itu menuju ayunan. Setelah itu dengan hati-hati ia memasukkan Sultan pada ayunan khusus balita yang memiliki pengaman. Dengan pelan ia pun mulai mengayun putranya. Seketika Sultan tertawa lepas saat ayunan mulai berayun ke atas. Balita itu tampak senang saat tubuhnya serasa terbang dengan ayunan.


Mendengar tawa putranya Anna pun tersadar dari lamunannya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat sang putra tampak bahagia tengah bermain bersama Rahmat. Seketika Anna mengernyitkan keningnya tak menyangka jika sang putra bisa begitu akrab dengan pekerja baru itu. Pasalnya selama ini Sultan agak kesulitan jika berhadapan dengan orang baru. Namun tak disangka putranya itu malah cepat akrab dengan pria itu. Melihat interaksi putranya dengan Rahmat kembali membuat Anna teringat pada Raja. Entah mengapa ia malah seolah melihat Raja yang tengah bermain bersama putranya.


Anna menggelengkan kepalanya pelan. Tidak... ia tidak boleh seperti ini... Mana mungkin Raja disamakan dengan Rahmat. Bukan hendak menghina... namun secara fisik keduanya jauh berbeda. Tapi Anna juga tidak mengerti mengapa putranya bisa secepat itu akrab dengan Rahmat. Perlahan Anna mendekat ke arah keduanya. Ia tidak ingin mengganggu kesenangan Sultan yang tengah menikamati ayunan. Namun begitu ia juga tidak bisa membiarkan putranya itu mengganggu pekerjaan Rahmat.


"Ehm... pak Rahmat... biar Sultan sama saya saja... bapak lanjutkan saja pekerjaan bapak" ucap Anna pada Rahmat.

__ADS_1


"Eh iya nyonya... maaf kalau nyonya keberatan den Sultan bermain dengan saya..." sahut Rahmat sambil menundukkan kepalanya seolah merasa sedih Anna menghentikan kedekatannya dengan Sultan.


"Bukan... bukan begitu maksud saya pak... ini kan jam kerja... bapak bekerja saja dulu... nanti jika saat istirahat Sultan boleh kok bermain bersama bapak..." sahut Anna yang merasa tidak enak karena Rahmat salah faham dengan maksudnya.


"Ah benarkah nyonya? saya boleh bermain dengan den Sultan?" tanyanya seolah tak percaya jika Anna mengizinkannya bermain dengan Sultan.


"Iya pak... asal tidak mengganggu pekerjaan bapak saja... maklum putra saya sangat aktif..."


"Iya nyonya... terima kasih..." sahut Rahmat sambil menatap Anna bahagia.


Deg!


Mata itu!


Apa ini hanya kebetulan belaka? Anna merasa pusing saat memikirkannya. Mengapa kini ia seolah menemukan beberapa keanehan tentang kematian suaminya? juga sikap putranya yang tidak terlalu merindukan papanya meski tidak pernah bertemu langsung dengan sosoknya dan hanya melihat fotonya saja. Salahkah jika kini ia berharap jika sesungguhnya Raja masih hidup? Anna tersentak dari lamunannya saat mendengar putranya merengek karena ayunannya terhenti.


"Maafkan mama sayang..." ujar Anna sambil kembali mengayun putranya.


Malam hari saat makan malam Anna mengungkapkan keinginannya untuk pergi ke makam Raja. Kedua orangtuanya menyetujui untuk mengantarkan Anna ke sana. Namun harus menunggu hingga tuan Bram ada waktu karena akhir-akhir ini ia tengah disibukkan dengan proyek baru. Sementara untuk membiarkan Anna pergi ke sana sendiri tuan Bram belum bisa membiarkannya. Karena Adit juga sudah kembali ke Australia sehingga tidak ada keluarga pria yang mendampingi jika Anna ingin ke makam saat ini. Tuan Bram beralasan jika terjadi sesuatu saat Anna berada di sana papanya bisa menguatkannya.


Anna hanya bisa menuruti permintaan papanya itu. Ia juga mengerti kekhawatiran kedua orangtuanya jika dirinya belum sanggup melihat makam Raja. Karena sesungguhnya ia juga belum yakin jika ia akan kuat saat di sana. Sementara setelah mengetahui jika Rahmat adalah Raja, Sultan semakin dekat saja dengan pria itu. Meski tidak secara langsung memanggilnya papa sejak Raja melarangnya jika tidak sedang berdua saja. Namun hal itu tidak luput dari perhatian Anna. Wanita muda itu mulai merasakan keanehan pada keduanya. Bahkan ia mulai merasa curiga pada Rahmat dan mulai mengawasi pria itu diam-diam.


Dan hari ini ia semakin merasa curiga pada Rahmat saat tak sengaja ia melihat pria itu turun dari pohon mangga yang tepat berada didepan balkon kamarnya. Ya... saat itu Anna yang baru saja dari kebun belakang karena mengambil mainan Sultan yang tertinggal disana, tak sengaja melihatnya. Jika benar Rahmat cacat maka akan cukup sulit baginya untuk turun dari pohon mangga yang cukup tinggi itu. Apa lagi pohon itu juga cukup licin karena semalam juga turun hujan yang cukup lebat. Untuk ukuran orang normal saja sudah akan kesulitan kecuali dia seorang yang ahli. Tapi dari yang dilihatnya Rahmat justru bergerak sangat cepat dan cekatan. Seolah pria itu tidak terpengaruh dengan badannya yang bungkuk dan kakinya yang pincang. Dan lagi-lagi Anna dibuat terkejut saat begitu menjejakkan kakinya di tanah Rahmat tampak berdiri normal dan tidak bungkuk atau pun pincang.


