BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Akhirnya


__ADS_3

Matahari bersinar terang dengan langit biru berhiaskan awan. Membuat hari ini terasa sangat cerah, secerah hati Ricko yang tengah berbunga. Tuan Danu dan Maya yang tengah sarapan tidak dapat menyembunyikan senyuman mereka saat melihat betapa Ricko sangat bersemangat pagi ini. Pemuda itu tidak henti-hentinya tersenyum dan sesekali bersenandung saat akan memasuki ruang makan.


"Kelihatannya kamu sangat bersemangat hari ini Rick... apa ada hal yang membuat hatimu sangat bahagia?" tanya tuan Danu mencoba memancing putranya itu.


"Uhuuk... uhuuk!"


Ricko langsung tersedak seolah merasa jika saat ini dirinya tengah ketahuan oleh sang papa.


"Hati-hati Rick..." ucap Maya mencoba menenangkan putra tirinya itu.


"Mas... kamu jangan bikin putra kita malu seperti ini dong... kalau ingin bertanya tunggu dulu sampai putra kita selesai makan" ujarnya pada tuan Danu.


"Aku kan cuma bertanya biasa saja sayang... kenapa malah seolah aku sedang menginterogasi Ricko?" bantah tuan Danu.


"Dan kamu Rick... kenapa malah jadi salah tingkah seperti itu sih? apa jangan-jangan memang ada yang sedang kamu sembunyikan dari kami hem?" tanya tuan Danu menggoda Ricko.


"Ah... eumm... itu... aku... aku... cuma sedang senang karena akan bertemu dengan teman-teman lamaku pa..." ujar Ricko berbohong.


"Benarkah? apa bukan karena hal lain... seperti seorang gadis misalnya?" cecar tuan Danu yang kini senang bisa menggoda sang putra.


"Apa sih pa... aku kan baru pulang mana ada yang seperti itu..." elak Ricko meski kini wajahnya sudah memerah menahan malu karena ternyata sang papa memiliki insting yang kuat pada dirinya.


"Jika benar karena seorang gadis juga ga pa-pa kok... toh usia kamu udah pas untuk mencari pasangan hidup..." lanjut tuan Danu yang membuat wajah Ricko semakin memerah dan salah tingkah.


"Papa apaan sih?" ujar Ricko masih mencoba untuk mengelak.


"Sudah-sudah mas... jangan kamu goda putramu itu, tapi jika benar kalau Ricko dekat dengan seorang gadis tolong beritahu kami ya... kami juga ingin mengenal gadis yang sudah membuat anak bunda ini jatuh cinta..." ucap Maya tanpa sadar menyebut dirinya bunda Ricko.


Namun Maya seketika terdiam saat menyadari kesalahan dalam perkataannya barusan.


"Maafkan tante karena sudah lancang Ricko..." ungkapnya kemudian dengan rasa bersalah.


"Ga pa-pa kok... toh tante kan memang istri papa dan itu berarti ibu Ricko juga... jadi bolehkah jika sejak saat ini Ricko panggil tante... bunda?"


Maya dan tuan Danu sungguh terkejut mendengar perkataan Ricko barusan. Keduanya terutama Maya sungguh tidak menyangka jika akhirnya Ricko mau memanggilnya mama. Sebab kejadian menyakitkan dulu yang disebabkan oleh tuan Danu dan Maya membuat mereka berdua berfikir jika meski bisa memaafkan kesalahan keduanya dulu tapi Ricko tidak mungkin mau untuk memanggil Maya bunda... namun ternyata hati Ricko memang seluas itu sehingga bisa memaafkan keduanya dan bahkan mau memanggil Maya dengan sebutan bunda.


"Tentu saja sayang... tante tidak akan keberatan" sahut Maya bahagia.


