BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Gerak Cepat


__ADS_3

Pagi hari semua orang sudah sibuk untuk pergi ke gedung untuk acara ijab. Samir dan Sahir tampak gagah dengan pakaian beskap. Amira yang melihat kedua putranya sebentar lagi akan melangkah pada kehidupan mereka membuatnya menitikkan air mata haru. Bagaimana tidak, dulu ia harus hidup sendirian setelah kedua orangtuanya meninggal dunia. Tapi lihatlah sekarang... kini dirinya hidup bahagia bersama tuan Sam dan ketiga putra putri mereka meski beberapa kali mengalami ujian kehidupan. Satu hal yang selalu ia syukuri bahwa selama pernikahan mereka tuan Sam tidak sekali pun pernah mengecewakannya. Pria selalu saja menjadi yang pertama untuk mencintai dan melindunginya.


"Meyaa..." panggil tuan Sam saat melihat Amira yang terpaku sambil memandang haru Sahir dan Samir yang tengah duduk di kursi tempat ijab kabul akan dilaksanakan.


"Kamu kenapa hem?" tanyanya sambil memandangi wajah istrinya itu.


"A... aku merasa tidak percaya dengan semua yang telah terjadi Db... rasanya baru kemarin kedua putraku itu masih berada dalam gendonganku, dan sekarang keduanya akan melangkah ke jenjang kehidupan mereka yang baru dan menjadi imam dalam keluarga baru mereka..." terang Amira dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Tuan Sam langsung merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Ia tahu saat ini adalah momen yang sangat sakral bagi keduanya sebagai orangtua. Melepas kedua putra mereka untuk menjalani kehidupan baru sebagai kepala keluarga dalam keluarga baru mereka sendiri. Benar yang dikatakan oleh istrinya itu bahwa meski sudah puluhan tahun mereka merawat dan membesarkan si kembar, namun tetap saja masih terasa sangat singkat. Dan tanpa mereka sadari kini kedua putra mereka sudah dewasa dan akan memiliki keluarga mereka sendiri. Ia pun teringat dengan putri bungsu mereka yang juga sudah diikat oleh Bara. Meski sampai saat ini keduanya belum berencana untuk menikah, namun tuan Sam tahu jika sebentar lagi ia juga akan melepaskan putri bungsunya itu pada Bara.


Tiba-tiba ia jadi merasa kesepian karena melihat semua buah hatinya akhirnya pergi untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Meski pun hal itu belum terjadi namun tetap saja kenyataan itu membuat tuan Sam juga merasa sendu. Tanpa keduanya sadari jika ketiga putra putri mereka melihat apa yang dilakukan oleh kedua orangtua mereka. Reflek ketiganya langsung menghampiri tuan Sam dan Amira meski acara sudah hampir dimulai.


"Ayah... Bunda..."


Ucap ketiganya sambil menghambur kepada tuan Sam dan Amira membuat keduanya terkejut dan tersadar dari perasaan melow mereka. Kelimanya pun saling berpelukan.


"Sahir janji ga akan meninggalkan ayah dan bunda... aku sudah bicara dengan Aya, dia setuju jika setelah menikah kami juga akan tetap tinggal bersama ayah dan bunda..." ucap Sahir saat mereka sudah mengurai pelukan mereka.


"Samir juga... Hana bilang ia akan senang bisa tinggal bersama apalagi juga ada Aya..." sambung Samir yang membuat mata kedua orangtuanya berkaca-kaca.


"Terima kasih... tapi kami tidak ingin kalian terpaksa, karena setelah menikah kalian berhak untuk tinggal mandiri..." sahut tuan Sam.


"Kami tidak merasa keberatan ayah... justru kami memang ingin kita masih tinggal bersama" ujar Samir yang membuat Amira menyunggingkan senyuman bahagia.


"Sudah... ayo kak kembali ke tempat ijab, mereka semua sudah menunggu..." ucap Sadira menyadarkan semuanya.


