
Setelah tuan Sam menghilang ke dalam rumah kedua wanita yang tadi bengong akhirnya tertawa walaupun Amira tak berani memgeluarkan suaranya. Hanya nyonya Sarah yang berani tertawa lepas.
"Kak.... jangan keras-keras tertawanya...nanti tuan Sam marah..." ucap Amira setelah berhasil menguasai rasa gelinya.
"Ha...ha...ha.. kau lihat tadi wajahnya?" kata nyonya Sarah mengingat perubahan ekspresi wajah kakaknya itu.
"Kaaak... sudah...."
"Ciyee...belain nih ya...." goda nyonya Sarah yang langsung membuat muka Amira memerah...untung saja tak begitu kentara karna warna kulitnya yang kecoklatan.
"Emang kamu dikasih berapa sampai ngebela kakakku begitu?" tanya nyonya Sarah masih dengan niatan menggoda pengasuhnya itu.
"Nggak...kak..." sergah Amira dengan wajah yang tambah memerah dan kini bisa terlihat jelas oleh nyonya Sarah.
"Wah..wah..wah... kayaknya ada yang menaruh rasa nih..." ucap nyonya Sarah sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Amira yang merasa tertangkap basah hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya. Sungguh saat ini ia merasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup oleh nyonyanya itu.
"Sudah ah kak... bercandanya, nanti kalau ada yang dengar bisa salah faham..." kata Amira setelah bisa menguasai perasaannya.
"Salah faham juga ga pa-pa apa lagi kalau benar-benar terjadi..." kata nyonya Sarah berubah lembut.
"Kau tahu... akhir-akhir ini aku lihat sikap kakakku terlihat lebih hangat..."
"Apa biasanya tuan Sam sangat dingin kak?"
"Ya ... dan itu terjadi sejak dia batal menikah karena tunangannya meninggal karena kecelakaan..." kenang nyonya Sarah.
"Dan karena itu pula ia tak pernah lagi pulang kemari karena banyak kenangan antara dia dan tunangannya disini." lanjutnya tanpa Amira minta.
"Jadi tuan Sam sangat menyayangi kakak hingga langsung datang ketika kakak terluka.."
" Ya ... tapi jika aku tidak terluka pasti dia takkan pernah pulang kemari..." desah nyonya Sarah.
"Hmm.. mungkin saja itu karena tuan Sam sangat mencintai tunangannya kak..." kata Amira bijak.
"Ya ... aku tahu tapi itu sudah lama Ra... dia juga harus melanjutkan hidupnya..."
Amira hanya bisa mendengarkan semua perkataan nyonyanya itu tanpa mau menimpali.
"Ternyata keluarga ini banyak menyimpan luka..." pikir Amira.
"Kak, udah sore aku bangunin anak-anak dulu ya.." kata Amira menghentikan percakapan yang terus terang mulai membuatnya kurang nyaman.
"Iya... " jawab nyonya Sarah.
Malamnya setelah makan malam nyonya Sarah terlihat berbicara serius dengan tuan Sam di ruang kerjanya. Amira menduga ini ada kaitannya dengan seseorang yang membuntuti mereka tadi siang. Setelah menidurkan Anna dan Adit dikamarnya, Amira menemui nyonya Sarah yang sedang menonton televisi.
"Kak... boleh bicara sebentar?"
"Ya... ada apa?"
__ADS_1
"Begini... bisakah saya minta cuti 2 hari saja...".
"Memang kamu mau kemana Ra?"
"Sebenarnya aku memutuskan untuk ikut reuni kak... disamping itu aku juga ingin sekalian mengunjungi makam kedua orangtuaku..." terang Amira.
"Lalu disana kamu menginap dimana? bukankah kau pernah bilang jika dikampung kamu sudah tidak punya saudara?"
"Hmm ... aku pikir aku bisa menginap di penginapan kak... dan saat mengunjungi makam aku tidak lama jadi bisa langsung pulang." terangnya.
"Ya sudah ga pa-pa kalau begitu...kapan kamu berangkat?"
"Besok sore kak... jadi siangnya aku bisa ke tempat reuni. Dan keesokan paginya aku pergi ke makam lalu langsung pulang kak..."
""Baiklah... sekarang kau bereskan dulu barang-barang yang ingin kau bawa besok..."
"Baik kak..." lalu Amira pun pamit dan masuk ke kamarnya untuk membereskan barang yang ingin ia bawa.
Paginya saat sarapan Amira pun pamit pada anak-anak. Keduanya sangat terkejut dan malah memohon untuk ikut. Tuan Sam yang mendengar kedua keponakannya itu terus merengek, akhirnya menyuruh nyonya Sarah dan kedua keponakannya itu untuk ikut dengan Amira. Mendengar itu kedua bocah yang sedari tadi memasang wajah memelas itu pun langsung berubah sumringah dan langsung memeluk tuan Sam.
"Makasih uncle...." ucap keduanya bersamaan.
"Tuan ... apa ini tidak merepotkan?" tanya Amira.
"Tidak ... lagi pula Sarah dan kedua bocah itu juga butuh suasana baru..." jawab tuan Sam sambil tersenyum.
Amira sedikit terkejut saat melihatnya ... baru kali ini ia melihat tuan Sam tersenyum. Dan senyum itu terlihat sangat indah dimata Amira.
