
Ricko berjalan sambil bersiul senang saat menuju ke mobilnya. Baru saja ia berhasil mendapatkan tender dari klien yang kemarin hampir saja membatalkan kerja samanya akibat dirinya yang membuat klien itu harus menunggu lebih dari satu jam untuk bertemu dengannya. Namun dengan keahliannya dalam berbicara dan didukung dengan wajah tampan penuh kharisma, ia pun berhasil meluluhkan hati kliennya itu yang merupakan seorang wanita muda. Memang tidak diragukan lagi jika Ricko memiliki pesona yang sangat kuat bagi para wanita jika ia memang menginginkannya.
Wajah tampan dan body yang sempurna bak model membuat banyak wanita bisa dengan mudah bertekuk lutut dihadapannya. Namun selama ini ia selalu saja menjaga imejnya sebagai anak cupu sehingga ia tidak begitu populer di kampusnya. Hanya di club pecinta alam ia bisa menunjukkan sisi machonya. Meski tetap saja pesonanya tak begitu kentara. Ya... selama ini ia memang sengaja menutupi pesonanya. Tapi setelah bertemu Sadira ia mulai berubah... ia ingin menarik perhatian gadis muda itu. Apa lagi sekarang ada pemuda yang kini tengah dekat dengan Sadira dan menjadi saingannya.
Setelah berhasil membuat papanya bangga dengan keberhasilannya mendapatkan klien besar, Ricko langsung memanfaatkannya untuk bisa pulang lebih cepat dari perusahaan agar bisa pergi ke rumah Samir. Sang papa yang kagum karena kecerdasan putranya pun tak keberatan untuk memberikan sedikit kebebasan pada Ricko. Dan kini dengan penuh semangat Ricko mengendarai mobilnya menuju ke rumah Samir.
Sesampainya di sana, tampak seluruh teman satu clubnya sudah berkumpul. Mereka terlihat berkumpul di teras depan sambil mengobrol.
"Hai bro! sorry gua telat..." sapa Ricko begitu menapaki teras rumah Samir.
"Wow! ada acara apa nih? kok penampilan lo berubah drastis seperti ini?" tanya Hadi yang kaget dengan penampilan Ricko yang tampak rapi mengenakan kemeja kantoran.
"He... he... sorry, gua tadi harus bantu bokap gua dulu di kantor bentar... jadi gini deh" terang Ricko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ha... ha... ha... gua ga nyangka kalo lu bisa kelihatan keren juga..." cetus Bagas yang disetujui oleh yang lainnya.
"Kenapa ga dari dulu saja lu berpenampilan keren kayak gini? jadinya kan club kita akan memiliki daya tarik baru selain Sahir dan Samir, jadi bisa banyak menarik anggota baru... dan pastinya para cewek" sambung Hadi sambil menaik turunkan alisnya.
"Ah lu... fikiran lu itu cewek mulu!" sergah Bagas sambil menoyor kepala Hadi.
"Ye... kan lu juga yang akan senang kalo anggota club kita banyak ceweknya..." sanggah Hadi yang tak mau kalah.
"Udah-udah... diem lu pada! kita ini ada di rumah orang, jadi jangan berisik kayak di pasar!" sergah Wira teman mereka yang lain.
"Eh... emang Sahir sama Samir mana?" tanya Ricko yang justru tak melihat si tuan rumah.
"Kata Artnya mereka belum pulang, sebentar lagi mungkin... mana bundanya juga masih keluar, makanya kita nunggu di sini" terang Wira.
Tak lama terlihat mobil Sahir dan Samir memasuki halaman rumah.
"Nah tuh mereka datang!" seru Hadi.
Sahir dan Samir langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiri teman-teman mereka.
"Kalian udah lama?" tanya Sahir begitu keduanya sampai di hadapan teman-temannya.
"Ga kok... kami baru aja datang..." sahut Bagas mewakili yang lain.
"Kalo gitu ayo kita ke halaman belakang biar enak ngobrolnya..." ajak Samir yang langsung diikuti oleh yang lainnya.
