
Tuan Danu merasakan penyesalan yang teramat dalam saat mengetahui jika putranya sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupannya. Kini semua harta yang dimilikinya serasa tidak ada gunanya sama sekali untuk mengobati rasa sakit dan kekosongan dalam hatinya. Bahkan Maya, wanita yang dulu telah mengalihkan dunianya bahkan dari anak dan juga istri pertamanya tidak bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik. Justru kini ia semakin merasa menyesal atas semua dosa masa lalunya setiap kali melihat wajah Maya yang seolah selalu mengingatkannya akan semua dosanya itu.
Saat mengetahui jika Ricko sudah pergi ke bandara ketika dirinya dan Maya baru sampai di rumah, ia langsung bergegas pergi ke bandara meski tubuhnya masih terasa lemah demi bisa menemui putranya itu. Tapi lagi-lagi Tuhan seakan tengah menghukumnya, karena saat ia sampai di bandara tuan Danu sudah terlambat karena pesawat yang membawa Ricko sudah lepas landas. Jadi pertemuannya dengan Ricko di villa adalah pertemuan terakhir mereka karena setelahnya ia tidak pernah lagi mendapatkan kabar tentang sang putra. Tempat pengabdian yang dipilih Ricko sangat terpencil sehingga sangat sulit untuk bisa mengakses ke sana baik dengan jalur darat maupun dengan udara. Bahkan sinyal seluler tidak bisa menjangkau daerah itu. Jadi hampir 3 tahun ini ia sudah kehilangan putranya. Kini ia hidup kesepian bersama Maya yang kini juga menderita kanker serviks sehingga membuat wanita itu harus bolak balik ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan.
Sementara dirinya sendiri juga tidak lebih baik. Sebab ia juga kini menderita beberapa penyakit komplikasi yang membuatnya tidak bisa hidup tanpa meminum obat dan juga perawatan berkala. Miris... putranya seorang dokter, namun tidak sekali pun putranya itu datang dan memeriksa keadaannya. Sepertinya Ricko benar-benar menjalankan perkataannya yang tidak ingin terlibat lagi dalam kehidupannya. Sedangkan jauh di dalam pedalaman Kalimantan, seorang dokter muda tengah memeriksa pasien kecilnya yang menderita diare di rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal sekaligus juga tempat prakteknya. Dengan telaten dokter itu memberikan pelayanan pada gadis suku pedalaman yang belum pernah melihat seorang dokter sebelumnya. Gadis kecil yang semula terlihat takut pada orang asing tampak mulai bisa menerima dan akrab dengannya karena perilakunya yang ramah. Dialah dokter Ricko...
"Dokter Ricko, tadi ada kiriman paket untuk dokter" ucap seorang wanita paruh baya yang seorang bidan yang selama ini menjadi asistennya saat Ricko telah menutup prakteknya.
"Oh ya?" tanya Ricko penasaran.
"Iya dok..." sahut wanita itu sambil tersenyum dan menyerahkan sebuah kontak kardus berukuran sedang padanya.
"Terima kasih bu Risa..."
"Sama-sama dok... kalau begitu saya permisi pulang dulu"
"Iya... sekali lagi terima kasih" ucap Ricko yang dibalas dengan anggukan oleh bidan Risa.
Setelah merapikan peralatannya Ricko pun membawa kardus paket itu ke ruang makan dan diletakkannya diatas meja makan. Kemudian ia membersihkan dirinya terlebih dahulu baru kemudian ia membuka paket tersebut. Saat menatap nama si pengirim, bibir Ricko tidak berhenti tersenyum. Bagaimana tidak, itu adalah kiriman paket dari sahabatnya Samir. Samir memang sering mengiriminya barang-barang baik itu sumbangan untuk penduduk desa tempatnya tinggal atau barang pribadi untuk kebutuhan Ricko. Sadira juga sering menitipkan sesuatu jika Samir akan mengirimkan paket pada Ricko. Terutama berupa makanan yang tahan lama hasil masakannya sendiri. Dan akhirnya setelah beberapa bulan berusaha untuk ikhlas kini Ricko mulai bisa merubah perasaannya pada gadis itu menjadi rasa sayang pada saudarinya.
Ricko membuka paket itu dengan tidak sabar. Hal pertama yang didapatinya adalah berupa beberapa bahan makanan tahan lama untuk persediaannya dirinya. Ia juga mendapatkan sebuah sweater rajutan yang terdapat sebuah sticky note tertempel diatasnya.
"Dear kak Ricko,
Selamat ulang tahun kak... ini hadiah dari aku khusus untuk kakak... aku harap kakak selalu sehat dan panjang umur serta cepat membawakan aku kakak ipar..." tulis pesan tersebut.
