
Naya tersenyum tipis saat tubuh Bara menghilang dibalik pintu kamar. Ia mendesah pelan lalu hidung mancungnya mulai mengendus sesuatu yang seketika membuat perutnya mual.
"Hueek! bau apa ini?" sungutnya sambil menciumi tubuhnya.
"Hueek! sebenarnya air apa yang digunakan gadis bar-bar itu untuk menyiramku?" ucap Naya tak tahan dengan bau yang kini menempel ditubuhnya.
Ia pun segera melepas selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya. Dan kini dapat terlihat jelas jika Naya tak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Ya... dia tidak dalam keadaan t******g ketika tadi bersama Bara. Ia hanya melepas blouse atasannya dan memelorotkan tali ***nya agar pundak mulusnya terpampang begitu juga bagian dada atasnya. Dan jika dilihat maka akan membuat orang lain akan berfikir jika ia benar-benar telah t******g. Naya yang merasa jijik dengan bau yang kini menempel pada tubuhnya segera berlari ke kamar mandi. Ia harus segera membersihkan tubuhnya agar tidak terkena kuman dari air kotor yang tadi disiramkan oleh Sadira.
Beruntung di dalam kamar mandi sudah tersedia bathtroube yang bisa ia gunakan dulu sebelum ia mendapatkan baju bersih. Setelah selesai membersihkan diri ia pun segera menghubungi kedua sahabatnya dan memerintahkan mereka untuk membelikan baju baru untuknya. Setelah itu ia juga memanggil layanan kamar untuk membersihkan kamar yang kini juga mulai ikut berbau.
Di tempat lain...
Ricko terkejut saat melihat keadaan Sadira yang berantakan dan terluka. Sementara Sadira terlihat lega saat mengetahui jika mobil yang berhenti dihadapannya itu milik Ricko.
"Dira... kamu kenapa?" tanya Ricko setelah turun dari dalam mobilnya dan menghampiri Sadira di pinggir jalan.
"Aku kecelakaan kak... motorku jatuh..." terang Sadira sambil meringis menahan sakit.
"Kalau begitu ayo aku antar ke rumah sakit sekarang!"
"Tapi motor aku..."
"Nanti aku telfon orang untuk membawanya ke bengkel... jadi kamu jangan khawatir..." terang Ricko sambil menuntun Sadira ke dalam mobil.
"Tapi motor kamu dimana?" tanya Ricko yang tidak melihat keberadaan motor gadis itu.
"Ada di dalam semak-semak..." terang Sadira yang membuat Ricko menganga.
"Bagaimana bisa?" tanyanya tak habis fikir.
"Tadi aku kurang fokus dan tiba-tiba saja ada sebuah mobil di depanku jadi aku langsung banting stang dan terlambat mengerem sehingga langsung masuk ke semak-semak..." terang Sadira dengan menahan rasa malunya.
Ricko yang melihat Sadira menahan rasa malu yang menyebabkan wajah gadis itu memerah bak tomat pun akhirnya tersenyum.
"Kamu ini ada-ada saja..." ujarnya sambil menggelengkan kepalanya dan terkekeh.
"Kakak jangan mengolok ku..." sungut Sadira sambil mengerucutkan mulutnya.
"Ha... ha... mana mungkin kakak mengolokmu Dira... hanya saja bagaimana bisa kamu sampai tidak fokus seperti itu hem?" tanya Ricko yang seketika mengingatkan Sadira tentang kejadian yang baru saja dilihatnya tadi.
__ADS_1
Hati Sadira terasa sakit saat mengingat betapa bejatnya Bara. Ia sama sekali tidak menyangka orang yang ia cintai selama ini memiliki sifat yang berkebalikan dari yang selama ini diperlihatkan padanya. Selama ini Bara selalu bersikap santun dan tidak pernah macam-macam saat bersamanya ternyata memiliki sisi liar yang sama sekali tidak ia duga. Melakukan *** bebas merupakan hal terakhir yang ia fikir akan dilakukan oleh seorang Bara. Tapi kenyataan tadi sudah menyadarkannya jika semua tidak selalu seperti yang diperlihatkan oleh seseorang. Bisa jadi seseorang yang terlihat sempurna ternyata memiliki borok yang lebih parah dari orang yang terlihat brengsek sekali pun.
