BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Reuni 2


__ADS_3

Percakapan Amira, tuan Sam, Sandra dan Dave pun terhenti saat si kembar terbangun dari tidurnya dan mulai menangis karena lapar. Amira yang selalu sedia stock ASInya langsung mengambilnya diwadah khusus yang ia bawa. Melihat itu Sandra langsung berinisiatif membantu dengan menggendong salah satu bayi Amira.


"Biar aku bantu Ra" ucapnya sambil menggendong Sahir.


Amira pun menyerahkan botol ASInya pada Sandra. Tampak gadis itu sama sekali tidak canggung menangani Sahir. Bahkan bayi itu tampak nyaman menyedot susunya dari botol sambil digendong Sandra. Sementara Amira mengurus Samir yang juga lapar.


"Kau sudah pantas jadi ibu..." celetuk Amira saat melihat Sandra yang begitu telaten mengurus Sahir.


"Hemm... siapa dulu..." sahut Sandra sambil terkekeh.


"Lagi pula aku kan kerja ditempat penitipan anak..." sambungnya masih sibuk dengan Sahir.


"Lalu abah sama umi gimana kabarnya?" tanya Amira teringat dengan kedua orangtua Sandra.


"Abah sudah pensiun dan sekarang membantu umi yang buka warung kelontong dirumah..." terang Sandra.


"Boleh aku main ke rumahmu?"


"Tentu saja Ra... abah sama umi kangen banget sama kamu ... jadi pasti mereka senang kalau kamu datang"


Amira pun langsung menoleh ke arah tuan Sam.


"Db... sebelum pulang kita ke rumah San San dulu ya..." pintanya sambil menunjukkan mimik memelasnya.


Tuan Sam pun langsung mengangguk setuju pasalnya ia juga ingin mengenal keluarga sahabat istrinya itu. Sekaligus mencaritahu masa lalu Amira agar ia dapat lebih memahami istrinya itu. Bahkan ia juga menawari Dave untuk ikut dengan mereka. Tanpa fikir panjang pria bermata biru itu langsung menyetujuinya.


"Mungkin gadis itulah jodohku yang sebenarnya..." batin Dave sambil memandang Sandra yang tengah menggendong Sahir.


Setelah itu mereka pun segera pergi ke rumah Sandra. Tuan Sam berangkat dengan Amira. Dave menggunakan mobilnya sendiri. Sebagai penunjuk jalan Sandra berada didepan menggunakan sepeda motor. Ya sebab Sandra memang membawa motor saat pergi ke mall tersebut.


Iring-iringan motor dan mobil itu pun berjalan sedikit jauh karena rumah Sandra berada di pinggiran kota. Sesampainya di rumahnya Sandra terlebih dahulu memarkirkan motornya dan langsung masuk ke dalam warung yang berada di samping rumahnya. Pada jam seperti ini kedua orangtua Sandra masih berada di dalam warung.


Saat putrinya mengatakan jika ia bertemu dengan Amira dan mengajaknya datang ke rumah membuat kedua orangtua Sandra langsung menghambur keluar untuk menyambut Amira.


"Ya Allah Ra... umi kangen banget... ga nyangka kamu udah dewasa dan sudah berkeluarga" kata bu Zaenab ibu dari Sandra sambil memeluk Amira.


"Udah mi... itu lihat suami Amira kerepotan bawa dua bayinya!" seru pak Dahlan suaminya.


"Iya... coba sini umi pengen lihat anak-anak kamu" ujar bu Zaenab sambil mendekat ke arah tuan Sam yang membawa Sahir dan Samir dengan stroller.


Ia pun mengambil Samir dari dalam stroller dan menciumi pipi bayi gembul itu dengan gemas.Bu Zaenab memang sudah sangat ingin menimang cucu namun sampai saat ini Sandra putri satu-satunya belum menikah.


Orangtua Sandra pun mengajak tamunya masuk ke dalam rumah mereka. Rumah sederhana yang tidak terlalu luas namun sangat nyaman. Apa lagi masih terdapat halaman yang berisi tanaman yang menyejukkan.


"Amira ini dulu murid kesayangan abahku kak..." terang Sandra pada tuan Sam saat mereka tengah berbincang.


"Murid? jadi dulu abah seorang guru?" tanya tuan Sam penasaran.

__ADS_1


"Bukan... dulu saya hanya seorang sopir perusahaan... cuma dulu setiap sore saya mengajar karate untuk anak-anak di kampung" kata pak Dahlan menjelaskan.


"Hemmm jadi keahlian beladirinya itu belajar dari bapak?"


