BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Kehamilan Anna


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan Anna dan Raja tinggal di apartemen baru mereka. Selama itu juga Anna sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Meski ia masih disibukkan dengan kuliahnya, namun ia tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri dalam mengurus suaminya. Karena hanya tinggal berdua maka Anna memutuskan untuk tidak menyewa jasa Art untuk membersihkan apartemennya. Pengalaman hidup berdua dengan Risa membuat Anna tak lagi merasa kaget saat harus mengurus rumah dan suaminya sendiri.


Apa lagi Raja termasuk suami yang pengertian dan mau berbagi tugas rumah tangga dengan istrinya itu meski pun ia juga disibukkan dengan urusan kantornya. Pagi ini entah mengapa tiba-tiba Anna merasakan mual pada perutnya saat baru selesai sholat subuh tadi. Ia bahkan hampir saja mengotori sajadah dan mukenanya karena mual itu datang saat ia baru saja mengucapkan salam. Raja yang menjadi imam dan berada di depan istrinya itu pun langsung berbalik dan memeriksa keadaan Anna saat mendengar suara istrinya yang mau muntah.


Dan saat ini terlihat Anna tengah berjongkok didepan toilet berusaha mengeluarkan isi perutnya yang merasa mual. Dibelakangnya Raja dengan telaten memijat pelan tengkuk Anna berharap itu membantu Anna yang sudah tampak lemas.


"Apa kau sudah merasa baikan?" tanyanya lembut saat melihat Anna yang mulai bangkit dari posisi jongkoknya.


Anna hanya bisa mengangguk pelan karena kini ia merasakan seluruh tubuhnya lemas akibat sedari tadi muntah-muntah. Raja kemudian memapah tubuh Anna dan membaringkannya perlahan ke atas tempat tidur.


"Kita ke dokter saja ya?" bujuk Raja yang melihat wajah Anna yang pucat.


Kembali Anna yang sudah lemas hanya bisa mengangguk lemah. Raja segera membantu istrinya itu untuk berganti pakaian. Barulah ia membopong tubuh Anna ala bridal style menuju tempat parkir. Untung saja apartemen mereka berada di lantai tiga dan mereka menggunakan lift hingga Raja tidak kesusahan membawa Anna menuju mobil mereka di tempat parkir. Saat keduanya baru keluar dari pintu apartemen mereka bertemu dengan Risa yang akan pergi kuliah. Gadis itu pun langsung berlari mendekat saat melihat Anna yang dalam gendongan Raja.


"Apa yang terjadi pada Anna kak?" tanyanya pada Raja.


"Entahlah... sedari tadi dia muntah-muntah hingga badannya lemas..." terang Raja.


Ting!


Pintu lift terbuka...


Dengan segera Raja masuk ke dalam dengan menggendong Anna diikuti oleh Risa. Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di lantai dasar dan segera menuju tempat parkir. Setelah memasukkan Anna di kursi penumpang Raja pun segera berlari ke kursi kemudi.


"Tolong mintakan izin hari ini Anna tidak bisa mengikuti kuliahnya ya Ris..." ucap Raja sebelum dirinya masuk ke dalam mobil.


Risa hanya bisa mengangguk karena hatinya masih mengkhawatirkan keadaan Anna. Hari ini memang jam kuliah mereka sama. Setelah mobil yang ditumpangi Anna dan Raja pergi barulah Risa melanjutkan perjalanannya ke kampus. Tapi sebelumnya ia harus ke kelas Anna untuk memberitahukan jika Anna tidak masuk hari ini karena sakit. Baru setelahnya ia pergi ke kelasnya sendiri.


Sementara Raja tampak sangat khawatir dengan keadaan Anna yang terlihat lemah dan pucat. Pria itu terus menggenggam tangan Anna dengan satu tangannya. Untung saja jalanan cukup lancar sehingga tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk tiba di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Raja kembali menggendong istrinya itu hingga ke tempat IGD. Di sana Anna langsung ditangani oleh para petugas kesehatan yang ada. Sedang Raja hanya bisa menunggu di luar ruangan.


Setelah beberapa lama tampak seorang dokter keluar dari dalam ruang IGD dan langsung mencari keluarga Anna. Segera Raja mendekat dan mengaku sebagai suami Anna.


"Sebenarnya ada apa dengan istri saya dok?" tanya Raja cemas.


