BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Kebaikan Anna


__ADS_3

Tuan Castillo tampak sangat geram saat mengetahui Vallery yang sudah ditahan atas tuduhan penyerangan dan usaha pembunuhan terhadap Amira. Dia tak menduga jika adiknya yang selama ini tak pernah kalah bisa dipermalukan oleh perempuan biasa. Apalagi perempuan itu tengah hamil. Baru saja ia akan berangkat ke bandara untuk menyusul adiknya tiba-tiba terdengar suara kegaduhan di rumah kediamannya. Tampak beberapa petugas kepolisian kota New York telah mengepung tempatnya itu.


Karena tak ada persiapan dan fikirannya yang terbagi dengan masalah adiknya akhirnya tuan Castillo pun menyerah tanpa perlawanan. Para petugas kepolisian menangkapnya atas tuduhan pengedaran obat terlarang dan juga senjata ilegal. Baru ia ketahui jika gudang tempat penyimpanan barang terlarangnya telah digerebek terlebih dahulu oleh pihak kepolisian.


"S**t siapa yang telah berani membocorkan tempat penyimpananku?" umpatnya dalam hati.


Bukan tanpa sebab tuan Castillo menyerah begitu cepat. Ia melakukannya agar bisa tetap mengatur anak buahnya walau dari dalam penjara. Apalagi ia juga harus menolong Vallery yang ditahan di negara orang.


"Cepat urus semua masalahku agar aku bisa cepat bebas dari penjara!" titah tuan Castillo pada pengacara pribadinya.


"Jangan lupa kirim juga pengacara ke Indo agar bisa mengeluarkan Vallery" sambungnya.


Pengacaranya pun menyanggupi permintaannya dan segera mengurus semuanya untuk tuannya itu. Setelah kepergian pengacaranya tuan Castillo langsung dibawa oleh petugas kepolisian ke dalam sel tahanan.


Sedangkan Jimmy yang baru saja mendapatkan kabar dari anak buahnya tentang penangkapan tuan Castillo merasa sedikit lega. Kini ia harus memastikan jika Vallery tidak akan bisa lolos dari perbuatannya terhadap Amira. Pada tuan Sam ia sudah berjanji akan mengurus segalanya menyangkut Vallery agar pria itu dapat fokus pada keluarga kecilnya. Karena bagi Raja kebahagiaan Amira adalah yang terpenting dan kebahagiaan wanita itu adalah dengan terus bersama suaminya.


Di rumah Amira sudah tampak ramai ... ya hari ini tujuh hari setelah kelahiran si kembar. Tuan Sam dan Amira mengadakan syukuran untuk aqiqah dan pemberian nama untuk keduanya. Samir dan Sahir adalah nama yang diberikan untuk keduanya. Acara syukuran itu pun dihadiri oleh semua anggota keluarga dan juga teman tak lupa mereka juga mengundang anak-anak dari panti asuhan dan juga anak dari keluarga kurang mampu yang ada di sekitar rumah mereka.


Anna dan Adit tampak heboh sebab kini keduanya seakan sudah memiliki geng sendiri-sendiri dengan kehadiran si kembar. Anna yang nyaman dengan Ara adik bungsunya sedang Adit dengan si kembar. Para orang dewasa hanya bisa tersenyum melihat tingkah keduanya.


"Bagaimana dengan kasus kemarin? apa semua sudah beres?" tanya tuan Sam pada Jimmy saat keduanya sedang berbincang berdua setelah acara syukuran selesai.


"Sudah... tinggal menunggu proses persidangan... aku harap dia bisa dihukum di sini..." sahut Jimmy yang mengerti maksud dari tuan Sam.


"Ya... kau benar...lalu apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku akan kembali ke New York untuk menyelesaikan urusanku setelah itu akan kembali kemari... sepertinya aku akan menuruti permintaan adikku yang satu itu" sahut Jimmy sambil tersenyum mengingat permintaan Amira padanya.


"Tapi yang dia katakan benar kan? keluargamu ada di sini jadi tempatmu ada bersama kami" ucap tuan Sam.


Jimmy pun mengangguk setuju. Setelah sekian lama ia kembali merasakan kehangatan keluarga. Saat itu tiba-tiba Anna datang pada mereka.


"Uncle... om... bisa bantu Anna?" ucap gadis kecil itu polos.


"Ada apa?" tanya tuan Sam yang seketika merasa khawatir sebab keponakannya itu tak pernah bersikap seperti ini.


"Emmm... uncle mau beli coklat?" tanya Anna.


"Coklat? kamu mau coklat?" tanya tuan Sam balik.


