BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Kematian


__ADS_3

Anna mengerjapkan matanya perlahan. Rasanya ia baru saja terbangun dari mimpi buruk.


"Akh... ternyata hanya mimpi..." gumamnya sambil membuka matanya perlahan dan berusaha untuk melihat ke sekelilingnya.


Namun pemandangan yang dilihatnya membuat wanita muda itu mengernyitkan keningnya karena menyadari jika ia tidak berada di kamarnya di apartemen Raja. Bau alkohol yang menyengat semakin menyadarkannya jika ia tidak berada di kediamannya bersama Raja melainkan berada di tempat lain yang tidak ingin dikunjunginya.


"Anda sudah sadar nyonya?" terdengar suara seseorang yang asing menyapanya.


Anna menoleh ke arah suara dan melihat seseorang dengan seragam putih dengan membawa map di tangannya melihatnya dengan tersenyum.


"A... aku dimana?" tanya Anna lirih, meski dalam hatinya ia sudah bisa menduganya.


"Anda berada di rumah sakit nyonya... anda mengalami kecelakaan dan terluka..."


"Dimana suamiku?" potong Anna yang merasa jika yang dialaminya tadi bukanlah mimpi belaka.


"I...itu..." ucap perawat itu dengan terbata karena tidak ingin membuat pasiennya menjadi histeris.


"Dimana? cepat katakan!" sergah Anna tidak sabar.


Wanita itu malah sudah turun dari brankarnya dan berusaha untuk mencabut jarum infusnya.


"Jangan nyonya!" seru perawat berusaha mencegah perbuatan nekat Anna.


Namun perawat itu tidak bisa menahan Anna yang entah mendapatkan tenaga dari mana bisa dengan mudah melepaskan diri dari perawat itu. Dan dengan langkah lebar wanita itu segera keluar dari ruang perawatannya untuk mencari keberadaan suaminya. Dengan mengandalkan firasatnya Anna menelusuri lorong rumah sakit untuk mencari Raja. Setelah beberapa saat mencari akhirnya ia bisa melihat Rudi yang tengah duduk di depan sebuah ruangan.


Anna melangkah dengan perlahan ke arah Rudi sambil melihat ke arah ruangan yang ada di depan pria itu. OPERATION THEATER... terlihat jelas huruf-huruf kapital yang terpampang di depan ruangan. Anna menatap ruangan itu dengan mata nanar.


"MB..." desisnya lirih.


Rudi terhenyak saat mengetahui Anna sudah berada didepannya memandang ke arah ruang operasi.


"Nyonya..." panggilnya pelan.


Anna langsung menoleh ke arah Rudi dan bertanya...


"Apa dia ada di dalam sana?" tanyanya dengar suara bergetar.


Rudi hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Mendapat jawaban dari Rudi, Anna langsung mendekat ke arah pintu ruang operasi. Meski tidak dapat melihat dengan jelas namun setidaknya wanita itu bisa merasa dekat dengan suaminya. Perlahan Anna mengelus daun pintu ruang operasi tersebut dengan telapak tangannya. Air matanya pun ikut mengalir dengan deras. Rasanya sangat sakit saat mengetahui jika keadaan Raja sangat tidak baik-baik saja dan bahkan kritis. Terbayang olehnya saat peluru yang ditembakkan oleh Julio menembus tubuh suaminya.


"Seharusnya aku mengahabisi pria itu saat itu juga..." desisnya sambil menutup kedua matanya.


Tiba-tiba terdengar suara dari dalam yang membuat Anna langsung membuka matanya dan bergerak mundur ke belakang. Sementara Rudi langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Anna. Tak lama pintu ruang operasi terbuka. Dan dari dalam sana terlihat seorang dokter keluar dengan didampingi perawat.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Anna dengan suara bergetar.

__ADS_1


Dokter itu tampak menghela nafasnya pelan dan memandang Anna dengan tatapan yang tak bisa digambarkan.


"Maaf nyonya... kami sudah berusaha semampu kami... namun Tuhan berkehendak lain... tuan Raja tidak dapat kami selamatkan..." ucap dokter itu dengan nada penuh penyesalan.


"Tidak... anda bohong kan dokter? su... suami saya pasti baik-baik saja kan?" ucap Anna sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.


Anna bergerak mundur dan menatap sang dokter dengan tatapan sendu...


"Katakan dokter... anda bohongkan?" ucapnya lagi.


Dokter itu pun hanya menggelengkan kepalanya pelan memastikan jika yang diucapkannya tadi itu benar.


"Tidak! aku akan melihat suamiku sekarang!" teriak Anna mencoba menerobos masuk untuk melihat keadaaan Raja dengan mata kepalanya sendiri.