"Sebenarnya nyonya Anna dalam keadaan baik-baik saja... dia seperti ini adalah normal bagi ibu hamil di trimester pertama..." terang dokter itu sambil tersenyum.


"A... apa? istri saya hamil dok?" tanya Raja tak percaya.

__ADS_1


"Benar tuan... untuk selanjutnya lebih baik anda membawa istri anda ke poli kandungan agar mendapatkan penanganan lebih lanjut" ungkap sang dokter.


Tak lama dari dalam terlihat Anna keluar dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang perawat wanita.


"Silahkan tuan ikuti mereka ke poli kandungan..." kata dokter yang langsung dipatuhi oleh Raja.


Pria itu pun mengikuti langkah perawat yang mendorong kursi roda Anna menuju ruang pemeriksaan kandungan. Di sana mereka langsung dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Setelah membaca laporan kesehatan Anna yang dibawa oleh sang perawat dokter itu pun kembali melakukan periksaan terhadap Anna. Ia juga melakukan USG demi memeriksa kesehatan Anna dan kandungannya. Sepasang suami istri itu tampak bahagia dan antusias saat dokter memperlihatkan layar monitor yang menampilkan gambar janin Anna dalam kandungan yang terlihat seperti sebuah titik disana.


Sepulang dari rumah sakit Raja langsung menyuruh istrinya itu untuk beristirahat. Ia tidak mau jika nanti Anna kelelahan dan mengganggu kesehatan kandungannya. Anna pun hanya menurut mengikuti perintah suaminya yang kini berubah protective.


"MB... lebih baik kita hubungi mama dan bunda mengabarkan berita gembira ini..." ucap Anna saat Raja membaringkannya diatas tempat tidur.


"Ah kau benar Honey Bee... aku hampir lupa..." sahut Raja.


Pria itu pun segera menghubungi nyonya Sarah terlebih dahulu. Nyonya Sarah terlihat sangat bahagia saat Raja memberitahu tentang kehamilan Anna. Dia pun langsung ingin melihat keadaan putrinya itu. Raja yang melakukan vidio call pun langsung mengarahkan kamera ponselnya pada Anna.


"Selamat sayang... sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu..." kata nyonya Sarah dengan suara bergetar karena terharu putri kecilnya sudah dewasa dan akan menjadi seorang ibu.


Tak terasa air mata nyonya Sarah meleleh dipipinya. Wanita itu terlihat tidak bisa menahan rasa bahagia dan haru saat mengetahui Anna hamil.


"Mama..." ucap Anna yang ikut terharu.


"Iya ma... Anna mengerti..." sahut Anna.


Ketiganya pun mengobrol seputar kehamilan dan apa saja yang harus dilakukan oleh calon orangtua baru itu untuk menjaga kehamilan Anna. Nyonya Sarah juga mewanti-wanti Raja agar menjadi suami yang siaga apa lagi keduanya tinggal di negara asing tanpa sanak saudara. Jadi Anna hanya bisa mengandalkan Raja sebagai suaminya. Meski di London ada Dave dan Sandra tapi Raja dan Anna tidak ingin merepotkan lagi pula mereka tinggal di lain kota.


Setelah menghubungi mamanya Anna langsung disuruh istirahat kembali oleh Raja. Ia benar-benar tidak ingin istrinya kekelahan. Menghadapi sikap protektif suaminya Anna tidak merasa keberatan. Ia justru merasa bersyukur dan senang sebab itu berati jika Raja sangat mencintainya. Sementara di Indo begitu selesai vidio call dengan Anna dan Raja, nyonya Sarah langsung menghubungi tuan Bram suaminya. Ia harus segera memberitahu tentang kabar kehamilan Anna.


Tuan Bram tampak syok saat istrinya memberi kabar jika Anna tengah hamil. Meski Anna sudah bersuami namun usianya masih tergolong muda baru memasuki dua puluh tahun. Dan bagi tuan Bram, Anna masih terlalu kecil untuk menjadi seorang ibu. Memang walau bagaimana pun bagi seorang ayah, putrinya akan selalu menjadi anak kecil dimatanya. Walau sudah seberapa dewasanya umur putrinya itu.


"Kau kenapa Bram? apa terjadi sesuatu yang buruk di rumah?" tegur tuan Sam yang melihat adik iparnya itu datang dengan langkah gontai dan berwajah pias.


Keduanya memang sedang membahas pekerjaan di kantor saat tiba-tiba tuan Bram menerima telfon dari istrinya. Akhirnya ia pun meminta izin untuk mengangkatnya sebentar di luar.


