BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Pengkhianatan


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi...


Para siswa langsung berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Maklumlah ini akhir pekan, membuat para siswa tak sabar untuk segera pulang ke rumah menyambut hari minggu besok. Tak terkecuali Sadira dan juga Hana. Kedua gadis itu tampak bersemangat berjalan keluar dari dalam kelas mereka untuk pulang.


"Bagaimana Ra? apa Ayana akan datang bersamamu nanti malam?" tanya Hana.


"Sepertinya dia akan langsung ke rumahmu Han... sebab jika harus ke rumahku lebih dulu akan memakan waktu, arah rumah kami kan berbeda..."


"Benar juga... lalu kamu akan datang bareng siapa?" tanya Hana lagi.


Ia berharap Samir yang akan mengantarkan Sadira agar ia bisa bertemu dengan kekasihnya itu walau sebentar. Maklum, sudah beberapa hari ini keduanya tidak bertemu karena kesibukan Samir.


"Mungkin dengan pak sopir Han... memang kenapa?" tanya Sadira yang belum mengetahui jika Hana dan kakaknya Samir menjalin hubungan.


"Ga pa-pa... hanya tanya saja..." sahut Hana mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.


Keduanya pun berjalan menuju gerbang dan berpisah saat keduanya masuk ke dalam mobil yang menjemput mereka masing-masing. Sore harinya, Sadira pergi ke rumah Hana dengan diantar oleh pak sopir. Saat mobil yang ditumpanginya berhenti di lampu merah, tanpa sengaja ia melihat Bara tengah membonceng seseorang yang sangat ia kenal. Dada Sadira langsung merasa mendidih, apa lagi orang itu melingkarkan tangannya pada perut Bara dengan erat. Dan yang membuat Sadira semakin panas, Bara bahkan tampak tidak keberatan dengan tingkah orang itu.


Mata Sadira terasa panas, air matanya sudah menggenang dikedua sudut kelopak matanya. Ia sungguh tak mengerti dengan sikap Bara. Ia yang selama ini bersikap lembut dan perhatian padanya bisa bersikap seperti itu dibelakangnya. Bahkan pemuda itu sudah mendapatkan ciuman pertamanya. Apakah semua yang diperlihatkan oleh pemuda itu selama ini hanya sandiwara? apakah ini semacam prank untuknya? otak Sadira sungguh tidak bisa berfikir lagi.


"Kenapa kamu melakukannya kak? dan kenapa harus dengan kak Naya..." batin Sadira menjerit.


Ingin rasanya Sadira melabrak keduanya saat ini juga. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini ia sedang bersama sopirnya. Lagi pula mereka tengah berada di lampu lalu lintas. Tidak etis jika ia menghampiri mereka saat ini. Beberapa detik kemudian lampu lalu lintas pun berganti warna hijau dan semua kendaraan mulai melaju dan bisa ia lihat jika Bara membelokkan motornya ke arah rumahnya.


"Kamu bahkan membawanya ke rumah kamu kak... sementara aku?"


Sebisa mungkin Sadira menahan air matanya yang sudah hampir terjatuh dari kedua matanya.


"Non sudah sampai..." ucap pak sopir yang menyadarkan Sadira.


"Iya pak..." sahut Sadira sambil menghapus air matanya cepat.


Ia tidak ingin kedua sahabatnya tahu jika saat ini hatinya tengah tidak baik-baik saja.


"Dira!" seru Ayana dan Hana bersamaan saat melihat gadis itu turun dari dalam mobil.


Cepat Sadira mengembangkan senyum palsunya agar kedua sahabatnya tidak menaruh curiga. Kedua sahabat Sadira itu pun langsung berlari dan memeluk gadis itu secara bersamaan. Pak sopir pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah tiga gadis remaja yang ada dihadapannya itu. Ia pun lalu mengeluarkan koper Sadira dari dalam bagasi.


"Biar kami yang membawakannya pak..." ucap Hana pada sopir Sadira saat pria itu hendak membawakan koper Sadira ke dalam.


"Iya non..." sahut sang sopir.


