BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Obsesi


__ADS_3

Setelah perkenalan singkat Sadira bersama kedua sahabatnya langsung pamit untuk ke kamar Sadira. Sementara teman-teman si kembar langsung heboh sepeninggal ketiga gadis itu.


"Kalian beruntung bro... punya adek cantik dan temannya juga cantik-cantik... dan karena lo udah ngelarang buat deketin adek lu... maka boleh kan jika gua deketin temannya?" tanya Hadi sambil menaik turunkan alisnya.


"Ga boleh!" teriak Sahir dan Samir bersamaan yang membuat semua temannya kaget.


"Lah kenapa?"


"Karena mereka berdua udah ada yang punya!" seru Samir segera.


"Hah? cepet amat cewek cantik zaman sekarang lakunya..." ujar Hadi kecewa.


"Lu berdua ga bohong kan?" tanya Hadi tidak percaya.


"Buat apa bohong... yang pakai jilbab itu udah punya Sahir... sedang yang satunya punya gua..." ceplos Samir pede yang membuat semuanya mendelik, termasuk Sahir.


"Sejak kapan Samir jadian dengan gadis bernama Hana itu?" batin Sahir.


Sementara Samir tampak salah tingkah saat menyadari apa yang baru saja ia katakan. Entah kenapa ia bisa seberani ini mengklaim seorang gadis bahkan sebelum ia mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Apa lagi gadis itu adalah sahabat dari adiknya sendiri. Tanpa ada yang menyadari, ada seseorang yang tengah tersenyum misterius saat mengetahui jika Sadira adalah gadis yang sama yang membuatnya kagum karena sikap beraninya sekaligus pandai memasak. Sungguh kombinasi yang sempurna membuat orang itu diam-diam bertekad untuk memiliki gadis itu seutuhnya.


Dengan pengakuan Samir tadi membuat obrolan mereka tentang ketiga gadis imut itu pun berakhir. Bahkan Hadi langsung mengunci mulutnya tidak lagi membahas gadis-gadis yang ternyata dalam kekuasaan si kembar. Mereka pun melanjutkan diskusi mereka hingga saat hampir makan siang mereka semua pun pamit. Meski Amira menawarkan makan siang bersama namun mereka semua menolak karena merasa tidak enak terlalu merepotkan keluarga si kembar.


Sementara di dalam kamar Sadira, ketiga gadis itu tengah asyik bercengkrama. Bagaimana tidak... selama ini ketiganya sangat sulit untuk bisa bersama-sama setiap saat karena Ayana yang bersekolah di asrama.


"Oh iya... kata Dira beberapa hari yang lalu kamu melawan seniormu Han?"


Hana langsung mengangguk dan terkekeh mengingat tingkah bodohnya. Sebab akibatnya ia merasakan sakit dikepalanya cukup lama meski Sadira sudah mengoleskan salep di kepalanya.


"Iya... habis aku juga ga mau terus terusan dibully jika Sadira ga ada Ay..." ungkap Hana.


"Iya... tapi ga harus dengan menggunakan kepalamu untuk memukulnya..." potong Sadira yang masih tidak habis fikir dengan kenekatan sahabatnya yang satu itu.


"Habisnya aku ga kepikiran untuk gigit lengan dia Ra... lagi pula kalau pun aku menggigitnya aku justru merasa geli karena sudah seperti zombie aja..." ujar Hana memberi alasan.


"Iya juga sih... apa lagi kalau membayangkan jika tangan anak itu berkeringat... iuh... menjijikkan!" seru Ayana yang diamini kedua sahabatnya.


"Udah ah... stop bahas para senior yang menyebalkan itu... sekarang kita bahas hal lain saja..." kata Hana.


Ayana dan Sadira pun langsung setuju. Dan akhirnya mereka membahas hal lain termasuk kekasih masing-masing.


"Hemmm... kalian enak sudah punya kekasih, sedang aku?" ungkap Hana menampilkan wajah sedihnya setelah mereka membahas Bara dan Sahir.

__ADS_1


"Kau tenang saja Han... aku yakin ga lama lagi kau juga akan mendapatkan kekasih... sebab kamu baik dan lucu..." ungkap Ayana.


"Iya... dan jangan lupa kau jangan buru-buru menerima seseorang menjadi kekasihmu hanya karena kami sudah memilikinya... pastikan jika dia benar-benar tulus dan tidak macam-macam" nasehat Sadira.


"Tentu saja... aku juga ga mau patah hati..." ujar Hana yang membuat kedua sahabatnya itu langsung memeluknya.


Sedangkan di ruang keluarga tampak Sahir dan Samir tengah berbicara serius setelah semua teman mereka pulang, dan Amira kembali sibuk menyiapkan makan siang di dapur.


"Apa kau serius dengan perkataanmu tadi Sam?" tanya Sahir yang membuat pemuda itu salah tingkah.


"Hemm... itu... aku... aku memang serius kak... tapi masalahnya aku belum mengatakannya pada gadis itu..." ujar Samir jujur.


Sahir langsung mendelik.


"Jadi sebenarnya kalian berdua belum jadian?"


