
Bus yang ditumpangi Sadira baru akan berangkat saat Naya menerobos naik. Gadis itu rupanya tidak rela jika naik bus yang berbeda dengan Bara. Karena itulah ia memaksa temannya untuk bertukar tempat. Naya yang semula senang karena berhasil naik bus yang sama dengan Bara langsung merasa kesal karena ternyata di dalam bus itu juga ada Sadira. Bahkan gadis itu duduk disamping Bara.
"Kenapa gadis itu duduk disamping kamu sih Bara? dia kan murid baru... tidak seharusnya dia duduk di kursi belakang..." protes Naya.
"Itu bukan urusanmu... lagi pula kenapa kau berada di sini? bukankah seharusnya kamu di bus yang lain?"
"Aku bertukar tempat dengan Sisil agar bisa satu bus denganmu Bara..." terang Naya tanpa malu.
"Ck..." desis Bara tak suka dengan kedatangan Naya.
Sedang Naya dengan pd nya langsung menjatuhkan bobotnya disamping Bara.
"Eh... ngapain kamu duduk disini?"
"Kan aku ingin duduk didekat kamu Bara..." sahut Naya manja.
"Heh! kalau kamu bertukar tempat dengan Sisil itu artinya tempat duduk kamu itu di depan sana dekat dengan sopir... sebab tugas Sesil adalah mengawasi anak-anak yang duduk di bagian depan jika ada yang mabuk perjalanan dan butuh bantuan!" kata Bara yang langsung membuat Naya masam.
"Lalu kenapa gadis itu ada disini? bukannya dia murid baru?" tanya Naya yang tetap tak terima jika Sadira ada didekat Bara.
"Itu karena tempat duduknya dipakai oleh Sisil... dan karena kamu yang menggantikan Sisil maka kamu yang harus duduk di depan!" sergah Bara yang membuat Naya tak berkutik dan akhirnya pergi ke kursi depan sambil menghentakkan kakinya karena kesal.
Sia-sia saja ia ngotot meminta pada Sisil untuk menggantikannya di bus yang lain jika akhirnya ia tetap tak bisa duduk disamping Bara. Hati Naya bertambah marah saat tahu jika Bara duduk bersebelahan dengan Sadira yang ia tahu sudah menjadi idola baru para murid senior.
"Dasar cewek gatel... pasti dia yang sengaja minta duduk dibagian belakang supaya bisa mendekati Bara... awas saja nanti akan aku buat perhitungan dengannya!" batinnya kesal.
Sementara Sadira sedari tadi hanya diam saat Bara dan Naya berdebat. Ia bahkan berpura-pura tidur saat mendengar Bara mengusir Naya agar pergi ke kursi depan bus. Sebenarnya Sadira tengah gugup karena dalam hatinya ia bimbang apakah akan meminta maaf langsung pada Bara sekarang, saat cowok itu tengah berada disampingnya atau tidak. Tapi ia juga masih merasa malu untuk melakukannya. Apa lagi sikap Bara yang menjadi agak dingin padanya sejak kejadian itu. Terbukti tadi Bara bahkan tidak mau menyapanya. Meski tadi sempat menolak Naya dan membelanya agar tetap duduk dikursi yang sudah ditentukan, namun tetap saja gadis itu masih merasa canggung.
Tanpa ia ketahui, bahwa jika sedari tadi Bara malah tengah menatap wajahnya dalam. Berada disamping Sadira merupakan kesempatan yang tidak akan disia-siakan oleh Bara untuk bisa menatap wajah gadis idamannya itu hingga puas. Meski Sadira matanya yang terpejam, namun dengan gerakan tubuh gadis itu yang terlihat gelisah membuat Bara yakin jika gadis itu hanya sedang pura-pura tidur saja. Hal ini membuatnya tersenyum kecil karena tahu jika gadis itu tengah berusaha untuk menghindarinya. Sebenarnya sedari tadi mulutnya juga sudah gatal untuk menyapa gadis yang sudah membuatnya jatuh hati sekaligus membuatnya merasakan tamparan untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Tapi ia harus tetap menahan dirinya agar semua rencana yang sudah disusunnya bersama kedua sahabatnya bisa berjalan dengan lancar. Hanya dengan menatap wajah Sadira saja, Bara sudah merasa bahagia. Setelah perjalanan selama hampir 3 jam, akhirnya bus yang membawa para siswa pun tiba di tempat camping. Satu persatu para siswa pun turun dari atas bus. Sadira turun paling terakhir, dan Bara masih mengacuhkannya.
