BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Penjelasan


__ADS_3

Pagi ini Hana sengaja berangkat lebih pagi agar ia bisa tiba di sekolah lebih dulu dari pada Sadira. Ia ingin memberi semangat pada sahabatnya itu setelah kejadian kemarin. Dan juga untuk melindunginya dari Bara yang mungkin saja akan mengganggu gadis itu untuk memberikan penjelasan. Meski semua itu rasanya tidak akan mempengaruhi keputusan yang sudah Sadira buat. Hana sengaja menunggu sahabatnya itu di depan gerbang. Untung saja ia tak perlu menunggu lama karena tak lebih dari lima menit ia menunggu, sahabatnya itu sudah menampakkan batang hidungnya. Sepertinya pemikiran Sadira sama dengan dirinya yang berangkat lebih pagi demi menghindari Bara.


"Pagi Ra..." sapa Hana mencoba membuat suasana menjadi ceria.


"Pagi juga Han... tumben kamu udah sampai Han?"


"Iya... sengaja biar kamu gak melamun kalo datang sendirian..." kekeh Hana.


"Ish... kau ini terlalu khawatir Han... aku udah ga pa-pa kok..." ungkap Sadira berusaha meyakinkan sahabatnya agar tidak khawatir.


Baru saja keduanya keduanya berbincang, tiba-tiba Bara datang menghampiri mereka. Tanpa basa basi Bara langsung meminta Sadira agar mau berbicara berdua dengannya. Ia ingin menjelaskan semuanya pada kekasihnya itu agar gadis itu tidak salah faham padanya dan tidak memutuskan hubungan mereka berdua. Hana yang terlanjur emosi langsung berusaha untuk mengusir Bara agar Sadira tidak bertambah sakit hati. Namun Sadira mencegah sahabatnya itu dan mau memberikan Bara kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk bicara di taman belakang sekolah.


"Sekarang katakan apa yang ingin kakak katakan padaku..." ucap Sadira tegas.


"Ra... aku tahu apa yang kamu lihat kemarin sangat menyakitkan dan membuatmu marah. Tapi sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk mengkhianatimu... kemarin aku membawa Naya ke rumah itu karena permintaan mamaku... Naya dan keluarganya kenal dekat dengan kedua orangtuaku... dan kemarin mama ingin bertemu dengan Naya... jadi aku mengantarkannya sepulang sekolah..." terang Bara.


"Jika hanya mengantarkan kenapa sambil peluk-peluk segala? dan lagi kakak terlihat ga terganggu sama sekali dan malah menikmatinya" sergah Sadira.


"Bukan gitu Ra... aku sudah berusaha melepaskan tangan Naya... tapi dia sama sekali tidak mau melakukannya... dan aku pun akhirnya pasrah..."


"Lalu saat di taman hiburan itu? apa pasrah juga? kok ga terlihat terpaksa..." cecar Sadira.


"Itu... aku..."


Teet... teet....


Bunyi suara bel tanda masuk membuat pembicaraan keduanya langsung terpotong. Sadira mendengus kecil dan langsung melangkah meninggalkan Bara untuk masuk ke dalam kelasnya. Bara yang masih ingin berbicara dengan Sadira tidak dapat mencegah gadis itu karena jam pelajaran sudah akan di mulai. Alhasil ia pun melangkahkan kakinya menuju ke dalam kelasnya sendiri. Saat jam istirahat, Hana menemani Sadira yang tidak ingin pergi ke kantin. Keduanya memilih untuk tetap di dalam kelas. Bukan tanpa alasan, Sadira hanya tidak mau bertemu lagi dengan Bara.


Sebab dari sikapnya tadi yang tidak bisa menjelaskan alasannya bisa bersama Naya di taman hiburan membuat Sadira menjadi ilfil pada Bara. Kini kepercayaannya pada pemuda itu menjadi terkikis karena merasa jika Bara mulai berbohong padanya.


"Tadi kak Bara ngomong apa Ra? apa dia memberikan alasannya kenapa bisa bersama kak Naya kemarin?" tanya Hana penasaran.


