
Dave keluar dengan cepat dari dalam lift begitu pintunya terbuka. Bergegas ia menuju apartemen tuan Sam yang berada di ujung lorong. Saat sudah berada di depan apartemen tuan Sam, Dave justru terpaku di depan pintu. Badannya mematung seolah tak bertenaga. Niatnya untuk memencet bel urung dilakukannya karena ia kembali bimbang dengan apa yang akan dilakukannya.
"Apa yang harus aku katakan jika nanti ditanya mengapa aku datang kemari? dan bagaimana jika suaminya juga ada di dalam?" batin Dave mengira-ngira.
Cukup lama ia berdiri disana mematung hingga akhirnya suara seseorang membuatnya tersentak dan sadar.
"Ada apa kau kemari Dave?"
Dave menoleh dan tampak tuan Sam sudah berdiri di sampingnya.
"A...aku..." ucap Dave bingung tak tahu harus beralasan apa.
"Ayo masuk!" potong tuan Sam sambil mengajak Dave dan membuka pintu apartemen dengan kartu yang dibawanya.
"Assalamualaikum..." salam tuan Sam begitu dirinya masuk ke dalam apartemen.
"Waalaikum salam..." terdengar suara Amira menyahut dan tak lama wanita itu muncul dari dalam kamarnya.
"Db... tumben kau sudah pulang?" tanyanya pada tuan Sam.
"Iya... hari ini kebetulan semua pekerjaan sudah selesai jadi aku pulang cepat" sahut tuan Sam.
Amira langsung meraih tangan tuan Sam dan menciumnya lalu mengambil tas kerja suaminya sementara tuan Sam langsung melepas jasnya.
"Ehem... assalamualaikum Ra..." sapa Dave.
"Waalaikum salam... Dave?" sahut Amira terkejut sebab tadi ia tak memperhatikan jika Dave juga ada disana.
Dave terkekeh melihat Amira yang terkejut apa lagi saat dirinya mengucapkan salam.
"Apa kau?" tanya Amira menggantung.
"Iya... aku sudah mualaf sejak beberapa bulan yang lalu" sahut Dave sambil tersenyum.
"Oh..." ucap Amira sambil menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya karena terkejut dengan pernyataan Dave.
"Db... kenapa kau tidak bilang tentang Dave?" kata Amira langsubg meminta penjelasan pada suaminya.
"Dia juga tidak pernah bilang padaku..." sahut tuan Sam tak ingin disalahkan sambil melirik pada Dave.
Sebenarnya tuan Sam juga sudah tahu jika Dave sudah mualaf namun ia tak mau menanyakannya langsung sebelum Dave memberitahukannya sendiri padanya.
"Iya Ra... baru keluargaku dan teman sesama mualaf saja yang tahu..." terang Dave.
Amira pun kembali berohria.
"Hemm... kalau begitu duduklah... sebentar aku buatkan minuman... kau ingin minum apa?" tanya Amira.
"Buatkan saja kopi..." potong tuan Sam.
"Tapi biar Sandra saja yang membuatkannya... kau ikut aku ke kamar aku ingin melihat anak-anak" sambung tuan Sam berjalan ke kamar kedua putra kembarnya.
Saat itulah Sandra keluar dari dalam kamarnya.
"Ah San San untung kau keluar... tolong buatkan Dave kopi... aku akan mengurus kak Sam sebentar..." kata Amira yang membuat Sandra terkejut.
Tuan Sam dan Amira langsung masuk ke kamar putra kembar mereka. Sementara Sandra tampak termangu hingga terdengar suara Dave ditelinganya.
"Assalamualaikum San San" ucap Dave membuat Sandra tertegun dan langsung menoleh ke arah suara.
"Wa.. waalaikum salam..." sahutnya terbata setelah beberapa saat terdiam.
"A...aku... buatkan... minum dulu" sambung Sandra sambil beranjak ke dapur.
Wajah Sandra pucat bercampur merah karena tak menduga jika Dave ada di sana sekarang. Degub jantungnya langsung berdetak kencang seakan mau meledak. Rasa terkejut, senang dan takut bercampur menjadi satu sehingga membuat gadis itu hanya bisa bersandar lemas di meja dapur. Sementara Dave tak kalah gugupnya dengan Sandra. Melihat Sandra yang terlihat salah tingkah membuat Dave merasa jika gadis itu masih menyimpan rasa untuknya. Seulas senyum tersungging dibibirnya hanya dengan memikirkannya saja.
Namun senyum itu tak bertahan lama saat ia tersadar dengan kenyataan jika Sandra telah berdua. Ia pun meringis menahan rasa sakit yang kini menjalar didalam hatinya. Dave mendudukkan dirinya diatas sofa ruang tamu. Pandangannya menelisik ruangan yang ditempatinya. Ada banyak foto moment tuan Sam dan Amira serta si kembar yang terpajang di dinding apartemen membuat suasana baru pada apartemen tuan Sam. Tidak seperti dulu saat ia bertandang sebelum tuan Sam bertemu Amira yang tampak kosong dan terkesan sangat maskulin dan dingin.