"Sabar Ra... lebih baik nanti kamu meminta maaf padanya nanti secara pribadi saja... agar tidak ada yang tahu tentang perbuatanmu pada kak Bara" batin Sadira sambil menggendong tas ransel yang dibawanya.
Hana langsung menghampiri Sadira begitu gadis itu terlihat turun dari dalam bus. Ternyata ia satu tenda dengan Sadira. Karena hari sudah semakin siang, para senior langsung menyuruh para siswa baru untuk mulai mendirikan tenda mereka masing-masing. Meski Sadira merupakan anak rumahan dan baru pertama kali ikut kegiatan seperti ini, namun gadis itu sama sekali tidak terlihat canggung saat harus mendirikan tendanya sendiri dibantu oleh Hana. Dan dalam waktu singkat kedua gadis itu sudah berhasil mendirikan tenda mereka.
Hal ini tentu saja tidak lepas dari pandangan Bara dan kedua sahabatnya.
"Wah! dia benar-benar gadis yang mandiri bro..." cetus Reno saat melihat Sadira dengan cekatan mendirikan tendanya.
Bahkan gadis itu tampak memimpin temannya dan memberikan instruksi agar tenda mereka bisa cepat berdiri.
"Hem..." sahut Bara yang bertambah kagum pada gadis pujaannya itu.
"Tapi apa tidak susah untuk mengesankan gadis yang begitu mandiri seperti itu?" tanya Rafa yang sudah menebak jika jalan yang akan ditempuh oleh Bara akan sangat susah untuk menaklukkan hati Sadira.
Kedua temannya hanya bisa mengangguk dan menarik nafas mereka pelan karena tahu jika teman mereka itu sangat keras kepala. Malam harinya seluruh peserta berkumpul di depan api unggun yang sudah dinyalakan oleh panitia. Disana mereka juga membagikan kelompok bagi para siswa baru pada kegiatan hiking yang akan dilakukan esok hari. Meski rute yang akan ditempuh tidak begitu jauh, namun panitia tetap harus terus mengingatkan peraturan yang harus selalu dipatuhi oleh para peserta selama mereka berada di sana agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah itu acara dilanjutkan dengan hiburan. Pada acara ini tampak beberapa senior dan siswa baru menunjukkan bakat mereka terutama di bidang seni. Bahkan Naya dan teman satu genknya memperlihatkan kebolehannya menari ala girl band K- pop yang saat ini sangat digandrungi para remaja. Bahkan demi totalitas, para gadis itu sengaja mengenakan pakaian persis seperti idola mereka itu. Meski itu perbuatan yang cukup konyol karena suasana di tempat camping yang sangat dingin. Dan bisa dilihat pada wajah mereka yang sedikit memucat karena kedinginan akibat berpakaian mini dan kurang tebal.
Tapi semua itu tak membuat Naya menyesal sebab ia ingin menarik perhatian Bara. Tapi bukannya memperhatikan Naya, Bara malah gagal fokus saat melihat Sadira muncul dari dalam tendanya dengan mengenakan sweater dan penutup kepala bergambar Tweety yang besar dibagian depan. Gadis itu tampak sangat imut apa lagi saat gadis itu dengan lembut menghembuskan nafasnya diantara telapak tangannya dan sambil menggosokkannya secara perlahan. Bagi Bara, Sadira terlihat sangat manis meski mengenakan pakaian tertutup.
Naya yang melihatnya pun tampak geram. Rasa dingin akibat tak berpakaian tebal tak lagi ia rasakan karena dadanya kini terasa panas karena cemburu.
"Ck... dasar j****g! dia fikir aku tidak tahu trik murahannya itu..." sungut Naya dalam hati saat melihat Sadira perlahan menghisap minumannya.
Ia akui gadis itu tampak anggun meski hanya melakukan hal biasa. Dan hal inilah yang semakin membuat Naya semakin membenci gadis itu. Baginya tak ada yang boleh tampil sempurna selain dirinya.
"Dasar sok kecantikan! lihat saja besok... aku akan membuatmu menyesal karena telah menarik perhatian Bara!" batin Naya sambil meremas telapak tangannya.
__ADS_1
Sementara Sadira yang membuat suasana hati Naya panas terlihat tak menyadarinya. Gadis itu bahkan asyik mengobrol dengan Hana dan teman satu kelompoknya yang lain. Waktu menunjukkan pukul 22.00 membuat panitia menyuruh mereka semua untuk segera tidur agar besok bisa bangun pagi dan memulai hiking.
