
Sesuai dengan janjinya, hari minggu ini Bara mengajak Sadira untuk datang ke rumahnya. Dengan alasan harus membeli bahan untuk pelajaran ketrampilan di sekolahnya, Sadira meminta izin keluar pada bundanya. Terpaksa ia berbohong lagi pada sang bunda. Dengan diantar oleh sopir Sadira pergi ke mall untuk membeli barang yang dibutuhkannya. Saat Sadira baru saja turun dari dalam mobil ia sudah melihat Bara yang menunggunya di tempat parkir. Setelah memastikan sang sopir pergi, barulah gadis itu menghampiri Bara. Tanpa membuang waktu Bara langsung memakaikan helm pada Sadira dan menyuruh gadis itu untuk naik ke atas motornya. Bara pun kemudian langsung menjalankan motor untuk pergi ke rumahnya.
Selama perjalanan Sadira memeluk Bara dengan erat. Bukan apa-apa, gadis itu hanya sedang merasa gugup hendak bertemu dengan keluarga kekasihnya itu. Bara yang mengerti pun menggengam tangan Sadira dengan tangan kirinya berusaha memberikan kekuatan pada gadis itu. Setelah perjalanan 15 menit keduanya pun sampai di depan rumah Bara. Perlahan Sadira turun dari motor Bara, hatinya kembali kecut saat menatap rumah Bara.
"Jangan takut sayang... mama sama papaku pasti akan menyukaimu, terutama kedua adikku" ucap Bara yang ingin menenangkan Sadira.
Setelah mengucapkan salam, keduanya pun masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh ayah dan kedua adik Bara. Sementara mama Bara tidak terlihat.
"Mama dimana pa?" tanya Bara.
"Ada di belakang sedang membuat camilan katanya" terang Yuda.
Tak lama Rania keluar dari dapur dan terkejut saat melihat Bara membawa seorang gadis ke rumah mereka.
"Dia?"
"Ini Sadira ma... dia pacar Bara" tukas Bara tak ingin menunda memperkenalkan Sadira sebagai kekasihnya.
"Pacar?" ulang Rania yang terkejut dengan perkataan putranya.
"Assalamualaikum tante..." sapa Sadira sambil meraih tangan Rania dan mengecup punggung tangannya.
"Namanya Sadira ma... cantikkan?" terang Bara sambil tersenyum bangga.
Rania tampak mengamati Sadira dengan lekat. Membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
"Sudahlah ma... jangan memandangi Dira seperti itu... mama kayak polisi yang sedang menginterogasi penjahat saja..." kata Yuda yang melihat tingkah istrinya itu.
"Ayo nak... kita ngobrol di dalam saja..." ajak Yuda pada Sadira.
Kedua adik Bara pun terlihat antusias menyambut Sadira yang menurut mereka sangat cantik. Rania pun terpaksa mengikuti langkah suami dan juga anak-anaknya menuju ruang keluarga. Yuda dan yang lainnya tampak sangat menerima kehadiran Sadira yang membuat gadis itu merasa lega. Meski Rania masih agak menjaga jarak. Maklum wanita itu masih tidak menduga jika Bara malah mencintai gadis lain dan bukannya Naya yang merupakan putri sahabatnya.
"Oh iya... maaf tante tinggal ke belakang dulu ya... sebab tante masih belum selesai memasak..." kata Rania mencoba menghindar dari suasana akrab antara keluarganya dan juga Sadira.
"Boleh Dira ikut membantu tante?" tanya Sadira sopan.
"Eh... memang kamu bisa?" tanya Rania yang tidak yakin jika gadis semuda Sadira akan pandai dalam urusan dapur, apa lagi gadis itu berasal dari keluarga kaya raya.
"Sedikit tante..." sahut Sadira merendah.
__ADS_1
"Jangan salah ma... Dira ini sangat pandai memasak... masakannya bahkan bisa mengalahkan koki bintang lima..." tambah Bara yang membanggakan kekasihnya.
Rania mengeryitkan dahinya, kurang percaya dengan perkataan putranya. Namun Bara terlihat sangat yakin sebab sebelumnya pemuda itu memang sudah pernah mencicipi masakan Sadira saat gadis itu membawakannya bekal ke sekolah.
"Ya sudah... ayo temani tante memasak... tante juga ingin tahu bagaimana hasil masakan kamu" ujar Rania yang bermaksud mengetes Sadira.
