
Di sebuah ruangan kantor yang mewah tampak seorang pria tengah menatap kertas berkas yang baru saja diberikan oleh anak buahnya. Bibirnya menyunggingkan senyuman puas saat membaca setiap kata didalamnya.
"Bagus! kerja kalian sangat memuaskan... meski dulu kita kesusahan mencari informasi keberadaannya karena dia dalam program perlindungan saksi... tapi berkat perempuan bodoh itu kita bisa juga menemukannya..." kata pria itu sambil menghembuskan nafasnya puas.
"Terima kasih tuan..." sahut para anak buahnya yang lega karena berhasil menjalankan misinya.
"Kita akan segera melaksanakan rencana yang sudah aku rancang bertahun-tahun yang lalu... dan pastikan jika semuanya harus berjalan dengan lancar. Aku ingin Jimmy merasakan kehilangan wanita yang dicintainya seperti aku yang kehilangan kedua sepupuku karena ulahnya..."
"Baik tuan!"
"Sekarang kalian keluarlah!"
Para anak buah pria itu pun menundukkan kepala mereka lalu keluar dari dalam ruangan. Setelah itu pria yang terlihat masih gagah diusianya yang kepala empat itu pun berjalan ke kamar yang ada di balik dinding kantornya. Disana ia memandangi foto yang terpajang di dinding kamar yang memperlihatkan tiga orang yang tengah tersenyum pada sebuah pesta.
"Bersabarlah sepupu... sebentar lagi dendam kalian akan terbalaskan..." gumamnya sambil mengelus gambar wajah seorang wanita yang berada ditengah.
"Kenapa kau bisa mencintai pria es itu Vallery? apa aku tidak cukup baik dimatamu hingga kau terus saja menganggapku sebagai sepupu..." ucapnya frustasi.
"Dan lihatlah akibatnya... kau bahkan sampai meregang nyawa begitu juga dengan kakakmu Castillo..." sambungnya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba ponselnya berdering membuat pria itu terjaga dari lamunannya.
"Ada apa?"
"Maaf tuan Julio... sepertinya target kita akan membuka usaha baru di London dan memilih untuk tinggal disana" lapor seseorang di seberang sana.
"Kau yakin?"
"Iya tuan..."
"Baiklah... jangan lakukan apapun dulu... kita tunggu apa yang akan dilakukan oleh si brengsek itu selanjutnya... lalu laporkan padaku"
"Baik tuan..."
Pria itu pun menghela nafasnya pelan. Kini ia tengah berfikir tentang apa yang ada di fikiran Jimmy yang hendak membuka bisnis di London.
"Mungkinkah dia ingin berada di dekat istrinya itu?" batinnya.
"Baiklah... jika begitu aku harus menyusun rencana kedua..." gumamnya.
Sementara itu Raja yang tengah bersama Anna sedang berkeliling mencari tempat yang cocok untuk mereka tinggal. Meski bukan apartemen mewah tapi yang terpenting cukup untuk keduanya tinggal serta tak jauh dari kampus dan apartemen lama Anna dan Risa.
"Fiuh! kenapa rasanya sulit sekali menemukan tempat yang cocok untuk kita berdua MB... padahal dulu saat aku dan Risa mencari tempat tinggal rasanya tak sesulit ini..." keluh Anna yang mulai merasa lelah karena sudah seharian berkeliling bersama Raja.
Hari ini memang Anna tidak masuk kuliah karena libur.
"Sabar Honey Bee... bagaimana jika kita istirahat dulu sambil minum di kafe hem?" ajak Raja.
"Baiklah..." jawab Anna.
__ADS_1
Lalu keduanya pun memasuki sebuah kafe yang tak jauh dari tempat mereka terakhir melihat apartemen.
"Bagaimana dengan Risa? apa kau sudah memberitahunya jika kau akan tinggal denganku?" tanya Raja setelah keduanya selesai memesan minuman.
"Sudah MB... dan dia juga mengerti jika aku memang harus tinggal denganmu setelah kau pindah kemari..." sahut Anna.
"Andai saja ada salah satu unit yang kosong di gedung tempat kami tinggal alangkah lebih baiknya... jadi kami tidak terpisah jauh..." sambung Anna sambil menghela nafasnya.
"Memang disana tidak ada unit yang kosong Honey Bee?"
"Setahuku sih begitu MB... soalnya aku dan Risa terlalu sibuk dengan kuliah hingga tidak terlalu memperhatikan..." sahut Anna.
