
Tuan Sam memandang wajah istrinya yang mulai tertidur. Sejak kehamilannya sikap Amira berubah lebih manja pada tuan Sam. Tidak seperti sebelumnya yang selalu mandiri. Namun tuan Sam justru menyukainya karena dengan demikian ia merasa jadi sangat dibutuhkan oleh Amira. Diciumnya puncak kepala Amira dan ia pun ikut tertidur disamping istrinya itu.
Pagi hari Amira sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Entah kenapa setelah semalam ia bermimpi bertemu kedua orangtuanya ia jadi lebih bersemangat dan berani menjalani kehamilan pertamanya. Benar kata suaminya jika hamil kembar bukan hal yang harus ditakutkan namun harus disyukuri. Walau tak ada ibunya yang mendampinginya tapi ada iparnya Sarah yang sama-sama hamil dan selalu bersedia menjadi tempatnya berkeluh kesah dan memberi nasehat karena ia yang lebih berpengalaman.
Tuan Sam tersenyum saat melihat Amira yang lebih bersemangat hari ini.
"Pagi sayang..." ucapnya sambil mengecup kening Amira.
"Pagi B... kau mau sarapan roti atau nasi goreng?"
"Nasi goreng saja..."
Amira pun mengambilkan nasi goreng untuk suaminya itu. Lalu keduanya pun sarapan bersama.
"Hari ini aku ada janji dengan kak Sarah ....B"
"Apa?"
"Kak Sarah mengajakku untuk ikut perawatan di salon langganannya" terang Amira.
"Baiklah kau boleh ikut dengannya tapi ingat jangan lakukan massage karena kau sedang hamil"
"Iya B... kami hanya akan melakukan perawatan wajah dan rambut saja" ungkap Amira.
"Kau mau kuantar ke rumah Sarah atau kalian janjian bertemu di salon?"
"Janjian di salon B..."
"Baiklah nanti biar sopir mengantarmu kesana sebab pagi ini aku harus meeting jadi harus berangkat pagi... kau tidak apa-apa kan?"
"Ya... aku tidak apa-apa" sahut Amira sambil mengangguk.
Setelah sarapan tuan Sam pun berangkat setelah mencium kening istrinya yang sudah menjadi rutinitasnya sejak menikah. Begitu tuan Sam pergi Amira pun segera bersiap untuk bertemu dengan iparnya di salon. Sebenarnya ia tak begitu menyukai kegiatan itu namun ia sadar jika ia harus bisa merawat dirinya demi suaminya. Apalagi ia tahu banyak penggoda yang mengincar suaminya.
Setibanya di salon langganannya tampak Sarah sudah ada di sana.
"Kakak sudah dari tadi?" tanya Amira setelah keduanya bertemu.
"Aku baru saja datang kok Ra..."
"Emm... kak gimana kabar kehamilan kakak? apa masih ngidam?"
"Kayaknya udah ga deh Ra.... rasanya kasihan juga pada suamiku yang harus selalu memenuhi ngidamku...."
"Bukan dia saja loh kak yang repot..." sahut Amira.
Nyonya Sarah pun tertawa mengingat kakaknya dan Lukas juga pernah jadi korban ngidamnya.
"Kalau kau bagaimana? apa ga pernah ingin apa pun itu?"
Amira menggeleng.
"Entah kak ... aku belum ingin apa-apa. Hanya saja saat ini aku paling tidak tahan dengan bau parfum kak Sam"
"Ya setidaknya kakakku ga perlu repot pontang panting mencarikan sesuatu untuk ngidammu Ra..."
__ADS_1
Amira mengangguk setuju. Keduanya pun asyik mengobrol sambil menerima perawatan dari pegawai salon. Bahkan mereka juga berbincang akrab dengan pegawai di sana. Kedua bumil itu sangat menikmati moment me time mereka. Yang tanpa mereka sadari ada yang mengawasi keduanya dari jauh.
Setelah memanjakan diri di salon kedua bumil itu pun memutuskan untuk masuk ke dalam mall sekedar untuk cuci mata. Karena keduanya bukan tipe wanita yang suka berbelanja. Keduanya sama-sama hanya suka membeli barang yang dibutuhkan saja walau uang suami mereka cukup untuk bershoping ria. Lelah berkeliling keduanya pun masuk ke salah satu kafe untuk membeli minuman.
"Kak... apa kakak sudah mulai membeli barang-barang untuk bayi?"