"Dia gak bisa memberikan penjelasan yang jelas Han... aku fikir dia mungkin sudah bosan padaku dan kini kembali pada kak Naya..." ucap Sadira sendu.


"Maksudnya?"


"Mungkin dia tidak benar-benar cinta sama aku Han... dia hanya penasaran padaku, dan saat aku sudah bisa ditaklukkannya dia langsung merasa bosan..." jelas Sadira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Dira..." Hana langsung memeluk sahabatnya itu.


Ia sangat sedih karena gadis sebaik Sadira diperlakukan seperti itu oleh Bara.


"Udah jangan nangis Ra... cowok kayak kak Bara ga pantas untuk ditangisi..." kata Hana coba menenangkan Sadira.


Sadira mengangguk pelan dalam pelukan Hana. Sementara Bara tengah uring-uringan karena tak menemukan Sadira di kantin. Dan saat ia ingin mencari gadis itu di kelasnya, Naya malah datang dan tidak mau membiarkannya sendiri. Bahkan kedua sahabat Bara pun merasa kaget saat melihat tingkah Naya. Terlebih Bara yang terlihat begitu tak berdaya untuk menolak kehadiran gadis itu disampingnya.

__ADS_1


"Lu itu kenapa Bara? bagaimana bisa ulat keket itu menempel terus sama lu? dan anehnya lu itu sama sekali ga bisa menolaknya..." ungkap Reno yang baru kali ini melihat sahabatnya itu lemah pada Naya.


Ketiganya kini tengah berada di taman belakang sekolah, setelah tadi Reno dan Rafa berhasil menyelamatkan Bara dari Naya. Bara mendengus frustasi. Jika saja mamanya tidak ikut campur dalam masalahnya dengan Naya, sudah tentu ia akan mendepak gadis itu sejak lama. Ya... ternyata Naya sudah mempengaruhi mama Bara dan juga kedua orangtuanya agar ia bisa dekat dengan Bara tanpa bisa ditolak oleh pemuda itu. Reno dan Rafa hanya bisa menggelengkan kepala setelah mendengarkan penjelasan dari Bara.


"Gua ga habis fikir sama si ulet keket itu, udah jelas-jelas lu tolak... ini malah bawa-bawa nyokap lu buat neken lu supaya mau terima dia..." ucap Rafa geram.


"Trus gimana sama Dira? apa lu udah bisa jelasin semuanya?" sambung nya.


"Gua belum sempat jelasin semuanya sama Dira... mungkin aja sekarang dia udah ilfil duluan ama gua gara-gara kejadian kemarin di taman hiburan..." terang Bara lesu.


"Lu juga sih terlalu bego... mana Bara yang dulu yang bisa tegas ama tuh ulat keket meski dia sekarang dapet bekingan dari nyokap lu..." ujar Reno gemas dengan sikap Bara yang langsung lemah saat berhadapan dengan sang mama.


"Maksud lu?"


"Hah! lu kan bisa pakai siasat yang sama seperti si ulat keket itu... dia main licik lu juga harus lebih licik Bar..." terang Reno.


"Iya... masa ketos kalah ama ulat bulu yang IQ nya aja mirip bocah TK..." sergah Rafa.


Bara menganggukkan kepalanya mengerti. Benar... Naya itu bukan tandingannya, jika gadis itu berani main licik maka dia juga harus bisa membalasnya...


"Kalian bener... gua akan cari cara buat bikin dia menyesal udah berani berurusan dengan Bara..." sahut Bara semangat.


"Nah... gitu dong..." ucap Rafa dan Reno bersamaan.


Di tempat lain, tampak Ricko tengah bahagia karena sudah lebih dekat dengan Sadira. Meski belum bisa dikatakan dekat, namun gadis itu sudah mulai terlihat akrab jika bersamanya.


Saat ini Ricko tengah berada di kantornya karena ia kembali harus membantu sang papa di perusahaannya. Entah mengapa sejak pertemuannya dengan Sadira di taman hingga ia bisa mengantarkan gadis itu pulang, ia pun jadi merasa tidak lagi tertekan saat harus membantu sang papa di perusahaan. Dan fikirannya yang selama ini sangat membenci sang papa dan istri barunya malah teralihkan. Ya... dalam fikirannya saat ini hanya ada Sadira dan Sadira...