Raja pun mengangguk. Selesai menghabiskan minumannya keduanya pun memutuskan untuk kembali ke apartemen Anna dan Risa. Setelah itu Raja akan kembali ke hotel. Raja memang sengaja tidak menginap karena tidak ingin membuat Risa canggung dengan adanya dirinya di apartemen mereka.
"Aku antar kamu sampai di sini saja ya Honey Bee... soalnya aku harus mengurus sesuatu dulu" pamit Raja saat menurunkan Anna di depan gedung apartemennya.
"Iya tidak apa-apa... pergilah" sahut Anna.
Raja pun mengecup kening Anna sebelum membiarkan istrinya itu masuk ke dalam gedung apartemen. Setelah Anna masuk ke dalam Raja langsung menghubungi seseorang sambil masuk ke dalam mobilnya. Ia masih duduk di dalam mobil setelah panggilannya berakhir. Tak lama terlihat sebuah mobil mendekat ke arah mobil yang ditumpangi Raja. Tampak Raja langsung turun dari dalam mobilnya saat melihat kedatangan mobil itu. Tak lama orang yang ada di dalam mobil yang baru datang itu pun keluar dari dalam mobilnya dan langsung mengajak Raja masuk ke dalam gedung apartemen.
Sementara Anna sudah tiba di apartemennya. Di sana sudah ada Risa yang seharian ini menghabiskan waktu liburnya di rumah karena Zaeed sedang pulang ke negaranya.
"Bagaimana Ann? apa kalian sudah mendapatkan apartemen yang cocok?" tanya Risa saat Anna baru menjatuhkan dirinya di sofa.
Anna menggeleng pelan. Terlihat sekali jika wanita muda itu sudah sangat kelelahan karena seharian berkeliling mencari apartemen yang cocok untuk dirinya dan Raja.
"Yang sabar ya Ann... mencari tempat tinggal itu susah-susah gampang... sama seperti mencari jodoh..." ucap Risa sambil cekikikan membuat Anna langsung mendengus dan melemparkan bantal ke arah Risa.
"Sudah-sudah! aku capek tahu..." ucap Anna sambil ngos-ngosan.
"Siapa suruh kamu mengejarku duluan?" sahut Risa ikut menjatuhkan dirinya di sofa.
Keduanya pun langsung tertawa bersama menyadari kekonyolan mereka.
"Hah... mungkin nanti tidak ada lagi waktu kita seperti ini ya Ris..." cetus Anna sambil menghembuskan nafasnya berat.
Belum berpisah saja ia sudah merasa sendu. Risa langsung memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.
"Hei... walau pun kita berpisah tempat tinggal tapi kita masih satu kota dan satu kampus pula... jadi jangan terlalu sedih ya..." hiburnya.
"Aku tahu... tapi entah mengapa aku merasa tidak rela kita berjauhan Ris... kamu itu sahabatku yang selalu ada disampingku saat senang dan sedihku... bahkan kedua orangtuaku tak tahu bagaimana perasaanku melebihi dirimu..."
"Aku tahu Anna... dan kamu juga begitu bagiku... kita bukan saja sahabat... tapi sudah seperti saudara..." ujar Risa.
Keduanya pun kembali berpelukan. Keesokan harinya Anna kembali berangkat kuliah seperti biasa bersama Risa karena kebetulan jadwal kuliah mereka hari ini sama. Urusan mencari apartemen pun akhirnya Anna serahkan semuanya pada Raja. Sebab dia harus kembali berkonsentrasi pada kuliahnya agar ia bisa segera menyelesaikan pendidikannya. Meski Raja sudah mengalah dengan memilih tinggal didekatnya namun Anna juga ingin bisa segera menjadi ibu rumah tangga yang bisa melayani suami dan memberikan keturunan untuknya.
Tanpa ia sadari Anna mengelus perutnya yang masih rata. Dalam hatinya ia bertanya kapan saatnya ia bisa merasakan ada kehidupan didalam sana? Risa yang memperhatikan tingkah sahabatnya itu pun tersenyum. Walau bagaimana pun meski Anna masih muda tetap saja setelah menikah keinginan untuk segera memiliki momongan pasti ada. Apa lagi usia suaminya yang sudah matang.
"Yang sabar Anna... mungkin saja jika kalian sudah tinggal bersama maka kalian akan segera diberi keturunan..." ucap Risa lembut.
__ADS_1
Anna langsung tersipu karena Risa mengetahui isi hatinya. Demi menghilangkan kecanggungan karena pembahasan anak mereka pun mengalihkan pembicaraan dengan topik lainnya.
Keesokan harinya...
