BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Bukti Lain


__ADS_3

Sudah satu minggu kematian Siska... keadaan di rumah keluarga Suryono pun berangsur normal. Tak ada pengajian atau tahlil untuk almarhumah yang diadakan oleh pihak keluarga. Hanya kedua anak yang ditinggalkan oleh Siska yang senantiasa membacakan do'a dan ayat suci setiap habis sholat maghrib bagi almarhumah. Sungguh menyedihkan... kematian Siska seakan tidak ada artinya bagi suami dan keluarganya. Mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa duka sama sekali, selain saat di hari kematian wanita itu. Itu pun karena ada banyak pelayat yang menghadiri pemakaman Siska. Setelahnya mereka langsung melepas topeng dan menjalani hari-hari seperti biasa. Bahkan kini pembicaraan tentang rencana pernikahan Rendra dan Jihan sudah mulai terdengar.


Meski merasa sakit hati dan marah, Ayana dan Deni hanya bisa diam. Kedua kakak beradik itu langsung bersikap dewasa. Ini tak lepas dari insting mereka untuk bertahan hidup agar sang pembunuh mama mereka tidak menyadari jika keduanya adalah saksi dari kejahatannya.


"Kak... sampai kapan kita akan diam seperti ini? aku sudah sangat muak dengan mereka..." adu Deni pada Ayana.


"Sabarlah dek... kita tidak sendiri sekarang, ayah Dira sudah berjanji akan membantu kita dan menyelesaikan semuanya secepatnya..." hibur Ayana.


"Oh iya... kakak harus pergi ke rumah oma buyut untuk mencari bukti lain... apa kau bisa membantu kakak mencari alasan agar bisa ke sana?"


"Hem... mungkin aku bisa kak... tapi kita harus pergi berdua... karena aku tidak bisa membiarkan kakak pergi kesana sendiri...."


"Baiklah... kalau begitu saja besok kita kesana... sebab waktu kita semakin sedikit sebelum wanita itu berhasil menikah dengan papa..."


"Iya..."


Keesokan harinya...


"Oma... papa... sepulang sekolah nanti aku akan pergi mengerjakan tugas kelompok di rumah temanku... jadi tidak usah dijemput..." kata Deni saat mereka semua tengah sarapan.


"Aku juga oma..." sambung Ayana yang membuat sang oma sedikit mengernyit.


"Aku mengerjakan tugas di rumah Dira oma..." tambah Ayana yang tak ingin bu Hasna mencurigainya.


"Oh... baiklah kalau begitu..." sahut bu Hasna.


Sedangkan Rendra tampak biasa saja saat kedua anaknya meminta izin. Kemudian mereka pun melanjutkan makan mereka lagi dengan tenang. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena tak lama kemudian Jihan datang dengan wajah polosnya.


"Selamat pagi semua..." sapanya dengan lembut.


Ia pun langsung cipika cipiki dengan bu Hasna demikian juga dengan Rendra. Tak lagi ada kecanggungan dari wanita itu memperlihatkan kemesraannya dengan Rendra meski disana ada kedua anak dari pria itu. Wanita ibu bahkan mendekat ke arah Deni yang untuk sekedar memeluk bocah itu seperti yang dulu sering dilakukannya. Namun Deni langsung menghentakkan sendoknya di atas meja dan langsung berpamitan tanpa mau disentuh oleh Jihan. Ayana pun langsung menyusul sang adik. Sikap Deni sungguh mengejutkan semua orang. Pasalnya dulu Deni tampak sangat dekat dengan Jihan dan bahkan sempat memanggilnya mami seperti ajaran Rendra dan bu Hasna.


"Ada apa dengan anak itu?" tanya Jihan yang kaget dengan perubahan sikap Deni padanya.


"Yang sabar ya sayang... mungkin Deni masih syok dengan kematian wanita itu... maklum saja, walau bagaimana pun juga dia itu mamanya..." kata bu Hasna mencoba menenangkan Jihan.


