
Pagi hari setelah sarapan pagi bersama para siswa langsung masuk ke dalam bus mereka masing-masing karena mereka akan langsung kembali pulang. Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya mereka pun tiba di sekolah tempat mereka berkumpul sebelum pulang ke rumah masing-masing. Anna tampak sudah di jemput oleh papanya. Tuan Bram langsung pergi ke sekolah setelah Anna memberitahukan jika bus yang ditumpanginya sudah berada di batas kota melalui sambungan ponsel. Ia ingin agar Anna tidak menunggu lama setelah turun dari dalam bus.
Melihat papanya sendiri yang menjemput dirinya membuat Anna sangat bahagia. Anna pun langsung memeluk papanya saat ia turun dari dalam bus. Setelah memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi mobil dengan dibantu tuan Bram mereka pun kemudian langsung pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang Anna sangat antusias menceritakan mengalamannya saat di Bali. Tuan Bram pun senang mendengarkan cerita putrinya meski sebelumnya para pengawal yang menjaga Anna telah melaporkan semua kegiatan gadis itu pada dirinya.
Sesampainya di rumah tampak nyonya Sarah dan kedua adik Anna sudah menunggunya di teras rumah. Melihat Anna yang keluar dalam mobil mama dam juga kedua adiknya langsung menghambur memeluk tubuh gadis itu bersamaan. Maklum baru kali ini gadis itu pergi jauh sendiri tanpa keluarganya. Setelah lepaskan pelukan mereka pun masuk ke dalam rumah. Selesai makan malam mereka sekeluarga berkumpul di ruang keluarga. Anna langsung mengeluarkan oleh-oleh yang dibelinya.
"Ma besok Anna boleh ke rumah bunda ya... mau memberikan oleh-oleh..." ijin Anna pada nyonya Sarah.
"Iya sayang..."
Selain membagikan oleh-oleh untuk keluarganya Anna juga membagikannya untuk para pekerja di rumahnya.
Keesokan harinya sepulang sekolah Anna langsung ke rumah Amira. Nyonya Sarah menitipkan salam untuk iparnya itu karena ia tidak bisa ikut datang bersama Anna. Amira sangat senang Anna datang ke rumahnya sebab sejak masuk SMU gadis itu jarang datang ke rumahnya. Namun Amira mengerti dengan kesibukan Anna sekarang.
"Bunda... jika seandainya Anna kuliah di luar negeri kira-kira apa mama sama papa menyetujuinya?" tanya Anna saat keduanya sedang berbincang berdua karena Dira tengah tidur sedang Sahir dan Samir sedang di rumah pak Dahlan.
"Memangnya kamu sudah memutuskan ingin kuliah dimana?" tanya Amira balik.
"Sebenarnya aku ingin kuliah di Oxford bunda... atau kalau tidak Harvard" ungkap Anna.
"Kenapa kamu tidak ingin kuliah di dalam negeri saja sayang?"
"Aku ingin mandiri bunda... kalau disini papa pasti masih saja mengirim pengawal untukku..."
"Dimana pun kamu kuliah papa kamu pasti masih bisa mengirim orang untuk mengawasimu sayang" ucap Amira lembut.
Ia tahu tuan Bram dan juga nyonya Sarah sangat menjaga keamanan putra putri mereka setelah tragedi yang menimpa mereka dulu.
"Tapi setidaknya papa akan merasa lebih aman bagiku di luar negeri karena disana tidak akan ada yang mengenaliku bunda..." ujar Anna memberikan alasan.
"Hemm... kalau begitu coba saja kamu bicara seperti kamu bicara sama bunda pada kedua orangtuamu... mungkin dengan demikian mereka akan mengerti..." kata Amira akhirnya.
"Terima kasih bunda..." ucap Anna sambil memeluk Amira.
"Untuk?"
"Untuk mendengarkan semua keluh kesahku..."
"Kau juga bisa melakukan itu pada mamamu sayang..." terang Amira yang ingin agar Anna bisa lebih terbuka pada nyonya Sarah.
Anna hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin terbuka pada mamanya namun tetap saja ia lebih merasa nyaman dengan Amira sebab bersama Amira ia seolah sedang berbincang dengan sahabat bukannya orangtua. Seperti saran Amira, beberapa hari kemudian Anna pun berbicara jujur pada kedua orangtuanya tentang keinginannya berkuliah di luar negeri. Meski sebenarnya keduanya keberatan jika Anna harus kuliah di luar negeri namun mereka tidak bisa menolak keinginan putri mereka itu. Toh masih ada waktu satu tahun lagi sebelum Anna benar-benar kuliah disana.