Sandra mau tidak mau segera membuatkan kopi untuk Dave. Sedang Amira dan tuan Sam sudah berada di kamar mereka sendiri setelah dari kamar si kembar melalui pintu penghubung.
__ADS_1
"Db... apa kau benar-benar baru tahu jika Dave menjadi mualaf?" tanya Amira.
"Sebenarnya tidak juga... saat kita sampai disini aku sudah tahu... hanya saja aku ingin dia sendiri yang memberitahukannya padaku" sahut tuan Sam.
Amira pun mengangguk mengerti.
"Tapi kenapa kau tidak bilang padaku?"
"Untuk apa?" tanya tuan Sam seolah tak tahu maksud dari Amira.
"Ish... kau ini benar-benar tidak peka!" sungut Amira.
"Kau kan tahu aku tidak suka mengurusi urusan orang lain... biarkan saja mereka yang menyelesaikannya sendiri... lagi pula jika jodoh pasti mereka menemukan jalannya" terang tuan Sam sambil memeluk tubuh Amira.
"Hemm... kau memang benar Db..." sahut Amira sambil bersandar di dada bidang suaminya.
"Apa hari ini kau dan anak-anak bersenang-senang?" tanya tuan Sam masih memeluk Amira.
"Hemm... iya... tapi sayang kau tidak ikut dengan kami Db... jika iya akan lebih menyenangkan" sahut Amira.
"Bukannya kau yang ingin bertualang dengan sahabatmu itu?" ujar tuan Sam.
"Iya... tapi lain kali aku juga ingin kita pergi kesana lagi bersama..."
"Baiklah..." sahut tuan Sam yang kini mulai mengendus leher istrinya itu.
"Db..."
"Ayo kita bermain sebentar..."
"Tapi Sandra dan Dave..."
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka... sekarang aku menginginkanmu..." ucap tuan Sam yang sudah berkabut.
Sementara di ruang tamu tampak Sandra baru saja meletakkan kopi buatannya diatas meja. Dave yang memperhatikan semua gerakan Sandra tampak tersenyum bahagia. Jika saja boleh ia berharap Sandra melakukannya setiap hari membuatkan kopi untuknya saat ia pulang dari bekerja. Ah... sungguh khayalan yang sangat tinggi dan indah.
"Silahkan diminum Dave" ucap Sandra membuyarkan khayalan Dave.
Dave pun seketika tersentak karena ternyata kopi yang diminumnya masih sangat panas.
"Aarrgh... hah... hah..." Dave menjulurkan lidahnya yang kepanasan sambil mengibaskan tangannya di depan mulutnya.
"Maaf Dave..." ucap Sandra merasa tak enak.
Ia bermaksud menolong Dave namun tak tahu harus berbuat apa hingga hanya bisa berucap maaf pada Dave.
"Argh... tidak... apa-apa..." ucap Dave yang masih merasakan panas pada lidahnya.
"Aku ambilkan air dingin ya..." ucap Sandra berinisiaf.
Dave menggelengkan kepalanya dan malah mendekatkan wajahnya pada Sandra.
"Apa kau benar ingin menolongku?" tanyanya.
Sandra pun mengangguk. Dan tanpa aba-aba Dave langsung mencium bibir Sandra lembut. Merasa tak ada penolakan dari Sandra, Dave pun kembali memperdalam c**m**nya dan m*l***t bibir merah itu lebih lama. Dan Sandra pun seolah terbuai hingga tanpa sadar ia pun membalasnya.
Untuk sesaat keduanya saling m*m***t hingga hampir kehabisan nafas dan akhirnya saling melepaskan satu sama lain. Keduanya saling merapatkan kening mereka dengan nafas yang masih memburu. Dave mengusap bibir Sandra yang basah dengan ibu jarinya.Tampak bibir Sandra yang kini sedikit membengkak akibat ulahnya. Tiba-tiba kesadaran kembali padanya.
"Maaf..." ucap Dave sendu.
"Tidak apa-apa..." sahut Sandra lirih.
"Tapi bagaimana kau akan menjelaskan tentang bibirmu itu pada suamimu nanti?" tanya Dave.
"Suami?"
"Ya..."
"Tapi aku..."
__ADS_1
"Apa kau bertengkar dengan suamimu dan menginap di apartemen Sam?" tanya Dave yang langsung memotong ucapan Sandra.
"Bukan..." sahut Sandra yang kini malah tersenyum karena sadar jika Dave tengah salah faham padanya.