"Tapi hal ini tidak akan mempengaruhi rencana pernikahan kita kan sayang?" ucap Jihan yang cemas jika Rendra akan mengundurkan rencana pernikahan mereka yang rencananya tinggal dua minggu lagi.


Ia sudah menanti hal ini sangat lama... dan kali ini ia tidak boleh kembali gagal hanya karena anak Rendra tidak menyukainya.


"Tenang saja... semua akan berjalan sesuai rencana..." ujar Rendra berusaha menenangkan kekasihnya itu.


"Apa ini ulah Ayana yang memang sejak dulu tidak menyukaiku?" tanya Jihan dengan nada sedih.

__ADS_1


"Tidak mungkin sayang... anak itu tidak mungkin bisa mempengaruhi Deni, secara sejak dulu keduanya tidak pernah akur... kali ini mungkin karena masih dalam masa duka Deni bisa sedikit dekat dengan Ayana. Tapi yakinlah anak itu tidak akan pernah bisa membuat Deni menentang rencana pernikahan kita" kata Rendra yakin.


Jihan tersenyum lega, sebab sudah sejak dua puluh tahun yang lalu ia memimpikan hal ini. Sudah cukup ia menahan semuanya dan berpura-pura ikhlas saat melihat Rendra harus menikah dengan Siska. Apa lagi hingga mereka memiliki dua anak. Sesungguhnya sangat melelahkan untuk memerankan seorang wanita lemah lembut dan sering mengalah. Tapi demi bisa memiliki Rendra dia harus tetap melakukannya. Karena Rendra adalah mimpi dan tujuan hidupnya, bahkan jika ia harus melakukan berbagai cara yang tidak terbayangkan oleh orang lain bisa dilakukannya. Ya, tak ada yang bisa menghancurkan impiannya. Dan dia juga bahkan rela menunggu hingga puluhan tahun jika pada akhirnya pria itu bisa menjadi miliknya.


Karena untuk terang-terangan merebut pria itu dari istri sahnya akan merusak imej yang selama ini sudah dibangunnya dengan susah payah. Dan benar saja... kesabarannya akan segera membuahkan hasil. Ia tak keberatan jika harus menerima anak Rendra karena ia juga tak mungkin memilikinya sendiri meski pun ia nantinya menikah dengan pria itu. Karena sesungguhnya ia adalah wanita mandul. Inilah salah satu alasan mengapa ia rela melepaskan Rendra dulu untuk menikah dengan Siska. Sebab ia tahu setiap pria menginginkan keturunannya sendiri. Jika ia nekat menikah dengan Rendra dulu, maka rahasianya akan terbongkar dan bukan tidak mungkin jika pria itu akan meninggalkannya dengan sendirinya setelah tahu jika dirinya tidak akan pernah bisa memberinya keturunan. Jadi dia harus mengalah demi bisa memiliki Rendra pada akhirnya, toh Siska hanya menjadi istri pajangan dan pencetak anak saja bagi Rendra.


Sementara itu Ayana dan Deni hanya bisa bertukar pesan di dalam mobil untuk merencanakan kepergian mereka ke rumah bu Ratri. Sebab saat ini mereka tidak bisa mempercayai siapa pun termasuk orang-orang yang bekerja pada keluarga papanya. Tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi. Ayana dan Sadira pun segera keluar dari kelas mereka. Sesampainya di gerbang sekolah keduanya pun langsung berpisah karena Sadira sudah ditunggu oleh sopir keluarganya. Tak menunggu lama Ayana pun menerima telfon dari Deni yang mengatakan jika ia telah tiba dengan taksi online.