"Anna hamil kak..." terang tuan Bram lemas.


"Hamil?" tanya tuan Sam memastikan.

__ADS_1


Tuan Bram mengangguk tegas membenarkan perkataan tuan Sam.


"Hei... kenapa kau malah murung begitu? bukannya seharusnya kau itu malah bahagia?"


"Anna hamil kak! apa kau tahu itu?"


"Iya aku tahu... lantas apa masalahnya? toh dia sudah menikah dan memiliki suami..."


"Tapi Anna masih terlalu muda untuk mempunyai anak kak..." ucap tuan Bram yang masih tak terima jika putri sulungnya itu hamil.


"Walau begitu dia sudah hampir dua puluh tahun Bram... dia juga sudah menikah... jadi wajar jika putrimu itu hamil..." kata tuan Sam yang kesal dan tak mengerti dengan jalan fikiran adik iparnya itu.


"Aku hanya takut jika putriku akan kesakitan saat ia melahirkan nanti kak... dulu saat melihat Sarah yang kesakitan saat melahirkan membuatku trauma... aku takut jika putriku tidak akan kuat menahan rasa sakitnya..." terang tuan Bram dengan mata berkaca-kaca.


"Kau tenang saja Bram... Anna pasti kuat apalagi ada Raja suaminya yang selalu ada disampingnya, jadi kau jangan terlalu cemas... apa lagi waktu melahirkannya pun masih lama..." kata tuan Sam sambil menepuk pundak tuan Bram pelan.


Tuan Bram hanya bisa mengangguk lemah. Ya benar apa yang dikatakan oleh tuan Sam... saat ia menyerahkan Anna untuk dinikahi oleh Raja seharusnya ia sudah bisa menduga hal ini akan terjadi cepat atau pun lambat. Ia seharusnya bersyukur saat Anna hamil Raja sudah tinggal bersamanya dan tidak terpisah di New York. Dan seharusnya dia bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang kakek. Tuan Bram pun mulai menyunggingkan seyumannya.


Sementara di tempat lain tampak nyonya Sarah tengah tergesa memasuki rumah tuan Sam. Ia langsung mencari keberadaan Amira, karena ia sudah tidak sabar untuk mengabarkan kehamilan Anna pada Amira secara langsung.


"Ra!" panggilnya saat melihat Amira yang tengah sibuk membuat camilan untuk anak-anaknya.


"Eh kakak... ada apa? kenapa kau terburu-buru sekali?" tanya Amira yang masih sibuk dengan kegiatannya.


"Anna hamil Ra!" seru nyonya Sarah tak dapat menahan rasa gembiranya.


"Anna hamil?" tanya Amira tak percaya.


"Iya Ra..." sahut nyonya Sarah sambil menganggukan kepalanya yakin.


"Dia dan Raja sendiri yang memberitahukannya padaku baru saja..." ungkap nyonya Sarah.


"Alhamdulillah..." ucap Amira tersenyum bahagia.


Keduanya pun saling berpelukan mengungkapkan kebahagiaan mereka. Keduanya langsung membahas tentang segala sesuatu yang harus mereka beritahukan pada Anna tentang seputar kehamilan. Maklum ini adalah kehamilan pertama Anna sekaligus cucu pertama bagi nyonya Sarah dan tuan Bram. Sementara di saat yang bersamaan, Julio tengah menyusun rencananya untuk membalaskan dendamnya pada Raja. Dan kali ini semua harus sempurna dengan kematian Raja dan istri kecilnya.


"Tunggu saja... sebentar lagi kau akan mendapatkan balasannya.... Raja!" serunya geram.

__ADS_1


Laki-laki itu tampak masih berusaha mencari celah agar ia bisa memiliki kesempatan untuk bisa menjalankan rencananya. Karena meski tak terlihat namun Julio tahu jika Raja masih dikelilingi oleh para pengawal yang selalu melindunginya dan juga istrinya.


"Lihat saja... meski harus menunggu lama aku akan bersabar demi hasil yang sempurna... Val sayang kau pasti bisa melihat dari atas sanakan? sebentar lagi akan aku buat lelaki itu membayar semuanya... kesakitannya karena kehilangan orang yang sangat dicintainya akan menjadi hukuman setimpal sebelum ia meregang nyawa" gumamnya sambil mengelus foto Vallery dan dirinya saat masih remaja.


__ADS_2