"He... he... he... iya kak... tadi aku mengatakannya karena aku tidak ingin ada orang lain yang mendekati Hana lebih dulu" terang Samir sambil terkekeh.


"Kau ini ada-ada saja... bukannya kau itu sangat berpengalaman?" ledek Sahir yang membuat Samir tersenyum kecut.


Bagaimana tidak... selama ini ia memang dekat dengan banyak teman wanita, namun ia tak pernah memiliki perasaan lebih pada mereka. Justru malah para gadis itu yang sering kali terang-terangan menyatakan perasaan sukanya pada Samir. Meski begitu tak ada satu pun yang diterima oleh Samir. Karena baginya pantang membohongi perasaannya sendiri hanya karena iba ataupun merasa tidak enak hati. Namun Samir masih menjalin hubungan baik pada mereka, karena menurutnya meski tidak dapat membalas perasaan mereka tapi masih bisa berteman.


Setelah makan siang, Ayana dan Hana pun pamit untuk pulang. Sahir langsung menawarkan diri untuk mengantar pulang Ayana dengan alasan ia akan membeli sesuatu untuk tugas kuliahnya dan tempatnya searah dengan rumah Ayana. Samir yang sebenarnya juga ingin mengantarkan Hana pulang tidak bisa melakukannya karena Hana menunggu sopir keluarganya menjemput. Sambil menunggu sang sopir datang, Hana berbincang dengan Amira dan Sadira. Hampir 30 menit menunggu namun sang sopir belum juga datang.


Namun karena bujukan Amira dan Sadira, ia pun akhirnya menurut. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Samir untuk mulai mendekati Hana. Dengan sifatnya yang ceria dengan mudah Samir bisa langsung akrab dengan Hana selama perjalanan. Dan tanpa membuang waktu Samir bahkan mengajak Hana untuk pergi berdua sore harinya. Hana gadis yang masih lugu itu pun langsung menyetujuinya saat Samir beralasan akan membeli kado untuk adik temannya yang sedang berulang tahun dan meminta Hana untuk membantunya memilihkannya. Padahal jika difikir-fikir, bukannya Samir memiliki Sadira? dan adik bungsunya itu pasti mau membantu sang kakak untuk sekedar mencari kado.


Namun Hana malah tidak berfikir sejauh itu, gadis itu malah langsung setuju karena merasa harus membantu kakak dari sahabatnya itu. Lagi pula ini pertama kalinya seorang cowok mengajaknya keluar, meski bukan untuk berkencan. Namun setidaknya ia akan merasakan pengalaman baru. Apa lagi Samir adalah kakak Sadira jadi ia tidak akan merasa khawatir jika ia akan melakukan hal yang buruk padanya.


Di tempat lain...


Seseorang tengah memfoto nasi kuning yang tadi didapatkannya dari Samir. Sengaja ia mengabadikan makanan itu agar ia mengingat bahwa itu adalah buatan tangan gadis pujaannya. Selesai memfoto, ia pun mulai memakan nasi itu dengan penuh penghayatan. Bahkan disetiap suapannya ia membayangkan jika Sadiralah yang sedang menyuapinya dengan mesra. Hal itu menambah rasa nikmat dari nasi kuning yang sedang ia makan.


"Hemmm... jika nanti kau benar-benar menjadi milikku pastinya setiap hari aku akan merasakan masakanmu yang enak setiap harinya Dira..." gumamnya sambil tersenyum dan kembali menikmati makanannya.


Selesai makan orang itu pun berpindah ke dalam sebuah kamar. Ternyata itu adalah kamar dimana ia biasa mencetak foto-foto hasil jepretannya. Dengan telaten ia pun mencuci dan mencetak semua foto yang hari ini berhasil ia ambil. Setelah selesai, ia pun kemudian berpindah ke kamar lainnya. Kali ini kamar itu tampak berbeda dan lebih mirip dengan museum. Di dalam sana sudah banyak terpajang foto-foto Sadira yang menempel di dinding kamarnya.


Dan kali ini ia menambahkan beberapa foto lagi yang baru ia dapatkan hari ini, termasuk foto nasi kuning yang ia ambil tadi. Ia tampak memandangi hasil karyanya dengan puas. Tak lama ponselnya pun berdering terlihat nama pria tua di sana.


"Halo son..." sapa orang diseberang sana.


"Ya..."

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu? apa kuliahmu lancar?"


"Ya..." sahutnya malas.


"Ehemm... begini... papa minggu depan akan pulang bersama tante Maya... jadi bisakah kau tinggal di rumah..."


"Aku sudah punya agenda untuk pergi pendakian" potongnya cepat.


"Tapi son..."


Klik!


Ia pun memutuskan sambungan telfon dengan tiba-tiba tanpa menunggu orang yang diseberang sana menyelesaikan kalimatnya.


"Arrrgghh! dasar pria tua... untuk apa dia memberitahukan semua itu padaku? mau datang kek... mau mati kek... bukannya sudah tidak ada hubungannya denganku? dasar b***g**k!" serunya sambil melemparkan beberapa barang yang ada disekitarmya.