Saat melihat taksinyang ditumpangi Deni, Ayana pun bergegas masuk ke dalamnya. Setelah itu merekanpun meluncur menuju rumah bu Ratri. Sesampainya di rumah besar bergaya Victoria itu keduanya pun langsung turun dari dalam taksi setelah membayar ongkos. Kedua kakak beradik itu tampak berdiri tertegun di depan gerbang rumah yang menjulang tinggi. Kemudian keduanya pun mendekat ke arah gerbang bermaksud menemui satpam penjaga. Tapi alangkah terkejutnya mereka saat tak menemukan seorang pun yang berjaga disana. Apa lagi saat melihat pintu gerbang yang di rantai dan digembok.


"Kak..." ujar Deni sambil kemandang wajah Ayana penuh tanda tanya.


"Kakak juga tidak tahu dek..." sahut Ayana yang seolah tahu apa yang ada dalam fikiran adiknya itu.


Menilik gerbang yang di gembok dari luar keduanya pun akhirnya yakin jika saat ini rumah bu Ratri dalam keadaan kosong. Entah sejak kapan, keduanya pun tidak tahu. Karena terakhir kali mereka kemari adalah saat kematian bu Ratri dan itu artinya sudah lebih dari lima tahun yang lalu.


"Lalu kita harus bagaimana kak?" tanya Deni.


Ayana meneliti sekitar tempat itu.


"Kita harus masuk ke dalam dek... meski harus dengan memanjat tembok pagar..." kata Ayana.


"Tapi ini terlalu tinggi kak..."


"Kita cari sesuatu agar kita bisa memanjatnya..." ujar Ayana tak ingin menyerah.


"Kakak!" panggil Deni saat ia menemukan sesuatu.


Ayana pun langsung berlari mendekat ke arah Deni.


"Lihatlah!" tunjuk Deni pada sebuah retakan yang tampak pada salah satu sudut pagar pembatas.


Lokasi rumah bu Ratri memang bersebelahan dengan sebuah tanah kosong yang terbengkalai, sehingga kedua kakak beradik itu bisa memutari sisi rumah. Dan retakan tembok itu berada di bagian belakang di samping tanah kosong. Meski cukup menyeramkan namun kedua remaja tanggung itu sama sekali tidak merasa takut. Semua rasa takut itu telah lenyap saat mereka bertekat melakukan segala cara untuk mengungkap kejahatan Jihan sebelum wanita itu berhasil menikah dengan ayah mereka.


"Coba kita pukul dinding ini kak... semoga saja sudah rapuh jadi kita bisa membuat pintu masuk" usul Deni yang langsung disetujui oleh Ayana.


Keduanya pun segera mendorong dinding retak itu dengan menggunakan bahu mereka berdua. Butuh beberapa kali percobaan hingga akhirnya dinding itu benar roboh ke arah belakang dan membuat sebuah lubang pintu di sana. Keduanya pun segera membersihkan sisa puing yang menutupi jalan yang mereka buat. Lalu bergegas masuk ke area belakang rumah bu Ratri. Setelah itu keduanya berusaha mencari jalan masuk ke dalam bangunan rumah. Cukup lama keduanya mencari hingga akhirnya mereka menemukan pintu area laundry yang tidak terkunci. Dengan cepat keduanya langsung masuk ke dalam sebab area itu terhubung dengan dapur dan setelah itu area dalam rumah yang lainnya.


Tak lama keduanya kini sudah berada di dalam rumah dan tengah berusaha mencari ruang kerja tuan Suryono. Mereka berdua agak kesulitan karena meski tidak terlalu kotor tapi tetap saja suasana disana sangat pengap karena tak berpenghuni. Setelah beberapa saat salah memasuki ruangan, akhirnya keduanya pun berhasil menemukan ruang kerja tuan Suryono. Disana keduanya langsung memeriksa meja kerja tua Suryono mencari alat perekam suara yang ada di dalam rekaman cctv. Beruntung... Ayana dan Deni langsung bisa menemukannya. Karena entah kenapa alat itu bisa masih tetap berada di tempatnya sama seperti saat di dalam rekaman cctv.


