BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Keluarga Bahagia


__ADS_3

Saat mobil yang ditumpangi tuan Sam dan Amira sampai di kediaman mereka tampak Amira sudah tertidur dengan bersandar di kursi penumpang. Tuan Sam yang melihat Amira yang terlihat tidur dengan nyenyak hanya tersenyum setelah memarkirkan mobilnya ia pun segera keluar dan membuka pintu samping Amira dan membopong tubuh istrinya itu ke dalam rumah. Walau sedikit kesusahan karena bobot Amira namun ia sama sekali tak ingin membangunkan istrinya itu. Sesampainya di kamar perlahan dibaringkannya tubuh Amira di atas tempat tidur. Sejenak diaturnya nafasnya yang sedikit ngos-ngosan. Tentu saja begitu sebab ia harus membopong Amira menaiki tangga menuju kamar mereka.


Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi. Segera ia keluar kearah balkon.


"Ya"


"Baru saja perempuan itu menaiki pesawat menuju London tuan..." terdengar suara Lukas memberi laporan.


"Kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk kembali ke London?"


"Dari kabar yang saya terima hotel miliknya dalam masalah. Dia memerlukan investor baru agar bisa menyelamatkannya"


"Kalau begitu suruh Hendry untuk menanganinya. Dan jangan sampai bocor ke telinga perempuan itu" perintah tuan Sam.


"Baik tuan..." dan sambungan pun berakhir.


"Kau fikir bisa main-main dibelakangku Key...akan kubuat kau menyesal sudah berani mengganggu istriku..." batin tuan Sam.


Setelah itu ia pun kembali ke dalam kamar dan mendapati Amira yang sedang bergumam dalam tidurnya. Didekatkannya kepalanya ke wajah Amira.


"Hemm... jangan pergi B..." terdengar gumaman Amira yang langsung membuat tuan Sam mengerutkan dahinya.


"Kau sedang bermimpi apa Meyaa? kenapa kau tampak cemas?" bisiknya di telinga Amira.


"Kau jangan pergi..." gumam Amira lagi.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana sayang..." bisik tuan Sam lagi lalu membaringkan tubuhnya di samping Amira dan memiringkan tubuhnya menghadap kearah Amira lalu dipeluknya tubuh Amira.


Seketika terlihat wanita itu langsung menyusupkan kepalanya pada dada bidang tuan Sam. Sedang pria itu pun langsung meletakkan dagunya diatas kepala Amira sambil memejamkan matanya. Lalu keduanya pun tidur dengan posisi tuan Sam masih memeluk Amira.


Pagi hari tuan Sam terbangun karena mendengar panggilan Amira yang mengajaknya untuk sholat subuh bersama. Tiba-tiba tuan Sam memeluk tubuh Amira saat istrinya itu baru saja selesai menyimpan peralatan ibadahnya.


"Semalam kau kenapa sayang? apa kau mimpi buruk hingga kau mengigau?" tanyanya masih memeluk tubuh istrinya itu.


"Aku ... aku mimpi melihatmu pergi..."


"Jangan teruskan!" potong tuan Sam.


"Kau tahu apa pun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan kamu..." sambungnya.


"Tapi aku takut B... jika..."


Tuan Sam langsung memotong ucapan Amira sebelum ia berhasil meneruskan kalimatnya.


"Jangan berfikiran yang tidak-tidak...karena apa pun yang terjadi aku akan selalu bersamamu..." ucap tuan Sam sambil mengusap wajah istrinya itu. Amira pun mengangguk pelan.


"Apa hari ini kau akan ke kantor?" tanya Amira pada tuan Sam.


"Kenapa?" tanya tuan Sam balik.


Amira mendesah pelan.


"Katakan saja jika ada yang kau inginkan" ucap tuan Sam sambil menatap istrinya itu.


"Aku hanya bosan di rumah dan aku juga rindu kak Sarah dan kedua anaknya..." tukas Amira.


"Baiklah nanti sebelum berangkat ke kantor kuantar kau ke sana terlebih dahulu" sahut tuan Sam lalu kembali memeluk tubuh istrinya itu.


"Kalau kau akan pergi ke kantor lebih baik kau mandi saja sekarang..." suruh Amira.

__ADS_1


"Sebentar lagi..." balas tuan Sam malah semakin mempererat pelukannya.


"Nanti kau telat..."


"Hemm....baiklah" akhirnya tuan Sam pun menurut.


Setelah berpakaian dan sarapan mereka pun segera pergi ke rumah nyonya Sarah.


"Kakak..." panggil Amira saat mereka sampai di depan rumah nyonya Sarah. Tampak nyonya Sarah yang sedang bersiap untuk mengantarkan kedua anaknya ke sekolah.