Untung saja belum sempat Sadira menjawab pertanyaan Ricko, mereka sudah tiba di depan rumah sakit sehingga Sadira terhindar dari kewajiban pertanyaan Ricko tadi. Keduanya pun lalu turun dari dalam mobil dan segera pergi ke IGD. Saat Sadira tengah di periksa oleh dokter, ponsel Sadira berbunyi membuat gadis itu terkejut. Apa lagi saat tahu jika yang menghubunginya adalah sang bunda. Melihat kebingungan Sadira, Ricko pun berinisiatif untuk mengangkat ponsel itu untuk Sadira.
"Biar kakak saja yang menjawabnya oke?"
Sadira pun hanya bisa menganggukan kepalanya setuju. Ricko pun mengambil alih ponsel yang berada masih dipegang oleh Sadira dengan sebelah tangannya yang tidak terluka.
"Assalamualaikum tante... ini Ricko" sapa Ricko.
"Waalaikum salam... lho bukannya ini ponsel Dira? kenapa kamu yang menjawabnya nak?" sahut Amira yang mulai merasa waswas.
"Maaf tante... saat ini Sadira sedang berada di rumah sakit, tadi dia kecelakaan dan saya yang ditemukannya saat sedang meminta pertolongan" terang Ricko.
"Kecelakaan?"
"Iya tante... tapi tante jangan khawatir, sebab Dira tidak apa-apa hanya luka kecil cuma motornya kini ada di bengkel..." terang Ricko yang tak ingin membuat Amira cemas.
"Alhamdulillah..." ucap Amira lega.
"Sebentar lagi saya akan mengantarkan Sadira pulang..." sambung Ricko.
"Iya... terima kasih sebelumnya nak Ricko..."
Setelah Ricko selesai menjawab telfon Amira, Sadira pun sudah selesai di rawat oleh dokter di sana. Karena luka Sadira ringan, maka gadis itu pun langsung diperbolehkan pulang oleh sang dokter. Ricko pun mengantarkan Sadira pulang ke rumahnya. Disana ternyata Amira dan yang lainnya sudah menunggu gadis itu. Amira dan tuan Sam memutuskan untuk pulang setelah mendengar Sadira kecelakaan. Bahkan keluarga yang lain pun ikut karena mencemaskan keadaan Sadira. Jadilah makan malam itu berpindah ke rumah tuan Sam. Bahkan Ricko dilarang untuk pulang dan diajak untuk ikut makan malam bersama mereka.
Ditempat lain, Bara sudah menceritakan semua perbuatan Naya pada Yuda papanya. Bara yakin jika Yuda bisa membantunya untuk membersihkan nama baiknya akibat perbuatan gadis itu. Yuda yang mendengarkan cerita Bara menjadi sangat marah dengan kelakuan Naya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa gadis seusianya bisa berbuat licik seperti itu pada putranya. Dengan kekuasaannya ia langsung memeriksa rekaman cctv di hotel dan juga rumah pribadinya. Sebab menurut keterangan Bara, ia merasa mengantuk setelah makan siang dan tidur di dalam kamarnya.
Jadi mereka harus mengetahui bagaimana caranya Naya bisa membawa Bara ke kamar hotel. Sebab tidak mungkin gadis itu melakukannya sendiri. Dia harus dibantu oleh orang lain untuk menjalankan rencananya. Dari sini mereka bisa menyimpulkan jika di rumah mereka ada yang berkhianat dan membantu gadis itu untuk melancarkan aksinya. Benar saja... saat cctv rumah Yuda diperiksa disana terlihat jika ada dua pegawai rumah Yuda yang bersekongkol dengan Naya dengan memasukkan obat tidur ke dalam minuman Bara dan juga ikut mengangkut tubuh Bara ke hotel saat pemuda itu tertidur pulas.