__ADS_1
Saat melewati ruangan dalam rumah, Ricko mencoba untuk meneliti sekelilingnya. Berharap bisa melihat pujaan hatinya, Sadira. Namun harapannya ternyata tidak terwujud, karena gadis itu sama sekali tidak terlihat dimana pun. Ricko mendesah kecewa. Dengan langkah berat ia mengikuti teman-temannya ke halaman belakang. Hampir satu jam mereka berdiskusi untuk merencanakan pendakian mereka berikutnya. Dan kini mereka tengah bersantai sambil menikmati camilan dan juga minuman yang disediakan oleh Art di sana. Ricko yang sedari tadi berusaha menyembunyikan rasa kecewanya karena belum juga melihat Sadira langsung berubah cerah saat ia mendengar tawa seseorang yang sedari tadi ditunggunya.
Seketika ia langsung mencari sumber suara. Dan pandangannya langsung tertumbuk pada balkon lantai dua di rumah Samir. Tampak disana Sadira tengah berdiri menyandar di pagar balkon sambil menempelkan ponselnya di telinganya. Sepertinya ia tengah menerima telfon dari seseorang yang dekat dengannya. Penampilan gadis itu yang hanya mengenakan T-shirt dengan celana pendek selutut membuat Ricko terpesona. Apa lagi rambut gadis itu yang dikuncir satu ke belakang membuat leher jenjangnya terekspos. Sesekali tiupan angin membuat anak rambutnya bergoyang dilehernya dan memberikan kesan s*k*i. Membuat Ricko tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
Wajah Sadira yang merona sambil tertawa membuat seketika fikiran Ricko tertuju pada pemuda yang kemarin dilihatnya bersama Sadira. Mungkinkah saat ini yang sedang berbicara dengan gadis itu adalah pemuda yang kemarin? Dada Ricko langsung merasa mendidih membayangkan jika saat ini pemuda itu tengah merayu Sadira yang membuat gadis itu terus tersenyum dengan wajah merona. Sahir yang tidak sengaja melihat ke arah Ricko pun tampak mengerutkan dahinya saat melihat wajah pemuda itu yang ditekuk.
Ia pun mengarahkan pandangannya pada obyek yang dilihat oleh Ricko. Namun sayangnya ia tak menemukan keanehan. Pasalnya baru sedetik yang lalu Sadira kembali masuk ke dalam kamarnya, sehingga Sahir tidak melihat jika adiknya itu lah yang tadi menjadi perhatian Ricko. Sahir pun kembali tak memikirkan apa yang membuat Ricko tak senang.
Sementara di dalam kamarnya, Sadira tengah bahagia karena baru saja Ayana menelfonnya dan mengatakan jika minggu ini ia akan pulang dari asrama. Ia pun segera menyusun rencana agar bisa pergi bertiga dengan Ayana dan Hana. Ia berencana untuk mengadakan acara menginap bersama. Ia pun kini menghubungi Hana untuk menyampaikan idenya itu. Tak butuh waktu lama, Hana langsung mengangkat panggilannya. Setelah saling sapa sebentar, Sadira pun langsung menyatakan idenya. Hana pun langsung setuju dan ia bahkan mengusulkan untuk mengadakan acara menginap itu di rumahnya. Setelah keduanya sepakat, Sadira pun mengirimkan pesan pada Ayana tentang rencana yang sudah disusun olehnya dan juga Hana.
Ting!
Terdengar bunyi ponsel Sadira yang menandakan pesan masuk disana.
"Oke Ra, nanti aku minta izin sama oma..."
Sadira pun tersenyum senang, dan langsung menjawab pesan Ayana dengan emot jempol dan wajah bahagia. Setelahnya ia pun kembali mengirimkan pesan, kali ini untuk Hana. Dan akhirnya ketiganya sepakat akan menghabiskan libur Ayana dari asrama dengan menginap di rumah Hana.