"Iya... saat itu hanya Amira yang paling rajin diantara murid saya yang lainnya termasuk anak saya sendiri..." kekeh pak Dahlan.


"Iya... si Sandra itu dulu lebih senang main di sungai dari pada latihan" sahut bu Zaenab sambil meletakkan teh hangat diatas meja sebagai suguhan.


"Makanya Sandra itu lebih jago berenang dari pada karate..." imbuh pak Dahlan.


"Lalu kenapa Amira sama sekali ga bisa berenang?" tanya tuan Sam.


"Dia trauma kak..." sahut Sandra.


"Trauma?"


"Iya... dulu dia pernah terpeleset lalu jatuh ke sungai dan hampir tenggelam saat umur 5 tahun" terang bu Zaenab yang dulu mendengar cerita itu dari almarhumah ibu Amira.


"Jadi karena itu kamu selalu menunda untuk belajar renang Ra?" tanya tuan Sam pada Amira.


"Iya B... maaf aku ga cerita sama kamu" sahut Amira menggenggam tangan suaminya itu.


Tuan Sam pun mendesah pelan. Ia semakin merasa bersalah karena tak mengetahui ketakukan istrinya. Amira memang wanita tangguh namun tetap saja dia seorang manusia. Bahkan superman pun punya kelemahan bukan? Sementara Dave tampak sedikit merasa terabaikan karena tak begitu mengerti bahasa.


"Lho dari tadi tuan ini kok ga diajak ngobrol..." seru pak Dahlan yang menyadari jika sedari tadi Dave hanya diam.


Tuan Sam pun langsung menoleh pada Dave dan meminta maaf karena tidak sengaja sudah mengabaikannya.


"It's ok..." sahut Dave.


Mereka pun berbincang dengan tuan Sam menjadi penterjemah bagi Dave. Saat makan siang pak Dahlan pun mengajak tamunya untuk makan siang bersama. Namun sebelumnya mereka melaksanakan sholat dhuhur bersama kecuali Dave. Ya pria itu bukan muslim. Namun jika dikatakan memeluk suatu agama lain ia juga tak memeluknya. Pasalnya ia seorang atheis yang terlahir dari keluarga kristen.


Saat makan siang dengan menu sederhana namun membuat penikmatnya sangat berselera. Bahkan Dave yang baru pertama kali mencicipinya juga jadi ketagihan pada sayur asem dan ikan asin. Hari sudah beranjak sore saat tuan Sam, Amira dan Dave pamit pada pak Dahlan sekeluarga. Mereka pun pulang dengan mobil masing-masing.


Sesampainya di rumah Amira langsung membawa kedua buah hatinya ke dalam kamar dibantu oleh tuan Sam. Setelah itu pengasuh Sahir dan Samir pun segera menjaga keduanya. Sementara Amira dan tuan Sam masuk ke dalam kamar mereka.


"Kau lelah B? maaf hari ini aku membuatmu berkeliling dan bukannya membiarkanmu beristirahat di dalam rumah" ucap Amira sambil menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


"Tidak... aku sama sekali tidak lelah..." sahut tuan Sam lalu memeluk tubuh Amira dari belakang.


"Benarkah?" tanya Amira sambil mengelus lengan suaminya yang melingkar di pinggangnya.


"Tentu... kau mau membuktikannya?" tanya tuan Sam dengan suara serak berbisik di telinga Amira.


Seketika wanita itu merinding saat nafas tuan Sam berhembus pelan di ceruk lehernya.


"Bagaimana? apa kau mau membuktikannya sekarang?" desak tuan Sam sambil mengedus leher istrinya itu.

__ADS_1


Tubuh Amira pun semakin meremang apalagi tuan Sam semakin agresif untuk menggoda Amira.


"Db..." desah Amira yang sudah mulai tergoda.


Dan akhirnya mereka pun melakukan olahraga siang yang membuat siang yang panas itu semakin bertambah panas. Keduanya terlena dengan kegiatan mereka hingga akhirnya keduanya pun lemas setelah bergulat hampir dua jam.


"Maafkan aku jika selama ini aku kurang peka pada perasaanmu" kata tuan Sam saat keduanya terbaring berhadapan di dalam selimut.


"Ga kok B... aku saja yang kurang terbuka padamu" sahut Amira menempelkan kepalanya didada tuan Sam.


"Hemmm... kita sama-sama kurang terbuka selama ini... jadi kedepannya harus kita perbaiki" kata tuan Sam mengelus rambut Amira yang tergerai.


