
Malam ini tuan Sam dan Amira berkunjung ke rumah nyonya Sarah dan tuan Bram. Tujuannya apa lagi kalau bukan ingin mengetahui keadaan Anna yang tidak bisa mereka hubungi karena ponselnya masih disita oleh kedua orangtuanya. Namun saat mereka sampai keduanya harus kecewa karena ternyata Anna sedang keluar bersama Devan. Meski begitu keduanya tak langsung pulang dan malah berbincang ringan dengan nyonya Sarah dan tuan Bram. Saat mereka asyik berbincang tiba-tiba ponsel tuan Bram berbunyi. Dan ternyata itu panggilan dari salah satu pengawal Anna.
Tuan Bram memang masih mengirim pengawal untuk Anna secara diam-diam. Apa lagi saat ini ia takut jika Anna masih berhubungan dengan Raja. Karenanya ia tetap mengawasi Anna dengan menyuruh para pengawalnya.
"Ada apa?"
"Tuan... nona Anna dibawa ke club oleh Devan..." lapor sang pengawal.
"Apa! Devan membawa Anna ke club? b***g**k! berani sekali dia... cepat kirimkan lokasi mereka! aku akan menyusul ke sana..."
"Baik tuan..."
"Ada apa mas?" tanya nyonya Sarah yang penasaran dengan pembicaraan suaminya.
"Si b***g**k itu membawa putri kita ke club!" terang tuan Bram.
"Apa?" tanya nyonya Sarah tak percaya dengan perkataan suaminya.
"Iya... aku fikir dia sudah berubah ternyata masih tetap sama..." sahut tuan Bram.
"Kalian memang aneh... begitu percaya pada orang b***g**k yang baru berubah... tapi tidak dengan seseorang yang sudah terbukti berubah selama bertahun-tahun..." potong tuan Sam.
"Db..." ucap Amira sambil mengelus lengan tuan Sam.
Ia tahu siapa yang dimaksud oleh suaminya itu. Begitu juga dengan tuan Bram dan nyonya Sarah, keduanya merasa tertampar dengan perkataan tuan Sam. Karena apa yang dikatakannya itu benar. Keduanya sangat ceroboh dengan lebih mempercayai Devan dari pada Raja. Tuan Sam pun kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah keluar.
"Kakak mau ke mana?" tanya nyonya Sarah.
"Tentu saja menjemput keponakanku..." sahut tuan Sam dingin.
"Kami ikut..." kata Amira.
"Jangan... kalian lebih baik menunggu di rumah... apa lagi ada anak-anak..." tuan Bram yang memberi jawaban.
Nyonya Sarah dan Amira pun akhirnya patuh. Tuan Sam dan tuan Bram pun kemudian bergegas menuju ke mobil. Tuan Bram yang mengemudikannya setelah mendapatkan lokasi Anna dari pengawalnya. Selama perjalanan keduanya terdiam sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
Di club...
Terjadi keributan antara Devan dan pria yang hendak mengganggu Anna. Keduanya bahkan mengajak teman mereka masing-masing. Sementara Anna terlihat santai menonton perkelahian mereka. Namun saat melihat Devan dan temannya terdesak Anna bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah mereka. Tanpa diduga Anna langsung memiting lengan pria yang baru saja melayangkan bogem mentahnya pada wajah Devan.
Mendapat serangan tiba-tiba pria itu langsung menoleh ke arah orang yang menyerangnya. Pria itu langsung terkejut saat mengetahui jika gadis yang tadi diincarnya kini sudah memiting tangannya. Bukan hanya pria itu tapi semua orang yang melihat kejadian itu pun terkejut termasuk Devan. Karena selama ini ia tidak pernah tahu jika Anna memiliki kemampuan bela diri.
Sementara Anna terlihat menatap pria yang dipitingnya itu dengan tatapan dingin seolah tak memiliki perasaan. Dan tanpa berkata-kata Anna langsung mematahkan lengan orang itu dengan sekali tarikan.
__ADS_1
Krekkk! terdengar suara tulang yang patah begitu keras.
"Arrgh!" teriak orang itu saat merasakan tulang lengannya yang patah.
Setelah itu Anna langsung mendorong tubuh pria yang sudah tidak berdaya itu ke lantai. Teman-teman pria itu pun berhenti memukuli Devan dan juga temannya. Mereka kini beralih untuk menghadapi Anna karena sudah mematahkan lengan teman mereka. Mereka langsung maju secara bersamaan mengeroyok Anna. Tapi gadis itu tampak tenang dan tidak terlihat takut sedikit pun saat mengahadapi lawan yang cukup banyak. Bahkan terlihat seringai tipis dibibir gadis itu saat melihat para pengeroyoknya.
