
Castillo tampak syok saat menyadari siapa yang sedang berada dihadapannya saat ini. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ma... maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu..." ucapnya terbata.
"Jadi aku mohon lepaskan adikku... dia tidak tahu apa-apa..." sambungnya dengan nada memelas.
"Kau tidak bermaksud katamu? lalu apa maksudmu dengan meniru semua ciri kami hah? kau fikir kami percaya jika kau tidak sengaja melakukan semuanya itu?" hardik orang itu.
Wajah Castillo semakin pucat. Ia tak menyangka jika apa yang dilakukannya dengan meniru cara kerja para t*r***s itu untuk menutupi ulahnya bisa membuatnya diburu oleh mereka.
"Kau tahu kesalahanmu bukan hanya dengan meniru cara kerja kami dan mengkambing hitamkan organisasi kami... tapi kau juga sudah membuat salah satu donatur tetap kami tewas karena dia juga tinggal di apartemen yang kau hancurkan!"
Wajah Castillo semakin memucat. Andai saja ia masih memiliki kekuasaan seperti dulu maka para t***r*s itu tidak akan mungkin dengan mudah menembus tempat persembunyiannya dan juga menyandera adiknya.
"Sekarang saatnya kau membayar semua kesalahanmu itu pada kami..." ucap pria itu lalu memberi perintah dengan kode tangannya pada anak buahnya yang sedang menodongkan senjatanya pada Vallery.
Dorr!
Satu tembakan tepat mengenai belakang kepala Vallery dan menembus dahinya yang membuat wanita itu langsung jatuh terkulai dia atas lantai dengan mata dan mulut terbuka. Sedang Castillo yang melihat kematian adiknya di depan mata kepalanya sendiri pun tak sempat bisa mengungkapkan rasa sedihnya atas kehilangan adik kesayangannya itu karena tepat setelahnya pria yang sedari tadi berbicara dengannya pun menarik pelatuk senjata yang sudah disediakannya ke arah kepala Castillo. Dan mantan mafia itu pun langsung tersungkur dan menyusul adiknya meregang nyawa.
Setelahnya kelompok pria itu pun langsung melenggang keluar dari rumah Castillo dan pergi dengan menggunakan motor boat yang tadi mereka gunakan untuk datang. Seketika pulau itu menjadi kosong tanpa penghuni karena semua anak buah Castillo termasuk para pelayan juga sudah dihabisi.
Sementara di London tuan Sam tengah menerima vidio call dari adiknya Sarah. Sejak kejadian pengeboman gedung apartemen tuan Sam sebenarnya ia ingin segera datang ke London demi memberi suport pada kakaknya yang saat itu kehilangan Amira. Namun karena situasi pengamanan yang diperketat membuatnya sulit untuk datang ke London. Apalagi kedua anaknya yang sudah bersekolah tidak mungkin dapat ia abaikan begitu saja. Sedang suaminya tuan Bram pun harus fokus mengurus perusahaan selama tuan Sam sibuk untuk mencari keberadaan Amira.
Setelah mendapat kabar jika Amira sudah ditemukan dan selamat meski mengalami amnesia membuat wanita itu tak sabar untuk segera menghubungi kakaknya itu. Mereka pun berbincang dan nyonya Sarah semakin ingin bertemu dengan Amira berharap bisa membantu membangkitkan ingatannya.
"Boleh aku bicara dengan Amira kak?"
"Tentu saja... sebentar akan aku berikan ponselnya pada Amira..." sahut tuan Sam.
Pria itu pun langsung menghampiri Amira yang tengah bercengkrama dengan Sahir dan Samir lalu ia pun memberitahu Amira bahwa adiknya Sarah ingin berbicara dengannya. Sementara Amira menerima telefon dari nyonya Sarah, tuan Sam membawa kedua putranya untuk tidur di kamar mereka masing-masing.
"Assalamualaikum Ra..."
"Waalaikum salam..." sahut Amira yang juga tidak mengenali nyonya Sarah.
Nyonya Sarah pun memperkenalkan dirinya dan sedikit bercerita tentang awal mula ia bisa bertemu dengan Amira. Amira yang memang sangat ingin mengetahui masa lalunya pun mendengarkan dengan antusias. Dan saat mendengarkan cerita nyonya Sarah beberapa kali Amira seperti melihat sekelebatan potongan memori masa lalunya. Meski begitu ia belum sepenuhnya bisa mengingat dengan jelas. Tapi walau pun ia masih samar dalam mengingat masa lalunya sehingga ia dapat memastikan jika ia benar sudah bertemu dengan keluarga aslinya.
