BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Tamparan


__ADS_3

Sadira makin menjadi salah tingkah. Jujur saja... dia merasa seperti sedang dikuliti sekarang, saat menyadari jika Bara sedari tadi tidak melepaskan pandangannya pada dirinya.


"Hem... baiklah aku percaya padamu..." ujar Bara kemudian yang membuat Sadira langsung menghembuskan nafasnya lega sambil mengusap dadanya pelan.


"Terima kasih kak..." ucap Sadira kemudian.


"Kalau begitu aku bisa kembali ke kelasku sekarang kan kak?" sambungnya senang.


"Tentu saja tidak..."


"Hah? ta... tapi aku kan sudah mengerjakan hukumanku kak..." protes Sadira.


"Siapa bilang jika hukumanmu sudah selesai?" sahut Bara yang membuat Sadira hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


"S**l! hukuman apa lagi yang ingin ia berikan? benar-benar menyebalkan!" sungut Sadira dalam hati.


"Lalu apa lagi yang harus aku lakukan kak?" tanya Sadira berusaha tenang agar Bara tidak memberikan hukuman yang lebih parah lagi.


"Tenang saja... hukuman kali ini sangat ringan, jadi saya yakin kamu pasti bisa melakukannya" ucap Bara yang membuat Sadira malah semakin merasa ketar ketir.


"Baiklah... ayo sekarang kamu ikut aku!" titah Bara yang langsung dipatuhi oleh Sadira.


Tanpa canggung Bara langsung menggandeng tangan Sadira agar gadis itu mau berjalan disisinya. Sadira tampak terkejut dengan perlakuan Bara.


"Kak!" seru Sadira hendak memprotes perlakuan Bara yang sudah membuat jantungnya tidak karuan.


"Apa?" tanya Bara tanpa rasa bersalah.


"Ini!" tunjuk Sadira sambil mengangkat tangannya yang dipegang oleh Bara.


"Lalu?" tanya Bara lagi seolah tak terjadi apa-apa.


"Ish! kakak ini bagaimana? lepaskan dulu tanganku!" seru Sadira bertambah kesal.


"Kenapa?"


"Kenapa-kenapa? kakak tahu... kelakuan kakak ini sangat tidak sopan!" seru Sadira sambil menyentakkan tangannya.


Namun tetap saja Bara tidak juga melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sadira.


"Ish... kakak ini maunya apa sih?" ujar Sadira sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bara.


"Aku maunya kamu nurut dan ikut sama aku!"


"Iya... tapi ga usah pakai pegang-pegang juga! aku kan bukan siapa-siapanya kakak!" seru Sadira bertambah sebal.


"Apa kau lupa kalau kita sudah jadian?"


"Hah? kapan?" tanya Sadira bingung.


"Barusan..." sahut Bara enteng.


"Ta... tapi aku..."

__ADS_1


"Bukankah aku sudah kasih jawaban kalau aku juga mencintaimu?"


"Eh?"


"Itu... surat cintamu... sudah aku jawabkan tadi?"


"Jadi catatan itu?"


"Ya... itu jawabanku atas surat cintamu kemarin..."


"Tapi kak... surat cinta itu kan cuma tugas hukuman dari kak Rafa..." elak Sadira.


"Tapi itu benar dari dalam hatimu kan?"


"Hah? maksudnya?"


"Aku tahu kamu juga suka sama aku kan? jadi mulai sekarang kita jadian..." ucap Bara tidak sabar dengan tingkah Sadira yang menurutnya sangat menggemaskan.


Sadira mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Kakak bercanda ya?" ujar Sadira sambil terkekeh canggung.


"Sejak kapan aku bilang bercanda?" sahut Bara sambil mendekatkan wajahnya pada Sadira.


Wajah gadis itu pun langsung memerah saat menyadari jika wajah keduanya kini hampir tidak berjarak. Bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas hangat dari cowok yang ada dihadapannya itu.


Cup!


Sadira membelalakkan matanya saat tiba-tiba Bara mengecup sebelah pipinya singkat.


Reflek Sadira langsung menampar wajah Bara yang membuat sebelah pipi Bara memerah.


"Jangan sembarangan menciumku kak! aku bukan cewek murahan yang bisa kamu perlakukan seenaknya!" seru Sadira dengan wajah memerah dan dadanya yang naik turun karena emosi.


Sadira langsung meninggalkan Bara sendirian disana dengan penuh emosi. Sementara Bara masih terpaku ditempatnya berdiri tadi sambil mengelus sebelah pipinya yang terasa panas. Untung saja lorong sekolah tempat keduanya tadi berdiri sepi. Hingga tidak ada yang menyaksikan saat Sadira menamparnya.