Mereka pun melangkah ke tempat akad akan dilaksanakan. Sahir dan Samir kembali duduk ditempat mereka tadi dan acara ijab kabul pun akhirnya dimulai...


"Sah...." seru semua orang setelah Sahir dan Samir selesai mengucapkan kalimat akad secara bergantian.


Amira kembali menangis karena terharu. Saat ini ia telah resmi melepas kedua putranya untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Dia pun kini sudah menjadi seorang mertua. Amira tersenyum dalam tangisannya saat kedua putranya melakukan sungkem bersama istri-istri baru mereka. Sambil berbisik ia mengucapkan kalimat nasehat pada kedua putranya agar menjadi imam yang baik bagi keluarga baru mereka. Demikian juga ia ucapkan nasehat pada kedua menantu barunya yang sudah seperti putri kandungnya sendiri karena sebelumnya keduanya adalah sahabat dari putri bungsunya Sadira.


"Ayah... Ibu... hari ini aku tidak hanya menjadi orangtua tapi juga mertua... dan mungkin tidak lama lagi aku juga akan menjadi nenek... seandainya kalian masih ada aku rasa kalian akan bangga kan pada putri kalian ini?" batin Amira saat mengingat kedua orangtuanya yang telah tiada.


Setelah acara ijab kabul acara langsung diteruskan dengan acara resepsi yang dilangsungkan di gedung yang sama. Sedari tadi tampak Ricko yang tak bisa mengalihkan pandangannya pada seseorang yang tampak akrab dengan Sadira dan juga keluarganya.


"Jadi dia juga kenal dengan keluarga Sadira?" batinnya sambil tersenyum.


Tidak bisa ia pungkiri jika saat ini hatinya tengah berbunga-bunga karena ia kembali bertemu dengan si mata biru yang sudah mencuri hatinya sejak pandangan pertama. Wajahnya yang cerah dan selalu tersenyum membuat ayahnya menjadi penasaran. Ya... saat ini Ricko memang datang bersama sang ayah dan juga Maya. Hubungan ketiganya yang semakin membaik membuat Ricko tidak merasa keberatan pergi bersama kedua orangtuanya itu. Diam-diam tuan Danu pun mengarahkan pandangannya ke arah mana pandangan Ricko tertuju. Dan dalam hati pria itu pun tersenyum saat mendapati sang putra tengah menatap seorang gadis dengan tatapan memuja.


"Jadi putraku tertarik dengan gadis itu?" batinnya penasaran.

__ADS_1


Saat turun dari atas panggung setelah mengucapkan selamat kepada kedua pasang pengantin, Ricko langsung menghampiri Mahina yang saat itu duduk tidak jauh dari panggung. Tampak gadis chubby itu tengah menikmati camilan sendirian di meja yang sudah dipersiapkan.


"Hai!" sapa Ricko setelah berada di depan Mahina yang tidak menyadari kedatangan Ricko.


Gadis bermata biru itu pun mendongakkan wajahnya dan tampak terkejut saat melihat Ricko yang sudah berdiri dihadapannya.


"Kakak ada disini juga?" tanyanya polos.


"Heum!" sahut Ricko.


"Boleh aku duduk disini?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Mahina.


"Kakak teman kak Sahir atau kak Samir?" tanya Mahina.


"Aku teman keduanya... tapi aku lebih dekat dengan Samir..." terang Ricko.


"Owh..." ujar Mahina sambil menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kamu sendiri?"


"Owh itu... mamaku sahabat bundanya kak Samir dan kak Sahir..." terang Mahina.


"Benarkah?"


