BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Pengorbanan


__ADS_3

Ricko mengikuti langkah dokter Andrew masuk ke dalam rumahnya. Sesekali Ricko mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya memeriksa jika ada keanehan disana. Sebab Ricko yakin jika sang mentor pasti tidak akan menunjukkan reaksi yang menimbulkan kecurigaannya. Oleh karena itu ia pun harus mencari celah dengan teliti dan tentu saja yang tidak menimbulkan kecurigaan agar dokter Andrew tidak menjadi waspada.


"Duduklah!" titah dokter Andrew saat keduanya berada di ruang tamu rumah.


"Terima kasih dok... sungguh saya tidak enak sudah mengganggu waktu cuti anda..." ungkap Ricko dengan menunjukkan wajah tidak enak.


"Tidak apa-apa... sekarang katakan apa yang kamu butuhkan?" sahut dokter Adrian tenang karena Ricko memang sering meminta kali bantuannya jika menghadapi kesulitan pada mata kuliahnya.


Ricko pun menerangkan segala sesuatu yang membuatnya kesulitan dalam menyusun skripsinya. Dokter Andrew pun tampak menyimak dengan serius dan tidak menyadari jika saat ini Ricko hanya sedang mencari alasan karena apa yang dikatakan Ricko tentang kesulitannya adalah benar. Meski sebenarnya ia tidak begitu berkonsentrasi dengan penjelasan sang dosen karena sesekali ia masih mencuri kesempatan untuk memindai ruangan maupun ekspresi dokter Andrew. Setelah hampir 30 menit berkonsultasi Ricko pun akhirnya bisa faham dengan penjelasan sang dosen karena otaknya yang memang encer sehingga mampu mencerna dengan baik penjelasan dokter Andrew meski pun ia tidak begitu fokus.


"Jadi bagaimana... apakah penjelasan saya tadi sudah cukup?" tanya dokter Andrew setelah menyelesaikan penjelasannya.


"I... iya dok... saya rasa sudah cukup, sekali lagi terima kasih karena anda sudah mau meluangkan waktu..." sahut Ricko agak kecewa karena merasa tidak memiliki waktu banyak untuk melanjutkan penyelidikannya.


Karena terus terang saja ia masih mencurigai jika dokter itu lah yang telah menculik Sadira. Namun ia tidak bisa membuktikannya sekarang.


"Apa kau ingin berbincang sebentar denganku?" tanya dokter Andrew basa-basi.


"Ah... tidak usah dok... sebenarnya saya juga sudah ada janji dengan teman saya..." sahut Ricko tak ingin membuat dokter Andrew curiga jika ia ingin berlama-lama di sana.


Dokter Andrew pun mengangguk mengerti, dan dia pun mengantarkan Ricko keluar hingga sampai di samping mobil pemuda itu. Saat Ricko tengah pamit padanya tiba-tiba Artnya datang dan mengatakan jika ada telfon untuknya. Dokter Andrew pun langsung meninggalkan Ricko setelah mengucapkan selamat tinggal sebelum pemuda itu sempat membuka pintu mobilnya. Melihat dokter Andrew masuk ke dalam rumahnya, Ricko tampak memandangi sebentar punggung pria itu yang perlahan menghilang masuk ke dalam rumah.


"Hhh... semoga saja perasaanku ini salah, aku tidak tahu apakah ini pertanda baik atau malah buruk jika ternyata bukan dokter Andrew yang telah menculik Dira..." batin Ricko sambil menghembuskan nafasnya pelan.


Baru saja ia akan membuka pintu mobil, tiba-tiba sesuatu telah jatuh diatas atap mobilnya.


Braak!


Seketika Ricko berjingkat karena terkejut dengan kejadian yang menimpanya. Reflek ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencoba mencari asal benda yang jatuh diatas atap mobilnya itu. Saat ia mendongakkan kepalanya ke atas betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang yang terlihat berusaha untuk berdiri dengan memegangi pagar besi di balkon lantai dua rumah dokter Andrew. Mata Ricko langsung membulat sempurna saat menyadari siapa orang itu.


"Dira..." desis Ricko saat memandang wajah pucat gadis pujaannya itu.