Apa lagi persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa masuk kesana juga sangat ketat. Semua tergantung pada prestasi Anna apakah ia layak untuk bisa masuk ke salah satu universitas bergengsi itu. Untuk sementara mereka membiarkan putri mereka untuk semakin giat belajar agar bisa mewujudkan keinginannya.
__ADS_1
Tak terasa sebentar lagi akan diadakan acara perpisahan untuk siswa kelas tiga di sekolah Anna. Para pengurus OSIS dan guru pembina sibuk mempersiapkan segalanya. Anna termasuk anak yang tidak aktif dalam kegiatan keorganisasian di sekolahnya. Ia hanya aktif ikut dalam berbagai macam kompetisi untuk mewakili sekolahnya di bidang olah raga. Karena selain karate Anna juga ikut dalam klub volly di sekolahnya. Meski ia juga jago dalam bermain basket namun ia lebih memilih volly untuk kegiatan ekstra kurikulernya. Alasannya apa lagi kalau bukan karena Sari juga ikut di dalamnya.
Anna memang selalu dekat dengan Sari saat di sekolah. Namun mereka jarang bertemu jika di luar sekolah. Seolah keduanya mempunyai kehidupan sendiri saat diluar sekolah. Tapi itu yang disukai Anna dari Sari. Temannya itu tidak terlalu ingin tahu tentang kehidupan pribadinya. Keduanya memang saling bercerita namun tidak terlalu dalam karena sesungguhnya setiap orang tetap membutuhkan privasi.
"Ann... apa kamu akan ikut menghadiri acara perpisahan dengan kakak kelas kita?" tanya Sari saat keduanya tengah makan di kantin sekolah.
"Entahlah... kau tahu kan aku tidak begitu suka dengan acara seperti itu..." sahut Anna.
"Tapi Ann... semua orang bilang kalau acara perpisahan kali ini sangat spesial..." ujar Sari.
"Mereka akan menundang artis ternama yang juga alumni sekolah ini..." sambung Sari dengan semangat.
"Lalu?" tanya Anna pura-pura tidak mengerti dengan keinginan temannya itu.
"Ish... kau tahu kan artis yang lagi populer itu?"
"Siapa?"
"Devan! kau kan tahu aku fans beratnya..."
"Jadi..."
"Jadi aku mohon temani aku ikut acara perpisahan itu... kali ini sekolah mengizinkan setiap siswa untuk mengikutinya..." pinta Sari.
"Ga pa-pa Ann... aku hanya ingin foto dan tanda tangannya saja... setelah itu kita langsung pulang..." bujuk Sari.
"Bagaimana bisa?"
"Aku kenal salah satu kakak panitia acara itu Ann... jadi aku minta tolong padanya agar bisa bertemu dibelakang panggung sebentar..." terang Sari.
"Hufh... baiklah..." ucap Anna menyetujui.
"Yey... terima kasih Ann...kamu memang yang terbaik!" seru Sari sambil meloncat kegirangan.
"Hey jangan bertingkah Sari... ini kantin..." kata Anna sambil menarik Sari untuk kembali duduk.
Sari tersenyum kikuk saat menyadari jika semua mata tengah memandangnya.
"Maaf..." ucap Sari sambil menundukkan kepalanya lalu kembali duduk dengan tenang.
Setelah mendapatkan izin dari kedua orangtuanya kini Anna tengah bersama Sari di acara perpisahan sekolah mereka. Tadi keduanya bertemu di gerbang sekolah. Acara perpisahan diadakan siang hari di gedung sekolah. Saat keduanya masuk ke gedung serba guna tampak para siswa telah memadati tempat itu. Tentu saja pesona seorang Devan membuat para siswa rela berdesakan demi bisa melihat wajah idola mereka secara langsung. Setelah acara dibuka dengan sambutan dari kepala sekolah dan juga penampilan dari perwakilan kelas para siswa sudah tidak sabar dengan penampilan Devan sang bintang utama.
"Kapan kita bisa ke belakang panggung Sar?" tanya Anna yang sudah kegerahan karena sedari tadi berdesakan dengan siswa lain.