Raja, dokter dan perawat disana pun langsung menahan Anna. Mereka tidak ingin Anna semakin syok dengan melihat keadaan Raja. Wanita itu terus berontak namun tiba-tiba saja ia merasakan kram pada perutnya dan kepalanya pun terasa pusing membuat Anna kehilangan kesadarannya. Untung saja Rudi dan dokter yang ada bisa menangkap tubuh wanita itu sebelum jatuh ke lantai. Anna pun langsung dibawa untuk diperiksa oleh dokter.


Setelah menyerahkan pengurusan Anna pada dokter Rudi pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk pemakaman Raja. Dan sesuai dengan permintaan Raja maka pria itu akan dimakamkan di Indo. Ketika Rudi tengah mengurus pemakaman kedua orangtua Anna dan juga tuan Sam serta Amira datang. Mereka langsung melihat kondisi Anna yang terlihat lemah karena syok atas berita kematian Raja yang membuat kondisi ibu hamil itu drop. Bahkan kondisi kandungannya sempat mengalami kram dan sedikit pendarahan membuat wanita itu belum juga sadar.


Nyonya Sarah dan Amira tampak saling berpelukan saling menguatkan. Air mata keduanya mengalir deras melihat kondisi Anna yang lemah dan belum sadarkan diri. Sementara tuan Bram dan tuan Sam langsung meminta Rudi untuk menjelaskan tentang kronologi kejadian yang menimpa Anna dan Raja. Rudi pun langsung menjelaskan semuanya tanpa ada yang kurang sedikitpun. Ketiganya pun sepakat untuk menggurus jenazah Raja dan segera membawanya pulang ke Indo untuk dimakamkan meski Anna belum juga sadar.


Anna memang sengaja diberi obat penenang yang membuatnya tertidur agar tidak lagi histeris mengetahui kematian suaminya. Nyonya Sarah dan Amira duduk di samping brankar Anna dengan sabar menunggu hingga wanita muda itu sadar. Sudah hampir seharian ibu hamil itu belum juga sadar membuat nyonya Sarah dan Amira merasa khawatir. Keduanya pun langsung menghubungi sang dokter untuk menanyakan kondisi Anna.


Dokter pun menjelaskan jika kondisi Anna mungkin saja disebabkan karena alam bawah sadar wanita itu yang masih belum mau menerima kenyataan sehingga wanita itu belum ingin membuka matanya meski pengaruh obat penenang yang diberikan padanya sudah habis.


"Apakah ini akan membahayakan putri saya dan juga kandungannya dok?" tanya nyonya Sarah.


Nyonya Sarah dan Amira pun mengangguk patuh. Keduanya pun tampak lebih tenang setelah mendapat penjelasan dari dokter.


Hampir seharian Anna tampak nyenyak dalam tidurnya. Pemakaman Raja pun sudah diurus dan berkat koneksi tuan Sam semua berjalan dengan lancar. Bahkan tidak butuh sehari jenazah Raja bisa langsung dibawa ke Indo untuk dimakamkan. Rudi, tuan Sam dan tuan Bram bertolak ke Indo mengurus pemakaman Raja. Sementara nyonya Sarah dan Amira menjaga Anna dengan perlindungan beberapa pengawal yang sudah disiapkan oleh Rudi.


Hari sudah gelap saat Anna mulai mengerjapkan matanya. Pandangannya langsung tertumbuk pada dua orang wanita yang berada di sampingnya dan tak melepaskan genggaman pada kedua tangannya.


"Mama..." panggilnya lemah saat melihat wajah nyonya Sarah yang tengah terpejam dengan bersandar pada kursi.


Nyonya Sarah langsung membuka matanya dan memandang ke arah putrinya.


"Sayang... kau sudah bangun?" tanyanya lembut sambil mengusap puncak kepala Anna.


Amira yang merasakan pergerakan pun ikut terbangun.


"Sayang..." panggilnya lembut.


"Bunda..." sahut Anna sambil tersenyum perih.


"Kak... Raja..." adu Anna dengan suara tercekat dan air mata berlinang pada kedua wanita yang sangat berharga dihadapannya.

__ADS_1


Nyonya Sarah dan Amira langsung memeluk tubuh Anna yang terlihat bergetar karena tangis.


"Yang sabar sayang... ikhlaskan semua..." ucap Amira sambil mengelus punggung keponakan yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu dengan lembut.


"Anakku... bunda... dia... akan jadi yatim..." lirih Anna mengadu dengan dada sesak.


"Kau jangan risau sayang... ada bunda... mama dan papamu... juga uncle dan para adik juga sepupumu... mereka akan memberikan kasih sayang yang besar sehingga dia tidak akan merasakan kekurangan sedikit pun..." terang Amira.