Tanpa fikir panjang Ricko langsung berlari masuk kembali ke dalam rumah dokter Andrew. Untung saja saat tadi dokter itu masuk ke dalam rumah ia lupa untuk mengunci pintunya sehingga Ricko dengan leluasa bisa masuk dan ia pun segera menuju ke lantai atas melalui tangga. Keberuntungan memang tengah meliputi Ricko. Sebab saat pemuda itu dengan sembarangan masuk ke dalam rumah dokter Andrew tidak ada satu pun orang yang memergokinya. Baik itu para Art disana mau pun dokter Andrew sendiri. Dan karena seringnya Ricko berkunjung ke rumah itu membuat pemuda itu langsung tahu kemana harus mencari saat melihat Sadira di balkon tadi.

__ADS_1


Dengan cepat Ricko membuka pintu kamar tanpa menimbulkan suara gaduh. Pemuda itu juga langsung menuju ke arah balkon kamar begitu ia sudah masuk ke dalam kamar.


"Dira!" panggilnya saat melihat gadis yang beberapa hari ini menghilang dan membuat kalut semua orang termasuk dirinya tengah berdiri bersandar pada besi pagar balkon.


Ricko langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


"Aku akan mengeluarkanmu dari sini..." bisik Ricko.


Sadira yang masih lemah hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan di dada Ricko. Dengan hati-hati Ricko berusaha untuk memapah Sadira, namun kaki gadis itu tampak masih sangat lemah apa lagi tadi ia sudah memaksakan diri untuk berdiri dengan bersandar di besi pagar balkon. Walau hanya sebentar tapi itu cukup menguras tenaganya. Ricko yang menyadari itu langsung faham jika dokter Andrew pasti sudah melakukan sesuatu pada gadis itu. Ia menduga jika dokter itu memberikan obat pelemas otot agar Sadira menjadi lumpuh. Sebab ia juga telah melakukan hal yang serupa pada papanya dan juga ibu tirinya. Oleh karena itu Ricko langsung merubah posisinya dengan menggendong Sadira di punggungnya.


Dengan cara itu ia bisa membawa tubuh Sadira dengan lebih mudah. Sementara itu dokter Andrew baru saja mengakhiri panggilan telfonnya dari pihak kampus di ruang kerjanya. Memang saat ia tengah cuti maka ia akan mematikan ponselnya sehingga jika ada urusan mendadak maka pihak kampus mau pun rumah sakit tempatnya bekerja akan menghubunginya melalui telfon rumah. Baru saja ia meletakkan gagang telfon di tempatnya dokter Andrew baru menyadari jika sedari tadi ia tidak mendengar suara deru mobil Ricko pergi dari rumahnya. Penasaran ia pun melangkah ke arah jendela ruang kerjanya dan melayangkan pandangannya ke arah halaman depan rumahnya.


Betapa terkejutnya ia saat melihat mobil Ricko masih terparkir di depan sana. Matanya bahkan terbelalak lebar saat menyadari jika diatas atap mobil pemuda itu ada sebuah pot bunga yang telah pecah dan isinya berserakan menutupi atap mobil milik Ricko. Seketika instingnya bekerja... apa ini perbuatan Sadira? apa gadis itu tengah mencari perhatian Ricko agar pemuda itu mengetahui keberadaannya di rumah ini? tapi bagaimana bisa... bukannya gadis itu sudah lumpuh akibat obat-obatan yang ia berikan selama ini? apa mungkin gadis itu sudah sembuh? tapi bagaimana mungkin... atau kah selama ini gadis itu sudah menyadari jika kelumpuhannya akibat meminum obat yang diberikannya setiap hari... jadi gadis itu sudah tidak lagi meminumnya dan mengelabuinya selama ini?


Fikiran dokter Andrew seketika kacau dengan berbagai macam asumsinya. Hal ini membuatnya sejenak terpaku. Namun hanya sebentar dan setelahnya ia segera bergegas berlari keluar untuk mencari Ricko. Dan benar saja saat melewati tangga ia melihat Ricko sudah hampir mencapai pintu luar dengan menggendong Sadira dipunggungnya.