Pagi hari setelah beristirahat seusai sholat subuh bersiap - siap untuk acara reuninya. Sebenarnya ia tak mempersiapkan apa-apa tapi nyonya Sarah memaksanya untuk pergi ke salon terbaik dan membeli baju di butik ternama di kota P atas rekomendasi manager hotel. Kedua anak nyonya Sarah pun ikut bersemangat melihat bundanya dimake over. Amira yang tak pernah melakukan perawatan pun merasa sangat canggung. Namun ia hanya bisa pasrah pada perintah nyonyanya. Selesai dimake over Amira merasa pangling dengan penampilan barunya. Masih dengan balutan busana muslim namun lebih simple dan elegan membuatnya terlihat mempesona ditambah dengan polesan make up tipis pada wajahnya membuatnya tampak sangat anggun.
Dua bocah yang ikut menemani pun mebuka mulutnya karena terpana dengan penampilan baru Amira. Begitu juga dengan nyonya Sarah, dia tampak sangat puas dengan hasil make over yang dilakukan oleh pemilik salon tersebut.
"Bagaimana nyonya?" tanya pemilik salon sambil memperlihatkan hasil kerjanya.
"Bagus... sangat bagus... saya sangat suka..." kata nyonya Sarah dengan mata berbinar.
"Kak... apa ini tidak berlebihan?" kata Amira canggung.
"Tentu saja tidak...bukan begitu mbak?" tanya nyonya Sarah pada pemilik salon.
"Benar... mbak tampak cantik dan terlihat natural...tidak berlebihan" kata pemilik salon.
"Iya bunda cantiiiik banget..." kata Anna dan Adit berbarengan.
"Sudah ayo berangkat nanti kamu telat ..." kata nyonya Sarah.
Dan mereka pun berangkat ke lokasi reuni. Sesampainya di sana nyonya Sarah dan kedua anaknya tak ikut turun karena mereka ingin pergi ketempat penjualan oleh-oleh.
"Nanti kalau sudah mau pulang telpon saja ya..." kata nyonya Sarah.
"Ya kak... hati-hati ya..."
__ADS_1
"Iya.."
Dan mobil yang membawa nyonya Sarah dan kedua anaknya itu pun meninggalkan Amira.
Setelah itu Amira pun melangkahkan kakinya ke dalam sekolah yang sudah disulap menjadi tempat reuni. Karena reuni kali ini dari beberapa angkatan terlihat beberapa stan yang mewakili setiap kelas dan angkatan. Saat mencari stan angkatannya tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Saat ia menoleh betapa terkejutnya ia dengan orang yang berdiri dihadapannya.
"Akhirnya kamu datang juga..." ucapnya sambil tersenyum.
"Yuda..." kata Amira lirih.
"Syukurlah kamu akhirnya memutuskan untuk datang..." sambung Yuda sambil terus tersenyum.
"Bukannya kamu tidak seangkatan denganku?" tanya Amira dengan nada protes.
"Memang... tapi kan aku sudah bilang kalau aku ikut jadi panitia" kata Yuda.
"Jadi aku bisa pergi kesetiap stan... untuk mengecek kesiapannya..." sambungnya enteng.
"Kenapa? kamu tidak suka ketemu aku ya?" tanyanya lagi.
"Ya" jawab Amira singkat.
Yuda hanya bisa menghela nafas. Senyum yang dari tadi mengembang mulai pupus.
"Kau masih belum memaafkan aku?"
"Sudah".
"Lalu kenapa kau tidak ingin bertemu denganku?".
"Itu soal lain... aku hanya tidak ingin ada yang salah faham, jangan sampai ada hati yang terluka karena hal ini..." terang Amira lalu membalikkan badannya dan meninggalkan Yuda yang terpaku karena ucapannya.
Setelah sekian lama mencari akhirnya Amira menemukan stand kelasnya dulu. Banyak hal yang berubah pada teman-temannya dulu. Kini Amira pun bisa lebih akrab dengan mereka, mungkin karena faktor usia membuat semua orang jadi lebih bijaksana dan mungkin juga karena lama tak bertemu membuat mereka saling melepas rindu. Ternyata banyak memori yang indah yang bisa ia ingat kembali saat bertemu dengan mereka. Masa-masa SMU yang penuh dengan kenangan ...
Saat Amira asyik bernostalgia dengan teman sekelasnya ada seseorang yang memperhatikannya dengan wajah geram. Seakan setiap senyum dan tawa Amira adalah belati yang menusuknya berkali-kali. Tak tahan dengan perasaannya itu ia pun menghampiri Amira.
"Wah.. wah..wah... ada upik abu super jumbo ternyata..." ucapnya sambil mengembangkan senyum sinis.
"Maya..." ucap Amira.
Sedang teman sekelas Amira yang lain memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Apa maksudmu?" tanya Rudi mantan ketua kelas Amira dulu.
"Apa kalian tidak lihat? baju mewahnya itu pasti cuma pinjaman... dan apa kalian tahu dia itu sekarang bekerja dimana?"
"Emang apa hubungannya? mau dia bekerja dimana itu bukan urusan kamu... sirik aja..." sambung Wanda teman sekelas Amira yang dulu terkenal paling judes jika ada yang mengganggunya.
"Sudah... jangan diladenin nenek sihir seperti dia... memang dari dulu dia gak pernah suka kalau ada yang bahagia..." sambung temannya yang lain.
Dan mereka pun melanjutkan kegiatan mereka tanpa memperdulikan Maya yang masih berada disana. Karena kesal Maya pun akhirnya pergi dengan wajah yang ditekuk.
__ADS_1
Maaf jika up nya agak lama karena masih harus merevisi bab sebelumnya agar bisa lulus kontrak. Mohon do'anya agar kali ini bisa lulus kontrak...🙏🙏