__ADS_1
Dari tulisannya Ricko langsung tahu itu dari siapa. Tentu saja siapa lagi kalau bukan Sadira... gadis cantik dan lugu yang dulu sempat mencuri hatinya. Ricko tersenyum cerah... gadis itu... setiap tahun selalu saja begini, memberi hadiah dan menuntutnya untuk segera memiliki kekasih. Karena dia pernah bilang jika ia ingin melihat ketiga kakaknya bisa menikah secara bersamaan. Jadi dia akan langsung mendapatkan tiga orang kakak ipar sekaligus. Ya... Sadira tidak pernah berubah, gadis itu selalu menganggap Ricko sebagai seorang kakak sama seperti Sahir dan juga Samir.
"Kamu memang tidak pernah berubah Ra..." gumam Ricko sambil mengelus sweater hasil rajutan gadis itu sendiri.
Sadira memang dari jauh hari sudah meminta ukuran tubuh Ricko agar ia bisa merajutkan sweater untuk Ricko sebagai hadiah ulang tahunnya tahun ini. Saat ini gadis itu memang sedang gemar merajut, bukan hanya Ricko, kedua kakak kembarnya, juga kedua orangtuanya dan Bara masing-masing mendapatkan gilirannya mendapatkan benda hasil rajutannya.
"Aku sangat merindukanmu Ra..." desah Ricko lirih.
Meski sudah meyakinkan diri jika kini perasaannya hanya lah perasaan seorang kakak pada adiknya namun tidak bisa dipungkiri jika jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam nama Sadira masih lah yang teristimewa disana. Tiba-tiba pandangan Ricko tertumbuk pada sebuah amplop putih bertuliskan namanya. Sepertinya Samir menyertakan sebuah surat untuknya. Ricko pun segera membacanya karena saat ini hanya dengan surat ia bisa berkirim kabar dan mengetahui dunia luar. Ricko sedikit tersentak saat menyadari jika surat itu bukanlah dari Samir melainkan tuan Danu, ayahnya.
Di dalam surat itu tuan Danu mengungkapkan rasa penyesalannya dan meminta maaf atas semua dosanya dimasa lalu. Ia mengatakan jika ia sengaja menitipkan surat itu pada Samir agar saat pemuda itu mengirimkan paket pada Ricko suratnya bisa sampai. Dalam suratnya tuan Danu juga menceritakan keadaannya dan juga Maya saat ini yang sama-sama menderita penyakit parah. Tuan Danu juga menulis jika dia dan Maya sudah pasrah dan ikhlas menganggap ini sebagai hukuman atas dosa mereka di masa lalu. Ricko menghela nafasnya pelan. Ada rasa sesak di dalam dadanya saat mengetahui keadaan papanya sekarang. Meski dulu ia juga sempat berharap jika pria itu dan istrinya mendapatkan balasan setimpal atas perbuatan mereka pada mamanya.
Ricko meletakkan surat papanya di atas meja sambil kembali menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Jujur... saat ini hatinya jadi sedikit bimbang. Mengetahui keadaan sang papa yang penyakitan membuat hati nuraninya tersentuh. Sebagai seorang dokter ia juga ingin merawat kesehatan papanya secara langsung. Mungkin benar jika kini hatinya sudah mulai memaafkan papanya itu apa lagi walau bagaimana pun pria itu adalah orangtuanya yang dulu juga membesarkannya. Saat sedang gundah itulah tiba-tiba ia melihat satu lagi amplop surat. Kali ini Ricko yakin jika itu dari Samir.
"Hai Rick... mungkin lu masih betah semedi di sana... tapi mau sampai kapan? Apa sebegitu susahnya lu move on dari adek gua hingga lu harus semedi ditempat terpencil selama bertahun-tahun hem? Gua fikir ini saatnya lu pulang... Bokap lu datang nemuin gua dan nitip surat buat lu... lu juga pasti udah membacanya kan? sebab gua sengaja meletakkannya diatas amplop ini... dia udah dapat karmanya bro... dia tidak dalam keadaan baik-baik saja, karena saat ketemu ama gua dia tampak kurus dan semakin pucat. Mungkin penyakit AIDS nya semakin menyebar... gua juga denger kalo ibu tiri terlihat bolak balik masuk rumah sakit. Jika mengetahui hal ini bisa membuat lu merasa sedikit lega karena mereka sudah mendapatkan hukuman setimpal, maka ini sudah saatnya lu pulang. Gua juga mau nikah bro... dan gua pengen lu juga hadir dihari pernikahan gua... jadi pulang ya..." tulis Samir.
Bu Risa mendengarkan semua penjelasan Ricko dengan sabar. Sesekali tampak ia menghela nafas karena merasakan sesak saat mendengar penderitaan yang selama dirasakan oleh Ricko. Dan saat Ricko menyelesaikan penjelasannya, wanita itu pun terdiam sejenak sebelum akhirnya memberikan saran.
