
"Tuan... kami sudah mendapatkan orang yang bisa kita curigai yang telah menculik nona Dira" terang Lukas pada tuan Sam saat mereka berada di ruang kerja tuan Sam.
Sejak Sadira diculik tuan Sam tidak lagi berangkat ke kantor dan hanya mengerjakan tugasnya dari rumah. Ini ia lakukan demi menjaga sang istri yang terlihat depresi karena kehilangan putri bungsu mereka.
"Maksud kamu?" tanya tuan Sam penasaran.
"Saya dan yang lainnya sudah memeriksa hasil rekaman cctv di mall berulang kali hingga kami menemukan seseorang yang patut kita curigai bisa membawa nona Dira tanpa dicurigai orang lain" terang Lukas.
Ya... sejak Sadira menghilang, tuan Sam sengaja membentuk tim khusus yang terdiri dari gabungan anak buahnya dan juga Raja untuk melakukan pencarian.
"Lalu?"
"Ini tuan..." tunjuk Lukas pada rekaman cctv yang memperlihatkan seseorang yang tengah membawa troli barang yang berisi kardus besar. Dari tulisan yang ada di kardus itu orang pasti mengira jika orang itu tengah membawa sebuah mesin cuci karena terlihat jelas di sisi kardus sebuah merk mesin cuci ternama. Dari rekaman cctv itu juga tampak waktu yang tertera disana hanya beberapa detik setelah Sadira keluar dari dalam toilet. Orang itu juga mengenakan topi serta masker untuk menutupi identitasnya.
"Maksud kamu..."
"Ya tuan... kemungkinan orang itu menyembunyikan nona Dira di dalam kardus itu agar tidak ada orang yang mencurigainya..." potong Lukas yang mengerti dengan fikiran tuannya.
"B***g**k! berani sekali orang itu memperlakukan putriku seperti barang!" teriak tuan Sam sambil menggebrak mejanya.
Tidak bisa ia bayangkan tubuh putri kecilnya meringkuk di dalam kardus yang cukup kecil menurutnya. Dan dalam keadaan tidak sadar pula. Ya... jika saja gadis itu dalam keadaan sadar tidak mungkin secara suka rela Sadira mau masuk ke dalam kardus sana.
"Lalu siapa b*j****n itu Luk?" tanya tuan Sam menahan geramnya.
"Kami belum bisa mengindentifikasinya tuan... meski kami sudah tahu mobil apa yang ia gunakan untuk membawa nona Dira, namun ternyata plat mobil itu palsu tuan..."
"Bagaimana dengan GPS yang ada di kalung Dira?"
"Tidak aktif tuan... sepertinya orang itu sudah tahu jika kalung nona Dira terdapat GPS sehingga ia sengaja menonaktifkannya... dan itu berarti jika yang kita hadapi sekarang adalah seorang profesional..." tambah Lukas.
"S**t!" seru tuan Sam sambil menjambak rambutnya sendiri frustasi.
Tak lama pintu ruang kerja tuan Sam diketuk dari luar dan saat tuan Sam mempersilahkan masuk, terlihat tuan Bram dan Raja beserta dua orang lainnya yang tuan Sam kenali sebagai ahli IT anak buah dari Raja.
"Bagaimana... apa Lukas sudah menjelaskannya padamu kak?" tanya tuan Bram yang langsung diangguki oleh tuan Sam.
__ADS_1
"Aku sudah menyebarkan anak buahku untuk mencari ke segala penjuru dimana terakhir mobil penculik itu terakhir terlihat di kamera cctv lalu lintas... tapi orang itu sangat pintar dan menghilang bak di telan bumi" kata Raja dengan nada tak kalah frustasi.
Bagaimana tidak... Sadira adalah keponakan kesayangannya dimana gadis itulah yang kini selalu memakai kalung pemberiannya untuk Amira dulu. Dan itu bukan tanpa alasan...salah satunya adalah karena nama gadis itu sendiri yang berarti bintang. Tiba-tiba semua orang yang ada di dalam ruangan itu dikejutkan dengan suara alarm yang berasal dari salah satu laptop yang dibawa oleh anak buah Raja.
"Tuan... sinyal dari GPS di kalung nona Sadira kembali menyala!" seru orang itu yang langsung mengotak atik laptopnya demi mendapatkan titik koordinat dimana benda itu kini berada.
Setelah mendapatkan titik koordinat dimana diduga Sadira berada, mereka semua pun langsung bergegas menuju ke sana. Dan saat melewati ruang tengah, tiba-tiba Amira menghadang langkah mereka.
"Kalian semua mau kemana? apa Sadira telah ditemukan?" cecarnya penuh harap.
"Belum Meyaa... kami baru saja mendapat koordinat dari GPS di kalung Sadira..."
"Aku ikut!" potong Amira.
Tahu jika ia tidak akan bisa mencegah keinginan istrinya, tuan Sam pun langsung mengangguk cepat membuat Amira langsung menyunggingkan senyumannya yang selama beberapa hari ini tidak pernah lagi dilihatnya. Mereka pun segera berangkat dengan menggunakan dua mobil. Selain itu tuan Sam dan Raja juga memanggil anak buah mereka untuk ikut menyusul demi mengantisipasi keadaan yang tidak terduga.