Ketiga sahabat itu pun kemudian masuk ke dalam rumah Hana setelah pak sopir pamit pulang. Malam itu karena kedua sahabatnya, Sadira dapat sedikit melupakan pengkhianatan Bara. Ya... pengkhianatan. Bagaimana tidak disebut sebuah pengkhianatan jika dengan mata kepalanya sendiri Sadira melihat Bara membonceng Naya dengan mesra dan bahkan pemuda itu membawa Naya ke rumahnya. Sedangkan Sadira... tak sekali pun Bara membawanya ke rumah pemuda itu meski dengan status sebagai teman sekolah.

__ADS_1


Keesokan harinya...


Sadira, Ayana dan Hana memutuskan untuk jalan-jalan bersama sebelum Sadira dan Ayana kembali ke rumah mereka. Ketiganya memutuskan untuk pergi ke taman hiburan yang ada dikotanya. Begitu sampai di tempat itu ketiganya langsung mencari wahana permainan yang ingin mereka jajal. Sadira yang ingin menghilangkan rasa gundah dihatinya memilih untuk menaiki wahana yang ekstrem agar bisa melepaskan rasa sesak didadanya.


Ayana dan Hana yang tidak mengetahui kegundahan Sadira pun hanya mengikuti kemauan gadis itu. Meski sebenarnya Hana merasa sedikit takut untuk mencoba wahana ekstrim, namun karena ada Sadira dan Ayana ia pun menetapkan hatinya. Saat menaiki wahana ekstrim ketiganya berteriak kencang selama permainan. Jika Ayana berteriak senang, maka Hana berteriak ketakutan. Sementara Sadira berteriak meluapkan rasa sakit dihatinya. Setelah puas bermain, ketiganya memutuskan untuk beristirahat sejenak dan membeli camilan sambil duduk di bangku yang disediakan. Saat ketiganya tengah asyik menikmati minuman dan camilan yang baru saja mereka beli, tanpa sengaja Sadira kembali melihat pemandangan yang membuat sakit mata dan juga hatinya.


Tepat dihadapannya, ia melihat Bara dan juga Naya disana. Tampak Naya yang bergelayut manja dilengan Bara sambil menunjuk pada wahana yang ingin ia mainkan. Sementara Bara terlihat sama sekali tidak keberatan dengan perlakuan Naya. Dan kali ini bukan hanya Sadira saja yang melihat kelakuan Bara. Hana dan Ayana pun melihatnya. Tanpa babibu... Ayana dan Hana langsung menghampiri Bara dan Naya. Sadira yang masih tertegun dengan apa yang dilihatnya tak menyadari jika kedua sahabatnya itu sudah meninggalkannya sendirian dan menghampiri Bara dan Naya


Plak!


Sebuah tamparan tepat mendarat dipipi Bara yang membuat pemuda itu kaget dan merasakan sakit di pipinya. Namun sebelum pemuda itu sempat memprotes sebuah tamparan lagi mendarat di sisi pipinya yang lain.


Plak!


Jika tamparan pertama tadi dari Ayana, maka yang kedua ini dari Hana. Kedua sahabat Sadira itu memandang Bara dengan tatapan membunuh.


"Jangan pernah dekati Sadira lagi!" seru Ayana dengan penuh emosi.


"A... apa maksud kalian?"


"Tidak usah berpura-pura... aku kira kakak itu setia... ternyata... cuih! kakak ga lebih dari playboy cap kambing!" sentak Hana yang entah dari mana ia bisa mendapatkan keberanian seperti ini.


"Heh! dasar cewek kampungan... kalian fikir kalian itu siapa? berani-beraninya kalian menampar Bara!" seru Naya yang langsung membuat Hana dan Ayana bertambah emosi.


Bara pun tampak kaget saat melihat Sadira juga ada disana. Seharusnya ia sudah bisa menduga jika kedua sahabatnya ada di sana bisa dipastikan bahwa Sadira juga ada bersama mereka.


"Ra... dengarkan aku dulu... ini tidak seperti yang kalian lihat..." ucap Bara mencoba memberikan penjelasan pada Sadira.


"Ck... tidak usah mengelak kak... aku sudah melihat semuanya... bahkan kemarin aku juga sudah melihat kedekatan kalian berdua... jadi lebih baik kita akhiri saja semuanya..." ucap Sadira dengan suara bergetar.


