
Kata-kata Andi meluncur dengan lancarnya tanpa ada beban sama sekali. Namun tanpa diduga tiba-tiba pintu kamar itu didobrak dari luar yang menyebabkan pintu itu langsung roboh ke dalam kamar.
Brraaakkkk!!!
Sepasang pengantin baru yang tengah berada disituasi yang panas karena perkataan Andi pun terkejut dan segera menoleh dan melihat siapa yang sudah merobohkan pintu kamar.
Alangkah terkejutnya keduanya saat terlihat pak Dahlan berdiri di ambang pintu dengan urat leher yang mengeras dan wajah yang sudah merah karena marah. Para tamu yang masih tersisa pun berlarian karena mendengar suara keras dan langsung menuju ke sumber suara. Mereka pun sama terkejutnya melihat perbuatan pak Dahlan.
"Ceraikan putriku sekarang juga!" teriak pak Dahlan pada Andi yang kini sudah berwajah pucat.
Ia sadar jika pak Dahlan pasti sudah mendengarkan perkataannya pada Sandra tadi. Pak Dahlan tadi memang sedang berada di depan kamar keduanya saat Andi menghina Sandra. Sebenarnya ia hendak masuk ke kamarnya yang berada disamping kamar Sandra untuk mengambil sesuatu. Namun perkataan Andi yang menghina Sandra dengan suara yang cukup keras bisa terdengar jelas olehnya.
"Apa maksud abah?" tanya bu Zaenab yang baru saja datang bersama yang lain.
"Aku tidak akan membiarkan putriku menikah dengan pria yang sudah berani menghinanya!" seru pak Dahlan yang membuat semua orang yang ada disana terkejut termasuk besan barunya.
"Maksud mas apa?" tanya pak Seno tak mengerti mengapa besannya bisa semarah itu.
"Tanyakan pada putramu apa yang baru saja ia katakan pada putriku! dan kau laki-laki b**ngs*k jangan sekali kali kau berkelit karena telingaku masih berfungsi dengan baik jadi aku tahu apa yang sudah aku dengar barusan keluar dari mulut kotormu!" tunjuk pak Dahlan pada Andi.
"Apa yang sudah kau katakan pada istrimu Andi?" tanya pak Seno.
Andi masih saja diam yang membuat pak Dahlan semakin murka.
"Katakan! atau aku yang yang harus mengatakannya? baiklah! putramu ini menganggap putriku sebagai karung beras yang tak pantas bersanding dengannya! dan kau! kau ternyata hanya ingin balas budi saja... asal kau tahu putriku ini lebih berharga dari pada berlian yang termahal sekalipun! dan aku menolongmu tanpa pamrih jadi aku tegaskan sekali lagi bahwa kau tidak berhutang apa-apa padaku jadi sekarang suruh putramu untuk menceraikan putriku sekarang juga!" kata pak Dahlan dengan penuh amarah.
Ya ia tak akan pernah terima jika putrinya satu-satunya dihina apa lagi oleh orang yang baru saja menjadi suaminya. Ia bukan orang yang sabar jika menyangkut kebahagiaan putrinya itu. Jika dulu saat ia setuju menerima lamaran Seno untuk putranya karena ia menyangka jika putrinya akan bahagia karena mendapatkan suami yang seiman. Tapi nyatanya kelakuan pria itu sangat jauh dari bayangannya. Bukannya mengayomi pria itu justru menghina dan mengoyak harga diri putrinya. Dan itu dilakukannya hanya beberapa jam setelah ia mengucapkan ijab kabul.
"Tapi mas... apa mas tidak malu baru saja menikah mereka langsung bercerai?" kata pak Seno mencoba membujuk pak Dahlan.
"Aku tidak perduli!" sahut pak Dahlan bertambah marah.
"Mbak coba bujuk suamimu... biaya yang kita keluarkan untuk pernikahan anak-anak kita tidak sedikit... masak langsung cerai!" timpal bu Lastri istri pak Seno.
"Berapa biayanya? biar saya ganti!" terdengar suara tuan Sam tiba-tiba.
Semua orang langsung memandang pada tuan Sam yang berdiri disamping Amira. Keduanya juga berada disana karena memang belum pulang. Dan mereka berdua jadi ikut menyaksikan kejadian yang menghebohkan itu.
"Heh kamu itu siapa? beraninya ikut campur dalam masalah keluarga kami!" seru bu Lastri.