"Bunda...." teriak Anna dan Adit begitu melihat Amira turun dari mobil.


Kedua bocah itu langsung berlari ke arah Amira dan memeluknya. Amira pun menyambut pelukan kedua bocah itu sambil tersenyum lebar.


"Bunda kenapa baru kemari?" protes Anna.


"Maaf bunda masih harus istirahat dulu di rumah setelah pulang dari rumah sakit jadi baru sekarang bunda bisa datang kemari" sahut Amira.


"Kau tahu keduanya sejak kemarin sudah merengek ingin ke rumahmu..." lapor nyonya Sarah.


Tapi kedua bocah itu sama sekali tak membantah malah tambah menarik tangan Amira untuk masuk ke dalam rumah.


"Maaf kak ... aku baru bisa kemari" ucap Amira pada nyonya Sarah saat sudah berada di depannya.


"Kalian benar-benar ya... kalau sudah bertemu aku selalu dilupakan" sungut tuan Sam yang sedari tadi langsung ditinggal oleh Amira.


"Sabar kak... kita ini bernasib sama..." sahut tuan Bram yang juga belum berangkat ke kantor.


"Apa mereka selalu begitu sejak dulu?" tanya tuan Sam saat keduanya sudah duduk di ruang tamu.


"Hemm... iya ... tapi karena Amira tinggal disini jadi tidak terlalu heboh seperti tadi" terang tuan Bram.


"Soal anak-anak sepertinya mereka sudah mengerti dan tidak keberatan jika sekarang Amira sudah tidak tinggal lagi bersama kami... tapi apa Amira disana tidak kesepian? sebab disini ia selalu bersama Anna dan Adit juga Sarah"


"Mungkin saja ... sebab tadi dia juga yang mengajak kemari" kata tuan Sam.


"Sepertinya kakak harus cepat membuatnya hamil agar tidak kesepian" celetuk tuan Bram.


Tuan Sam yang biasanya datar langsung terkekeh mendengar ucapan iparnya itu.


"Ya mungkin kau benar..." dan keduanya pun langsung tergelak bersama.


"Hei lihatlah..." ucap nyonya Sarah pada Amira sambil menunjuk dengan dagunya kearah tuan Sam dan tuan Bram.


Amira pun mengikuti petunjuk nyonya Sarah dengan pandangannya.


"Sekarang mereka terlihat lebih akrab" ucap nyonya Sarah.


Ia tampak sangat bahagia karena kini suami dan kakaknya bisa semakin akrab setelah kejadian kelam yang menimpa keluarga mereka.


"Aku juga sangat senang kak..." sahut Amira sambil tersenyum.


"Ya sudah... anak-anak ayo kita berangkat!" seru nyonya Sarah pada Adit dan Anna.


Kedua bocah itu pun langsung menuruti perintah mamanya. Mereka pun berangkat dengan diantar oleh sopir sedang tuan Bram ikut bersama tuan Sam. Setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah nyonya Sarah mengajak Amira untuk menghabiskan waktu bersama sebelum menjemput mereka kembali.


"Kita mau apa kak?" tanya Amira saat nyonya Sarah mengajaknya ke sebuah salon ternama.


"Tentu saja perawatan Ra..." sahut nyonya Sarah.

__ADS_1


"Aku tahu kakakku pasti sudah membuatmu sangat kelelahan... jadi saat ini kau harus dimanjakan agar tubuhmu merasa lebih segar" sambungnya sambil tersenyum.


Wajah Amira langsung memerah karena nyonya Sarah yang bisa tahu tentang sifat mesum suaminya itu.


"Kau tidak usah malu... sudah sewajarnya dia bersikap seperti itu karena dia suamimu Ra..." ucap nyonya Sarah saat melihat wajah Amira yang memerah.


Mereka pun benar-benar manjakan diri mereka disana. Selesai melakukan perawatan keduanya pun bergegas ke sekolah Anna dan Adit karena sudah waktunya mereka pulang. Setelah menjemput Anna dan Adit mereka pun langsung pulang ke rumah nyonya Sarah. Mereka memang berencana untuk makan siang di rumah agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Ketika mereka sampai di rumah nyonya Sarah tampaknya para Art sedang menyiapkan makan siang. Itu sebabnya sejak dari luar sudah tercium aroma yang sangat menggiurkan. Namun tidak bagi nyonya Sarah. Seketika ia merasakan mual pada perutnya yang membuatnya segera berlari ke arah kamar mandi.