"Alhamdulillah kak... alat ini masih tetap ada di sini meski sudah sekian lama..." kata Deni menunjukkan rasa bahagianya.


"Iya kau benar dek..." sahut Ayana yang juga merasakan hal yang sama dengan Deni.

__ADS_1


"Coba kita periksa dulu apakah isi rekamannya masih ada atau tidak..." sambungnya.


Deni pun mengangguk setuju dan keduanya pun segera mencoba menyalakan alat itu setelah sebelumnya mereka membersihkannya terlebih dahulu dari debu yang menempel pada benda itu.


Srrt... srek... krrt...


Terdengar suara alat perekam itu mulai bekerja.


"Ada apa opa ingin menemui aku?" terdengar suara seorang wanita yang sangat keduanya kenali dari dalam alat perekam itu.


"Apa maksudnya ini?" terdengar suara seorang pria yang Ayana dan Deni yakini sebagai suara opa buyut mereka berdua.


Sebab tuan Suryono memang meninggal sebelum keduanya lahir bahkan sebelum sang mama menikah dengan papa mereka.


Sraak!!


Terdengar seperti suara kertas dilempar di atas meja.


Hening...


"I... ini... pasti salah opa... aku tidak seperti itu!" bantah suara Jihan.


"Salah? salah dari mana Jihan? ini adalah hasil dari dokter yang menanganimu langsung! kau mau berbohong apa lagi hah! jelas-jelas disini dikatakan kalau kau mandul! mandul karena kesalahanmu sendiri... karena kau sering mengkonsumsi alkohol dan diet ketat... belum lagi obat-obatan yang kau minum selama ini... kau fikir aku tidak akan tahu?" cecar opa Suryono.


"Tapi aku sangat mencintai mas Rendra, opa... aku rela jika suatu saat nanti mas Rendra menikah lagi untuk mendapatkan keturunan... tapi aku mohon jangan batalkan pertunangan kami..."


"Kau fikir hanya karena itu aku marah padamu hah?" terdengar suara gebrakan meja yang mungkin dilakukan oleh opa Suryono.


"Kau fikir aku tidak tahu jika kau juga orang yang sudah membuat ayah Rendra mati?"


"Ma... maksud opa apa?"


"Aku tahu jika kematian menantuku itu juga atas campur tanganmu!"


"Tapi aku tidak punya alasan untuk melakukannya opa!" sanggah Jihan.


"Tidak punya alasan heh? kau tahu jika menantuku menemukan bukti jika selama ini kau juga telah menggelapkan aset perusahaanku... dan dia tengah mengumpulkan bukti... jadi kau menghabisinya, bukan begitu nona Jihan? ataukah harus ku panggil dengan nama aslimu nona Marisa Prawira... anak dari Duta Prawira manusia tidak tahu diri yang sudah berani mengkhianatiku dengan menggelapkan dana di perusahaan yang ku bangun sejak muda. Apa kau fikir aku tidak akan pernah tahu jika kau putri adalah orang itu? kau memang bodoh! kau ingin balas dendam padaku kan? padahal apa yang aku lakukan pada ayahmu itu wajar... karena dia memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di dalam penjara"


Hening...


Dua anak remaja yang tengah mendengarkan rekaman itu pun terlihat tegang.


"Lalu apa yang akan kau lakukan pak tua? mencoba menghancurkan semua yang telah aku rancang sekian lama? tidak semudah itu... kau tahu, kali ini langkahmu untuk menekanku salah. Karena aku akan tetap menikah dengan cucumu dan ikut menikmati hartamu...tapi kau jangan khawatir, aku benar-benar mencintai cucumu... jadi aku tidak akan melukainya... karena menjadi bagian dari keluargamu dan ikut menikmati hartamu itu sudah cukup untuk mengganti rugi masa-masa ayahku di dalam penjara..."

__ADS_1


"Kau!"


"Apa? kau ingin memyingkirkanku? tidak semudah itu pak tua..."


__ADS_2