BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Sandiwara


__ADS_3

Sore hari setelah selesai sholat ashar, Amira keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Adit dan juga Anna untuk membangunkan keduanya. Tapi ternyata kedua bocah itu sudah bangun dan bahkan baru saja selesai mandi. Melihat itu Amira merasa sangat senang dengan kemandirian dari kedua anak asuhnya itu.


"Wah... kalian sudah pada rapi semua... bunda seneng banget deh tanpa disuruh kalian sudah tahu jika sudah saatnya mandi..." ucapnya pada kedua anak yang sedang asyik menyisir rambut mereka masing-masing.


"Iya dong bun... kan udah besar" kata Anna yang terlihat agak kesulitan karena rambutnya yang panjang.


Amira pun menghampiri gadis kecil itu.


"Mau bunda bantu?" tanyanya lembut.


Gadis kecil itu pun mengangguk. Dengan telaten Amira menyisir rambut panjang Anna yang agak pirang dan menguncirnya.


"Bagaimana? kamu suka?" tanya Amira.


"Suka bunda..." jawab Anna senang.


Lalu Amira beralih pada Adit yang juga sudah rapi.


"Wah Adit ganteng banget..." pujinya agar Adit tetap merasa diperhatikan.


"Nah ayo kita keluar, mama kalian pasti senang melihat kalian sudah rapi..." ajak Amira sambil menggandeng keduanya dengan kedua tangannya.


Sesampainya di ruang keluarga terlihat nyonya Sarah yang sedang minum teh bersama Lukas. Amira pun menghampiri mereka bersama kedua anak asuhnya itu. Melihat Anna dan Adit yang sudah rapi nyonya Sarah langsung tersenyum senang dan mengajak mereka bertiga untuk ikut minum teh bersama. Akhirnya mereka pun menghabiskan sore itu bersama. Namun ada yang aneh karena sejak tadi tuan Sam tak tampak sama sekali batang hidungnya. Hal ini membuat Amira penasaran, namun ia tak berani bertanya pada nyonya Sarah maupun Lukas. Namun tampaknya kedua orang itu pun sama sekali tak mempermasalahkan ketidak hadiran tuan Sam sepanjang sore. Hingga akhirnya Adit pun bertanya.


"Ma ... uncle Sam mana?" tanyanya polos.


"Uncle masih istirahat sayang ... " kata nyonya Sarah lembut.


"Kan dah sore ma... kenapa ga bangun-bangun?" kini Anna yang bertanya.


"Hem.. tadi uncle tiba-tiba ga enak badan jadi masih harus istirahat..." terang nyonya Sarah sambil melirik pada Amira.


Terlihat dengan jelas raut terkejut dan khawatir terpampang jelas pada wajah Amira. Nyonya Sarah yang melihat itu pun tersenyum tipis. Namun gadis chubby itu masih terlihat bungkam tak mau berkomentar.


"Coba kalian lihat dulu sana keadaan uncle kalian..." suruh nyonya Sarah pada kedua anaknya itu.


"Baik ma..." jawab keduanya bersamaan. "Ra kamu temani mereka ya" kata nyonya Sarah pada Amira.


"Baik kak..." jawab Amira lalu mengandeng kedua anak asuhnya itu pergi ke kamar tuan Sam.


Begitu ketiganya pergi ke kamar tuan Sam yang berada di lantai dua nyonya Sarah langsung meraih hpnya dan menghubungi seseorang.


"Sebentar lagi dia datang..." ucapnya lalu langsung mematikan panggilannya.


"Ada apa nyonya?" tanya Lukas yang penasaran dengan tingkah nyonya Sarah.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita akan menonton drama..." ucapnya sambil tersenyum pada Lukas.


Lukas pun mengernyitkan dahinya mendengar ucapan nyonya Sarah tak mengerti. Sementara Amira dan kedua anak asuhnya itu sudah tiba di depan kamar tuan Sam. Dengan cepat Anna mengetuk pintu kamar.


"Uncle...." panggilnya, namun tak ada jawaban dari dalam.


"Uncle... ini Anna sama Adit boleh masuk ga?" tanya Anna lagi.


Tapi tetap saja tak ada jawaban. Karena khawatir dengan perlahan Amira mendorong pelan pintu kamar. Ternyata tak dikunci, Anna dan Adit pun menerobos masuk ke dalam kamar yang sedikit terbuka dengan tangan Amira yan masih memegang pintu. Amira pun sedikit terdorong ke dalam kamar akibat ulah keduanya. Saat ketiganya berada di dalam kamar terlihat suasana kamar yang sepi, tak ada siapa pun. Saat melihat kearah tempat tidur barulah terlihat bahwa ada seseorang di sana sedang bergelung didalam selimut. Ketiganya pun dapat langsung menduga jika itu tuan Sam.


Mereka pun langsung menghampiri dan berdiri di samping tempat tidur.


"Uncle bangun..." kata Anna sambil menguncang tubuh yang ada dibalik selimut.


"Hemm..." terdengar suara dari dalam selimut sedikit parau.


"Uncle bangun... " kali ini Adit pun ikut menggoyangkan tubuh itu sambil menarik selimut yang menutupi bagian kepala.


Setelah itu tampak kepala tuan Sam yang menyembul dari dalam selimut. Terlihat wajah tuan Sam yang sedikit memerah dengan keringat yang bercucuran di keningnya. Tanpa sadar Amira langsung mendekati tuan Sam dan meletakkan tangannya di kening pria itu.


"Badannya tidak panas, tapi kenapa keringatnya bercucuran seperti ini ya?" tanyanya dalam hati.