"Lalu?" tanya Dave yang penasaran karena kini Sandra malah tersenyum dan bukannya panik karena takut ketahuan suaminya telah berciuman dengan pria lain.
"Aku janda Dave..." terang Sandra yang membuat Dave langsung melongo tak menyangka jika wanita yang dihadapannya ini telah sendiri.
"Jadi..."
"Iya... Dave... apa kau masih mau menerimaku karena statusku kini?" tanya Sandra.
"Tentu saja! aku tidak perduli dengan status dan masa lalumu San San... yang aku tahu sampai saat ini aku masih mencintaimu... tidak ada wanita lain yang bisa menggantikanmu di hatiku" terang Dave sambil menggenggam tangan Sandra.
"Apa kau juga masih mencintaiku?" sambungnya.
"Iya Dave... aku masih mencintaimu..." sahut Sandra.
Dave pun langsung memeluk Sandra dengan erat. Sandra pun membalas pelukan pria yang selama ini masih bertahta di dalam hatinya itu.
"Aku juga sudah mualaf San San..." bisik Dave membuat Sandra semakin mengeratkan pelukannya.
Ternyata semua do'a yang ia panjatkan agar bisa bersatu dengan pria pujaannya itu telah terkabul. Sandra memang tidak menerima Dave mualaf karena alasan untuk bisa bersama dirinya. Namun selama ini ia juga mendo'akan Dave agar hati pria itu terbuka dan mau menerima islam dari hatinya untuk keimanannya. Mungkin egois namun ia meminta pada Tuhannya yang mana akan memberikan yang terbaik untuknya meski jika itu dengan tidak mengabulkan do'anya.
Sementara di dalam kamarnya tuan Sam dan Amira tengah berbaring saling berpelukan dalam keadaan polos setelah olah raga siang yang menguras tenaga keduanya.
"Db..."
"Hemm..."
"Apa San San dan Dave sudah menyelesaikan masalah mereka?" tanya Amira sambil mengelus dada polos tuan Sam.
"Mungkin saja... toh keduanya sudah sama-sama dewasa dan bukan orang bodoh" sahut tuan Sam sambil mengecup kening Amira.
"Hemm... aku sangat bahagia Db... jika San San menemukan kebahagiaannya..." terang Amira.
"Aku tahu..." sahut tuan Sam lagi yang kembali bergerak nakal.
"Db!" seru Amira merasakan gerakan suaminya yang sudah mulai on lagi.
"Ini anggap saja bayaran karena aku sudah mengajak Dave kemari" tukas tuan Sam untuk membungkam protes dari istrinya itu.
Dan Amira pun hanya bisa pasrah karena suaminya itu tak bisa ditolak untuk urusan yang satu itu. Akhirnya olah raga panas pun kembali terulang.
Di tempat Dave dan Sandra tampak keduanya kini semakin mesra. Dave bahkan tidak membiarkan Sandra duduk jauh darinya. Tangan pria itu selalu menggenggam tangan Sandra seolah takut jika akan kehilangan wanita yang dicintainya itu.
"Emmm... apa Amira dan kak Sam ketiduran ya?" gumam Sandra saat Amira dan suaminya tak juga keluar dari kamarnya.
Gumaman Sandra yang masih dapat di dengar oleh Dave pun membuat pria itu tersenyum. Pasalnya ia sudah tahu alasan mengapa pasangan suami istri itu tak juga keluar dari dalam kamar.
"Mungkin saja mereka kelelahan San San..." ujar Dave.
"Mungkin saja... soalnya tadi Amira dan aku berjalan cukup jauh saat di Hyde Park... belum lagi si kembar sangat aktif membuat kami kewalahan... dan kak Sam pasti lelah karena pekerjaannya..." ucap Sandra menerangkan yang ada dalam fikirannya.
Tapi Dave malah terkekeh karena fikiran polos wanita yang ada dihadapannya itu.
"Andai kau tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan sekarang... pasti wajahmu akan memerah dengan hanya memikirkannya saja..." batin Dave.
"Kau kenapa Dave?" tanya Sandra yang melihat Dave terkekeh.
"Bukan apa-apa... aku hanya berfikir akan mengajakmu berkenalan dengan keluargaku segera..." ujar Dave mengalihkan pembicaraan.
"A... apa... tidak terlalu cepat Dave?"
"Tentu saja tidak San San... karena aku sudah menunggumu sejak setahun yang lalu..." ucap Dave lirih membuat Sandra merasa terharu.
"Baiklah aku akan ikut kapan pun kau mengajakku untuk menemui keluargamu" ucap Sandra mantap.
"Benarkah?" tanya Dave tak percaya.
__ADS_1
"Hemm..." sahut Sandra sambil mengangguk yakin.
"Yes!" teriak Dave sambil melompat kegirangan membuat Sandra terkejut dan tersipu malu untung saja di sana tak ada orang lain yang melihat tingkah Dave.