"Ra... aku mohon... ini tidak seperti yang kamu lihat... aku akan menjelaskan semuanya... aku mohon jangan bilang untuk mengakhiri semuanya... aku mohon Ra..."


"Cukup! ayo Ra... kita pergi dari sini" potong Ayana yang tak ingin berlama-lama bersama seorang pengkhianat seperti Bara.


Lukanya pada masa lalu kedua orangtuanya seakan kembali menganga saat melihat sahabatnya dikhianati. Ia tak ingin Sadira bernasib sama seperti mamanya yang menderita karena bertahan pada pria yang tak memiliki sikap setia. Ayana dan Hana langsung menggandeng Sadira dan membawanya pergi dari sana. Sadira tampak pasrah dan mengikuti kedua sahabatnya itu. Sementara Bara berusaha untuk membujuk Sadira agar mau mendengarkan penjelasannya. Namun gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya.


"Sudahlah Bara... gadis temperamental seperti dia ga bisa diajak bicara baik-baik... lebih baik kamu lepaskan saja dia..." ujar Naya berusaha untuk menahan Bara.


"Tutup mulut kamu Naya! ini semua gara-gara kamu dan permintaan gilamu itu!" sergah Bara yang langsung meninggalkan Naya.


"Bara! jangan tinggalkan aku seperti ini... Bara!" teriak Naya memanggil Bara.


Namun Bara seolah tuli dan tetap meninggalkan Naya. Akhirnya Naya pun berlari berusaha mengejar Bara. Sementara itu Sadira dan kedua sahabatnya sudah sampai di tempat mobil mereka diparkirkan. Ketiganya langsung masuk ke dalam. Hana langsung menaikkan kaca pemisah antara ruang kemudi dan ruang penumpang. Ia tahu jika Sadira memerlukan privasi untuk menumpahkan kesedihannya. Ketiga sahabat itu pun saling berpelukan dan Sadira pun menumpahkan semua air matanya yang sejak kemarin ditahannya.

__ADS_1


Bara mencoba untuk mencari mobil keluarga Sadira, namun nihil ia tak menemukannya dimana-mana. Bara mendesah berat, matanya tetap menatap setiap sudut tempat parkir yamg sangat luas itu. Mencoba mencari keberadaan mobil keluarga Sadira tapi tetap saja nol. Meski berkali-kali pemuda itu juga sudah mencoba mengitari tempat parkir hingga tubuhnya berkeringat dan nafasnya menjadi ngos-ngosan tetap saja ia tak menemukan mobil yang biasa digunakan untuk menjemput Sadira.


Tidak diketahui oleh Bara jika saat ini Sadira dan kedua sahabatnya menggunakan mobil milik papa Hana yang memang sengaja dipakai Hana hari ini karena mobil yang biasa digunakan untuk menjemputnya sedang dalam perbaikan. Jadi meski berkali-kali Bara mencari ia tetap tidak akan menemukan keberadaan Sadira yang sebenarnya berada tepat disamping tempatnya berdiri saat ini. Didalam mobil Ayana dan Hana berusaha menghibur dan menguatkan Sadira dengan meyakinkan gadis itu jika semua yang telah terjadi adalah yang terbaik karena Sadira menemukan kebusukan Bara sebelum hubungan keduanya lebih jauh.


Lelah mencari, akhirnya Bara memutuskan untuk pulang dan berniat untuk menelfonnya nanti malam atau menemui Sadira langsung besok di sekolah untuk menjelaskan semuanya. Sementara Sadira setelah menangis dan meluapkan semua rasa sedih didalam hatinya sudah mulai tenang. Hana lalu menyuruh sopirnya untuk mengantarkan mereka pulang ke rumah Hana. Sedang Naya tampak kebingungan mencari keberadaan Bara yang cepat sekali menghilang. Bahkan saat ia mencari motor milik Bara di parkiran, motor pemuda itu sudah tidak ada. Bara benar-benar meninggalkan Naya sendirian di tempat itu.


"S**t! gara-gara gadis itu Bara jadi meninggalkanku sendirian disini... arrgghh!" pekik Naya frustasi.