Tuan Sam yang melihat Amira beberapa kali menggerakkan kepalanya seolah tengah mengingat masa lalunya dan beberapa kali juga ia memegangi kepalanya yang membuat wajahnya menjadi pucat pun merasa tak tega. Dengan segera ia mengakhiri sambungan vidio callnya dengan nyonya Sarah agar Amira tak terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya. Tuan Sam juga memberikan pengertian pada nyonya Sarah jika Amira tak bisa di paksa untuk mengingat masa lalunya. Dan adiknya itu pun mengerti dan segera mengakhiri sambungan ponselnya.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya tuan Sam pada Amira saat melihat Amira tengah memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa... hanya saja potongan-potongan ingatan masa laluku mulai terngiang dikepalaku..." sahut Amira lirih.
Tuan Sam langsung memeluk tubuh Amira dan membelai kepala istrinya itu dengan lembut.
"Jangan terlalu dipaksakan... ingat kau juga tengah mengandung Meyaa... jadi kau harus menjaga kesehatanmu agar tidak menganggu kandunganmu..." ucapnya lembut.
Amira hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan dan menyandarkannya pada dada bidang tuan Sam. Berbagai potongan kejadian masa lalunya membuat Amira sedikit mengingat saat dimana ia tengah berkelahi melawan beberapa pria yang ingin mencelakainya dan juga dua orang anak yang tidak dikenalinya.
"Db... apa benar dulu aku pernah membawa pergi kedua anak yang aku asuh?" tanya Amira masih dalam dekapan tuan Sam.
"Iya benar... tapi kau melakukannya atas perintah adikku Sarah untuk menyelamatkan nyawa keduanya..." terang tuan Sam.
"Jadi benar... aku pernah berkelahi dengan beberapa orang demi mereka..."
"Memangnya kau sudah mengingatnya?"
"Hanya samar B... aku pun tidak begitu yakin..." sahut Amira lirih sebenarnya ia tak menyangka jika ia mampu melawan orang-orang yang hendak menyakitinya dan juga dua anak asuhnya.
"Apa aku memiliki kemampuan bela diri B?" tanyanya sambil menatap wajah tuan Sam meminta penjelasan.
"Ya... sebab kau dan sahabatmu Sandra dulu pernah mengikuti latihan karate bahkan ayah Sandra lah yang menjadi pelatih kalian..." terang tuan Sam sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Amira dengan mata yang membola.
"Ya... dia ada di London... dia baru saja menikah beberapa minggu yang lalu dengan pria asli sini..." terang tuan Sam.
"Dia juga sangat mencemaskanmu... bahkan dia langsung pulang dari bulan madunya saat mendengar kabar jika kau menghilang... tapi saat ini dia tengah menemani mertuanya yang sedang sakit hingga belum bisa kemari saat aku memberitahunya jika kau telah ditemukan..." sambung tuan Sam.
"Aku jadi ingin bertemu dengannya..." ujar Amira.
"Kalian pasti bertemu Meyaa... sudah... sekarang kita tidur dulu... kau harus banyak istirahat..." kata tuan Sam lalu membawa Amira masuk ke dalam kamar utama.
Setelah menutup tubuh Amira dengan selimut ia pun beranjak ke sofa yang ada di sana untuk tidur. Tuan Sam sengaja membiarkan Amira untuk tidur sendiri diatas tempat tidur agar merasa nyaman sebelum ia bisa mengingat masa lalunya. Melihat perlakuan tuan Sam yang tidak memaksanya untuk tidur seranjang selama ia belum mengingat masa lalu mereka membuat Amira tersentuh. Tuan Sam bahkan rela tidur di sofa yang jelas-jelas tidak akan nyaman untuk ia tidur. Karena untuk tidur dikamar terpisah tuan Sam takut tidak bisa mengawasi keadaan Amira dengan baik. Ia takut jika Amira membutuhkan sesuatu ia tidak berada didekatnya.
"Db..." panggil Amira yang membuat tuan Sam mengurungkan langkahnya menuju sofa.