"Maaf..." gumam Bara lirih.


Ia baru menyadari perbuatannya yang sangat berani barusan. Bara pun langsung mencari keberadaan Sadira untuk meminta maaf pada gadis itu. Ia sungguh tak mengerti pada dirinya sendiri saat ini... bagaimana bisa ia mencium Sadira tanpa persetujuan gadis itu. Pantas saja gadis itu marah padanya...


"Dira! Sadira!" panggil Bara berlari menyusul Sadira.


Bara mencoba mencari Sadira di setiap sudut sekolah berharap bisa bertemu dengan gadis itu dan menjelaskan semuanya agar gadis itu mau memaafkan kelancangannya. Tapi setelah berkeliling sekolah ia tak juga menemukannnya. Satu-satunya tempat yang belum ia datangi adalah ruang kelas Sadira. Lalu Bara pun bergegas pergi ke sana dan berharap gadis itu benar ada disana.


Sementara Sadira kini sudah berada di dalam toilet, dan sedang menangis sambil memandang wajahnya di depan cermin. Keadaan toilet yang sepi membuat gadis itu bisa puas menangis. Jika ada yang mengatakan jika Sadira cengeng dan kuno karena marah akibat dicium oleh Bara maka biar saja... sebab sedari kecil tak ada yang melakukan hal itu padanya kecuali keluarga dekatnya. Dan mereka juga berhenti melakukan hal itu semenjak ia beranjak remaja kecuali para wanita di keluarganya dan kedua orangtuanya serta kedua kakak kembarnya.


Sadira membasuh wajahnya dengan air agar tak ada yang tahu jika ia baru saja menangis. Ia bahkan menggosok pipinya agar bekas ciuman Bara hilang dari sana...


"Dasar cowok b***g**k! gayanya saja sok cool tapi kelakuannya sama saja dengan playboy" sungut Sadira sambil membersihkan wajahnya dengan tissu.


Setelah memastikan penampilannnya cukup rapi, ia pun segera keluar dari dalam toilet dan bergegas kembali ke dalam kelasnya. Saat ia masuk ke dalam kelas ia pun langsung duduk kembali ke tempat duduknya disamping Hana setelah meminta izin masuk ke dalam kelas pada kakak seniornya yang ada di sana.


"Apa kamu ga pa-pa Ra?" tanya Hana yang khawatir Sadira mendapatkan hukuman yang berat dari Bara.

__ADS_1


"Ga pa-pa kok Na..." sahut Sadira sambil menampilkan senyumannya agar Hana tidak mengkhawatirkannya.


"Syukurlah... aku sempat khawatir tadi... kalau kamu mendapatkan hukuman yang berat dari kak Bara..."


"Ga kok Na... cuma suruh menyalin catatan saja" terang Sadira yang membuat Hana lega.


Mereka pun kembali fokus pada tugas yang diberikan kakak senior mereka. Tak lama tampak Bara masuk ke dalam kelas Sadira. Cowok itu tampak khawatir, dan langsung mencari keberadaan Sadira dengan matanya. Saat menemukan gadis itu ada di dalam kelas, ia pun merasa lega. Namun Sadira tampak tidak mau menghiraukan keberadaannya, terbukti gadis itu malah menundukkan kepalanya saat Rafa menyapa Bara.


"Dari mana aja lo?" tanya Rafa yang tadi melihat Bara bersama Naya setelah memberi hukuman pada Sadira.


"Mojok ama Naya ya?" seru Reno teman mereka berdua yang tadi juga melihat Bara dan Naya bersama.


Bara tak mau menjawab pertanyaan kedua temannya itu, tapi tatapan matanya tak mau lepas dari Sadira yang sedari tadi tak mau mengangkat wajahnya.


"Eh... Bara!" seru Rafa menyadarkan Bara yang sedari tadi larut dalam lamunannya sambil memandang Sadira.


"Lo kenapa? ada masalah sama anak baru itu?" bisik Rafa saat memperhatikan sahabatnya itu dari tadi menatap ke arah Sadira.


Bara menggelengkan kepalanya pelan.


"Gua yang punya salah sama dia..." sahut Bara pelan.


"Maksud lo?"


"Gua ga bisa cerita sekarang oke?"


"Oke... tapi sepulang sekolah nanti lo harus cerita sama kita..." ucap Rafa yang langsung diangguki oleh Bara.