Terpaksa Naya akhirnya memesan taksi online untuk mengantarnya pulang ke rumah. Sore harinya Sadira pulang dengan menggunakan taksi online. Sengaja ia melakukannya karena ingin memiliki waktu sendiri sebelum ia pulang ke rumahnya. Awalnya Ayana dan Hana merasa keberatan karena khawatir pada sahabat mereka itu. Namun akhirnya mereka pun menuruti permintaan Sadira setelah gadis itu berjanji akan langsung pulang dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Keduanya juga maklum jika Sadira membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan hatinya.


Saat melewati taman kota, Sadira meminta sang sopir untuk menurunkannya disana. Ia ingin menenangkan diri sebentar sebelum ia pulang ke rumah agar tidak membuat khawatir keluarganya. Dengan menyeret kopernya Sadira berjalan di taman kota dan memilih untuk duduk disalah satu bangku yang ada disana. Dengan menghembuskan nafasnya pelan, Sadira mencoba untuk membuang rasa sesak di dalam dadanya. Air matanya tak lagi menetes. Namun pandangannya kosong menatap ke depan.


"Ehem..." terdengar deheman seseorang yang membuat Sadira kembali pada kesadarannya.


Ia pun menoleh ke arah suara. Ia tampak terkejut saat melihat seseorang yang telah berdiri disampingnya.


"Boleh kakak duduk disini?" tanyanya ramah.


"Silahkan kak..." sahut Sadira sambil berusaha tersenyum pada Ricko.


"Kamu kenapa sendirian disini? dan ini... kenapa bawa-bawa koper segala? mau kabur dari rumah hem?" tanya Ricko dengan nada bercanda.


"Ish... kakak ini, buat apa aku kabur dari rumah coba..." sahut Sadira merasa sedikit terhibur.


"Lah ini... bawa koper, terus duduk sendirian di taman sore-sore... maksudnya apa?"


"Hemm... tadi itu aku dari rumah temen aku habis nginep disana semalam... tapi tadi taksi yang aku tumpangi mogok, jadi aku turun disini sebentar..." terang Sadira yang sepenuhnya bohong.


"Kalau begitu gimana kalau kakak yang antar kamu saja..." tawar Ricko sambil menunjukkan senyuman manisnya.


"Eh... nanti merepotkan kakak..."


"Ga... lagi pula aku juga sekalian ingin bertemu Samir..."


"Hemm... baiklah... terima kasih kak, sebelumnya" ucap Sadira tulus.


"Sama-sama... ayo!" ajak Ricko sambil menenteng koper Sadira.


Gadis itu pun menurut. Entah mengapa saat ini Sadira merasa nyaman bersama Ricko, tidak seperti saat mereka bertemu di mini market beberapa hari yang lalu. Selama perjalanan Ricko mengajak Sadira berbincang dengan seru, membuat Sadira merasa jika sesungguhnya sifat Ricko hampir sama dengan sang kakak Samir. Bahkan Ricko juga tak jarang menceritakan lelucon yang bisa membuat Sadira tertawa lebar dan sejenak melupakan sakit hatinya karena Bara.


Sesampainya di rumah, Amira terkejut saat melihat sang putri pulang bersama Ricko teman Samir. Ricko pun menceritakan bagaimana keduanya bisa bertemu dan berakhir dengan Ricko mengantarkan Sadira pulang. Amira pun sangat berterima kasih pada Ricko. Namun saat pemuda itu menanyakan Samir, ternyata Samir tengah keluar sehingga Ricko pun langsung pamit dan akan menghubungi Samir nanti.


Di dalam kamarnya Sadira baru saja hendak merebahkan diri setelah menunaikan ibadahnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering yang membuat gadis itu kembali bangun dan melihat siapa yang menghubunginya. Saat melihat di layar ponselnya jika Bara yang menghubunginya, gadis itu pun langsung mematikannya karena tak ingin lagi berurusan dengan Bara. Namun sepertinya Bara tidak mau menyerah. Berkali-kali pemuda itu kembali menghubungi Sadira tapi lagi-lagi gadis itu kembali tidak mau menganggkat panggilannya membuat Bara frustasi.

__ADS_1


__ADS_2