Dan dengan gesit Anna berhasil menghidari setiap serangan yang ditujukan untuknya. Bahkan gadis itu berhasil membalas serangan mereka dengan mendaratkan tendangan dan pukulan telaknya pada para penyerangnya. Gadis itu langsung menyerang titik-titik kelemahan lawannya sehingga mereka langsung tumbang begitu terkena pukulan Anna. Gerakan Anna yang cepat membuat lawannya kuwalahan. Sepertinya saat ini Anna tengah menumpahkan kekesalannya terhadap kedua orangtuanya pada para pria tersebut. Terbukti bagaimana Anna menghajar mereka habis-habisan tanpa ampun. Membuat para pria yang semula bermaksud mengganggunya itu terluka parah.
Tuan Sam dan tuan Bram yang baru saja tiba di tempat itu pun terlihat sangat terkejut. Mereka seperti tidak mengenali Anna. Pasalnya gadis itu seperti berubah menjadi malaikat maut yang tanpa ekspresi menghajar setiap lawan-lawannya. Tuan Bram bahkan terlihat syok saat melihat putrinya dengan tanpa ekspresi mematahkan setiap tulang pada tubuh lawannya. Jangan dibayangkan bagaimana perasaan Devan saat ini. Ia seperti melihat i*l*s betina yang mengamuk dihadapannya. Pemuda itu terlihat sangat syok melihat sisi lain dari Anna.
"Anna!" seru tuan Sam berusaha menyadarkan keponakannya.
Mendengar namanya disebut Anna langsung memutar tubuhnya sambil melayangkan genggaman tangannya. Namun gerakannya langsung terhenti saat ia melihat wajah unclenya. Tangannya yang bersiap memukul terhenti tepat satu senti didepan wajah tuan Sam. Tuan Sam bahkan memejamkan matanya saat merasakan angin pukulan dari Anna. Saat tak merasakan kepalan tangan keponakannya itu mendarat diwajahnya tuan Sam pun membuka matanya perlahan.
"Maaf uncle..." ucap Anna lirih sambil menurunkan tangannya perlahan.
"Sudah puas menjadikan mereka samsak?" tanya tuan Sam pada Anna.
Anna hanya menundukkan wajahnya tak berani menjawab pertanyaan tuan Sam.
"Cepat masuklah ke dalam mobil dengan papa kamu... biar uncle yang mengurus mereka disini..." titah tuan Sam pada Anna.
Gadis itu pun hanya mengangguk patuh dan mengikuti langkah papanya ke dalam mobil.
Sebenarnya ia juga ingin melayangkan tinjunya pada pemuda itu... namun melihat wajah Devan yang sudah lebam ia tak jadi melakukannya. Setelah kepergian Anna dan tuan Bram, tuan Sam pun memberikan penawaran ganti rugi pada pemilik club dan juga orang-orang yang sudah dilukai oleh Anna. Meski keponakannya itu tidak sepenuhnya bersalah karena hanya membela diri namun karena luka yang disebabkan gadis itu cukup parah bisa membuat Anna dalam masalah jika ada yang melaporkannya ke pihak berwajib. Tuan Sam tidak ingin nama baik Anna tercemar karena berkelahi di bar. Para pria yang menjadi bulan-bulanan Anna pun segera menyetujui kesepakatan yang ditawarkan oleh tuan Sam yang akan menanggung sebagian perawatan mereka karena bagaimana pun ini juga akibat kesalahan mereka sendiri.
Sementara Devan tidak dapat berbuat banyak setelah mendapat peringatan dari tuan Bram untuk menjauhi Anna. Bahkan tuan Sam kembali menegaskan perkataan iparnya itu pada Devan agar menjauhi Anna sebelum ia keluar menyusul keponakan dan adik iparnya itu.
"Bodoh! kau sudah menghilangkan kesempatanmu untuk mendekati Anna, Devan... seharusnya kau tidak mengajaknya kemari..." batin Devan sambil mengusak kepalanya frustasi.
"Aarrrgh... bodoh...bodoh..." seru Devan sambil memukul meja yang ada didepannya.
Sementara di dalam mobil Anna dan tuan Bram duduk dan saling diam. Tuan Bram duduk di kursi sopir sementara Anna di belakang. Setelah tuan Sam masuk ke dalam mobil tuan Bram pun menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu. Sesampainya di rumah nyonya Sarah langsung menghampiri Anna dengan cemas.
"Ya Allah Anna... apa yang terjadi padamu nak?" tanyanya saat melihat baju dan rambut Anna yang kusut. Bahkan wajah cantik itu tampak sedikit lebam dan sudut bibirnya terluka. Sepertinya saat melawan orang-orang tadi Anna sempat terluka.