"Ibu tahu semua yang nak dokter alami pasti sangat menyakitkan dan membuat dokter merasa trauma. Tapi menurut ibu saat ini memang sudah saatnya kamu pulang nak... rawatlah papa kamu sebagai bakti kamu sebagai seorang anak. Jangan sampai kamu menyesal jika seandainya papa kamu sudah tidak ada lagi dan kamu belum melakukan baktimu sebagai seorang anak. Kamu sudah pernah menyesal karena merasa belum membahagiakan mama kamu sebelum dia meninggal meski saat itu kamu masih kecil, jadi jangan sampai kamu merasakannnya lagi saat papa kamu nanti juga meninggal..." nasehat bu Risa.
Ricko tampak memikirkan apa yang dikatakan oleh bu Risa. Dalam hatinya ia juga membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Tapi bagaimana dengan penduduk sini jika saya pergi bu?"
"Jangan khawatirkan kami... di sini akan selalu ada dokter baru yang datang untuk membantu kami... jadi lebih baik nak dokter pulang dan rawatlah papa nak dokter... jangan sampai menyesal..."
__ADS_1
Ricko tertegun dengan perkataan bu Risa. Memang benar jika ia pergi akan ada dokter pengganti namun tidak bisa secepatnya.
"Sudah... jangan ragu lagi, meski harus menunggu beberapa waktu hingga dokter baru datang, tapi di sini masih ada saya yang bisa membantu penduduk desa untuk sementara..." lanjut bu Risa meyakinkan Ricko.
Akhirnya ia pun mengangguk setuju yang disambut dengan senyum bahagia bu Risa. Kemudian Ricko pun mulai bersiap untuk pergi dari desa itu. Namun sebelum pergi besok pagi ia akan memberitahukan kepulangannya itu kepada kepala desa agar beliau bisa mengajukan surat permintaan dokter pengganti dirinya. Keesokan harinya Ricko memberitahu kepala desa tentang keinginannya untuk pulang dan merawat ayahnya. Kepala desa pun mengerti akan keinginan Ricko tersebut dan mempersilahkan Ricko untuk bisa secepatnya pulang. Namun Ricko meminta waktu untuk mengucapkan salam perpisahan pada warga desa agar mereka tidak terkejut dan memahami alasannya pergi dari sana. Jadilah akhirnya Ricko kembali ke kota asalnya setelah dua hari kemudian. Karena ternyata para penduduk desa mengadakan acara perpisahan khusus untuknya.
Di sinilah akhirnya Ricko berada... di dalam pesawat menuju kota asalnya. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Ada rasa senang, takut dan juga was-was. Ia merasa senang karena akan kembali ke tempat dimana dirinya berasal. Takut dan was-was karena kali ini ia harus menghadapi sang ayah yang telah ia siksa saat terakhir ia bertemu dengannya. Lucu memang... ia yang dulu berani menyiksa papanya tanpa takut kini malah merasa sebaliknya. Ia kini takut jika papanya tidak bisa memaafkan perbuatannya yang memang keterlaluan. Tapi, mau tidak mau ia harus menghadapinya. Toh papanya dulu yang memintanya pulang dan sudah meminta maaf terlebih dahulu atas dosanya di masa lalu.
Kini Ricko tengah berdiri di gerbang rumahnya setelah tadi turun dari dalam taksi yang membawanya dari bandara. Terlihat rumah peninggalan kakeknya itu sama sekali tidak berubah. Setelah menghembuskan nafasnya pelan, Ricko pun melangkahkan kakinya ke arah gerbang dan menekan bel yang ada di samping pagar. Tak menunggu lama seorang satpam langsung membukakan pintu gerbang. Saat melihat Ricko, satpam itu langsung berseru senang sebab tuan mudanya telah kembali pulang. Ricko pun memeluk hangat pria paruh baya yang sudah bekerja di sana sejak dirinya masih kecil. Satpam itu langsung membantu membawakan koper Ricko dan mengikutinya ke dalam rumah.
Bi Ratmi yang membukakan pintu rumah pun terkejut dan langsung memeluk saat melihat Ricko sudah berdiri didepan pintu. Wanita yang sudah baya itu sampai menitikkan air mata karena terlalu bahagia. Ricko pun menanyakan keberadaan papanya dan bi Ratmi langsung membawanya ke ruang makan dimana sang papa tengah makan siang bersama Maya.
"Papa..." panggil Ricko dengan suara tercekat.
Tuan Danu dan Maya pun langsung menoleh ke arah suara. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Ricko sudah berada dihadapan keduanya.
"Ricko!" seru tuan Danu.
Pria tua itu pun segera beranjak dari duduknya demi mendekat ke arah sang putra.
"Kamu pulang nak?" tanyanya seolah tak percaya dengan penglihatannya jika putranya ada dihadapannya.
"Iya pa..." sahut Ricko pelan.
Tuan Danu tidak dapat membendung rasa harunya dan langsung memeluk erat Ricko.
__ADS_1
"Maafkan papa nak... maafkan papa..." ucapnya sesenggukan sambil memeluk Ricko.