BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Rencana Menghadapi Lawan


__ADS_3

Malam hari saat Raja baru saja menyelesaikan pekerjaannya ia mendapatkan telfon dari anak buahnya. Untung saja ia masih berada di kamar kerjanya. Sementara Jasmine tengah belajar di kamar tidur. Ya karena apartemen itu memiliki dua kamar maka salah satunya ia jadikan ruang kerjanya.


"Ada apa?" tanya Raja pada anak buahnya itu langsung.


"Maaf tuan... sepertinya orang itu sudah mulai bergerak..." lapornya.


"Kalau begitu segera lakukan apa yang sudah kita rencanakan sebelumnya... dan pastikan agar mereka tidak menyadarinya!"


"Baik tuan..."


Raja pun kemudian mematikan ponselnya. Raja mendesah pelan. Ia sudah tahu jika sepupu Castillo telah lama mencarinya. Dan entah dapat informasi dari mana hingga pria itu akhirnya bisa mengetahui identitas barunya. Padahal selama ini ia sudah cukup berhati-hati dalam berhubungan dengan orang lain terutama orang-orang yang baru dikenalnya.


"Aku harus segera menghubungi Sam dan papa" batinnya.


Sejak menikah dengan Anna Raja memang memanggil tuan Bram dengan sebutan papa dan nyonya Sarah mama untuk menghormati mereka sebagai orangtua Anna. Kini Raja memang harus segera menyiapkan semuanya untuk menghadapi Julio. Karena ia tahu pria itu tidak akan berhenti sampai melihat dirinya tewas. Dan Raja tidak ingin Anna dan calon anak mereka akan mendapatkan imbasnya. Sebab pria seperti Castillo dan Julio sudah terkenal akan kekejamannya. Dan mereka akan mengarahkan targetnya pada orang-orang terdekat dan dicintai oleh musuhnya sebelum mereka menghabisinya. Raja ingin melindungi orang-orang yang sangat dicintainya agar tidak tersentuh oleh Julio meski harus mengorbankan nyawanya.


Segera ia mengetikkan pesan untuk mengadakan pertemuan dengan ayah mertuanya dan juga tuan Sam. Ia juga mengatakan agar pertemuan itu segera diadakan karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan. Keduanya pun langsung menyetujuinya. Bahkan mereka akan langsung terbang ke Inggris demi menemui Raja karena mereka tahu jika Anna tidak mungkin ditinggal oleh Raja. Tapi Raja juga menyuruh keduanya untuk merahasiakan semua dari Amira dan nyonya Sarah terlebih dahulu sebelum mereka bertiga berbicara dan keduanya pun langsung setuju. Setelah itu Raja pun pergi ke kamarnya dan Anna.


Disana terlihat istrinya itu tengah tertidur diatas tempat tidur. Meski begitu posisi Anna tengah bersandar di kepala tempat tidur dengan buku yang tergeletak didadanya. Saat menyingkirkan buku itu Raja tahu jika istrinya tengah membaca buku kuliahnya. Sepertinya Anna sangat bersemangat untuk dapat segera menyelesaikan pendidikannya. Apalagi saat ia tahu jika dirinya tengah hamil. Dengan perlahan Raja membetulkan posisi Anna agar berbaring diatas tempat tidur. Baru kemudian ia pun ikut naik ke atas tempat tidur dan membaringkan dirinya di samping Anna.


"Kau memang pekerja keras sayang..." gumam Raja saat memandang wajah istrinya yang tengah tertidur dengan damai.


"Aku akan melindungimu dan calon anak kita apa pun resikonya meski itu harus dengan taruhan nyawa..." batin Raja sambil memeluk tubuh Anna.


Perlahan matanya pun mulai ikut terpejam. Meski sulit namun Raja berusaha untuk tidur karena ia membutuhkan banyak tenaga ekstra untuk menghadapi masalahnya. Dan juga dengan kehamilan Anna yang mulai ngidam.


Keesokan harinya...


Pagi-pagi Anna sudah berada di kamar mandi dan muntah-muntah. Raja yang ikut terbangun pun segera membantu istrinya dengan memijat tengkuk Anna pelan. Setelah mengeluarkan semua isi perutnya barulah Anna merasa sedikit lega. Walau masih merasa lemas namun Anna masih tetap melaksanakan ibadahnya meski dilakukan diatas tempat tidur. Baru kali ini keduanya sholat sendiri-sendiri saat Raja ada bersamanya.


"Apa kau sudah merasa baikan Honey Bee, sehingga hari ini kau mau masuk kuliah?" tanya Raja yang mengkhawatirkan keadaan Anna karena tadi pagi istrinya itu masih muntah-muntah.


"Iya MB... malah rasanya kalau di apartemen aku merasa gampang mual... mungkin jika aku masuk kuliah jadi teralihkan dan tidak mual-mual lagi" sahut Anna sambil mencoba untuk menghabiskan sarapannya.