"Sebenarnya siapa dia?" batin Anna yang kini bersembunyi di balik rumpun tanaman hias milik mamanya.

__ADS_1


Mata wanita muda itu mengawasi semua gerak gerik Rahmat dengan waspada. Ingatannya kembali pada saat malam dimana ia dan Raja diserang.


"Apakah dia orang yang sedang menyamar? tapi untuk apa? atau dia suruhan dari b****g*n itu?" batin Anna dengan dada yang bergemuruh.


"Apa dia belum puas sudah merenggut MB dariku? lalu apa lagi yang dia inginkan hingga mengirimkan seseorang? apa jangan-jangan... ah... tidaak!" fikiran buruk langsung melintas di kepala Anna.


Putranya...


Apa karena itu pria itu mendekati Sultan? untuk mencelakai putranya dengan Raja? Anna menggelengkan kepalanya tegas. Tidak bisa dibiarkan! ia harus membongkar siapa sebenarnya pria itu... dan apa maksudnya mendekati putranya...


Perlahan Anna mengikuti pergerakan Rahmat yang kini berjalan menuju rumah tempatnya tinggal. Memang para pekerja di rumah orangtua Anna diberi tempat tinggal khusus dan terpisah dari rumah utama. Namun mereka berada dalam satu rumah dan tinggal di kamar masing-masing. Mungkin karena di sana kamarnya sudah penuh maka Rahmat ditempatkan di rumah yang berbeda oleh orangtuanya. Karena sesungguhnya tempat itu dulunya merupakan gudang.


Rahmat tampak memasuki tempat tinggalnya itu tanpa curiga jika ada yang sedang mengikutinya. Anna berusaha bergerak sehalus mungkin agar Rahmat tidak menyadari keberadaannya. Baru saja Anna ingin mendekat dan mengintip pria itu di dalam sana Anna melihat pak Dadang tukang kebun yang sudah lama bekerja di rumah kedua orangtuanya berjalan mendekat. Dengan cepat Anna kembali bersembunyi di balik tanaman yang ada disekitar tempat itu.


Tampak pak Dadang berbicara sesuatu pada Rahmat. Dan tak lama keduanya berjalan meninggalkan tempat itu. Saat melihat keduanya berjalan menjauh Anna pun segera mendekat ke arah tempat tinggal Rahmat. Ia pun mencoba untuk masuk ke dalam sana namun ia harus kecewa karena ternyata pintu rumah itu terkunci. Tak hilang akal Anna pun segera memeriksa jendela berharap jika salah satunya ada yang terbuka. Beruntung bagi Anna karena meski semua jendela tertutup ternyata salah satunya tidak terkunci sehingga Anna bisa membukanya dari luar.


Perlahan Anna melompat melewati jendela yang telah berhasil ia buka. Saat masuk ke dalam rumah Anna langsung mengamati sekitarnya. Tampak jika perabot yang ada di dalam sana biasa saja dan sederhana. Kemudian Anna pun bergerak ke arah kamar tidur. Ia berharap akan mendapatkan informasi jika ia menggeledah kamar pria itu. Di dalam kamar kembali Anna tidak menemukan hal yang mencurigakan hingga saat ia memeriksa lemari pakaian ia menemukan sebuah laptop tersimpan dibagian bawah lemari. Jika dilihat laptop itu tampak masih baru dan berlogo apel digigit. Pertanda jika benda itu bukan barang murah.


"Milik siapa laptop ini? apa milik Rahmat? lalu untuk apa tukang kebun sepertinya memiliki benda seperti ini? apa lagi harganya sangat mahal..." batin Anna.


Kini semakin kuat kecurigaan Anna jika Rahmat adalah orang yang sedang menyamar. Tapi untuk apa? apa dia penjahat yang sedang bersembunyi? atau benar anak buah dari Julio yang sedang mengincar putranya? Anna pun mencoba nyalakan laptop itu dan membukanya. Namun lagi-lagi ia harus kecewa karena benda itu ternyata mempunyai kata sandi. Anna yang tak begitu mengenal Rahmat kebingungan mengira-ngira kata sandi apa yang digunakan pria itu. Saat ia tengah kebingungan berfikir tentang kata sandi yang dibutuhkan untuk membuka laptop Rahmat tiba-tiba ia mendengar suara kunci pintu dibuka.


Ceklek!


Anna langsung menahan nafasnya. Ia segera mengembalikan laptop itu ke dalam lemari dan menutup lemari itu perlahan agar tidak menimbulkan suara dan di dengar oleh orang yang baru saja masuk. Anna panik saat berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Panik akhirnya Anna pun merangkak ke bawah tempat tidur yang ada di dalam kamar untuk bersembunyi. Tak lama Anna mendengar pintu kamar dibuka dari luar. Dan tampak olehnya dua kaki yang melangkah masuk ke dalam kamar. Anna menutupi mulutnya dengan kedua tangannya berharap agar suara nafasnya tidak terdengar oleh orang itu.

__ADS_1


__ADS_2