Anna terkejut saat pagi-pagi Raja sudah berada di depan pintu apartemennya. Pria itu tampak tersenyum manis dengan penampilan casual.
"Ada apa pagi-pagi kau kemari MB?" tanya Anna penasaran.
Untung saja ia dan Risa selalu bangun pagi dan langsung mandi hingga Anna tidak merasa malu pada Raja karena belum mandi dan wangi.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat Honey Bee..." jawab Raja masih dengan tersenyum.
"Kemana? tapi hari ini aku ada kuliah pagi lho" terang Anna.
"Tenang saja Honey Bee... ini hanya sebentar dan kau tidak akan terlambat masuk kuliah" lanjut Raja.
"Baiklah... aku bilang Risa dulu..."
Raja pun mengangguk. Setelah Anna berpamitan dengan Risa ia pun kembali menemui Raja. Saat keduanya akan pergi setelah Anna menutup pintu apartemen Raja langsung menyuruh Anna untuk menutup matanya. Bahkan ia sudah menyediakan kain untuk penutup mata Anna.
"Sebenarnya kita mau kemana sih MB?" tanya Anna yang masih penasaran dengan tingkah suaminya itu.
"Tenang saja... kamu pasti akan suka..." sahut Raja sambil mengikat penutup mata Anna.
Kemudian Raja menggandeng tangan Anna dan perlahan menuntun istrinya itu untuk berjalan. Tidak sampai lima menit keduanya sudah berhenti. Dan perlahan Raja membalikan tubuh Anna ke samping. Lalu pria itu pun membuka penutup mata Anna dan memperlihatkan sesuatu pada wanita muda itu.
"I... ini?" Anna tampak tidak bisa berkata apa-apa saat melihat tulisan "Welcome Home" di depan pintu apartemen.
Apa lagi saat ia menyadari jika unit apartemen itu terletak tepat disebelah apartemennya dan Risa.
"MB..." ucap Anna lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Kau suka Honey Bee?" tanya Raja.
"Aku suka... suka sekali..." sahut Anna sambil menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk erat suaminya.
"Ini hadiah untukmu Honey Bee... meski aku hanya bisa menyewanya karena pemilik apartemen ini tidak mau menjualnya..." terang Raja membalas pelukan Anna lalu kemudian ia mengurai pelukannya dan menghapus air mata yang terlanjur jatuh di pipi Anna.
"Tidak apa-apa... aku tetap suka..." sahut Anna.
"Kalau begitu ayo kita lihat ke dalam..." ajak Raja.
Keduanya pun kemudian masuk ke dalam apartemen itu. Meski denah ruangan di dalam sana sama persis dengan apartemen yang ditinggalinya bersama Risa namun dengan penataan yang dilakukan oleh Raja tempat itu jadi terasa berbeda dan lebih memiliki karakter dari mereka berdua.
"Terima kasih MB..." ucap Anna setelah keduanya puas mengelilingi apartemen itu.
"Bagaimana jika kita mencoba tempat tidur kita hem?" ujar Raja yang sudah memeluk tubuh Anna dari belakang.
Seketika tubuh Anna meremang karena nafas Raja yang terasa hangat menyentuh kulit lehernya. Ia pun hanya bisa tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya. Mendapatkan lampu hijau dari Anna, Raja pun langsung menggendong tubuh istri kecilnya itu ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka. Dan sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi di dalam sana. Karena Anna yang akan kuliah pagi Raja pun tidak menghabiskan waktu lama merengkuh hadiah paginya dari Anna. Ia tahu jika istrinya tidak boleh terlalu lelah dan terlambat masuk kuliah.
__ADS_1
Selesai berbagi peluh Raja langsung membopong tubuh Anna untuk mandi bersama. Dan kali ini Raja benar-benar memanjakan Anna dengan membantunya membersihkan diri tanpa ada modus lainnya. Pria itu bahkan ikut mengeringkan rambut istrinya itu agar tidak merasa malu pada Risa. Ya Raja memang sudah mengisi apartemen itu dengan perabotan lengkap agar keduanya bisa langsung pindah dan hanya tinggal membawa pakaian mereka saja. Setelah selesai keduanya kembali ke apartemen Anna dan Risa. Dengan bahagia Anna langsung menceritakan jika ia hanya akan pindah ke apartemen sebelah pada Risa.
Keduanya pun langsung berpelukan karena bahagia. Selesai sarapan pagi bersama, Raja membantu Anna untuk membereskan barang-barangnya sehingga bisa langsung dipindahkan ke apartemennya sekalian Anna berangkat kuliah.