Selama sisa waktu orientasi hari itu, Sadira tak pernah mau jauh dari Hana dan teman sekelas lainnya. Sadira tidak mau Bara menemuinya bila dirinya sendirian. Ia masih syok dan merasa jika Bara sudah melecehkannya. Karena itu ia tidak mau bertemu dengan cowok itu sendirian. Sedang Bara jadi frustasi saat menyadari jika Sadira benar-benar marah padanya dan tidak ingin dekat dengannya. Saat bel pulang sekolah berbunyi, Sadira segera keluar dari dalam kelas dan bergegas menuju gerbang sekolah meski harus berdesakan dengan murid lainnya. Untung saja hari ini pak sopir menjemputnya tepat waktu. Sehingga saat sampai di gerbang Sadira langsung bisa masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.


Di dalam kamar Bara saat ini sudah ada kedua sahabatnya yang tadi ikut pulang ke rumahnya. Ketiganya kini tengah berkumpul untuk mendengarkan penjelasan Bara tentang masalahnya dengan Sadira, setelah sebelumnya mereka makan siang di rumah Bara.


"Sekarang ceritakan pada kita ada masalah apa antara kamu sama anak baru itu?" tanya Rafa sambil tiduran di kasur lantai di kamar Bara.


Bara menghela nafasnya pelan. Sedikit malu sebenarnya untuk menceritakan kejadian tadi saat ia ditampar Sadira setelah berani mencium pipi gadis itu. Tapi ia harus melakukannya agar kedua temannya itu bisa membantunya untuk mendapatkan maaf dari Sadira.


"Lo memang gila Bara! lo tahu kan kalau tuh cewek bukan cewek sembarangan yang suka tebar pesona dan mau melakukan apa saja buat menarik perhatian lo... dia itu cewek polos Bara... dan bisa-bisanya lo cium dia tiba-tiba... walau cuman dipipi, tapi itu udah melukai harga diri dia tahu!" seru Rafa.


"Gua juga ga tahu bagaimana bisa gua ngelakuin hal itu sama dia... lo tahu? saat dekat sama dia gua sama sekali ga bisa nahan perasaan gua... gua fikir ciuman itu sebagai bukti kalau gua benar sayang sama dia Rafa... bukan buat ngelecehin dia..."


"Tapi buktinya dia malah merasa dilecehin sama lo Bara..." sahut Rafa.


"Lalu gua harus gimana? gua bener-bener sayang sama dia, Rafa... gua gak mau kehilangan kesempatan buat bisa deket sama dia..." ujar Bara dengan suara putus asa.


"Gua juga ga tahu Bara..."


Reno tampak iba pada sahabatnya yang satu itu tapi sama seperti Rafa... ia juga tidak tahu harus memberi saran apa pada Bara.


"Mungkin akan lebih baik untuk beberapa hari ini lo ga usah deketin dia dulu Bara... beri ruang buat dia untuk memikirkan perasaan dia yang sesungguhnya sama lo... mungkin saja dia akan merasa rindu sama lo disaat lo ga ada..." usul Reno setelah berfikir cukup lama.


"Tapi gimana kalau ada yang coba buat deketin dia? gua ga bisa terima kalau itu bener terjadi Ren..." ucap Bara khawatir.


"Lo ga usah khawatir biar gua sama Rafa yang atur agar ga ada cowok lain yang berani deketin cewek itu..." sahut Reno menenangkan Bara.

__ADS_1


Rafa pun langsung mengangguk bahwa dia setuju dengan yang dikatakan oleh Reno. Bara pun mulai tersenyum dan berterimakasih pada kedua sahabatnya itu. Sedang di rumahnya, Sadira tampak langsung masuk ke dalam kamarnya setelah tadi sampai diantar oleh sopir. Untung saja kedua orangtuanya dan juga kakak kembarnya sedang tidak ada di rumah. Karena saat ini wajah Sadira tampak masih ditekuk akibat kejadian tadi di sekolah bersama Bara.


Gadis itu bahkan tidak makan siang akibat memikirkan kejadian tadi. Meski sang Art sudah memperingatkannya untuk makan siang namun gadis itu masih saja enggan. Hanya setelah sang Art berkata akan melaporkannya pada sang kakak lah ia akhirnya mau makan meski di dalam kamar. Dan ternyata memang dia benar-benar membutuhkan asupan makanan di saat fikirannya sedang kacau seperti saat ini. Lihatlah... ia bahkan tidak mampu menceritakan kejadian tadi pada Ayana saat gadis itu menelfonnya dari asrama. Meski begitu moodnya jadi langsung membaik setelah mereka selesai berbagi kabar. Atau lebih tepatnya Ayana lah yang melakukannya. Karena Sadira lebih banyak diam dan hanya mendengarkan perkataan sahabatnya itu, karena entah mengapa fikirannya kini malah terpaut pada Bara... cowok menyebalkan yang sudah mencuri ciuman darinya.


__ADS_2