"Baiklah... kalau begitu nanti akan aku antarkan... tapi aku tidak bisa menjemputmu nanti... tidak apa-apakan? soalnya ada meeting dengan klien di London jadi aku mungkin akan pulang larut" kata Raja.


"Tidak apa-apa MB... nanti aku pulang dengan Risa, hari ini jadwal kuliahnya sama denganku jadi kami bisa pulang sama-sama"


"Baiklah... tetap berhati-hati dan jangan terlalu capek ya..."


"Iya"


Selesai sarapan Raja pun mengantar Anna dan Risa yang ikut sekalian dengan keduanya ke kampus. Setelah mengantarkan Anna dan Risa, Raja pun langsung melajukan mobilnya ke London. Hari ini selain menemui kliennya dia juga akan menemui tuan Sam dan juga tuan Bram. Keduanya diperkirakan sampai di London saat jam makan siang nanti.

__ADS_1


"Sebenarnya kemarin itu kamu sakit apa Ann? maaf aku tidak ikut menemanimu ke rumah sakit... dan aku pulang larut karena harus mencari buku untuk referensi tugas kuliahku..." tanya Risa saat keduanya duduk di taman depan kampus sebelum masuk jam kuliah.


"Aku hamil Ris..." ungkap Anna sambil tersenyum bahagia.


"Hamil? jadi..."


"Iya..."


"Masyaallah... alhamdulillah banget Ann... akhirnya kamu hamil... pasti kak Raja sangat senangkan?" kata Risa sambil memeluk sahabatnya itu erat.


"Iya... kak Raja memang sangat bahagia Ris... dan dia lebih protektif sekarang, tapi untungnya dia masih memperbolehkanku untuk masuk kuliah..." terang Anna.


"Syukurlah... lalu apa kedua orangtuamu juga sudah tahu Ann?"


"Sudah... kami langsung memberitahu mereka sepulang dari rumah sakit..." sahut Anna terus mengembangkan senyumnya.


"Baik-baik ya dedek bayi... jangan rewel dan bantu mamamu agar cepat menjadi dokter..." ucap Risa sambil mengelus perut Anna yang masih rata dengan perlahan.


Anna kembali tersenyum. Ia beruntung dikelilingi orang-orang yang menyayangi dan mendukungnya untuk meraih cita-citanya. Terutama Raja suaminya.


Di London...


Jam makan siang sudah hampir tiba. Raja melirik jam tangannya sebentar lalu menatap kliennya yang tengah memeriksa berkas kerja sama mereka. Tak lama orang itu pun mengangguk sambil tersenyum puas.


"Terima kasih tuan... semoga kerja sama kita berjalan dengan sukses..." sahut Raja sambil menjabat tangan kliennya itu.


Dan pertemuan mereka pun berakhir. Dengan didampingi oleh asisten barunya Raja langsung menuju ke hotel tempat tuan Sam dan tuan Bram sudah menunggunya. Raja memang mempekerjakan asisten baru setelah asisten lamanya ia suruh untuk menggantikannya menghandle perusahaannya yang berada di New York. Setelah sampai di hotel tempat tuan Bram dan tuan Sam menginap Raja menyuruh asistennya untuk meninggalkannya dan makan siang. Sementara ia langsung menuju ke kamar tuan Sam dan tuan Bram.


Sesampainya di sana Raja disambut oleh ayah mertuanya dan juga tuan Sam. Keduanya langsung memeluk Raja dan mengucapkan selamat karena kehamilan Anna. Setelah itu barulah ketiganya membahas masalah yang tengah menimpa Raja. Mendengar penuturan Raja, tuan Bram tampak marah dan khawatir masa lalu Raja yang mengancam nyawa putrinya. Tuan Sam pun sama namun ia bisa lebih tenang menghadapinya dan segera menenangkan adik iparnya itu.


Ketiganya pun kemudian terlibat perbincangan yang sangat serius demi melindungi Anna dari ancaman Julio. Sedangkan Anna kini tengah bersama Risa sepulangnya dari kampus. Anna sengaja mengajak Risa ke apartemennya untuk menemani karena Raja akan pulang larut. Inilah salah satu alasan Raja memilih apartemen disamping apartemen Risa. Agar istrinya memiliki teman dan tidak kesepian saat dirinya tidak ada. Sore harinya Risa pamit untuk kembali ke apartemennya. Anna pun mengerti dan membiarkan sahabatnya itu untuk pulang ke apartemennya. Sepeninggalnya Risa, tiba-tiba saja Anna menginginkan soto dan ingin agar Raja mau membelikannya. Dengan cepat ia pun menghubungi suaminya.


"Halo..."


"MB... bisakah kau membelikanku soto?" pintanya dengan suara manja.


"Soto?" ulang Raja sambil melihat kearah tuan Sam dan ayah mertuanya tuan Bram.