Amira pun mengangguk setuju. Dalam hatinya ia sangat bersyukur memiliki suami tuan Sam. Jarang ada pria yang mau menerima kondisi istrinya apa adanya terutama tentang fisik. Namun ia merasa beruntung tuan Sam tak pernah mempermasalahkannya bahkan pria itu akan marah jika Amira memaksa untuk diet. Karena bagi tuan Sam diet itu perlu untuk kesehatan bukan cuma untuk tampilan sempurna.


Setelah mengobrol sebentar keduanya pun akhirnya tertidur dengan saling berpelukan. Sementara di kamar hotelnya tampak Dave tengah termenung. Ia tersentuh dengan apa yang ia lihat tadi di rumah Sandra. Betapa keluarga sederhana itu tampak tentram menjalankan ibadahnya begitu juga dengan tuan Sam dan Amira. Tampaknya mereka orang-orang yang tekun dalam beribadah walau tak terlalu memperlihatkannya.


Apalagi saat Dave melihat wajah Sandra yang tampak semakin bercahaya saat wajahnya basah terkena air wudhu sebelum sholat. Ya Dave baru tahu jika seorang muslim akan mengambil air wudhu sebelum beribadah. Dave mendesah pelan... apakah ia juga akan merasa tentram jika ia mau beribadah? Sementara ia juga bingung agama mana yang akan ia peluk.


Berbagai fikiran berkecamuk di dalam dada pria bermata biru itu. Ia akui sejak mulai beranjak dewasa ia tak pernah beribadah dengan rajin hanya acara besar di agama orangtuanya saja yang ia ikuti. Mungkinkah karena itu ia selalu saja merasa kosong? meski sudah banyak harta yang ia kumpulkan. Dan pendamping hidup... ia juga tak tahu kriteria yang bisa membuatnya bahagia dalam arti yang sesungguhnya jika memilih wanita sebagai pendamping hidupnya.


Namun saat melihat Amira yang membuat tuan Sam berubah ia menjadi seperti memiliki gambaran pendamping yang ia inginkan. Dan saat bertemu dengan Sandra... gadis itu sungguh membuatnya merasakan sesuatu yang lain dalam hatinya. Sikapnya yang tak berbeda dengan Amira membuat Dave merasakan ketulusan yang dimiliki oleh gadis itu meski keduanya juga masih memiliki perbedaan. Namun itu bukan masalah toh setiap manusia itu memang berbeda? karena disitulah terlihat keindahannya.


Dave tersenyum kecil saat melihat foto Sandra pada layar ponselnya yang ia ambil diam-diam saat di rumah gadis itu tadi.


"Kau tampak imut dan menggemaskan San San" gumamnya.


Sedang di rumah Sandra ayah dan ibunya tengah membahas Amira dan keluarga kecilnya. Tampak pak Dahlan dan bu Zaenab ikut bahagia atas kebahagiaan yang kini dialami oleh Amira. Apa lagi setelah Sandra bercerita jika kedua orantua Amira telah meninggal dunia saat ia baru lulus SMU.


"Jadi selepas SMU Amira merantau kemari sendiri?" tanya pak Dahlan.


"Iya bi... tadi Amira bicara begitu" sahut Sandra.


"Kasihan... pasti ia sangat kesusahan saat itu ketika mencari pekerjaan yang layak hanya dengan ijasah SMU" kata bu Zaenab membayangkan Amira yang hidup sedirian di kota besar.


"Iya mi... tapi karena itulah akhirnya ia bisa bertemu dengan suaminya..." ujar Sandra.


"Iya... kalau di kampung mana ada pria ganteng dan sukses seperti nak Sam itu" celetuk pak Dahlan yang langsung disetujui oleh bu Zaenab dan Sandra.


"Nah sekarang kau lihatkan... Amira juga sudah menikah... bahkan sudah mempunyai dua anak... jadi kamu kapan menyusulnya?" tanya pak Dahlan tiba-tiba.


"Ih abi... kenapa jadi membahas itu sih?" tukas Sandra.


"Iya San... kalian kan seumuran... abi dan umi juga ingin melihat kamu menikah... syukur-syukur dapat suami seperti nak Sam yang menyanyangi istrinya dan juga kaya..." ucap bu Zaenab sambil terkekeh.


"Umi..." seru Sandra yang tahu jika kedua orantuanya itu sedang menggodanya.


Meski memang keduanya menginginkan Sandra menikah namun mereka tak mau memaksa putri mereka itu untuk segera menikah karena keduanya yakin jika jodoh itu sudah diatur oleh Allah. Sehingga kapan, siapa dan bagaimana jodoh itu mereka yakin Allah telah mempersiapkannya untuk putri semata wayang mereka. Dan mereka tahu jika itu yang terbaik bagi Sandra.

__ADS_1


__ADS_2