Nyonya Sarah hanya bisa tergugu dengan berlinang air mata mendengar keluh kesah putri sulungnya. Wanita itu masih tidak percaya dengan kenyataan jika putrinya harus menjadi janda di usia yang masih sangat muda dan dalam keadaan hamil pula. Ketiga wanita itu pun saling bertangisan melepaskan beban di dada mereka. Setelah beberapa saat mereka pun berhenti menangis meski masih sedikit sesenggukan.


"Ma... aku ingin melihat suamiku untuk terakhir kalinya..." ucap Anna setelah mereka terdiam cukup lama menenangkan diri.


Nyonya Sarah dan Amira saling pandang. Entah bagaimana menjelaskan pada Anna jika Raja sudah diterbangkan ke Indo untuk dimakamkan.


"Hem... sayang... kau masih belum boleh kemana-mana dulu..." ujar nyonya Sarah mencoba mencegah Anna.


"Tapi ma... aku ingin melihatnya..." rengek Anna.


"Sayang... maaf... papa dan uncle mu sudah membawanya ke Indo untuk dimakamkan..." terang Amira kemudian.


Anna tampak kaget dengan penjelasan Amira. Ia tak percaya jika Raja dimakamkan sebelum ia sempat melihatnya terlebih dahulu.


"Kenapa ma? kenapa mereka membawanya sebelum aku sempat melihatnya untuk terakhir kalinya?" keluh Anna sambil menatap mamanya tak terima...


"Maaf sayang... jika menunggu kau sadar itu akan terlalu lama untuk Raja... kasihan dia... harus segera dimakamkan..." terang Amira tak ingin Anna menyalahkan orangtuanya dan juga tuan Sam.


Anna menangis tergugu... harapannya untuk bisa melihat suaminya untuk terakhir kalinya musnah.


"Jangan seperti ini sayang... ingat kau masih punya calon bayi dalam kandunganmu yang harus kau jaga... dia adalah hadiah terakhir Raja untukmu... dan kita semua..." sambung Amira sambil mengelus punggung Anna.


Nyonya Sarah pun mengecup puncak kepala putrinya demi memberi kekuatan pada Anna agar lebih kuat menghadapi cobaan dalam hidupnya. Sejak itu Anna berusaha untuk lebih kuat demi bayinya. Amira benar... bayi dalam kandungannya adalah hadiah terakhir dari Raja yang harus dijaganya. Tak terasa sudah hampir satu minggu Anna berada di rumah sakit demi memulihkan keadaan psikisnya. Dan kini saatnya dia keluar dari sana dan pulang ke apartemen Raja.


Didampingi oleh kedua orangtuanya dan juga tuan Sam bersama Amira, Anna kembali ke apartemen Raja di New York. Kedua adiknya dan para sepupu ternyata sudah menunggunya disana. Mereka sengaja datang untuk memberikan support kepada Anna. Sesampainya di apartemen Anna memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kamarnya bersama Raja. Dipandanginya foto pernikahan dirinya dan Raja yang tergantung di dinding kamar. Rasanya madih tak percaya jika pria itu sudah tidak ada lagi disisinya.


"Bagaimana aku menjalani hidup tanpa kamu disisiku MB? meski ada dia hadiah terakhir darimu, namun tetap saja ada yang kosong di hatiku tanpa dirimu..." gumam Anna sambil memandang foto dan mengelus pelan perutnya yang semakin membuncit.


Anna tampak berfikir tentang apa yang akan dilakukannya setelah ini. Tidak mungkin ia terus mengurung diri meratapi kematian suaminya. Ada nyawa yang sedang tumbuh di rahimnya.


"Baiklah... cukup sampai disini aku bersedih... sayang bantu mama... kita akan memulai hidup baru kita mulai hari ini meski tanpa papa..." ucap Anna sambil mengelus perutnya seolah mengajak berbincang bayi dalam kandungannya.


Setelahnya Anna menghapus sisa air matanya dan masuk ke dalam toilet untuk membasuh mukanya. Kemudian ia pun keluar dari dalam kamar dan menemui keluarganya. Ia ingin memberitahukan jika ia akan melanjutkan kuliahnya di Oxford yang tinggal beberapa tahun lagi. Dia hanya perlu menyelesaikan magangnya agar bisa lulus dari kuliahnya dan mendapatkan gelarnya, setelah itu ia berencana kembali ke Indo.


"Apa kau tidak ingin kembali ke Indo untuk melihat makam Raja sayang?" tanya tuan Bram.


"Lebih baik tidak papa... aku takut saat ini aku belum kuat untuk melihat makamnya... nanti saja setelah kuliahku selesai aku akan kembali ke Indo dan menetap disana..." terang Anna.

__ADS_1


"Apa pun yang membuatmu nyaman sayang... kami akan mendukungmu sepenuhnya..." ucap nyonya Sarah yang disetujui oleh semua orang.


__ADS_2