"Belum Ra... lagi pula kandunganku baru masuk 5 bulan"
"Iya sih... rasanya sudah ga sabar menanti kelahiran mereka ya kak" ucap Amira sambil mengelus perutnya yang kini sudah menyamai milik nyonya Sarah karena kehamilannya kembar.
"Iya Ra...." kata nyonya Sarah yang juga mengelus perutnya.
"Kak aku ke toilet dulu sebentar ya..."
"Iya Ra..."
Amira pun melangkah kakinya menuju ke toilet. Namun saat di depan pintu toilet tampak seorang karyawan baru keluar dari dalam toilet itu dan mengatakan jika toilet disana rusak. Karenanya orang itu menyuruh Amira untuk menggunakan toilet karayawan yang ada di dekat pintu keluar karyawan. Amira pun menurut. Ia tidak tahu jika kini ada orang yang mengikuti langkahnya. Baru saja Amira keluar dari dalam toilet tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dengan saputangan yang telah dibubuhi obat bius sehingga dalam sekejap Amira pun pingsan.
Begitu tubuh Amira merosot karena sudah tak sadarkan diri dua orang pria segera menutupi tubuh Amira dengan karung dan membawanya dengan membopong tubuh Amira. Karena beban tubuhnya tampak kedua orang itu sedikit kepayahan membawa Amira walau pada akhirnya mereka berhasil setelah meminta bantuan dua rekannya yang lain. Karena toilet yang digunakan Amira berada dekat dengan pintu keluar karyawan mall jadi perbuatan para penculik itu tak diketahui karena tempat tersebut lengang sebab semua karyawan tengah bekerja.
Nyonya Sarah yang mulai gelisah karena Amira tak juga kembali dari toilet pun menyusul iparnya itu. Namun ia tak dapat menemukan Amira di sana. Nyonya Sarah pun langsung merasa tidak enak. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada Amira. Karena iparnya itu tak pernah pergi kemana pun tanpa pesan. Apalagi tasnya yang berisi dompet beserta ponselnya masih dititipkan pada nyonya Sarah. Segera nyonya Sarah menghubungi kakaknya.
"Halo kak...." ucapnya begitu terdengar jawaban dari kakaknya.
"Amira kak... dia menghilang" lapor nyonya Sarah dengan suara bergetar.
"Bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu kak.... tadi dia pamit ke toilet tapi sampai sekarang tidak kembali dan saat aku susul dia tidak ada..." ucap nyonya Sarah sambil terisak.
"Tenang Sarah.... aku akan segera kesana" sahut tuan Sam.
Setelah mematikan ponselnya tuan Sam pun langsung menghubungi tuan Bram dan juga Lukas. Lalu ketiga segera menuju ke tempat nyonya Sarah. Saat melihat kedatangan kakaknya nyonya Sarah langsung menghambur kearah kakaknya sambil menangis.
"Maafkan aku kak..." isaknya...
"Sudahlah .... ini bukan kesalahanmu" ujar tuan Sam lembut.
"Kau pulang saja dulu ke rumah bersama suamimu" ucap tuan Sam.
"Bram ... kau antar istrimu pulang kasihan dia pasti syok!" suruh tuan Sam pada adik iparnya itu.
Tuan Bram pun mengangguk dan segera memeluk istrinya yang sudah terisak lalu membimbingnya untuk pulang ke rumah.
"Lukas kita perikas cctv di tempat ini!"
"Baik tuan..."
Mereka pun lalu segera pergi ke ruang keamanan mall untuk memeriksa cctv. Saat memeriksa cctv tampak adegan saat Amira yang menuju ke toilet dekat restoran namun bertemu dengan seseirang yang membuatnya tidak jadi masuk dan malah berbalik ke arah lain. Saat ditelusuri terlihat Amira masuk ke toilet karyawan mall yang berada dekat pintu keluar khusus karyawan. Dan saat ia kekuar dari toilet ada seseorang yang membekapnya dari belakang yang menyebabkan Amira langsung tumbang.
Tampak juga saat dua orang itu membungkus tubuh Amira dengan karung dan membawanya keluar. Wajah tuan Sam langsung tampak mengeras menahan amarah melihat istrinya itu diperlakukan seperti barang, apalagi dia dalam keadaan mengandung.
"Sepertinya nyonya sengaja diarahkan ke toilet tersebut tuan..." kata Lukas.
Lalu mereka pun memeriksa cctv diluar gedung. Tampak keempat orang itu memasukkan tubuh Amira ke dalam sebuah mobil box sehingga tak ada orang yang mengira jika didalamnya ada seorang wanita yang sedang diculik. Tuan Sam yang sangat geram langsung menyuruh Lukas untuk mengaktifkan GPS yang ada di cincin Amira lalu mereka pun segera mengikutinya.