Keduanya pun mengobrol dengan akrab. Ricko yang biasanya canggung jika berbicara dengan wanita tampak lebih santai dan bisa mengimbangi Mahina yang ternyata agak cerewet. Gadis itu sama sekali tidak terlihat malu-malu pada Ricko. Hanya sesekali saja wajah gadis itu terlihat merona saat Ricko sengaja menggodanya. Entah mengapa sejak berbincang dengan Mahina, Ricko jadi pribadi yang berbeda dari kesehariannya. Jika biasanya ia terlihat kalem cenderung dingin namun bersama Mahina ia seolah berubah 180 derajat.


Bahkan saat bersama Sadira ia tidak bisa selepas ini jika bercanda. Hal ini menarik perhatian tuan Danu yang sedari tadi mengamati tingkah putra tunggalnya itu.


"Ada apa mas?" tanya Maya saat melihat suaminya itu senyum-senyum sendiri.


"Itu lihatlah! bukankah Ricko tampak tertarik dengan gadis yang sedang berbincang dengannya?" terang tuan Danu sambil menunjuk ke arah putranya berada.


Maya pun mengikuti petunjuk suaminya itu. Dan benar saja... ia bisa melihat jika putra tirinya itu terlihat tengah berbincang dengan seorang gadis bertubuh chubby. Saat pertama kali melihatnya sontak ia langsung teringat dengan Amira. Jika dilihat sekilas memang mirip dengan Amira saat masih SMU. Namun gadis yang tengah berbincang dengan Ricko itu berkulit putih bak orang eropa. Dan saat diperhatikan lagi maka dapat terlihat jika kedua bola mata gadis itu bermata biru. Meski pun gadis itu berambut hitam legam. Mungkin saja gadis itu merupakan keturunan blasteran.


"Cantik..." gumam Maya menilai gadis itu.


"Benar..." sahut tuan Danu setuju.


Sejak ia berbaikan dengan Ricko dan kembali bertemu dengan Amira serta meminta maaf pada Amira atas kesalahannya di masa lalu, Maya menjadi pribadi yang berbeda. Ia kini tidak lagi menilai seseorang hanya dari fisiknya saja. Memang jika seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik jika ia mau belajar dari kesalahannya. Begitu juga dengan Maya... bahkan saat tadi ia bertemu lagi dengan Yuda yang ternyata merupakan calon besan Amira ia tak lagi memiliki rasa seperti saat dulu ia mengejar pria itu. Sepertinya memang ia kini benar-benar sudah mencintai tuan Danu yang mau menerimanya apa adanya.


Tampaknya setiap orang tengah merasakan kebahagiaan mereka masing-masing terutama Ricko. Bagaimana tidak... saat ini ia sudah mendapatkan nomor ponsel dari gadis yang sudah memulai mengisi hatinya itu. Dan setelah tadi saling bercerita, Ricko jadi tahu jika Mahina adalah gadis yang dimaksudkan oleh Samir waktu itu. Menilik sifat Mahina, Ricko pun jadi mengerti mengapa Sadira jadi bisa begitu akrab dengan gadis itu. Ya... sebab sifat keduanya itu sebelas dua belas. Mungkin karena itu juga Ricko jadi merasa nyaman dan bisa berekspresi bebas jika berada didekat Nana. Benar saat ini Ricko bahkan ikut memanggil gadis itu dengan nama kesayangan yang disemat oleh keluarga dan teman Mahina.

__ADS_1


Saat berpamitan pulang kepada Amira dan keluarga, Ricko bahkan sempat membuat janji pada Nana untuk menelfonnya nanti malam. Tentu saja hal ini membuat sang gadis merasa berbunga-bunga. Sebab tanpa semua orang ketahui jika setelah pertemuan pertamanya dengan Ricko, diam-diam gadis itu mulai menaruh rasa pada pemuda yang baru dikenalnya itu. Hingga rasanya tak sabar bagi Nana untuk menunggu telfon dari Ricko. Meski ia sendiri tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan nanti. Dan malam pun tiba... Di dalam kamarnya Ricko tengah gugup saat akan menghubungi Nana dari ponselnya. Entah mengapa ia kini bertingkah bak ABG yang baru mengenal cinta. Dulu meski gugup ia masih bisa bersikap tenang saat bersama Sadira.