"Berhenti Ricko!" teriak dokter Andrew dengan keras membuat Ricko terpaku ditempatnya berdiri.


Perlahan pemuda itu membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah mentornya itu. Bisa ia lihat jika saat ini wajah dokter Andrew tampak memerah karena marah. Sementara dibelakangnya ia bisa merasakan tubuh Sadira yang bergetar karena ketakutan. Sejak dari ditemukan olehnya tadi Sadira bahkan belum bisa mengeluarkan suaranya. Hanya bahasa tubuhnya saja yang membuat Ricko faham dengan apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu.


"Tolong lepaskan dia... saya mohon dokter..." pinta Ricko dengan wajah memelas.


"Tidak! dia sekarang adalah milikku... salahkan dirimu sendiri karena tidak mau mengambil kesempatan untuk memilikinya saat aku memberikannya padamu"


"Aku hanya tidak ingin menyakitinya seperti perintahmu..." sahut Ricko.


"Apa kau tahu... jika gadis itu adalah obyek yang sempurna hem? dia adalah bentuk keindahan yang sempurna... dan akan sangat menyenangkan saat menghancurkannya secara perlahan..." terang dokter Andrew dengan suara dingin.


Ricko dapat merasakan jika tubuh Sadira bertambah gemetar saat mendengarkan percakapan keduanya. Kedua tangan gadis itu pun mencengkeram kuat bahu Ricko. Ricko yang sadar jika Sadira bisa saja terpengaruh ucapan dokter Andrew langsung menolehkan kepalanya ke arah Sadira.


"Percaya padaku Ra... aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu..." ucap Ricko lirih sambil namun Sadira masih dapat mendengarkannya.


Meski hatinya agak ragu saat tadi mendengar perkataan dokter Andrew yang sepertinya memiliki hubungan dekat dengan Ricko. Namun mengingat kebaikan Ricko selama ini padanya yang ia rasakan tulus, membuat Sadira mencoba untuk memberikan kepercayaannya pada pemuda itu. Perlahan gadis itu mencoba untuk mengeluarkan suaranya meski ia tidak yakin akan berhasil.

__ADS_1


"A... ak.. ku... per... cay... ya..." ucapnya terbata di telinga Ricko yang membuat pemuda itu langsung tersenyum lega karena Sadira masih mempercayainya.


Sementara dokter Andrew berusaha mendekat ke arah keduanya saat Ricko sedikit lengah. Tanpa Ricko sadari jika kini dokter Andrew sudah berada dihadapannya dan langsung melayangkan pukulan ke arah perut pemuda itu.


Bug!


"Arrrghh!"


Ricko yang tidak siap pun langsung terhuyung ke belakang sambil mengerang menahan sakit. Untung saja kakinya masih bisa berdiri kokoh hingga tubuhnya tidak langsung terjatuh yang bisa mengakibatkan Sadira juga itu terjatuh dan tertindih oleh tubuhnya. Dokter Andrew tidak berhenti di situ saja... pria paruh baya itu kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Ricko karena tahu jika pemuda itu akan kesulitan dalam membalas karena masih menggendong Sadira dipunggungnya. Menghadapi itu mau tidak mau Ricko harus menurunkan Sadira agar ia bisa melawan dokter Andrew.


"Apa kau bisa berdiri?" tanya Ricko saat dengan perlahan menurunkan Sadira sambil terus memandang ke arah dokter Andrew untuk mengantidipasi serangan selanjutnya dari dokter itu.


"Bi... bisa... kak..." sahut Sadira berusaha berdiri tegak sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ricko saat merasakan kakinya menyentuh lantai.


"Jika ada kesempatan kamu harus cepat lari dari tempat ini ok?" titah Ricko saat menyadari jika Sadira sudah bisa berdiri dibelakangnya.


Matanya masih awas mengawasi apa yang akan dilakukan oleh dokter Andrew selanjutnya.