Keduanya pun tampak saling pandang mendengar Anna menginginkan soto.


"Tapi dimana aku mendapatkannya di London ini Honey Bee?" tanya Raja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Berbeda dengan kedua pria yang ada didepannya. Mereka malah justru tersenyum dan kembali saling pandang.

__ADS_1


"Kau kan bisa membelinya di restoran Indo yang ada disana MB..." rengek Anna yang kini suaranya mulai terdengar bergetar seakan tengah menahan tangis.


"Tapi apa nanti tidak dingin jika sudah sampai di apartemen kita?" tanya Raja yang tahu jika makanan itu tidak enak jika disantap dingin.


"Kau kan bisa memisahkan kuahnya jadi kita bisa memanasinya lagi di sini" sahut Anna tak mau menyerah.


"Baiklah-baiklah..." ujar Raja akhirnya lalu mematikan ponselnya.


"Apa kalian akan ikut aku untuk menemui Anna?" tanya Raja pada tuan Sam dan tuan Bram.


Keduanya pun langsung setuju dan mereka pun segera keluar untuk membelikan Anna soto sekaligus kembali ke Oxford. Untung saja tuan Sam sudah pernah tinggal di London cukup lama sehingga ia tahu dimana saja ada restoran Indo yang menyediakan menu soto. Dan dalam waktu yang tidak lama mereka pun langsung bisa mendapatkannya. Setelah itu mereka pun segera pergi ke apartemen Raja.


Anna tampak sangat terkejut saat membuka pintu ia melihat tidak hanya suaminya saja yang pulang tapi juga uncle dan papanya. Ia pun segera memeluk keduanya secara bergantian. Kemudian mereka pun masuk ke dalam apartemen. Anna tidak dapat menahan rasa penasarannya ketika melihat papa dan unclenya bisa bersama suaminya. Dan dengan tenang tuan Sam dan tuan Bram menerangkan jika keduanya ada keperluan bisnis di London dan tidak sengaja bertemu dengan Raja.


Anna yang polos dengan mudah langsung mempercayai perkataan papa dan juga unclenya itu. Mereka pun berbincang ringan hingga setelah makan malam tuan Sam dan tuan Bram pamit untuk kembali ke Indo karena mereka memang tidak berencana lama berada di sana.


"Ingat sayang... jangan pernah beritahu mama dan juga bundamu jika kami kemari... sebab kami tidak memberitahu mereka jika kami kemari" kata tuan Bram.


"Iya... kami kemari karena urusan pekerjaaan dan semuanya serba mendadak jadi kami tidak bisa mengajak mereka. Tapi kau tahu kan jika mereka akan marah saat tahu kami kemari dan tidak mengajak mereka?" sambung tuan Sam.


Anna langsung mengangguk mengerti. Kemudian keduanya pun pamit pulang dengan diantar oleh sopir Raja ke bandara.


"Apa kau bahagia papa dan unclemu datang?" tanya Raja saat keduanya sudah berada di tempat tidur.


"Iya MB... rasanya aku semakin percaya diri menjalani kehamilan ini... apa lagi jika seandainya mama dan bunda juga bisa kemari..."


"Insyaallah... mereka juga akan datang kemari untuk menemuimu... atau kalau usia kehamilanmu sudah cukup kuat kita bisa pulang ke Indo sebentar"


"Benarkah?" tanya Anna tak percaya.


"Tentu saja... jadi sekarang kau harus terus menjaga kesehatanmu agar kita bisa pulang saat usia kandunganmu cukup..." sahut Raja sambil tersenyum dan mengelus rambut Anna lembut.


Anna kembali mengangguk. Ia merasa sangat senang dengan janji Raja yang akan membawanya kembali ke Indo. Sudah terbayang olehnya makanan apa saja yang bisa ia makan saat ia sudah berada di sana. Sementara tuan Sam dan tuan Bram yang sudah berada di dalam pesawat tampak masih berbincang serius.


"Apa kau yakin jika rencana ini akan berhasil kak?" tanya tuan Bram yang merasa masih ragu atas rencana yang tadi diusulkan oleh Raja.


"Ya... sebab tidak ada cara lain lagi agar Raja bisa benar-benar terbebas dari masa lalunya..."


"Tapi aku tidak ingin putriku menjadi janda diusianya yang masih muda kak... apalagi saat ini dia tengah mengandung..."


"Jangan terlalu khawatir Bram... Raja pasti sudah tahu apa yang harus dilakukannya untuk tetap bertahan hidup demi Anna dan calon anak mereka" kata tuan Sam menenangkan adik iparnya itu.


Tuan Bram menghembuskan nafasnya kasar. Ia tahu rencana Raja memiliki resiko yang sangat besar. Namun jika cara ini berhasil maka masa lalunya tidak akan lagi menghantuinya selamanya.

__ADS_1


__ADS_2