Pagi itu menjadi awal dimana keluarga Ricko memulai lembaran baru mereka dengan Maya yang kini mulai diakui oleh Ricko sepenuhnya. Selesai sarapan Ricko pun pamit pada tuan Danu dan juga Maya. Hari ini ia sengaja untuk cuti dengan alasan ingin pergi bersama teman satu kampusnya dulu. Meski curiga namun tuan Danu dan Maya tidak mau mendesak Ricko. Toh nanti pada akhirnya pemuda itu akan mau berterus terang jika sudah tiba waktunya. Dan memang benar jika hari ini Ricko bukan pergi dengan teman kampusnya dulu melainkan dengan Mahina. Tepat pukul 8 pagi Ricko sudah tiba di rumah gadis itu. Kedatangannya sempat mengejutkan Dave dan Sandra yang tidak menyangka jika sang putri memiliki teman pria di Indo. Padahal mereka baru beberapa hari berada di Indo setelah beberapa bulan sejak terakhir kali mereka kembali ke Indo. Dan setelah berbasa-basi sejenak akhirnya Ricko dan Mahina bisa pergi berdua.


Hari ini Ricko sengaja mengajak Mahina ke sebuah bukit tak jauh dari kota tempatnya tinggal. Sebab baru saja ia tahu dari Dave jika Mahina ternyata juga menyukai hiking. Dan di kota asal mereka gadis itu sudah sering mengikuti kegiatan hiking bersama dengan teman perkumpulannya sejak gadis itu setara SMU. Meski pun Dave tidak pernah mengizinkan jika putrinya itu sampai menginap di gunung. Jadi meski sudah sering kali mendaki tapi hanya di beberapa bukit saja yang tidak membutuhkan waktu lebih dari sehari untuk naik dan turun. Namun begitu Ricko masih tetap terpana karena tidak meyangka jika gadis chubbynya sanggup melakukan kegiatan yang terbilang cukup ekstrim dan membutuhkan ekstra tenaga. Kini ia semakin faham jika Mahina chubby bukan karena ia doyan makan, namun memang Tuhan menciptakannya seperti itu. Dan dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena baginya Mahina adalah gadis yang sempurna dan dia mencintainya.


"Kita sebenarnya akan kemana kak?" tanya Mahina saat Ricko malah menitipkan mobilnya di depan sebuah warung tempat pemuda itu tadi membeli air kemasan.

__ADS_1


"Kita akan hiking sebentar... mau?" tawar Ricko.


"Ya?" seru Mahina agak bingung namun ia juga merasa senang karena itu adalah salah satu hobbynya.


Untung saja saat berangkat tadi ia mengenakan pakaian casual yang berupa kaos oversize dengan paduan celana legging yang cukup nyaman jika digunakan. Meski ia tidak mengenakan sepatu yang cocok yaitu flat shoes. Namun setidaknya ia masih bisa melakukan pendakian dengan cukup nyaman.


"Kalau begitu ayo!" ajak Ricko sambil meraih tangan Mahina dan menggandengnya.


Keduanya pun berjalan bersisian dan sesekali bergandengan tangan saat menelusuri jalur pendakian. Mereka berdua mendaki dengan santai dan sesekali Ricko mengajak Mahina beristirahat sebentar agar gadisnya itu tidak terlalu kelelahan. Meski mereka berangkat sudah agak siang, namun karena area itu hanya merupakan sebuah bukit kecil maka hanya dalam waktu satu jam saja keduanya sudah bisa berada di puncak.


"Wow! indah sekali pemandangan dari atas sini kak..." seru Mahina saat keduanya telah berada di puncak dan memandang dari atas ketinggian.


"Kamu suka?"


"Heum! suka... sangaat suka!" seru Mahina sambil memandang kesekelilingnya seakan ingin terus memanjakan kedua matanya yang biru itu dengan pemandangan indah yang terpampang didepannya.


Tiba-tiba Ricko menggenggam tangan Mahina sambil memandang lurus ke arah depan. Merasa jika sebelah tangannya digenggam erat oleh Ricko, Mahina tiba-tiba merasakan rasa hangat yang perlahan menjalar di seluruh tubuhnya. Sekilas gadis itu melirik kearah tangannya yang masih digenggam oleh Ricko. Ada perasaan aneh yang kini mengusik hati gadis bermata biru itu saat Ricko menyentuhnya.