"Ini tidak bisa dibiarkan... gadis itu sudah melakukan tindakan diluar batas. Kamu jangan khawatir nak... papa akan mengurus semuanya. Dan mereka yang terlibat akan mendapatkan balasannya..." kata Yuda dengan penuh amarah.
Rania sangat terkejut saat Yuda pulang bersama Bara dan langsung memanggil dua pegawai di rumah mereka dengan wajah penuh amarah. Dan saat ia mengetahui kronologinya, wanita itu sangat terpukul. Bagaimana tidak, putranya difitnah dengan keji. Dan pelakunya tak lain adalah putri dari sahabatnya sendiri, Naya.
"Aku ga habis fikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh Naya mas... dia terlihat sangat lugu tapi apa yang dilakukannya pada Bara sungguh diluar nalar... untung saja hanya Sadira yang melihatnya, jika orang lain maka akan tersebar keluar dan nama baik anak kita bisa hancur..." ucap Rania dengan penuh emosi.
Yuda hanya bisa mengelus punggung istrinya perlahan agar bisa tenang. Rania sungguh menyesal dulu sudah memberikan lampu hijau pada gadis itu untuk dekat dengan Bara. Yuda langsung melakukan tindakan tegas pada kedua pegawai rumahnya itu. Keduanya dipecat tanpa pesangon. Masih untung Yuda tidak melaporkan perbuatan keduanya ke kantor polisi. Sedang masalah Naya, Yuda dan Rania sepakat untuk mendatangi gadis itu di rumahnya beserta kedua orangtuanya. Kedua orangtua gadis itu harus tahu apa yang sudah diperbuat oleh anak gadis mereka dan memberikan tindakan tegas pada Naya.
Dua hari berlalu setelah kejadian di hotel, Sadira selalu saja menghindar dari Bara saat pemuda itu berusaha untuk menjelaskan semuanya. Namun begitu, Bara tidak pernah menyerah. Ia bahkan menyimpan semua bukti ketidak salahannya pada ponselnya dan berusaha mengirimkannya pada Sadira. Tapi sayang nomor ponselnya telah diblokir oleh Sadira begitu juga dengan kedua sahabatnya. Kali ini Bara nekat menempuh jalan lain... ia sengaja menunggu Sadira saat pulang sekolah. Beruntung Hana hari ini tidak masuk sekolah karena tengah flu. Jadi Sadira sendirian saat keluar dari dalam kelasnya. Sudah menjadi kebiasaan sejak menghindar dari Bara, Sadira keluar dari dalam kelasnya paling akhir. Dan ini dijadikan kesempatan bagi Bara untuk memaksa Sadira agar mau mendengarkannya.
__ADS_1
Sadira berjalan perlahan keluar dari dalam kelasnya. Ia sengaja agar Bara tidak menemuinya di gerbang sekolah. Sudah dua hari ini ia berhasil menghindari pemuda itu dengan keluar paling akhir dan bersembunyi menunggu Bara bosan dan pulang lebih dulu dari sekolah. Tapi kali ini Sadira salah. Karena sejak tadi Bara sudah menunggunya di depan kelas gadis itu. Jadi saat ia melihat Sadira keluar dari dalam kelasnya pemuda itu langsung mengikutinya dari belakang. Saat akan berbelok di lorong sekolah yang sudah sepi, tiba-tiba Bara menarik tangan Sadira dari belakang hingga gadis itu pun berbalik dan tubuhnya menabrak dada Bara.
"Arrgghh!" seru Sadira terkejut.
"Maafkan aku Dira..." ucap Bara sambil memeluk tubuh Sadira dengan erat.