Ia bahkan merubah penampilannya hingga membuat para wanita jadi terpesona dan tidak menyangka jika pemuda culun yang selama ini mereka kenal ternyata begitu mempesona. Ia kini bahkan menjadi idola baru baik di kampus mau pun di kantor sang papa. Meski begitu Ricko sama sekali tidak memperdulikannya. Karena baginya pesonanya hanya untuk Sadira seorang.


Beberapa hari kemudian...


Bara masih saja uring-uringan karena masih belum memiliki kesempatan untuk bisa menjelaskan semuanya pada Sadira. Sedang Naya semakin gencar mendekatinya saat tahu jika Bara dan Sadira tengah perang dingin. Sepertinya gadis itu sudah sangat yakin jika rencananya memisahkan Bara dan Sadira sudah berhasil. Namun hari ini Bara seperti mendapatkan jackpot karena ia melihat Sadira yang tengah sendiri di depan gerbang sekolah saat jam pulang. Sepertinya ia tengah menunggu taksi, karena jika ia dijemput sang sopir gadis itu tidak akan menunggu sang sopir karena sopir Sadira tidak pernah telat menjemput.


Bara langsung menghampiri Sadira, ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk menjelaskan semuanya karena beberapa hari terakhir ini gadis itu selalu saja menghindarinya.


"Ra... aku ingin bicara sebentar..." ucap Bara dengan wajah memohon.


"Maaf kak... kita udah ga ada urusan lagi... jadi lebih baik kakak tinggalkan aku sendiri..." tolak Sadira.


"Please Ra... beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya... ini tidak seperti yang kamu fikirkan selama ini... aku ga berkhianat Ra..." terang Bara frustasi.


Sadira masih diam ditempatnya tanpa mau membalas perkataan Bara. Tak lama taksi online yang di pesan oleh Sadira datang dan gadis itu pun bergegas masuk ke dalamnya. Namun baru saja Sadira membuka pintu, Bara sudah kembali menutupnya dan membatalkan taksi tersebut dengan memberikan ganti rugi pada sang sopir terlebih dahulu. Sadira yang akan memprotes perbuatan Bara tidak bisa melakukannya, karena pemuda itu sudah menarik tangan Sadira dan menyuruhnya naik ke atas motornya.


"Kakak ga bisa maksa aku seperti ini..." tolak Sadira yang tak mau ikut dengan Bara.

__ADS_1


"Please Ra... aku janji cuma sebentar... dan aku akan antar kamu pulang setelahnya..." mohon Bara.


Tak ingin membuat keributan, akhirnya Sadira pun menurut dan mengikuti kemauan Bara. Bara lega karean akhirnya mempunyai kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Sadira. Bara kemudian membawa Sadira ke taman tempat mereka terakhir pergi bersama. Disana Bara mulai memjelaskan semuanya pada Sadira, tentang siasat Naya yang mempengaruhi mama Bara agar Bara mau menuruti semua kemauan gadis itu. Mama Bara bahkan memberi ancaman pada Bara jika pemuda itu sampai mengecewakan Naya.


"Aku ga bisa menentang mama, Ra... apa lagi mama belum tahu tentang hubungan kita..." ucap Bara menghembuskan nafasnya berat.


"Jika saja kau mau kita mengungkapkan tentang kita... mungkin aku bisa memberi pengertian pada mama bahwa sudah ada hati yang harus aku jaga... dan itu kamu Ra..." sambung Bara sambil menggenggam tangan gadis itu erat.


Sadira kini merasa dalam dilema...


"Aku tahu kamu pasti takut dengan keluargamu... tapi setidaknya kamu maukan jika aku kenalkan pada keluargaku? please Ra..." mohon Bara.


"Tapi aku takut kak... bagaimana jika mama kakak ga suka sama aku? dan dia lebih memilih kak Naya?"