Sadira pun hanya mengangguk menyanggupi permintaan Rania. Keduanya pun lalu pergi ke dapur untuk mulai memasak. Sementara Yuda dan Bara beserta kedua adiknya tampak saling pandang seolah memberi kode jika nanti Sadira akan membuat Rania tercengang. Di dapur, Rania sengaja menyuruh Sadira untuk memasakkan menu favorit keluarganya. Sementara dia hanya menyelesaikan camilan yang tadi dibuatnya. Benar saja... Rania langsung dibuat kagum dengan keahlian Sadira saat mengeksekusi bahan makanan yang ada di depannya. Gadis itu tampak lincah memainkan pisau saat mengiris bumbu dan juga bahan lainnya.
Tak lama tercium bau masakan yang sangat harum membuat perut orang yang menghirupnya jadi keroncongan. Tak ayal Bara, Yuda dan kedua adik Bara langsung meninggalkan kegiatannya dan menghampiri Rania dan Sadira di dapur.
"Wah... wanginya enak banget kak... bikin perutku keroncongan lagi..." seru Arya adik bungsu Bara.
"Iya... padahal kita tadi udah sarapan banyak" sambung Gara adik Bara yang pertama.
"Siapa dulu yang masak... kan udah kakak bilang kalau Dira itu pandai memasak..." Bara mulai lagi memuji kekasihnya.
"Iya... percaya... ga sabar nunggu matang" cetus Gara.
Rania pun tidak dapat mengelak jika Sadira adalah gadis sempurna dan merupakan pilihan yang tepat bagi Bara. Saat mereka tengah asyik bercengkrama tiba-tiba ada yang mengucapkan salam. Ternyata itu adalah Naya... gadis itu memang sengaja datang untuk bisa mendekati keluarga Bara setelah Rania. Namun gadis itu terkejut saat melihat Sadira juga ada disana. Kontan saja ia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada gadis itu. Ternyata Bara sudah selangkah lebih maju dengan membawa Sadira ke rumahnya. Tapi ia tak mau menyerah, ia yakin jika Rania masih akan mendukungnya dibandingkan dengan Sadira untuk bersama Bara.
"Maaf tante... om... Naya kemari ga bilang dulu..." ucapnya mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung akibat kehadirannya.
"Ga pa-pa sayang... kamu sudah biasa datang kemari, jadi jangan sungkan..." sahut Rania merasa tidak enak pada Naya.
"Bagaimana jika kita makan sekarang saja? bukankah ini juga hampir waktu makan siang..." usul Yuda yang langsung ditanggapi dengan senang oleh Bara dan kedua adiknya.
Akhirnya mereka pun makan siang bersama. Bara sengaja duduk didekat Sadira dan diapit oleh kedua adiknya. Sementara Naya duduk disamping Rania. Melihat itu Naya jadi sulit untuk menelan makanannya. Apa lagi kedua adik Bara selalu memuji masakan yang ternyata buatan Sadira. Bara bahkan tidak sungkan menunjukkan perhatiannya pada Sadira meski disana ada kedua orangtuanya dan juga adik-adiknya. Naya semakin geram saat melihat Rania yang mulai luluh pada Sadira. Sepertinya kemampuan memasak Sadira berhasil mencuri hati Rania yang memang juga menyukai masak memasak.
Meski merasa kalah telak, tapi tidak akan ada kata menyerah dalam kamus Naya. Yang ada kini ia malah memikirkan cara agar bisa mencoreng nama Sadira agar keluarga Bara berbalik membenci gadis itu. Jika dengan jalan halus Naya tidak bisa memisahkan Bara dengan Sadira, maka cara kasar pun akan ia lakukan agar tujuannya bisa tercapai. Naya tersenyum tipis, kini dalam otaknya telah tersusun berbagai rencana untuk membuat sejoli yang ada didepannya itu akhirnya berpisah.
Selesai makan siang, Bara pamit pada kedua orangtuanya untuk mengantarkan Sadira pulang. Rania pun semakin ramah dengan Sadira bahkan ia menitipkan beberapa camilan buatannya untuk dibawa pulang oleh Sadira. Terlihat jelas jika kini Rania mulai merestui hubungan keduanya. Yuda juga merasa lega karena istrinya sudah bisa menerima keputusan Bara yang mencintai Sadira. Ia berharap Rania tidak lagi ikut campur dan menekan Bara agar mau menerima Naya.
Dalam perjalanan pulang Bara tampak sangat bahagia karena kini keluarganya bisa mengenal Sadira sebagai kekasihnya. Begitu juga dengan Sadira yang merasa lega karena keluarga Bara mau menerimanya.
"Jadi kita tinggal menunggu hingga kamu ulang tahun yang ke 17 agar aku bisa menemui keluargamu kan Ra?" tanya Bara untuk memastikan.
"Iya kak..." sahut Sadira dengan wajah merona mengetahui ketidak sabaran kekasihnya itu.
"Uh... rasanya lama sekali Ra... apa tidak boleh dipercepat? misalnya saat ulang tahunmu yang ke 16 saja..." tawar Bara.