Ia tidak ingin gadis itu melepaskan diri darinya. Benar saja... Sadira berusaha untuk berontak dan melepaskan diri dari Bara. Namun Bara semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mohon Ra... kali ini kamu mau mendengarkan penjelasanku, setelah itu silahkan kamu mau berbuat apa..." bisik Bara ditelinga Sadira.
Perlahan perlawanan Sadira melemah. Ia sadar tidak ada gunanya melawan, lagi pula Bara berhak membela dirinya meski bukti nyata telah dilihat oleh Sadira. Merasa Sadira tidak lagi melawan, Bara mengurai pelukannya. Ia lalu menggandeng tangan Sadira untuk masuk ke dalam salah satu kelas yang sudah kosong di dekat mereka.
"Coba kamu lihat ini Ra... aku harap ini bisa memulihkan nama baikku dimata kamu..." ucap Bara sambil menyodorkan ponselnya pada Sadira saat keduanya sudah duduk di kursi dalam kelas.
Meski merasa enggan, Sadira tetap menerima ponsel dari Bara dan melihat rekaman yang ada di dalamnya. Kedua mata Sadira langsung melebar saat melihat adegan demi adegan dari cctv baik yang di rumah Bara maupun yang di hotel. Disana terlihat bagaimana awalnya saat seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minuman Bara. Lalu terlihat Bara yang beranjak masuk ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian terlihat tiga orang memasuki kamar pemuda itu dan kemudian keluar dengan membawa Bara menggunakan kursi roda yang telah mereka siapkan.
Sadira sama sekali tidak terkejut saat tahu jika adalah Naya yang menjadi salah satu orang yang masuk dan membawa Bara. Sedang dua orang lainnya Sadira tidak mengenalnya. Bara menjelaskan jika kedua orang itu adalah pegawai di rumahnya yang bertugas di bagian dapur dan tukang kebun. Keduanya berhasil mengecoh satpam rumah Bara saat membawa pemuda itu keluar dalam keadaan tidak sadar bersama Naya. Rekaman selanjutnya merupakan rekaman cctv di hotel dan selanjutnya Sadira sudah tahu apa yang terjadi setelahnya.
"Tapi kakak beneran ga tidur bareng dia kan? kakak sama sekali tidak menyentuhnya?" tanya Sadira memastikan.
"Tentu saja Ra... kamu lihat sendiri kan... aku tidur sudah kayak orang mati, sampai-sampai dibawa-bawa orang saja tidak merasakan apa-apa jadi bagaimana mungkin aku menyentuhnya... sayang saja di dalam kamar tidak ada cctvnya... kalau ada itu akan jadi bukti yang paling valid Ra" ungkap Bara.
"Jadi... apa kamu sudah mempercayaiku Ra?" sambung Bara sambil menatap kekasihnya lekat.
Sadira hanya sanggup menganggukkan kepalanya perlahan, namun itu sudah membuat Bara sangat bahagia. Pemuda itu langsung memeluk tubuh Sadira dengan erat.
"Terima kasih Ra... terima kasih..." ucap Bara tulus.
"Iya kak... maaf sudah sempat meragukanmu"
"Ga pa-pa Ra... eum... kamu dijemput sopir ga?" tanya Bara.
Sadira mengangguk pelan, membuat Bara mendengus kecewa.
"Kenapa?" tanya Sadira pura-pura bodoh.
"Aku ingin mengantarmu pulang Ra..." rengek Bara.
Sadira hanya tersenyum simpul saat melihat kelakuan manja Bara.
__ADS_1
"Mungkin besok aku akan membuat alasan agar tidak dijemput pak sopir..." ucap Sadira yang langsung membuat Bara berseru girang.
Akhirnya Bara hanya bisa mengantarkan Sadira hingga gerbang sekolah. Namun begitu keduanya tampak sangat bahagia dengan tangan yang saling bergandengan karena baru saja selamat dari badai yang menerpa hubungan keduanya.