Di sana ia keluarkan semua isi perutnya. Amira yang melihatnya langsung mengikuti iparnya itu. Segera ia pijat tengkuk nyonya Sarah. Setelah semua merasa lega nyonya Sarah berusaha untuk berdiri dibantu oleh Amira yang kemudian memapahnya langsung menuju kamarnya di lantai dua. Sesampainya di dalam kamar Amira langsung merebahkan nyonya Sarah diatas tempat tidur dan segera mencari kotak obat. Setelah menemukannya ia langsung mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya pada nyonya Sarah.


"Kakak kenapa?" tanyanya setelah nyonya Sarah terlihat sedikit membaik.


"Entahlah Ra... tapi tadi saat mencium bau masakan yang dibuat bik Marni perutku langsung merasa mual" terang nyonya Sarah.


"Kalau begitu lebih baik sekarang kakak istirahat saja dulu di kamar biar nanti makan siang kakak aku antar kemari" kata Amira.


"Kakak ingin makan apa?" tanya Amira karena ia tahu tak mungkin nyonya Sarah memakan masakan yang sudah terlanjur dimasak oleh Artnya karena hanya akan membuat iparnya itu kembali mual.


"Hemm... sepertinya kali ini aku ingin makan soto yang ada di depan komplek deh Ra..." ucap nyonya Sarah dengan wajah yang berbinar membayangkan kelezatan soto yang diinginkannya.


Amira mengernyitkan dahinya. Tak biasanya nyonya Sarah ingin makan soto seperti ini. Namun ia akhirnya mengangguk dan berkata akan segera membelikannya.


"Makasih ya Ra..." ucapnya seketika. Amira mengangguk dan segera keluar untuk membeli soto.


Di ruang makan tampak kedua bocah yang sudah berganti pakaian sedang menunggu di meja makan.


"Bunda ... mama mana? kita makan sekarang ya..." kata Anna.


"Emm.. kalian makan saja dulu ya... bunda mau keluar sebentar untuk membelikan mama kalian sesuatu karena mama kalian sedang tidak enak badan..." kata Amira.


"Tapi kami ingin makan bareng bunda juga mama" ucap Adit dengan wajah kecewa.


"Baiklah... bunda pergi membelikan mama kalian dulu sebentar... lalu kita makan bareng tapi biar mama kalian makan di kamarnya saja ya?"


"Iya bunda ga pa-pa... tapi cepat ya..." sahut Anna. Amira pun mengangguk dan segera menemui bik Marni.


"Bik apa motor saya masih ada di sini?" tanyanya.


"Iya... memangnya kenapa Ra?"


"Aku ingin memakainya bik... ada perlu sebentar".


"Baiklah saya ambilkan dulu kuncinya" sahut bik Marni dan pergi ke kamarnya.


Tak lama ia pun kembali dengan membawa kunci motor Amira dan mengatakan jika motornya ada di gudang belakang. Setelah mengucapkan terima kasih Amira segera mengambil motornya. Untung saja walau berada di dalam gudang sepertinya motor itu masih dirawat dan bensinnya terisi penuh. Dengan cepat Amira memacu motornya untuk membelikan soto pesanan nyonya Sarah. Karena sudah masuk jam makan siang tempat penjual soto itu pun sudah mulai ramai pembeli. Amira segera memesan soto dan sambil menunggu pesanannya ia pergi ke apotek yang terletak tak jauh dari kios soto tersebut.


"Semoga saja perkiraanku tepat..." batin Amira setelah membeli barang di apotek tersebut.


Setelah mendapatkan soto yang diinginkan nyonya Sarah, Amira kembali memacu motornya untuk kembali ke rumah nyonya Sarah. Sesampainya di sana ia langsung menindahkan pesanan nyonya Sarah ke dalam mangkok. Kemudian ia membawanya ke kamar nyonya Sarah setelah ia juga menyiapkan nasi dan juga air minum untuk nyonya Sarah.


"Kakak... ini sotonya sudah aku belikan..." ucapnya saat melihat nyonya Sarah yang sedang berbaring.


Mendengar ucapan Amira, nyonya Sarah langsung membalikkan badannya dan bangun. Matanya langsung berbinar saat melihat kuah soto yang masih mengepul dihadapannya.


"Terima kasih Ra..."


"Sama-sama kak... makan yang banyak ya kak...kakak bisa makan sendiri kan? anak-anak ingin ditemani makan" kata Amira.


"Iya ga pa-pa ... aku bisa sendiri kau temanilah anak-anak kasihan mereka pasti sudah sangat lapar" sahut nyonya Sarah.

__ADS_1


"Baiklah" ucap Amira lalu segera menemui Anna dan Adit yang pasti sudah kelaparan.


__ADS_2