"Saya keluarga mereka!" sahut tuan Sam menunjuk pada pak Dahlan dan keluarganya.
"Tapi..."
__ADS_1
"Katakan saja berapa? akan saya bayar semua" potong tuan Sam.
"200 juta!" sebut bu Lastri mencoba membuat ciut nyali lawannya.
"Baik" jawab tuan Sam enteng.
"Tapi tanda tangani dulu surat perjanjian jika putra kalian akan menceraikan Sandra sekarang juga! dan semua yang ada disini akan menjadi saksinya" sambungnya sambil menatap pak Seno dan istrinya tajam.
Sepasang suami istri itu pun saling menatap tak menyangka jika pak Dahlan memiliki keluarga kaya yang bisa membayar 200 juta dengan mudah. Sedang tuan Sam sudah tersenyum sinis. Ia tahu jumlah yang disebutkan bu Lastri itu melebihi biaya yang pak Seno keluarkan sebenarnya untuk menggelar pesta pernikahan ini. Sebab semua yang ada di pesta merupakan barang sewaan termasuk pakaian yang dikenakan oleh pengantin dan juga keluarganya.
Sementara Amira langsung masuk ke dalam kamar dan menghampiri Sandra. Saat melewati Andi, Amira bahkan dengan sengaja menyenggol tubuh pria itu hingga terjengkang.
"Ups maaf... ternyata kau tak punya tenaga sama sekali untuk ukuran seorang pria... pantas saja kau cuma beraninya dengan wanita!" cibir Amira yang geram dengan kelakuan Andi.
Semua orang kemudian berpindah ke ruang depan. Lukas juga sudah membuatkan surat perjanjian diatas kertas bermaterai untuk ditandatangani kedua belah pihak.
"Berikan nomor rekeningmu!" kata tuan Sam pada pak Seno.
Dengan segera bu Lastri langsung mengatakan jika mereka tidak memiliki rekening. Ia sengaja mengatakannya karena takut itu cuma tipuan saja. Jadi ia menginginkan uang cash. Tuan Sam yang tahu maksud dari bu Lastri mendengus kesal. Perempuan itu benar-benar mata duitan dan menyusahkan. Untung saja pak Dahlan batal menjadi besannya.
"Baiklah kalian tunggu sebentar akan aku ambilkan uangnya" kata tuan Sam.
Kemudian tuan Sam pun pergi bersama Lukas untuk mengambil uang di brankas rumahnya. Sementara bu Zaenab tengah memandang putrinya yang tampak tenang dan tak terpengaruh dengan keributan yang ada.
Sandra menoleh pada uminya dan tersenyum tulus. Baru kali ini bu Zaenab melihat kembali senyum putrinya yang beberapa hari terakhir tak pernah lagi dilihatnya.
"Aku tidak apa-apa umi..."
"Apa kau tidak akan menyesal Sandra? bercerai secepat ini dengan Andi?" tanya pak Seno mencoba untuk membujuk Sandra.
"Tidak!" jawab Sandra singkat membuat pak Seno dan keluarganya kaget.
Mereka tak menyangka gadis chubby itu sama sekali tak keberatan dengan keputusan abahnya. Bahkan kini wajah Sandra tampak lebih berseri.
"Biar saja pak... biar dia jadi perawan tua! siapa lagi yang mau menikah dengan janda yang dicerai dimalam pertamanya!" sungut bu Lastri yang tak terima ternyata putranya sama sekali tak dianggap oleh Sandra.
"Lebih baik Sandra menjadi janda sekarang dari pada hidup tersiksa dengan putra kalian yang b**c*! lihat saja sejak tadi dia tak mampu berbicara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya" sergah pak Dahlan sengit.
Suasana yang panas itu terhenti saat tuan Sam kembali bersama dengan Lukas sambil membawa uang dalam amplop coklat yang cukup besar. Setelah tuan Sam duduk Lukas meletakkan amplop berisi uang itu diatas meja.
"Sekarang tanda tangani surat perjanjian itu dan ceraikan Sandra!" kata tuan Sam tegas.
"Untuk urusan pengadilan agama biar kami yang mengurusnya" sambung tuan Sam.