Kemudian pandangannya teralihkan kembali pada foto-foto Sadira...


"Hanya kamu yang tidak akan meninggalkanku lalu datang lagi dan pura-pura perduli padaku kan?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Ia bahkan mengelus dan mencium satu foto Sadira yang ia cetak cukup besar. Dalam foto itu tampak Sadira tengah tersenyum dengan mengenakan stweater bergambar tweety besar. Ya... dia mengambil gambar itu saat diadakan acara camping di sekolah Sadira dulu. Saat itu ia ikut sebagai pendamping panitia karena ia sudah cukup berpengalaman.


Setelah puas memandangi wajah Sadira dalam foto, ia pun kemudian keluar dari dalam kamar itu dan bergegas pergi. Ya... kamar-kamar itu berada di dalam sebuah apartemen miliknya yang tidak diketahui oleh siapa pun termasuk sang papa. Ia membeli apartemen itu dengan uangnya sendiri setelah ia mengumpulkan uang dari hasil kerja sambilannya sebagai fotografer.


Dengan mengedarai mobilnya, Ricko pergi ke rumah orangtuanya. Lebih tepatnya rumah peninggalan mendiang kakeknya. Di sana ia sudah disambut oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan sekaligus pengasuhnya saat kecil.


"Tadi tuan menelfon... katanya minggu depan beliau akan pulang... apa beliau sudah menghubungimu?" tanyanya dengan lembut.


"Hemmm..."


"Apa kau marah karena dia akan membawa nyonya Maya?"


"Huh buat apa aku marah... biar saja dia membawa gundiknya itu kemari toh ini bukan rumahku... asal jangan berani-berani untuk tinggal di kamar mamaku..." sahut Ricko dingin.


Wanita paruh baya yang bernama Ratmi itu pun hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia mengerti mengapa tuan mudanya bersikap seperti itu. Sakit hati karena kematian sang mama saat usianya baru 10 tahun akibat bunuh diri karena mengetahui sang suami menikah lagi. Sang mama sebenarnya wanita yang kuat, namun pengkhiatan demi pengkhiatan sang suami pada banyak wanita membuat mental wanita itu pun akhirnya drop. Dan terakhir saat dengan santainya sang suami membawa istri barunya pulang ke rumah untuk mengenalkannya pada sang putra.


Ricko yang saat itu berusia sepuluh tahun dan sudah mulai mengerti segalanya langsung memberikan pelajaran pada kedua orang itu dengan menyiramkan seember air bekas pel saat keduanya baru saja menginjakkan kakinya di rumah itu. Hal itu tentu saja membuat sang papa murka hingga melampiaskannya dengan menampar sang mama karena dianggap tidak bisa mendidik sang putra. Kemudian ia pun langsung membawa pergi istri barunya itu dari sana.


Malam harinya, sang mama mengajak Ricko untuk makan malam dengan nasi kuning buatannya sendiri sebagai salam perpisahan pada sang putra. Ia berfikir jika ia meninggal akan membuat suaminya itu menyesal. Namun semua tak seperti yang ia bayangkan. Karena itu sama sekali tidak berguna dan bahkan menyakiti hati sang putra karena merasa ditinggalkan mamanya. Semenjak kematian sang mama, papa Ricko pun langsung membawa istri barunya untuk tinggal di rumah mereka. Tapi Ricko tidak membiarkan mereka menempati kamar sang mama dengan melakukan teror terhadap keduanya.


Sehingga istri kedua sang papa pun tidak tahan dan memilih untuk keluar dari rumah itu. Papa Ricko pun terpaksa mengikuti istri barunya, sedang Ricko tetap bertahan di sana. Ditemani oleh bi Ratmi, Ricko menjalani hari-harinya bak anak yatim piatu. Sementara sang papa sibuk dengan keluarga barunya. Dan seakan terjadi karma, istri kedua sang papa tidak dapat memberinya keturunan karena wanita itu dinyatakan mandul. Oleh karenanya papa Ricko pun kembali mendekati sang putra. Tapi semua sudah terlambat, Ricko sudah berubah dan tak lagi menganggapnya papa.

__ADS_1


Bahkan ia tak pernah mau memanggil istri kedua papanya itu mama. Karena itulah sampai saat ini ia tak pernah mau perduli dengan papanya dan juga istri barunya meski mereka berusaha untuk mengambil hatinya. Bahkan mereka juga tak lagi mau mengusik kamar almarhum mama Ricko dan hanya tinggal di kamar tamu saat berada di rumah itu. Kesalahan Dirga papa Ricko pada istri pertamanya tanpa diduga membuat mental Ricko yang sejak dulu sangat dekat dengan mamanya menjadi berubah. Ricko kini menjadi terobsesi mencari sosok sang mama pada wanita lain. Dan setelah sekian lama akhirnya ia menemukan Sadira.


Gadis bar-bar namun lembut yang mirip dengan mamanya. Ya... alasan Ricko meminta nasi kuning pada Samir bukan karena sang mama. Tapi karena ia ingin lagi merasakan masakan buatan gadis itu. Gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama ia melihatnya.


__ADS_2