Sementara itu, Ricko berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan mengobrol dengan temannya. Meski ia masih ingin bertemu dengan Sadira, tapi ia tak memiliki alasan agar tak ada yang mencurigainya. Ia juga kecewa karena tadi tak bisa mengambil gambar Sadira karena ia tengah berada diantara teman-temannya. Padahal ia ingin mengabadikan leher jenjang gadis itu untuk menambah koleksinya.
Tak terasa sudah hampir dua jam teman-teman Sahir dan Samir berada di rumah mereka. Akhirnya setelah sepakat menentukan tempat dan waktu pendakian, mereka pun pamit pulang. Saat melewati area dapur mereka melihat Amira dan Sadira yang tengah sibuk berkutat disana. Tentu saja mereka langsung menyapa sebagai bentuk kesopanan. Hal ini tentu saja membuat hati Ricko berbunga-bunga. Pasalnya ia bisa bertemu lagi dengan Sadira secara langsung. Tapi karena disana ada banyak orang, ia tak mampu untuk menunjukkan perhatiannya dengan jelas.
"Rick... lu ada masalah?" tanya Sahir sambil menepuk pundak Ricko pelan.
Ia memang sudah tidak tahan untuk tidak bertanya karena ia merasa sangat penasaran dengan perubahan mimik wajah Ricko yang berubah-ubah.
"Hah? oh... ga kok Sa..." sahut Ricko agak terbata.
"Oh... gua kira ada apa... soalnya lu tadi kelihatan murung..." ujar Sahir yang tak ingin terlalu mempermasalahkan.
"Ah... itu tadi gua inget kalo dari sini gua harus balik ke kantor, padahal gua bete banget kalo harus ke sana lagi..." alasan Ricko.
"Emang kenapa?"
"Hemm... gua ga merasa cocok aja disana... bukan passion gua... tapi bokap gua yang maksa karena gua anak tunggal" terang Ricko sambil mencoba mengambil hati Sahir.
Karena untuk Samir ia sudah bisa dekat. Sementara Sahir agak sulit, karena pria itu memang terkesan agak dingin dibanding sang adik meski dengan teman sesama cowok. Ia hanya berbincang sekedarnya, berbeda dengan Samir yang bisa akrab dengan siapa saja baik cewek maupun cowok. Dan kesempatan berbincang seperti ini tidak disia-siakan oleh Ricko. Anggap saja ini pdkt pada calon kakak ipar. Dalam hati Ricko terkekeh dengan pemikirannya saat ini.
"Oh... tapi sekarang lu kelihatan senang, apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Itu... tadi bokap gua bilang kalo gua ga usah balik ke kantor lagi soalnya klien yang seharusnya datang menemui gua di kantor mendadak membatalkan pertemuannya..." terang Ricko lancar dengan kebohongannya.
Sahir pun menganggukkan kepalanya mengerti dan tidak lagi bertanya pada Ricko. Ricko pun merasa tenang karena Sahir tidak mencurigainya macam-macam. Setelah masuk ke dalam mobilnya, tak sengaja ia melihat Sadira yang keluar dari pintu samping rumahnya dengan mengendarai motor. Ricko pun langsung berinisiatif untuk mengikuti gadis itu. Ternyata Sadira berhenti di depan sebuah mini market. Mungkin saja gadis itu akan membeli sesuatu di sana. Ricko langsung kekuar mengikuti Sadira masuk ke dalam mini market.
Dilihatnya Sadira memilih-milih barang yang akan ia beli. Gadis itu masih mengenakan pakaian yang sama, T-**** dan celana selutut. Tampak biasa saja namun bagi Ricko tampak mempesona dan s**s*... dengan perlahan ia pun mengeluarkan ponselnya, dan dengan diam-diam ia pun mulai mengambil gambar Sadira. Ada sensasi tersendiri yang kini dirasakan oleh Ricko. Meski ia sudah sering mengambil foto Sadira secara sembunyi-sembunyi, namun baru kali ini ia melakukannya di tempat umum. Puas setelah mengambil beberapa gambar Sadira, ia pun mulai mendekati gadis itu.