"Apa aku sudah jatuh cinta sama kak Ricko?" gumam gadis itu di dalam hati.


Matanya pun kini tengah memandangi wajah Ricko dari samping yang terlihat sangat tampan meski tengah dipenuhi oleh keringat akibat perjalanan mereka tadi. Merasa diperhatikan, Ricko pun menoleh dan kedua mata mereka berdua pun langsung beradu. Sadar jika dirinya tengah ketahuan sedang memandangi wajah pemuda yang ada disampingnya itu, Mahina pun langsung menundukkan wajahnya karena malu. Namun kini Ricko malah meraih dagu gadis itu dengan jarinya agar Mahina kembali menatapnya. Untuk sesaat keduanya kembali saling pandang...


"Kamu tahu kenapa aku mengajakmu kemari Na?" tanya Ricko saat Mahina akan kembali menundukkan pandangannya.


Mahina pun kembali menengadahkan wajahnya dan menggeleng pelan.


"Ma... maksudnya?" tanyanya tergagap setelah berhasil menguasai dirinya.


Ricko langsung berbalik dan meraih bahu Mahina agar bisa menghadapnya.


"Aku ingin mengatakan jika aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu Na..."


Mahina tersentak saat mendengar pernyataan Ricko padanya. Bagaimana tidak... sebab itu juga yang ia rasakan pada pemuda itu setelah pertemuan pertama mereka.


"Dan sekarang aku sadar jika kau sudah jatuh cinta padamu sejak saat itu..." ungkap Ricko.


"Apa kamu juga mencintaiku Na?" tanya pemuda itu langsung saat melihat Mahina masih saja terdiam setelah ungkapan perasaannya tadi.


Mahina semakin menundukkan wajahnya yang kini sudah memerah bak kepiting rebus. Ia juga tanpa sengaja menggigiti bibirnya pelan.


"Na?" tanya Ricko lagi yang membuat Mahina kembali mendongakkan wajahnya.


"A... aku... aku juga mencintai kakak..." ucap gadis itu akhirnya.

__ADS_1


Ricko langsung tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari Mahina. Tanpa sadar pemuda itu langsung memeluk tubuh Mahina lalu mengecupi kening gadis itu dengan semangat. Sementara Mahina tampak sedikit syok dengan perlakuan Ricko karena baru dia pria pertama yang melakukannya selain sang ayah dan juga adiknya. Sadar dengan perbuatannya barusan, Ricko pun langsung meminta maaf.


"Ma... maafkan aku Na... aku terlalu bahagia karena ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan..." ucap Ricko dengan gugup.


"Ga pa-pa kok kak..." sahut Mahina dengan wajah yang memerah.


Ia akui jika dirinya pun suka dengan perlakuan Ricko padanya.


"Bagaimana jika sekarang kita turun dan makan siang?" tawar Ricko saat tiba-tiba saja keduanya jadi agak canggung.


Mahina pun mengangguk setuju. Dan keduanya pun turun dari atas bukit sambil bergandengan tangan. Sesampainya di bawah, Ricko lalu membawa Mahina untuk makan siang di sebuah restoran yang berada tak jauh dari bukit tadi. Suasana nyaman langsung terasa saat keduanya memasuki area restoran yang berkonsep alam terbuka. Keduanya langsung memilih salah satu meja yang berada di dekat aliran sungai. Gemericik air membuat suasana menjadi lebih romantis meski di siang hari. Setelah memesan makanan, Ricko tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya.


"Na... maukah kamu memakai ini sebagai tanda jika kita berdua sudah jadian?" tanyanya sambil memperlihatkan sebuah gelang pada Mahina.