__ADS_1
"Sebentar lagi Ann... kita tunggu telfon dari kakak kelas kenalanku itu dulu..." sahut Sari yang juga tengah kepanasan.
Bahkan seragam yang dikenakannya sudah mulai basah karena keringat. Para guru memang mewajibkan para siswa untuk tetap memakai seragam sekolah selama acara berlangsung. Selesai persembahan dari perwakilan siswa kepala sekolah kembali naik ke atas panggung dan kemudian mempersilahkan Devan untuk ikut naik ke atas panggung. Tak lama terdengar gemuruh para siswa saat Devan muncul diatas panggung. Anna dan Sari pun langsung menatap ke arah panggung. Tampak di sana seorang pemuda tampan berkulit putih tengah melangkah diatas panggung. Anna langsung terkesiap saat menatap wajah pemuda itu.
"Bukankah itu..." batin Anna sambil memandang Devan dari jauh.
"Ann!" panggil Sari sambil menarik tangan Anna.
Anna menoleh ke arah Sari.
"Ayo kita kesana!" ajak Sari sambil menyeret tangan Anna.
Keduanya pun merangsek keluar dari kerumunan para siswa yang tengah asyik mengikuti sesi tanya jawab dengan Devan. Pergerakan keduanya yang melawan arus menarik perhatian Devan dari atas panggung. Pemuda itu diam-diam memperhatikan dua gadis yang tengah berusaha keluar dari ruangan itu. Wajah Devan seketika sumringah saat mengenali salah satu diantara keduanya.
"Anna..." batin Devan sambil terus mengawasi pergerakan gadis itu secara diam-diam.
Sementara Anna dan Sari akhirnya bisa keluar dari ruang tempat acara perpisahan berlangsung. Mereka langsung menuju bagian belakang dimana para kru dan panitia berada. Tampak seorang gadis yang berusia diatas keduanya telah menunggu mereka.
"Kamu dari mana saja?" tanya gadis itu gusar.
"Maaf kak... tadi kami ada di dalam... dan susah untuk keluar..." kata Sari dengan nafas yang masih terengah.
"Huh... baiklah... sekarang kalian ikut aku!" ucap gadis itu lalu membawa keduanya ke salah satu kelas yang sudah disulap menjadi ruang ganti untuk Devan.
"Kalian tunggu saja di sini... sebentar lagi Devan akan kembali kemari jadi kalian bisa minta tanda tangan darinya disini!" kata gadis itu menyuruh Anna dan Sari berdiri di samping pintu masuk ruang ganti Devan.
"Kami harus menunggu di luar sini?" tanya Sari yang semula mengira jika mereka akan menunggu di dalam dan bukan diluar.
"Kamu fikir kamu itu siapa bisa menunggu Devan di dalam sana? jika bukan karena orangtuamu yang sudah membantu ayahku aku tidak akan mungkin mau membantumu sampai disini!" seru gadis itu dongkol.
"Baiklah... terima kasih sebelumnya..." sahut Sari yang sudah mulai ketakutan.
"Ya sudah... kalian tunggu saja dan jangan membuat Devan marah dengan meminta lebih dari foto dan tanda tangan... mengerti?"
"Mengerti kak..." jawab Sari.
Anna hanya diam dan memperhatikan sikap kakak kelasnya itu. Sebenarnya sejak tadi ia sudah sangat geram dengan sikap kakak kelasnya yang terlalu keras pada Sari. Namun karena Sari sangat ingin mendapatkan foto dan tanda tangan Devan membuat Anna menahan amarahnya. Tak lama gadis itu pun meninggalkan keduanya di depan ruang ganti Devan. Anna dan Sari menyadarkan tubuhnya ke dinding ruangan sambil menunggu Devan.
"Apa kau yakin Devan mau memberimu tanda tangan jika kita menunggunya di sini?" tanya Anna.
"Aku yakin Ann... sebab Devan itu orangnya sangat baik dan juga ramah terutama pada penggemarnya..." terang Sari dengan mata berbinar.
"Andai saja kamu tahu jika cowok itu pernah melarikan diri saat bertemu dengan penggemarnya apa kau masih akan mengaguminya?" batin Anna saat melihat wajah temannya itu yang begitu mengagumi Devan.
__ADS_1
Sementara acara diatas panggung telah selesai dan Devan langsung berjalan menuju ruang ganti yang sudah disediakan untuknya.