__ADS_1
Ketiga orang itu pun kemudian menandatangani surat perjanjian yang sudah disiapkan tanpa bisa lagi menolak. Apa lagi banyak saksi yang melihat kelakuan Andi yang sama sekali tak punya itikad baik dan tetap diam sejak tadi. Setelah selesai tandatangan pak Seno langsung mengajak istri dan putranya pulang setelah sebelumnya kembalia meminta maaf kepada pak Dahlan dan keluarganya atas perbuatan putranya itu.
"Besok biar Lukas yang akan mengurus surat perceraian Sandra dan Andi... jadi kalian tidak usah cemas" ucap tuan Sam pada pak Dahlan dan keluarganya.
"Terima kasih nak Sam..." ucap pak Dahlan tulus.
"Sama-sama abah..." sahut tuan Sam.
Sementara Amira tengah menemani Sandra yang kini telah berada kembali di dalam kamarnya.
"Apa kau sudah merasa lega San San?" tanya Amira lembut sambil mengusap pundak sahabatnya itu.
" Iya Ra... hanya saja aku tak mengira abah akan mendengar semuanya dan melakukan semua ini untuk membelaku" terang Sandra.
"Kau tidak perlu terkejut dengan sikap abah, San San... orangtua mana yang akan menerima jika putrinya dihina orang lain meski pun itu pria yang berstatus suaminya. Apalagi kalian baru saja menikah... jika sejak pertama dia sudah menghinamu bagaimana dengan seterusnya?"
"Kau benar Ra... aku salah selama ini menyangka abah tak mau mengerti perasaanku... tapi nyatanya ia hanya ingin yang terbaik untukku" kata Sandra kini dengan meneteskan air mata.
"Sudahlah San San... kau tenangkan dulu dirimu... besok bicaralah dengan abah dan juga umi... dan jangan lupa minta maaflah karena sudah berprasangka buruk pada keduanya..." ucap Amira memberi nasehat.
"Sekarang tidurlah... aku juga harus pulang sekarang" sambung Amira.
"Terima kasih Ra..."
"Sama-sama"
Amira pun keluar dari kamar Sandra dan segera menemui tuan Sam dan yang lainnya yang masih di ruang depan. Setelah berpamitan pada kedua orangtua Sandra, Amira dan yang lainnya pun segera pulang. Di dalam mobil Amira tampak bergelayut manja pada suaminya di kursi penumpang. Sedang kedua bayi kembar mereka sudah dibawa pulang terlebih dahulu oleh pengasuh mereka dengan diantar sopir.
"Hem... kenapa kau tiba-tiba bersikap manja seperti ini?" kata tuan Sam yang heran dengan sikap istrinya yang tak biasa.
"Aku hanya merasa bangga dengan sikap kamu B... kau mau membantu Sandra dan keluarganya tanpa aku minta..." sahutnya sambil menatap suaminya lembut.
"Kau tahu kan betapa baiknya suamimu ini? jadi jangan heran jika aku membantu orang tanpa kau minta sekali pun" kata tuan Sam narsis.
"Hem... aku tahu... karena itu aku semakin mencintaimu..." sahut Amira yang membuat tuan Sam tersenyum senang.
Jarang sekali istrinya ini bersikap mesra di depan orang lain. Ya walau di dalam mobil tetap saja disana masih ada sang sopir dan Lukas yang duduk dibagian depan.
"Kau tahu... aku jadi ingin memakanmu sekarang juga..." bisik tuan Sam di telinga Amira yang membuat wanita itu langsung meremang namun ia tak membantah dan malah menyusupkan kepalanya ke dada bidang tuan Sam.
Tuan Sam pun semakin gemas dengan tingkah istrinya itu yang ia anggap malah tengah menggodanya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena ada Lukas dan sang sopir. Dan dia bukan tipe orang yang bisa bermesraan di sembarang tempat. Jadi ia harus bersabar menunggu hingga mereka sampai di rumah. Setelah sampai di rumah tuan Sam dan Amira pun langsung masuk ke dalam setelah menyuruh Lukas dan sang sopir untuk beristirahat.
Amira langsung memeriksa kedua putranya yang tadi pulang terlebih dahulu karena sudah tertidur dan Amira tak mungkin menidurkan mereka di rumah Sandra karena ramai. Hatinya merasa tenang setelah melihat Sahir dan Samir tidur nyenyak di dalam box mereka. Sepertinya kedua bayi itu juga merasa lelah setelah hampir seharian berada di rumah Sandra dan menjadi pusat perhatian karena kelucuan mereka.
__ADS_1