BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Jujur


__ADS_3

Amira mendadak merasa jika ia ingin buang air kecil. Karena Anna juga sedang ke toilet maka ia memutuskan untuk menuntaskan hajatnya mumpung ada teman yanga sama. Tanpa fikir panjang ia pun kembali ke dalam bandara setelah meminta izin pada suaminya. Setelah menemukan toilet umum ia pun langsung masuk ke dalamnya. Tampak jika toilet itu kosong tanpa ada satu bilik pun yang digunakan. Amira mengernyitkan dahinya.


"Bukannya Anna juga mau ke toilet? tapi kenapa dia tidak ada di dalam sini?" fikirnya.


Namun karena ia sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk buang air akhirnya ia pun langsung masuk ke dalam salah satu bilik. Setelah selesai ia pun mencoba kembali mencari keponakannya itu. Ia berfikir apa mungkin Anna menggunakan toilet lain yang ada di sana. Saat ia mengedarkan pandangannya alangkah terkejutnya ia saat melihat adegan live Anna dan Raja saling berciuman. Meski hanya sebentar namun itu cukup membuat Amira syok. Bagaimana mungkin Raja dan Anna melakukan itu? apalagi ini ditempat umum.


"Apa mereka menjalin hubungan?" batin Amira setelah ia bisa menenangkan dirinya.


"Pantas saja Anna mau mengantar kak Raja... jadi mereka sudah menjadi sepasang kekasih ternyata..." batin Anna lagi.


Kemudian Amira melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Meski masih syok Amira mencoba untuk bersikap biasa. Ia bertekad untuk menanyakannya pada Anna apa hubungannya dengan Raja. Sepanjang perjalanan Amira tampak melamun. Fikirannya mengembara memikirkan hubungan Raja dengan keponakannya itu. Meski ia setuju saja jika Anna menjalin hubungan dengan Raja karena ia tahu jika Raja pria yang bertanggung jawab dan juga setia. Tapi apa kedua orangtua Anna dan juga tuan Sam akan sependapat dengannya?


Sedangkan mereka semua sudah tahu masa lalu Raja yang mantan mafia. Apa lagi perbedaan usia diantara keduanya yang sangat jauh. Dua puluh tiga tahun... Anna akan lebih pantas jika menjadi putri Raja dibandingkan menjadi pasangannya. Lagi-lagi Amira menarik nafasnya berat. Tuan Sam yang sedari tadi memperhatikan tingkah Amira merasa janggal dengan tingkah istrinya itu.


"Kau kenapa Meyaa? apa ada yang mengganggu fikiranmu?" tanyanya sambil terus berkonsentrasi dalam mengemudikan mobilnya.


"Tidak ada apa-apa Db... aku hanya merasa lelah saja..." sahut Amira menutupi kegelisahan hatinya.


"Kalau begitu kau tidurlah... nanti jika sudah sampai akan aku bangunkan..."


"Baiklah..." jawab Amira sambil menyandarkan kepalanya ke kursinya.


Amira mencoba untuk memejamkan matanya meski fikirannya terus mengembara. Ya Amira tengah dilanda kebimbangan. Hatinya ingin melihat kakak angkatnya itu bahagia dengan wanita yang dicintainya karena selama ini ia belum pernah melihat Raja dekat dengan wanita mana pun apa lagi jatuh cinta.


"Arggh... kenapa kau justru jatuh cinta dengan Anna sih kak? kenapa bukan dengan wanita yang seusia denganmu saja?" gerutu Amira dalam hatinya.


Tapi Amira sadar jika cinta tidak bisa kita duga akan pada siapa kita menjatuhkan pilihannya. Hanya saja ia merasa jika jalan keduanya untuk bisa bersatu sangatlah sulit. Faktor usia diantara keduanya dan juga masa lalu Raja akan menjadi penghalang terbesar bagi keduanya. Lelah berfikir membuat Amira akhirnya tertidur.


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Meyaa..." batin tuan Sam yang merasa jika istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu.


Sementara Anna dan keluarganya sudah sampai di kediaman mereka. Setelah turun dari dalam mobil Anna langsung masuk ke dalam kamarnya. Belum juga beberapa jam mereka berpisah namun Anna sudah merasakan rindu pada kekasihnya itu. Air mata gadis itu pun kembali meleleh. Entah mengapa jika berhubungan dengan Raja ia selalu saja menjadi lemah. Apa lagi saat ia membayangkan jika di sana Raja akan bertemu banyak wanita yang mungkin saja akan tertarik pada Raja dan berusaha menggoda kekasihnya itu, dada Anna langsung saja bergemuruh.


Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ada jarak ribuan kilo meter bahkan samudra yang memisahkan keduanya membuat Anna tidak bisa mengawasi kekasihnya itu. Possesive... kini ia menjadi possesive pada Raja... usianya yang masih remaja membuat gadis itu mudah cemburu dan merasa tidak nyaman menjalani hubungan jarak jauh ini. Sementara Raja, pria itu pun kini hampir sama keadaannya dengan kekasih kecilnya itu. Usianya yang sudah dewasa dan matang ternyata tak membuatnya berfikir lebih dewasa bila menyangkut percintaan.


Sebab saat ini pria matang ini pun tengah gelisah karena takut jika pemuda yang kemarin dilihatnya bersama Anna akan mencoba mendekati kekasih kecilnya itu lagi. Sebagai sesama pria ia tahu tatapan Devan yang mendamba pada Anna. Dan kini ia tidak bisa mencegah pemuda itu untuk mendekati kekasihnya karena ia tak bisa berada disamping Anna.


Tak terasa pesawat yang ditumpangi Raja mendarat dengan mulus di bandara New York setelah terbang lebih dari 20 jam. Ia pun bergegas menuju tempat tinggalnya agar ia bisa secepatnya menghubungi Anna. Pria itu bahkan tidak memikirkan lagi perbedaan waktu dimana kekasihnya tinggal. Dalam fikirannya hanyalah ingin segera melihat wajah Anna meski hanya melalui ponselnya. Raja langsung menghubungi Anna begitu ia mendudukkan dirinya di sofa tamu. Keningnya berkerut saat beberapa kali panggilannya belum juga diangkat olen Anna.


Saat akhirnya panggilan itu di jawab tampak olehnya wajah Anna yang terlihat masih mengenakan mukena.


"Maaf MB... aku baru saja habis sholat..." terang Anna ketika melihat wajah kekasihnya.


"Maafkan aku... aku lupa jika ada perbedaan waktu" ucap Raja yang merasa tidak enak pada Anna.

__ADS_1


"Ga pa-pa... apa kau baru sampai?" tanya Anna.


"Iya... aku baru saja sampai di rumah..." sahut Raja sambil menampilkan senyumannya.


Anna membalas senyuman kekasihnya itu.


"Aku merindukanmu Honey Bee..." ucap Raja.


"Aku juga MB..." sahut Anna malu-malu.


Keduanya pun berbincang sebentar sebelum akhirnya mengakhiri pembicaraan keduanya karena nyonya Sarah yang memanggil Anna untuk turun makan malam. Keesokan harinya saat Anna pulang sekolah ia dikejutkan dengan kedatangan bundanya yang menjemputnya di sekolah. Apa lagi saat Amira mengatakan jika ia sengaja ingin mengajak Anna untuk jalan berdua karena sudah lama mereka tidak melakukannya. Amira bahkan sudah meminta izin pada nyonya Sarah untuk mengajak Anna dan berjanji akan mengantarkannya pulang ke rumah sore hari.


Tapi Anna sama sekali tidak merasa curiga dengan niat Amira padanya. Hingga saat keduanya selesai makan siang bersama di sebuah restoran yang privat dan Amira mulai mengemukakan alasannya menemui Anna.


"Sayang... bunda ingin bertanya padamu boleh?" tanya Amira hati-hati.


"Boleh saja bunda... memangnya bunda ingin bertanya apa?" tanya Anna polos.


"Ada hubungan apa kamu sama om Raja?" tanya Amira langsung yang membuat Anna tersedak tiba-tiba meski ia tak menyantap apa pun.


"Minumlah dulu sayang..." ucap Amira sambil menyodorkan minuman pada Anna.


"Te... terima kasih bunda..." ucap Anna setelah meminum pemberian Amira.


"Ma... maaf bunda..." kata Anna tiba-tiba.


Gadis itu sudah terlihat pucat karena takut.


"Kenapa kau minta maaf sayang? memangnya apa yang sudah kau lakukan hem?"


"Ma... maaf... aku... dan om Raja..."


"Kau dan om Raja kenapa?" tanya Amira berusaha untuk tetap sabar mendengarkan penjelasan Anna.


"Aku dan om Raja saling mencintai bunda..."


Duarr!


Bagai petir di siang bolong jantung Amira serasa mau copot saat mendengar penuturan keponakannya itu. Meski ia sudah menduga-duga sebelumnya namun mendengar penuturan langsung dari Anna sungguh membuatnya syok.


"Anna... apa kau tahu apa yang kau katakan barusan pada bunda?" tanya Amira.


Anna hanya menganggukkan kepalanya pelan tanda jika ia mengerti apa yang sudah ia katakan barusan.

__ADS_1


"Apa kau juga tahu apa akibatnya jika kedua orangtuamu tahu jika kau menjalin hubungan dengannya? juga uncle kamu... apa mereka mau menerima jika kalian saling mencinta?" ucap Amira berusaha memberi pengertian pada Anna.


"Kau masih sangat muda sayang... sedang om Raja... dia pria dewasa yang lebih pantas menjadi ayahmu dari pada kekasihmu..."