"Jangan takut sayang... masih ada papa aku yang akan selalu mendukungku..." ucap Bara mencoba meyakinkan Sadira.


"Mau ya... please..."


Sadira pun menganggukkan kepalanya pelan menyetujui permintaan Bara. Setidaknya ini adalah bentuk perjuangannya untuk Bara. Bara langsung berteriak senang dan memeluk tubuh Sadira saat mendapatkan jawaban dari Sadira.


"Terima kasih sayang... bagaimana jika kita sekarang ke rumahku dan memberitahu mama?" tanya Bara setelah mengurai pelukannya.


"Ja... jangan sekarang kak... aku belum siap..."


"Baiklah... bagaimana jika hari minggu besok? papaku juga akan ada di rumah... jadi kita akan mendapat dukungan darinya..." usul Bara.


"Baiklah..." sahut Sadira yang membuat Bara jadi semakin bahagia.


"Terima kasih sayang..." ucap Bara kembali memeluk kekasihnya itu lalu mengecup puncak kepala Sadira.


Keduanya lalu memutuskan untuk segera pulang agar tidak membuat khawatir keluarga Sadira, karena gadis itu belum meminta izin untuk pulang terlambat. Saat keduanya sampai di dekat rumah Sadira, Bara kembali mengingatkan gadis itu untuk pergi ke rumahnya hari minggu. Sadira pun mengangguk tegas, mengiyakan permintaan Bara. Setelahnya barulah Sadira melangkahkan kakinya pulang ke rumah.


Di apartemennya, Ricko baru saja pulang dari kantor. Entah mengapa ia merindukan Sadira saat ini. Maklum saja sudah beberapa hari sejak terakhir ia bertemu di taman dan mengantarkan gadis itu pulang, ia belum sempat lagi bertemu dengan Sadira. Bahkan ia juga tidak lagi sempat untuk menguntit gadis itu karena kepadatan kegiatannya di kampus dan juga kantor papanya. Tapi Ricko rela melakukannya demi bisa dianggap pantas untuk bersanding dengan gadis itu oleh keluarganya.


Ya... siapa yang tidak tahu keluarga Sadira yang merupakan salah satu keluarga terkaya dan berkuasa. Oleh karenanya ia ingin dianggap pantas sebelum ia mengungkapkan perasaannya pada Sadira dan keluarganya. Apa lagi kedua kakak kembar gadis itu yang sangat protektif pada adik bungsu mereka. Maka dari itu Ricko harus bisa mengambil hati setiap orang dalam keluarga gadis itu.


"Aku sangat merindukanmu Dira... tapi ini adalah salah satu pengorbananku untuk bisa mendapatkan dirimu... tunggu aku sayang, sebentar lagi aku akan menemuimu untuk menjadikanmu milikku..." ucap Ricko sambil mengelus foto Sadira.


Ricko sangat betah menghabiskan waktu diantara foto-foto Sadira koleksinya. Baginya ini adalah obat untuk dirinya yang selalu merasa kesepian. Senyum Sadira yang tampak ceria dan tulus disetiap foto yang diambilnya semakin membuat Ricko teringat pada almarhumah mamanya.


"Kau pasti akan lebih kuat dari mama kan Dira? hem... tentu saja, karena aku tidak akan pernah menyakitimu seperti papa menyakiti mama... jadi kamu tidak akan pernah meninggalkanku seperti mama" ucap Ricko dengan nada getir.


Kematian mamanya memang membuat Ricko sangat terpukul dan trauma. Bahkan hingga detik ini rasa dendamnya pada papa dan istri barunya belum juga padam. Namun Ricko masih belum tahu cara balas dendam terbaik pada kedua orang itu menurut versinya. Sebab menurutnya ia harus membuat kedua orang itu merasakan setiap penderitaan yang dirasakan sang mama selama hidupnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Selamat hari raya Idul Fitri 1444 H, minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin....


Mohon maaf jika akhir-akhir ini jarang up... dan terima kasih atas semua dukungannya dari para reader sekalian... love you all🥰🥰🥰


__ADS_2