"Hemm...." terdengar suara tuan Sam bergumam lirih seperti seseorang yang sedang menahan dingin.


"Tuan kedinginan?" tanya Amira yang mulai panik.


"Anna cepat bilang mama untuk memanggil dokter..." kata Amira panik.


Gadis kecil itu pun hanya mengangguk dan bergegas mencari mamanya. Adit pun ikut mengekori kakaknya.


"Tuan coba buka dulu selimutnya... jika demam lebih baik jangan memakai selimut yang terlalu tebal" ucap Amira sambil berusaha menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuh tuan Sam.


Namun pria itu malah semakin membungkus tubuhnya dengan selimut. Terjadi tarik menarik selimut antara tuan Sam dan Amira selama beberapa saat hingga kemudian nyonya Sarah datang bersama kedua anaknya dan juga Lukas. Seketika Amira langsung melepaskan tarikannya sehingga tuan Sam kembali bergelung didalam selimut.


"Nyonya... tuan tidak mau keluar dari dalam selimut..." adunya pada nyonya Sarah.


"Ya sudah kamu ambil air kompres aja sana ... biar saya yang mengganti selimutnya" kata nyonya Sarah.


Dengan patuh Amira langsung melaksanakan apa yang di suruh nyonyanya.


"Anna dan Adit tunggu di depan ya... nanti kalau dokter datang kalian antar kemari" kata nyonya Sarah pada kedua anaknya.


Dan kedua bocah itu pun menurut dan segera pergi keluar menunggu dokter.


"Sudah kak... keluar dari dalam situ" kata nyonya Sarah.

__ADS_1


Dan dengan segera tuan Sam pun duduk dan melepas selimut tebal yang tadi menutupi tubuhnya. Saat itu tampak jika ternyata tuan Sam juga memakai pakaian tebal, pantas saja jika badannya berkeringat. Dengan cepat pula tuan Sam membuka semua pakaian tebal yang digunakannya dan segera nyonya Sarah menyembunyikannya dibawah tempat tidur. Lukas yang melihat tingkah kakak beradik itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa bisa berkata apa-apa.


Tak lama Amira pun masuk ke dalam kamar dengan membawa air untuk kompres. Dilihatnya tuan Sam yang masih memejamkan matanya namun sudah memakai selimut tipis biasa. Dengan cekatan Amira langsung mengompres kening tuan Sam. Melihat itu nyonya Sarah tersenyum senang.


"Kak sebenarnya tuan Sam sakit apa?" tanya Amira sambil terus mengompres tuan Sam.


"Entahlah Ra... tapi sepertinya ia sedang menginginkan sesuatu" kata nyonya Sarah sambil menahan senyumnya.


"Menginginkan sesuatu?" pikir Amira sambil mengernyitkan dahinya.


"Seperti orang ngidam saja..." sambungnya dalam hati.


"Maksudnya?" tanya Amira pada nyonya Sarah bingung.


"Ya kakakku memang kadang seperti itu jika terlalu menginginkan sesuatu, dia akan memikirkannya hingga bisa jatuh sakit" kata nyonya Sarah.


"Persis seperti waktu dia kecil dulu saat menginginkan mainan ia mungkin hanya diam dan tidak bilang apa-apa tapi kemudian sampai sakit. Lalu saat ia dibelikan apa yang diinginkannya maka langsung sembuh" sambungnya.


Amira semakin bingung dengan keterangan nyonya Sarah. Dalam fikirannya apalagi yang diinginkan tuan Sam yang tidak bisa didapatkannya? Bukankah dia orang kaya yang bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan?


Saat Amira sibuk dengan fikirannya ia tak sadar jika sejak tadi nyonya Sarah dan Lukas memperhatikan semua tingkahnya. Lukas menengok kearah nyonya Sarah yang dibalas dengan senyuman jahil dari nyonyanya itu. Sementara tuan Sam memperdengarkan suara erangan dan rintihan yang membuat Amira semakin ketakutan. Gadis chubby itu sudah berfikir buruk tentang keadaan tuan Sam.


"Tuan... tuan ingin apa?" tanya Amira yang sudah ketakutan dengan kondisi tuan Sam yang menurutnya sangat lemah.


"Hemm... Ra..." panggilnya dengan suara yang parau.


"Iya tuan ... saya ada disini, tuan ingin apa?" tanya


Amira lagi sambil menggenggam tangan tuan Sam. Ia sudah tak sadar jika disana ada nyonya Sarah dan juga Lukas.


"Tuan jangan begini... saya takut tuan..." ucapnya mulai terisak.


"Hemm... Ra..." terdengar suara tuan Sam memanggil namanya lagi.


"Iya tuan..." jawab Amira sambil mendekatkan wajahnya pada tuan Sam.


Ia berharap jika tuan Sam tahu jika ia ada disampingnya.


"Tuaan..." ucapnya lagi sambil menepuk pipi tuan Sam pelan berharap tuan Sam akan sadar.


Air mata Amira pun jatuh semakin deras, gadis chubby itu bahkan sampai terguncang tubuhnya akibat tangisannya. Nyonya Sarah yang melihat itu pun menjadi tidak tega untuk meneruskan sandiwaranya.


"Sudah Ra... kamu tenang saja kak Sam tidak apa-apa" ucapnya mencoba menenangkan Amira.


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu padanya kak... aku gak mau kehilangan dia..." ucapnya dengan uraian air mata.

__ADS_1


"Aku sayang sama dia kak... " ucap Amira sambil memeluk nyonya Sarah.


Runtuh sudah semua pertahanannya untuk menutupi perasaannya pada tuan Sam di depan nyonyanya.


__ADS_2