__ADS_1
"Kurang ajar sekali!! siapa mereka sebenar?" geram tuan Sam sambil mengemudikan mobilnya mengikuti arahan GPS.
"Lukas coba hubungi Hendry! selidiki apa ada hubungannya dengan perempuan itu!" titah tuan Sam.
Lukas pun mengangguk dan langsung menghubungi Hendry. Sementara tuan Sam sudah sangat frustasi memikirkan nasib istrinya ditangan para penculik.
Sementara Amira yang tak sadarkan diri sudah berada di sebuah ruangan tertutup. Tubuhnya dudukkan diatas sebuah kursi dan diikat erat. Tak berapa lama ia pun mulai tersadar. Dengan kepala yang masih terasa pening Amira mengerjapkan matanya mencoba untuk melihat sekelilingnya. Saat ia hendak memegang kepalanya yang pening ia baru tersadar jika tangannya sudah terikat ke belakang. Begitu pun dengan tubuh dan kakinya yang terikat pada kursi yang didudukinya.
"Aku dimana?" batinnya sambil mengerjapkan matanya.
Dilihatnya jika ternyata ia berada disebuah ruang kosong dan tak ada apa pun lagi disana. Amira mencoba melepaskan dirinya namun ikatan pada tubuhnya sangat erat. Amira sempat berfikir untuk menjatuhkan dirinya berharap kursi yang didudukinya rusak. Namun ide itu langsung ditepisnya karena ia sadar saat ini ia tengah mengandung dan ia tak ingin menbahayakan calon buah hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dan suara langkah kaki seseorang mendekat. Amira mengangkat wajahnya hendak melihat siapa yang datang menghampirinya. Tampak seorang pria berperawakan tinggi besar dengan wajah yang terlihat dingin datang dan langsung mencengkeram dagu Amira dengan kasar membuat Amira meringis kesakitan.
"Jadi kau yang telah membuat adikku celaka?" ujarnya sambil melepaskan cengkeramannya kasar hingga kepala Amira menoleh kesamping.
"Siapa kau?" tanya Amira.
"Aku malaikat mautmu!" sahut pria itu sinis.
Amira terkekeh... membuat pria itu tertegun. Ternyata wanita yang ada dihadapannya bukan wanita lemah.
"Kau tidak takut?"
"Untuk apa? toh kau bukan Tuhan... hanya mengaku sebagai malaikat maut bukan berarti punya kekuatan untuk mencabut nyawa seseorang" sahut Amira.
"Ck... ternyata kau memang benar-benar berbeda... tapi sayang kau memang harus mati"
Amira terdiam. Bukannya ia takut mati tapi ada dua nyawa yang harus ia lindungi sekarang. Buah cintanya dengan tuan Sam. Ia tak ingin calon anak-anaknya gugur sebelum sempat terlahir ke dunia.
"Kenapa kau ingin membunuhku?" tanya Amira menatap pria itu tajam.
Pria itu tertawa sumbang.
"Karena kau akan segera mati maka akan kuberitahu alasannya.... kau harus mati karena kau yang menyebabkan Mela mati..."
"Siapa kau sebenarnya?" teriak Amira.
"Aku kakaknya ..."
"Pantas saja..." ucap Amira lirih.
"Apa katamu?"
"Pantas saja Mela bisa berbuat keji seperti itu ... kalian memang benar-benar keluarga kriminal. Kalian tidak mau keluarga kalian disakiti tapi kalian juga dengan mudah menyakiti bahkan membunuh orang lain demi kepentingan sendiri!"
"Sudah ceramahnya?"
"Untuk apa aku ceramah? lagi pula aku bukan pendakwah"
"Kau benar-benar membuatku gila" ucap pria lalu mencekik leher Amira sehingga wanita itu susah untuk bernafas.
Namun pandangan mata Amira tak menyiratkan ketakutan bahkan terlihat menatap berani kearah pria itu. Walau tenggorokannya mulai terasa sakit dan susah untuk bernafas namun matanya tetap menatap tajam pada pria yang sedang mencekiknya itu. Saat pria itu menatap mata Amira yang tak menyiratkan ketakutan sedikit pun membuat pria itu tertegun.
Ia merasa dejavu.
__ADS_1
Ia pernah melihat sorot mata yang sama belasan tahun yang lalu.