Anna hanya menggedikkan bahunya sambil berlalu dari depan mamanya. Gadis itu tampaknya masih sungkan berbicara dengan kedua orangtuanya. Nyonya Sarah pun mengalihkan pandangannya pada suami dan kakaknya seolah bertanya pada keduanya.
"Dia berkelahi disana..." terang tuan Sam.
"Tapi bagaimana bisa?"
"Nanti akan aku jelaskan..." ucap tuan Bram agar nyonya Sarah tak lagi bertanya.
__ADS_1
Nyonya Sarah pun bergegas menyusul putrinya ke dalam kamar. Ia ingin mengobati luka Anna. Saat masuk ke dalam kamar tak terlihat Anna di sana. Namun suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat nyonya Sarah yakin jika Anna ada di dalam sana. Nyonya Sarah menunggu anak gadisnya itu keluar dari dalam kamar mandi.
"Anna... biar mama obati dulu luka kamu sayang" kata nyonya Sarah saat melihat Anna yang baru keluar dari kamar mandi.
Gadis itu tampak sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
"Aku sholat dulu ma..." sahut Anna sedikit lembut membuat nyonya Sarah merasa senang.
Ia pun mengangguk dan membiarkan putrinya itu mengerjakan ibadahnya. Namun ia tak keluar dari sana dan tetap duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu Anna menyelesaikan ibadahnya. Setelah selesai Anna merapikan alat sholatnya kemudian duduk di samping mamanya. Dengan cekatan nyonya Sarah mengoleskan salep pada wajah Anna yang sedikit lebam dan juga sudut bibir gadis itu yang terluka.
"Sekarang kau tidurlah... semoga saja besok pagi lukamu sudah tidak begitu terlihat lagi agar kau bisa tetap berangkat sekolah..." ucap nyonya Sarah yang tahu jika putrinya pasti akan tetap berangkat sekolah besok.
"Terima kasih ma..." ucap Anna membuat nyonya Sarah yang hendak beranjak dari duduknya langsung berhenti dan langsung memeluk putrinya itu.
"Maafkan mama sama papa sayang..." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Anna hanya menganggukkan kepalanya pelan. Sungguh ia sebenarnya sangat lelah harus terus bersitegang dengan kedua orangtuanya. Namun rasa kecewanya atas sikap keduanya membuat Anna enggan untuk kembali dekat dengan mereka.
"Sekarang kau tidurlah..." kata nyonya Sarah sambil menyusut air mata disudut matanya setelah mengurai pelukannya.
Anna pun menurut, gadis itu langsung naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana. Nyonya Sarah menyelimuti tubuh putrinya itu dan mengecup keningnya setelah Anna memejamkan matanya kemudian ia pun keluar dari dalam kamar Anna. Setelah keluar dari kamar Anna nyonya Sarah langsung menghampiri suaminya yang masih berada di ruang tamu.
"Dimana kakak dan Amira, mas?" tanyanya saat tak menemukan keduanya bersama suaminya.
"Mereka langsung pamit pulang karena khawatir dengan si kembar dan Dira yang mereka tinggal di rumah..." terang tuan Bram.
Nyonya Sarah pun mengangguk mengerti dan mendekat ke arah suaminya.
"Apa kita salah selama ini mas?" tanya nyonya Sarah sambil melingkarkan tangannya di lengan tuan Bram.
"Mungkin saja sayang... kita terlalu syok dengan hubungan Anna dan Raja hingga tidak bisa berfikir jernih..." sahut tuan Bram menyadari kesalahan mereka.
"Aku juga berfikir sama mas... tapi apa Anna bisa memaafkan kita? karena kini aku merasa jika dia sudah sangat jauh dari kita..." kata nyonya Sarah sambil menyandarkan kepalanya pada tuan Bram.
"Kita akan pelan-pelan mendekatinya dan meminta maaf padanya... jadi kau jangan khawatir sayang..." sahut tuan Bram memeluk tubuh nyonya Sarah.
Keduanya pun kemudian masuk ke kamar mereka untuk beristirahat. Sementara Amira dan tuan Sam yang masih dalam perjalanan pulang pun membahas kejadian tadi.
"Apa menurutmu kak Sarah dan kak Bram akan terbuka fikirannya karena kejadian ini Db?" tanya Amira sambil menatap suaminya yang sedang menyetir.
"Semoga saja Meyaa..." sahut tuan Sam menggenggam tangan istrinya dengan satu tangan.
Amira mendesah pelan. Sesungguhnya permasalahan Anna dan Raja sudah mengusik fikirannya selama ini. Ia ingin akhir yang bahagia bagi keduanya.
__ADS_1