Tapi kini meski hanya menghubungi lewat ponsel sudah membuat Ricko gugup setengah mati. Inikah yang dinamakan cinta yang sebenarnya? batin Ricko sambil meremas jemarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Setelah berulang kali menarik dan menghembuskan nafasnya untuk menenangkan hatinya akhirnya ia pun mulai menggulirkan jarinya pada ponsel miliknya untuk mencari nomor kontak Nana. My Girl... nama itulah yang ia sematkan pada ponselnya.


Tuuut... tuut... tuut...


"Hallo?" terdengar suara lembut menjawab panggilannya.


"Hallo Na..." jawab Ricko agak bergetar.


"Kak Ricko?"


"Hem..." sahut Ricko tak tahu harus berkata apa.


Hening...


Saat ini dua hati tengah berdebar karena baru saja mendengarkan suara pujaannya. Cukup lama keduanya terdiam karena tak tahu harus bagaimana memulai percakapan. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi karena tadi saat di pesta pernikahan Sahir dan Samir keduanya malah sudah akrab. Tapi saat ini keduanya justru jadi malu-malu padahal mereka tidak bertatap muka.


"Eum... besok bolehkah kakak mengajak kamu untuk jalan bersama?" tanya Ricko memecahkan keheningan diantara keduanya.


"Boleh... kakak mau mengajak aku kemana?"


"Hem... kamu maunya kemana? apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"


"Entahlah... meski sudah beberapa kali aku ikut mommy kemari, tapi aku tidak begitu tahu tempat yang menarik disini. Sebab kami lebih sering hanya ke rumah kakek..." terang Mahina.


"Kalau begitu bagaimana jika besok aku akan mengajakmu berkeliling? sebab aku juga sudah lama tidak melakukannya..."


"Baiklah... terserah kakak saja..."


Mereka pun mulai kembali berbincang akrab. Tak terasa sudah dua jam keduanya berbincang. Jika saja tidak mendengar suara Sandra yang mengingatkan sang putri untuk segera tidur karena malam sudah larut mungkin saja keduanya akan lupa waktu dan terus berbincang semalaman. Akhirnya dengan berat hati keduanya pun mengakhiri percakapan mereka. Meski begitu senyuman tersungging dibibir keduanya saat ponsel telah dimatikan. Ricko memandangi wajah cantik Mahina yang kini sudah terpampang dalam ponselnya. Ricko memang sudah mengambil foto-foto Mahina saat di pesta tadi.


Bahkan keduanya sempat berfoto bersama baik bersama keluarga pengantin maupun berdua. Ya... kali ini terang-terangan dalam mendekati Mahina. Ia tadi bahkan sudah digoda oleh Samir karena sahabatnya itu juga sudah merasakan jika Ricko tertarik pada anak sahabat bundanya itu.


"Aku senang kamu sudah mulai move on dari adikku yang bar-bar itu..." bisik Samir saat ia berpamitan akan pulang.


Ricko hanya tersenyum menanggapi perkataan sang sahabat. Namun di dalam hatinya ia mengiyakan perkataan Samir tersebut. Mahina memang sudah mengalihkan dunia Ricko dalam waktu singkat. Kini ia hanya berharap agar gadis yang didambakannya ini akan memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Apa aku harus mengatakan perasaanku padanya besok ya?" batin Ricko masih menatap foto Mahina.


"Apa dia tidak akan merasa ini terlalu cepat?" batinnya lagi.

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika nanti aku didahului oleh orang lain?" gumam Ricko cemas.


Ia ingat perkataan Samir tadi yang mengatakan agar Ricko bertindak cepat jika tidak ingin kembali bernasib sama seperti saat dulu ia menyukai Sadira.


__ADS_2