"A... aku... ti... tidak akan... mening... galkan... ka... kak... sendirian..." sahut Sadira masih dengan terbata sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu harus mau Ra... ini juga untuk keselamatan kita berdua... kamu harus mencari bantuan agar dokter Andrew bisa ditangkap"


Akhirnya Sadira hanya bisa mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya yang masih menempel dipunggung Ricko. Pada saat itu dokter Andrew kembali maju untuk menyerang Ricko, dan pemuda itu pun langsung melepaskan pegangan Sadira dipinggangnya dan mendorong gadis itu untuk menjauh.


"Pergilah!" titahnya tanpa menoleh ke belakang.


Dan dia pun maju menyambut serangan dokter Andrew. Kedua orang beda generasi itu pun saling beradu sementara Sadira yang sejenak terpaku melihat perkelahian keduanya pun kemudian tersadar dan berusaha melangkahkan kakinya untuk menjauh dan keluar dari rumah itu. Meski belum bisa berlari namun Sadira tetap memaksakan kakinya agar bisa melangkah lebih cepat. Sebab dia harus segera mencari bantuan untuk menolong Ricko. Karena ia tahu jika dokter Andrew bukan lawan yang mudah, apa lagi pria itu pasti akan menggunakan cara licik untuk melumpuhkan Ricko sama seperti saat menculik dirinya dulu.


Baru saja Sadira menjejakkan kakinya di halaman rumah, bi Ijah sudah berusaha untuk menghadangnya. Art dokter Andrew itu langsung memegangi Sadira agar tidak pergi dari sana. Awalnya Sadira mengira jika bi Ijah akan membiarkannya pergi saat tahu jika dirinya sedang diculik. Namun apa yang dilakukan wanita baya itu sekarang membuatnya yakin jika wanita itu sudah tahu kebenarannya tentang apa yang sudah dilakukan oleh tuannya. Dan wanita itu malah mendukungnya. Hal ini membuat Sadira merasa tidak segan untuk melawan meski dengan cara kekerasan. Dengan tenaganya yang mulai terkumpul karena efek obat pemberian dokter Andrew yang semakin melemah, Sadira pun langsung menyentakkan tangan bi Ijah yang berusaha untuk menahannya.


Dan benar saja... tenaganya yang kini mulai terkumpul bisa dengan mudah untuk melawan tenaga wanita tua itu. Sehingga dengan beberapa kali sentakan akhirnya Sadira berhasil lepas dari bik Ijah dan bahkan wanita itu dibuat tersungkur akibat Sadira yang mendorong tubuh wanita itu dengan sangat kuat. Wanita tua itu pun langsung tidak sadarkan diri karena ternyata kepala wanita itu sempat terbentur pagar bata pembatas rumput halaman dengan jalan paving halaman dokter Andrew. Tidak memperdulikan lagi keadaan bik Ijah, Sadira kembali menyeret kakinya untuk segera pergi dari sana. Terdengar kejam namun saat ini Sadira juga dalam keadaan marah karena wanita tua itu justru mendukung sikap majikannya yang sudah kelewat batas.


Sementara di dalam rumah Ricko kini malah menjadi bulan-bulanan dokter Andrew. Tubuh dan wajah pemuda itu kini sudah penuh dengan luka. Ternyata selain menjadi seorang dokter, dokter Andrew juga memiliki beberapa keahlian lain. Dan diantaranya adalah keahlian bela diri dimana dirinya sudah mendapatkan sabuk hitam dalam karate yang tentu saja membuat Ricko yang sama sekali tidak memiliki dasar ilmu bela diri menjadi sasaran empuknya. Puas melihat Ricko yang kini terkapar di lantai, dokter Andrew kini malah menyeret Ricko dengan menjambak rambut pemuda itu hingga Ricko hanya bisa mengerang kesakitan karena tubuhnya yang sudah sangat lemah.

__ADS_1


Namun begitu Ricko dalam hatinya merasa lega karena kini Sadira sudah lepas dari dokter Andrew meski pun kini dirinyalah yang akan menjadi mangsa baru dari dokter itu. Setidaknya inilah pengorbanan yang bisa ia lakukan untuk melindungi Sadira, gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta dan mengembalikan kehangatan di hatinya yang beku akibat kematian mamanya dan pengkhiatan sang papa.


__ADS_2