__ADS_1
"Ish... itu sama saja satu bulan lagi kan kak... dan 16 tahun itu belum cukup umur..." protes Sadira.
"Hei... walau begitu yang berpacaran dibawah usia itu pun banyak kan Ra..." ujar Bara tak mau kalah.
Sadira hanya bisa mendengus pelan. Tapi apa yang dikatakan Bara ada benarnya. Lagi pula Ayana juga sudah berpacaran dengan kakaknya Sahir. Tapi tetap saja Sadira masih merasa takut untuk berterus terang kepada keluarganya tentang Bara.
"Sabar dulu ya kak..." bujuk Sadira yang tak tahu harus berbuat apa.
"Hemmm..." sahut Bara namun pemuda itu semakin menggenggam tangan Sadira lebih erat.
Sementara Naya tampak tengah berbincang dengan Rania. Naya merasa kecewa saat Rania berkata jika ia tidak bisa memaksa Bara untuk dekat dengan Naya, apa lagi Bara sudah membawa Sadira untuk diperkenalkan sebagai kekasihnya.
"Tapi mereka kan cuma pacaran dan belum menikah tante... jadi masih ada harapan agar Bara mau bersamaku..." kata Naya tak mau menyerah.
Rania tersentak dengan perkataan Naya. Bagaimana tidak... perkataan gadis itu mengingatkannya akan luka lamanya. Luka yang ditorehkan oleh mantan suaminya, ayah kandung Bara. Ya... dengan dalih masih cinta pria itu tega meninggalkannya saat hamil demi wanita yang menjadi cinta pertamanya. Dan Naya... gadis itu seperti mengingatkannya pada sosok wanita itu yang telah merebut mantan suaminya dulu. Ternyata benar... feeling Yuda benar, bahwa Naya bukan gadis yang baik seperti yang difikirkannya selama ini. Seseorang yang mau merusak hubungan orang lain demi kepentingannya bukanlah orang yang bisa ia percaya.
Dan Rania sadar akan hal itu saat ini. Kini ia harus tegas pada Naya agar tidak lagi mengganggu hubungan antara putranya dan Sadira.
"Maaf Nay... tante tidak bisa mendukungmu..." ucap Rania tegas.
"Tapi tante..."
"Tante sadar jika dulu tante buta dengan sifat asli kamu... tapi sekarang tidak. Jadi sekali lagi tante minta agar kamu jangan mengganggu Bara lagi"
"Tante!" seru Naya terkejut dengan keputusan Rania yang tidak lagi mendukungnya.
"Jika kamu masih mau berkunjung kemari silahkan... tapi jangan berharap untuk menggoda Bara. Karena meski dia dan Sadira hanya berpacaran, tapi itu tetap sebuah komitmen. Tante tidak suka dengan orang yang merusak hubungan orang lain demi mewujudkan keinginannya sendiri" terang Rania yang tidak bisa mentolerir pemikiran Naya.
"Baik tante... jika itu yang tante inginkan, tapi Naya ga bisa jamin jika hubungan tante dengan mama masih akan baik-baik saja setelah apa yang tante lakukan..." ucap Naya dengan nada mengancam.
Rania terkejut dengan ucapan Naya barusan. Ia tak menyangka jika gadis belia sepertinya bisa berbuat licik dan nekat. Untung saja Bara malah memilih Sadira dari pada Naya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika benar Bara bersama Naya. Bukan tidak mungkin gadis itu juga akan melakukan hal serupa jika suatu saat ia dan dirinya berselisih.
"Terserah kamu dan mama kamu Nay... tante tidak akan kehabisan teman hanya karena mama kamu tidak lagi mau berteman dengan tante" sahut Rania yang jengah dengan sikap memaksa Naya.
Naya yang merasa kesal pun akhirnya memilih untuk pulang sambil menghentakkan kakinya keras. Rania hanya bisa menghela nafasnya pelan melihat kelakuan Naya. Yuda langsung menghampiri istrinya setelah kepergian Naya.
"Ada apa ma?"
"Kamu benar mas... Naya bukan gadis yang cocok untuk Bara. Dia terlalu keras kepala dan juga egois"
__ADS_1
"Syukurlah kamu sudah sadar sekarang sayang... sudah, jangan fikirkan gadis itu lagi. Yang terpenting sekarang kita do'akan semoga Bara dan Sadira berjodoh dan kita bisa mendapat menantu yang baik seperti dirinya" hibur Yuda.
Rania pun mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Setelah bertemu dengan keluarga Bara hubungan Bara dan Sadira pun membaik dan semakin mesra. Meski masih belum diketahui oleh keluarga Sadira tapi setidaknya keluarga Bara mengetahuinya.