"Tapi bunda... kami saling mencintai... apa kami salah?" sahut Anna sudah dengan berlinang air mata.


"Kalian tidak salah sayang... karena sesungguhnya tidak ada larangan bagi kalian untuk berhubungan karena kalian tidak terikat pertalian darah... tapi usia kalian terpaut sangat jauh hingga bisa dianggap kurang baik dalam pandangan orang..."


"Jadi Anna harus apa bunda? apa Anna harus memutuskan hubungan yang baru saja terjalin diantara kami hanya karena perbedaan usia yang terlampau jauh diantara kami?"


Amira menghela nafasnya pelan... ia tahu sangat sulit untuk meminta keduanya berpisah hanya karena perbedaan usia. Tapi Amira juga harus merasa yakin jika perasaan Anna bukan sekedar cinta monyet yang akan hilang suatu saat nanti karena usia Anna yang masih sangat muda. Sedang Raja pria dewasa yang pasti akan lebih serius dalam urusan asmaranya.


"Apa kau sudah yakin dengan perasaanmu dengan om Raja?" tanya Amira untuk meyakinkan dirinya jika nantinya ia mendukung hubungan keduanya.


"Iya bunda..." sahut Anna sambil menganggukkan kepalanya tegas.


Amira dapat melihat keseriusan Anna tentang perasaannya pada Raja. Amira menghela nafasnya pelan.


"Sejak kapan kau memiliki perasaan itu pada om Raja?"


"Sejak dulu bunda... hanya saja aku menyadari jika aku mencintainya sejak dua tahun yang lalu..." terang Anna.


"Jadi kau..."


"Iya bunda... seperti yang bunda katakan tadi bahwa perbedaan usia kami terlalu jauh... dan orang pasti akan menganggap itu hal yang tidak wajar dan terlarang... karena itulah dulu aku berusaha menghindar dari om Raja agar aku bisa menghilangkan perasaanku padanya. Tapi kemarin saat om Raja mengatakan jika dia juga mencintaiku... aku merasa bahagia bunda... akhirnya cintaku terbalas dan aku tidak bertepuk sebelah tangan... aku..." suara Anna tercekat dan dia tidak sanggup melanjutakan perkataannya.


Amira langsung memeluk tubuh Anna yang bergetar karena menahan tangis. Ia tahu sekarang jika gadis itu telah memendam perasaannya sendirian selama bertahun-tahun dan kini saat perasaannya pada Raja terbalas egoiskah jika dirinya meminta gadis belia itu untuk mengakhiri asmara yang baru saja terjalin? tapi bagaimana dengan kedua orangtua gadis itu dan juga tuan Sam suaminya? apa mereka akan menerima hubungan Raja dan juga Anna? atau malah akan menentang dan berusaha untuk memisahkan keduanya?


"Maafkan aku bunda... tapi aku mencintai om Raja... aku juga tahu bunda pasti berfikir jika aku masih terlalu muda untuk memikirkan hubungan yang serius dengan om Raja... tapi kami sudah membicarakannya berdua... om Raja bersedia menungguku hingga lulus sekolah dan baru kemudian kami akan memikirkan hubungan kami selanjutnya..." terang Anna saat Amira mengurai pelukannya.


"Tapi apa kau tidak ingin melanjutakan kuliah setelah lulus nanti Anna? bukannya kau sangat ingin kuliah di luar negeri?"


"Aku bisa memilih universitas yang dekat dengan om Raja kan bunda? dan om Raja juga tidak keberatan jika aku melanjutkan kuliah..."


"Ternyata kalian sudah memikirkan semuanya..." kata Amira sambil menghembuskan nafasnya perlahan.


"Apa bunda menyetujui hubungan kami?" tanya Anna dengan harap-harap cemas.


Sebab bagi gadis itu restu dari Amira juga sangat penting baginya seperti juga restu dari kedua orangtuanya dan juga Sam unclenya.


"Bunda hanya bisa merestui hubungan kalian jika itu membuatmu bahagia sayang... hanya saja kau harus tahu jika rintangan akan sangat berat bagi kalian berdua untuk mendapatkan restu dari kedua orangtuamu dan juga uncle kamu..." kata Amira mengingatkan Anna jika perjuangannya dan Raja masih sangat panjang.


"Terima kasih bunda sudah merestui kami..." ucap Anna sambil memeluk Amira.

__ADS_1


Amira menganggukkan kepalanya sambil membalas pelukan Anna. Dalam hatinya Anna merasa sedikit lega karena kini Amira sudah tahu hubungannya dengan Raja dan bahkan sudah mendapatkan restu darinya. Sedang Amira kini harus mencari cara agar bisa memberitahukan hubungan Anna dan Raja pada tuan Sam tanpa membuat suaminya itu marah. Juga pada kedua orangtua Anna yang pasti akan sulit ia lakukan.


__ADS_2