"Bukan... maksud Anna uncle mau beli coklat yang Anna jual?"


"Anna jualan coklat?" kali ini Jimmy ikut bertanya.


"Iya om... om mau beli?" tanya Anna.


"Tentu saja... tapi kenapa Anna jualan coklat?" sahut Jimmy.


"Emmm itu... ada tugas sekolah..." sahut gadis kecil itu sedikit gugup.


"Oke... uncle beli 20" kata tuan Sam.


"Hore!! terima kasih uncle... sebentar aku ambilkan coklatnya" ucap Anna langsung berlari untuk mengambil coklat dagangannya.


Tak lama terlihat Anna membawa plastik kresek besar berisi coklat dan membawanya ke depan tuan Sam dan Jimmy. Seketika Jimmy teringat saat pertama kali ia bertemu dengan Amira. Kejadian yang sama...


"Ini uncle... 20 batang ya..." kata Anna sambil mengeluarkan batang coklat dari dalam kantong kresek.


"Kalau om juga mau beli?" tanya Anna pada Jimmy.


"Iya... om juga beli 20 batang" sahut Jimmy.


"Ini om..." kata Anna sambil mengangsurkan 20 batang coklat pada Jimmy.

__ADS_1


Anna langsung mengucapkan terima kasih setelah menerima uang dari tuan Sam dan Jimmy. Gadis kecil itu tampak sangat gembira dagangannya laris walau yang membelinya adalah pamannya sendiri.


"Sejak kapan anak SD disuruh berjualan?" tanya Jimmy pada tuan Sam.


"Aku rasa Anna hanya memberi alasan saja... mungkin dia sedang menginginkan sesuatu tanpa meminta uang pada orangtuanya..." ujar tuan Sam.


Jimmy tersentak mendengar ucapan tuan Sam.


"Benar-benar mirip Amira kecil..." batin Jimmy.


Malam itu setelah semua orang pulang ... tuan Sam menyusul Amira yang sedang berada di kamar kedua bayi kembarnya. Terlihat Amira tengah menyusui kedua bayinya secara bersamaan didampingi dengan pengasuhnya.


"Kenapa tidak bergantian saja menyusuinya Ra?" tanya tuan Sam yang tak tega melihat Amira yang tampak kelelahan.


"Ga pa-pa B... soalnya tadi ga ada yang mau mengalah... mungkin karena lapar" sahut Amira sambil tersenyum.


Tak lama keduanya berhenti menyusu karena sudah kenyang dan langsung tertidur. Tuan Sam langsung membantu dengan menggendong salah satu bayinya dan meletakkannya di box bayi. Setelah itu ia juga melakukan hal yang sama dengan yang lain. Melihat wajah kedua bayinya yang tampak sangat tenang saat tertidur membuat tuan Sam terharu dan senang.


Tuan Sam menyuruh pengasuh anaknya untuk beristirahat. Lalu ia juga mengajak Amira untuk kembali ke kamar mereka melalui pintu penghubung diantara kamar mereka dengan kamar si kembar.


"Kau terlihat sangat lelah Meyaa... apa kita tambah pengasuh lagi?" tanya tuan Sam saat keduanya sudah berada di tempat tidur.


"Ga perlu B... pengasuh itu cuma untuk membantuku dan bukannya menggantikanku... jadi satu pengasuh saja sudah cukup..." sahut Amira.


"Baiklah jika itu mau kamu..." ucap tuan Sam sambil memeluk istrinya itu.


Kemudian keduanya pun tertidur karena kelelahan setelah acara syukuran untuk kedua anak mereka.


Sore itu saat Jimmy hendak menuju ke rumah Amira ia melihat Anna yang sedang mengendarai sepedanya sendirian. Jimmy mengerutkan keningnya karena gadis kecil itu bukan menuju kearah rumah Amira namun keluar dari komplek perumahan. Karena khawatir dan penasaran akhirnya Jimmy pun mengikuti Anna dari jauh. Setelah beberapa saat tampak Anna masuk ke dalam sebuah perkampungan. Karena jalan yang ada tak muat dimasuki mobil akhirnya Jimmy memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan menyusul Anna dengan berjalan kaki.


Untung saja gadis kecil itu mengendarai sepedanya dengan pelan jadi Jimmy masih bisa mengikutinya walau berjalan kaki. Tampak Anna berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat sudah tak layak huni. Beberapa gentingnya tampak banyak yang sudah rusak begitu juga dengan dinding rumah yang terbuat dari bambu. Anna mengetuk pintu rimah sambil mengucap salam. Tak lama tampak seorang anak perempuan yang sebaya dengannya keluar dari dalam rumah lalu mempersilahkan Anna masuk.