Ya... Ricko memutuskan untuk mulai mendekati Sadira secara terang-terangan. Ia ingin gadis itu mulai merasa dekat dan nyaman bersamanya. Ia bertekat untuk merebut Sadira dari cowok yang kemarin dilihatnya akrab bersama gadis itu.
"Hai Ra..." panggil Ricko saat Sadira terlihat tengah sibuk memilih barang yang akan dibelinya.
"Oh... hai kak..." sahut Sadira yang kaget melihat ada teman kakaknya disana.
"Lagi beli apa?" tanya Ricko mencoba mengakrabkan diri.
"Oh... ini... tadi disuruh bunda untuk beli bahan dapur yang kurang..." terang Sadira tak curiga.
"Oh... ya udah... kakak duluan ya..." pamit Ricko.
"Ah... iya kak..." sahut Sadira.
Entah mengapa, tiba-tiba saja Sadira merasakan bulu kuduknya meremang saat Ricko berjalan melewatinya.
"Ish... mengapa aku merasa merinding ya... saat kakak itu ada didekatku?" batin Sadira sambil mengelus tengkuknya pelan, mencoba menghilangkan rasa gelisah yang tiba-tiba melandanya.
Ricko pun melangkah ke arah kasir dan membayar barang yang tadi ia ambil secara sembarangan. Setelahnya ia pun keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Tapi bukannya langsung pergi, ia justru diam di dalam mobil dan menunggu Sadira keluar dari dalam mini market. Benar saja... tak lama terlihat Sadira keluar dari dalam mini market dan segera menuju ke motornya. Saat gadis itu mulai menjalankan motornya, Ricko pun mulai mengikuti gadis itu lagi. Sadira yang tak menyadari jika ada yang mengikutinya, tampak santai mengendarai motornya.
Tak lebih dari lima menit, gadis itu pun sampai di depan rumahnya. Sadira langsung masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Ricko yang sedari tadi mengikuti gadis itu pun tersenyum senang. Sebab Sadira bukan gadis yang suka bermain-main saat tengah di suruh oleh orangtuanya. Setelahnya Ricko langsung mengarahkan mobilnya ke apartemennya. Ia harus mencetak foto yang ada di ponselnya untuk menambah koleksinya.
Keesokan harinya, Sadira seperti biasa berangkat ke sekolah diantar oleh sopirnya. Namun entah mengapa hari ini Sadira merasa ada yang berbeda. Seakan ada yang tengah mengikutinya. Sesekali gadis itu menoleh ke arah belakang mencoba mengawasi apakah ada yang sedang mengikutinya. Tapi nihil... tak ada yang aneh, hanya ada beberapa mobil yang melintas di belakang mobilnya. Sadira menghembuskan nafasnya pelan.
"Uh... kenapa aku jadi parno begini sih..." batin Sadira sambil mengelus dadanya pelan.
Tidak ia ketahui jika sedari tadi Ricko ternyata telah mengikutinya dengan menggunakan mobilnya yang lain. Ia sengaja berada satu mobil dibelakang mobil Sadira agar tidak terlihat dari dalam mobil Sadira. Lalu lintas yang cukup ramai membuat perbuatannya sangat tersamar.
"Pak... nanti kalo jemput jangan di luar gerbang ya..." ucap Sadira saat akan turun dari dalam mobilnya.
"Iya non..." sahut sang sopir patuh.
Namun di dalam hatinya sopir itu merasa heran dengan permintaan nonanya itu. Tidak biasanya Sadira meminta dijemput di halaman parkir sekolah. Karena menurutnya itu cukup merepotkan sang sopir karena harus antri dengan para siswa dan penjemput lainnya saat keluar masuk halaman sekolah. Karenanya Sadira lebih senang sang sopir menunggu di depan gerbang sekolah. Tapi hari ini berbeda.
__ADS_1