Pagi-pagi sekali para senior langsung membangunkan para siswa baru agar bisa segera melakukan kegiatan hari ini. Meski hiking dilakukan hanya di sekitar tempat mereka kemah, namun Sadira tetap mempersiapkan segala keperluan yang bisa digunakan jika dalam keadaan darurat. Karena seperti kata kedua kakak kembarnya, jika di gunung segala sesuatu bisa saja terjadi. Jadi sebisa mungkin harus bersiap. Dan Sadira sudah mengenakan tas pinggangnya yang berisi segala macam perlengkapan sederhana yang bisa ia gunakan jika dalam keadaan terdesak. Tas pinggang itu ia dapatkan dari kedua kakaknya yang juga hobi naik gunung.
Mereka menyebutnya tas serba guna karena isinya benar-benar berguna disaat darurat. Sedang Sadira lebih suka menyebut sebagai tas Dora Emon. Setelah siap ia pun segera keluar dari dalam tenda dan berkumpul bersama teman satu kelompoknya. Setelah kembali diberi pengarahan oleh panitia, mereka pun segera berangkat. Sadira tampak takjub dengan keindahan alam yang ada didepannya.
"Pantas saja kedua kakakku sangat senang hiking... ternyata pemandangannya sangat luar biasa..." ujar Sadira pada Hana.
"Jadi kau punya dua kakak?" tanya Hana penasaran.
"Heumm..."
"Cewek atau cowok?"
"Kalau cewek kenapa? dan kalau cowok juga kenapa?"
"Kalau cewek pasti cantik-cantik kayak kamu... dan kalau cowok pasti juga ganteng... dan bisa buat gebetan..." sahut Hana sambil terkekeh.
"Kau ini!" seru Sadira sambil menyentil kening teman barunya itu.
Hana memang gadis yang selalu blak-blakan saat berbicara dengan Sadira. Lain halnya jika berhadapan dengan yang lain, apa lagi para senior. Gadis itu pasti langsung berubah menjadi pendiam. Karena Hana tipe gadis yang hanya bisa santai dengan orang yang membuatnya nyaman saja dan tidak dengan yang lain. Perjalanan kali ini sengaja dipilih rute yang tidak terlalu sulit karena banyak diantara para siswa yang masih amatir dan baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini.
Naya tampak berusaha untuk bisa selalu ada di dekat Bara. Meski pun cowok itu selalu cuek dan jutek padanya, namun gadis itu sama sekali tidak mau menyerah. Suasana asri pegunungan membuat Naya merasa sangat romantis jika bisa selalu bersama Bara. Tapi apa yang diharapkannya kembali gagal karena Bara sengaja membuatnya berada di kelompok lain sehingga ia tidak bisa dekat dengan cowok itu.
Sedang Bara sengaja memilih berada di kelompok Sadira, meski ia masih memperlihatkan sikap dingin pada gadis itu. Sadira yang pesona dengan pemandangan di sekitarnya sepertinya lupa dengan permasalahannya dengan Bara. Gadis itu sibuk memperhatikan tumbuhan yabg ada di sepanjang perjalanan. Bagaimana tidak... ia sangat penasaran dengan berbagai jenis tanaman liar yang menarik baginya. Apa lagi dulu ia pernah mendengar kisah sang bunda yang pernah bertahan di hutan dan memakan tumbuhan yang ada di sana untuk bertahan hidup.
Sifat ingin tahunya sungguh sangat tinggi hingga ia seakan melupakan sekelilingnya saat melihat berbagai jenis tanaman yang hanya bisa ia lihat di dalam buku selama ini. Tanpa sadar gadis itu malah menjauh dari kelompoknya. Bara yang memimpin di depan seakan merasakan firasat sehingga cowok itu pun berinisiatif untuk memeriksa kelengkapan anggota kelompoknya. Hana yang baru menyadari jika Sadira tidak berada disampingnya pun langsung panik dan melapor pada Bara sebagai pimpinan kelompok. Mengetahui jika Sadira terpisah dari kelompoknya Bara langsung mencari gadis. Anggota kelompok yang lain pun ikut mencari.
Sadira yang baru saja menemukan sebuah tanaman liar yang bentuknya unik terlihat sangat penasaran dan ingin mengambilnya. Tapi sayang saat akan memijakkan kakinya untuk meraih tanaman bernama kantong semar itu, Sadira terpeleset dan tubuhnya langsung terguling ke bawah lembah. Bara dan yang lainnya mencari keberadaan Sadira sambil memanggil nama gadis itu namun tak mendapatkan hasil. Sedang hari sudah mulai petang.
__ADS_1