Jimmy segera mendekat dan berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka yang ada di dalam rumah.


"Ga pa-pa Wi... aku kemari cuma mau menjenguk adik kamu.... sekaligus ingin memberikan ini" kata Anna sambil mengangsurkan sebuah amplop warna coklat kepada Dewi.


"I...ini... apa?"


"Ini hanya sekedar bantuan dariku... agar kamu bisa membawa adikmu berobat"


"Tapi apa kedua orangtua kamu tidak akan marah jika kamu memberikan ini sama aku?"


"Ga... ini benar-benar uang aku kok jadi jangan khawatir"


Tampak Dewi langsung berkaca-kaca karena terharu. Ia tak menyangka perkenalannya dilampu merah saat ia berjualan tissu sudah membuat Anna mau membantunya.


"Ayo cepat kita bawa adik kamu berobat!" ajak Anna.


"Tapi ibuku belum pulang Ann... " sahut Dewi.


"Memang ibu kamu ada dimana?"


"Ibu sedang mengembalikan cucian orang sebentar lagi juga pulang"


Anna pun memgangguk dan setuju untuk menunggu ibu Dewi. Tak lama dari pintu belakang terdengar suara ibu Dewi.


"Wi... buka pintu nak..."


"Iya bu..." sahut Dewi.


"Nah itu ibuku sudah pulang... sebentar ya"


"Iya" sahut Anna.

__ADS_1


Tak lama terlihat Dewi datang bersama ibunya. Saat mendengar penjelasan dari Dewi tampak sekali kelegaan di wajah ibunya.


"Terima kasih nak Anna..." ucapnya terharu.


"Iya bu ... sama-sama.... sekarang kita ke rumah sakit ya" kata Anna.


Dewi dan ibunya pun langsung mengangguk dan segera ibu Dewi menggendong putra bungsunya untuk dibawa ke rumah sakit. Jimmy yang sudah mendengarkan percakapan mereka pun segera mengetuk pintu.


Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum..." ucap Jimmy.


"Waalaikum salam " jawab Anna, Dewi dan juga ibunya bersamaan.


Saat melihat Jimmy yang sudah berada di depan rumah membuat Anna terkejut.


"Om... kenapa ada di sini?" tanyanya polos.


"Om susah dengar semua Anna ... karena itu biar kalian om yang antar..." kata Jimmy.


Mereka pun akhirnya pergi ke rumah sakit dengan diantar Jimmy. Saat Dewi dan ibunya masuk membawa adiknya ke ruang pemeriksaan Jimmy segera menanyai Anna.


"Jadi... kemarin kamu jualan coklat untuk membantu temanmu itu?" tanyanya pada Anna.


Anna menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan.


"Kenapa tidak bilang sama orangtuamu atau pada uncle atau juga om?"


"Anna ga mau ngerepotin om..."


Jimmy mendesah pelan.


"Benar-benar mirip Amira" batinnya.


"Ya sudah ... setelah ini kamu pulang bareng om saja... nanti sepeda kamu ditaruh di bagasi"


"Baik om... terima kasih sudah mau bantuin bawa adik teman Anna ke rumah sakit" ucap Anna tulus.


"Sama-sama..."


Tak lama Dewi dan ibunya keluar dari ruang peneriksaan bersama adiknya.


"Bagaimana bu? apa sakitnya parah?" tanya Jimmy pada ibunya Dewi.


"Alhamdulillah tuan... hanya demam biasa... jadi bisa langsung pulang" sahut bu Asih ibunya Dewi.


"Kalau begitu saya antar pulang sekalian mengambil sepeda Anna" kata Jimmy.


Setelah mengantarkan Dewi dan keluarganya pulang serta mengambil sepeda Anna, Jimmy pun mengantarkan Anna ke rumahnya.


"Lain kali jika ingin pergi keluar dari rumah kamu harus mengatakan kemana kamu pergi agar mama dan papa kamu tidak khawatir..." nasehat Jimmy.


"Iya om..." sahut Anna.


"Nah sudah sampai" kata Jimmy lalu menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Anna.


Setelah mengeluarkan sepeda Anna dari dalam garasi Jimmy pun langsung pamit karena harus menemui tuan Sam di rumahnya.


"Om... sekali lagi terima kasih" ucap Anna pada Jimmy.


"Iya..." sahut Jimmy sambil tersenyum.


Lalu Jimmy pun pergi dengan mengendarai mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2