Mahina tampak terkesiap dengan gelang yang akan diberikan oleh Ricko. Benarkah pemuda itu sudah mempersiapkan segalanya saat akan mengungkapkan perasaannya tadi? batin Mahina dengan hati yang berbunga-bunga. Tak berfikir lama, gadis itu pun menganggukkan kepalanya dan mengulurkan tangan kanannya agar Ricko bisa memasangkan gelang itu padanya. Dengan senyuman yang menghiasi bibirnya, Ricko pun memakaikan gelang itu pada Mahina.


"Terima kasih kak..." ucap Mahina saat Ricko selesai memasangkan gelang itu padanya.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah mau menerima cintaku Na..." sahut Ricko sambil menggenggam tangan Mahina lalu mencium punggung tangan gadis itu dengan mesra.


Kemesraan keduanya terhenti saat pesanan mereka datang. Lalu keduanya pun makan bersama diselingi dengan perbincangan ringan dan romantis dari keduanya. Selesai makan Ricko kembali mengajak Mahina untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu berdua. Sedangkan di tempat lain sepasang kekasih juga sedang mengahabiskan waktu berdua. Mereka adalah Sahira dan Bara. Keduanya kini tengah mengadakan piknik berdua di tepi danau tempat favorit mereka sejak Bara pertama kali mengajak Sadira ke sana.


"Ra... bagaimana jika setelah aku wisuda kita langsung menikah saja?" tanya Bara sambil berbaring di pangkuan kekasihnya itu.


"Kenapa?" tanya Sadira sambil mengelus kepala Bara lembut.


"Karena aku tidak tenang meninggalkanmu sendiri di sana tanpa status yang resmi Ra..." sahut Bara langsung bangkit dan duduk menatap wajah Sadira possesive.


Ya... sudah dipastikan jika Bara akan langsung kembali ke Indo begitu ia selesai wisuda dan akan menggantikan ayahnya di perusahaan. Bara yang begitu takut kehilangan Sadira tidak merasa tenang jika meninggalkan Sadira di London tanpa kejelasan status keduanya di mata hukum. Sempat kehilangan Sadira akibat penculikan dokter Andrew, membuat Bara selalu was-was jika harus berpisah dengan Sadira meski hanya sementara.


"Tapi apa ayah dan bunda akan menyetujuinya kak?" tanya Sadira yang tidak bisa menolak permintaan sang kekasih.


"Aku akan mencoba untuk bicara dengan mereka sayang... dan aku yakin mereka akan menyetujuinya" sahut Bara sambil kembali berbaring di pangkuan Sadira.


"Baiklah... aku setuju saja..." ucap Sadira yang langsung mendapatkan kecupan dari Bara dibibirnya.


"Kakaak!" seru Sadira sambil menggeplak kepala Bara karena berani mencuri ciuman darinya.


Bara hanya terkekeh saat mendapat geplakan dari Sadira karena ia sadar sudah melakukan kesalahan karena berani mencium gadis itu dibibirnya. Ya... sejak ciuman pertama mereka, Bara berjanji tidak akan mengulanginya lagi sebelum keduanya resmi menikah. Namun sering kali pemuda itu melanggarnya yang membuatnya langsung mendapatkan hukuman dari sang kekasih baik berupa cubitan maupun pukulan seperti tadi. Namun Bara rela menerimanya demi bisa merasakan bibir Sadira yang sudah menjadi candu baginya.


"Baiklah... kalau begitu sepulang dari sini aku akan langsung mengatakannya pada ayah dan bundamu..." ucap Bara setelah berhenti tertawa.


"Secepat itu?" tanya Sadira yang tidak menyangka jika Bara akan bergerak cepat.

__ADS_1


"Tentu saja... bukankah besok kita sudah harus kembali ke London? dan setelah tiba disana aku akan sangat sibuk dengan tugas akhirku... jadi lebih cepat lebih baik!" tukas Bara tak mau rencananya gagal.


"Baiklah-baiklah..." kata Sadira yang tak bisa menang dari Bara.


__ADS_2