"Iya... ada apa? apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya tuan Sam langsung menghampiri Amira.
Amira pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak... aku hanya ingin kau tidur disini..." sahut Amira sambil menepuk samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Sepertinya bayiku menginginkan tidur disamping ayahnya..." sambung Amira saat melihat tuan Sam masih berdiri di tempatnya.
"Apa kau yakin Meyaa?" tanya tuan Sam.
"Iya... jadi jangan sekali-kali kau berniat tidur di tempat lain selain disini..." sahut Amira sambil menepuk kembali samping tempat tidurnya.
Tuan Sam pun langsung menghampiri Amira dan merebahkan dirinya disamping istrinya itu. Sepertinya meski Amira masih belum mengingat masa lalu mereka namun bayi dalam kandungan Amira tetap ingin menyatukan kedua orangtuanya.
Keesokan harinya...
Amira terbangun dari tidurnya saat mendengar alarm jam berbunyi diatas nakas. Saat ia membuka matanya pandangannya pertama kali melihat wajah tuan Sam yang tengah tertidur. Dengan perlahan ia melihat jam yang menunjukkan waktu sholat subuh. Meski merasa kasihan pada tuan Sam yang masih terlihat begitu pulas dalam tidurnya namun Amira harus tetap membangunkannya agar tidak terlewat waktu subuh.
"Db... bangun... sudah subuh..." panggil Amira sambil menggoyangkan tubuh tuan Sam dengan perlahan.
"Hemmm... sebentar lagi Meyaa... aku masih ngantuk..." sahut tuan Sam malah mengeratkan pelukanya pada Amira.
Deg...
Seperti dejavu... Amira seperti pernah mengalami hal yang sama... dengan orang yang sama...
"Apa kau selalu seperti ini jika bangun tidur B?" batin Amira sambil memandangi wajah tuan Sam.
Suara ketukan pintu menyadarkan Amira.
"Ayah... bunda... bangun..." terdengar suara Sahir dan Samir dari luar kamar.
"Iya... sebentar..." sahut Amira lalu segera bangun dari tempat tidurnya.
Ia pun segera membuka pintu kamar dan di depan pintu terlihat kedua bocah kembar itu sudah berdiri disana.
"Kalian sudah bangun?" tanya Amira sambil berjongkok di depan kedua putranya itu.
"Iya... kan mau sholat baleng ayah sama bunda..." sahut Samir yang diangguki oleh Sahir yang sedang mengucek matanya yang masih mengantuk.
Amira tersenyum senang karena kedua buah hatinya sudah mulai belajar beribadah meski masih balita.
"Kalau begitu kita bangunkan ayah dulu yuk!"
Kedua bocah itu pun langsung mengangguk dan berlari ke arah tuan Sam yang masih tertidur. Dengan lincah kedua bocah itu langsung naik ke atas tempat tidur dan mengguncang tubuh tuan Sam agar terbangun. Mendapat serangan dari kedua putranya tuan Sam yang masih tertidur pun langsung terbangun. Namun bukannya marah atas kelakuan kedua putranya itu ia malah tertawa senang sebab kedua bocah itu sudah mau bangun pagi dan bahkan mengajaknya untuk beribadah bersama.
Bahkan dari sudut matanya tuan Sam juga melihat Amira yang ikut tertawa lepas melihat tingkah kedua putra kembar mereka. Setelah selesai sholat subuh berjamaah keluarga kecil itu pun keluar dari hunian mereka untuk pergi mencari bahan makanan di mini market 24 jam yang ada di dekat sana sebab mereka belum memiliki persediaan dan belum sempat membelinya.
__ADS_1
Baru saja Amira selesai memasak sarapan seadanya setelah mereka kembali dari mini market terdengar bunyi bel di pintu menandakan ada tamu yang datang. Saat tuan Sam membukanya ternyata Dave dan Sandra yang datang sambil membawa makanan untuk sarapan yang mereka beli di jalan. Meski sedikit canggung karena Amira juga tidak mengenali Dave dan Sandra tapi tak membuat keakraban mereka lenyap seutuhnya. Karena seperti pada tuan Sam dan kedua putranya, meski Amira tak mengenali mereka namun ia dapat dengan merasakan jika mereka memiliki hubungan yang erat sebelumnya.