Sementara itu di kampusnya Samir dan Sahir masih bergulat dengan mata kuliah mereka. Meski tidak bisa secara penuh bisa berkonsentrasi tapi mereka tidak bisa begitu saja meninggalkan mata kuliah mereka apa lagi sebentar lagi keduanya sudah akan menyusun skripsi demi tugas akhir mereka sebelum lulus dari kuliah mereka. Saat bel tanda jam kuliah berakhir, keduanya pun langsung merasa lega. Keduanya langsung menuju ke dalam mobil agar bisa segera pulang ke rumah. Namun saat berada di halaman parkir, Samir tak sengaja melihat Ricko yang tengah memasukkan sesuatu ke dalam bagasi mobilnya. Dan tingkah pemuda itu sungguh membuat Samir curiga, pasalnya ia melihat jika Ricko beberapa kali celingak celinguk memeriksa sekelilingnya memastikan tidak ada orang yang tengah melihat apa yang sedang di perbuatnya.
Dan saat melihat pemuda itu sudah masuk ke dalam mobilnya dan bergerak meninggalkan lapangan parkir, Samir pun segera menyuruh sang kakak untuk mengikuti mobil Ricko.
"Kamu kenapa jadi kepo sama Ricko sih?" tanya Sahir yang enggan bertemu dengan pemuda itu sejak ia lepas emosi kemarin.
"Ga tahu kak... entah kenapa firasatku mengatakan jika Ricko sedang dalam masalah... aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja" sahut Samir.
Mau tidak mau Sahir pun menuruti permintaan Samir dan mengikuti mobil Ricko dari jarak aman agar pemuda itu tidak menyadari perbuatan keduanya. Tak lama mobil Ricko tampak memasuki area gedung apartemen. Samir langsung mengernyitkan dahinya karena setahunya Ricko tidak tinggal di apartemen melainkan di rumah mendiang kakeknya. Karena penasaran ia pun ikut turun saat melihat pemuda itu turun dari dalam mobilnya dan berjalan masuk ke dalam gedung apartemen.
"Aku tunggu disini saja ya Sam... malas aku kalo harus ketemu dia dulu" ujar Sahir saat melihat sang adik hendak turun dari dalam mobil.
"Iya ga pa-pa... aku bisa sendiri" sahut Samir cepat.
Ia tidak ingin kehilangan jejak keberadaan Ricko. Setengah berlari Samir langsung menyusul langkah Ricko menuju ke dalam gedung apartemen. Ia terpaksa bersembunyi sebentar saat melihat Ricko masuk ke dalam lift. Dan begitu pintu lift yang membawa Ricko di dalamnya tertutup, Samir langsung bergegas menuju pintu darurat setelah sempat mengecek dimana lantai pemuda itu tuju. Meski harus ngos-gosan naik tangga darurat menuju lantai 15, tapi Samir tidak mau menyerah. Entah ia juga tidak mengerti kenapa ia justru sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Ricko di gedung apartemen itu. Tapi instingnya mengatakan jika ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh temannya itu. Dan itu bukanlah hal yang baik...
Dengan nafas yang hampir putus, Samir akhirnya sampai di lantai 15 gedung apartemen itu. Tubuhnya bahkan bergetar karena kelelahan naik tangga hingga lantai 15. Untung saja ia masih sempat melihat Ricko yang masuk ke dalam salah satu unit apartemen di sana. Bisa ia duga jika itu adalah apartemen milik Ricko karena pemuda itu langsung menekan password apartemen dan masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Entah keberuntungan atau apa, karena saat Samir tiba di depan pintu apartemen Ricko pintu di sana tidak terkunci secara sempurna sehingga Samir bisa dengan leluasa masuk ke dalam apartemen itu.
Perlahan Samir masuk ke dalam apartemen Ricko berusaha agar tidak menimbulkan suara. Untuk sesaat ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan hingga terdengar suara pintu dari kamar tidur terbuka. Dengan cepat Samir menyembunyikan dirinya di belakang sofa agar tidak terlihat oleh Ricko. Dari balik sofa ia bisa melihat saat Ricko pergi ke arah dapur dan mengambil minuman di sana. Setelah menenggak air minumnya Ricko kemudian melangkah ke kamar mandi yang berada di samping dapur. Sepertinya pemuda ingin membersihkan dirinya, karena tak lama terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Samir. Dengan gerakan cepat namun tetap tanpa suara, Samir masuk ke dalam kamar Ricko karena ia yakin jika ada sesuatu di dalam sana yang harus ia ketahui.
__ADS_1
Dengan perlahan dan hati-hati Samir masuk ke dalam kamar yang ia yakini merupakan kamar tidur Ricko. Saat masuk ke dalam kamar Ricko, Samir langsung dihadapkan dengan kenyataan yang sangat mengejutkannya. Bagaimana tidak, di dalam kamar pemuda itu Samir melihat banyak sekali foto Sadira yang terpajang di sepanjang dinding kamar. Bukan itu saja, ia bahkan mendapati sebuah foto yang berukuran lebih besar dari yang lainnya di salah satu dinding. Darah Samir seketika mendidih. Ia tak menyangka jika temannya itu memiliki obsesi gila pada sang adik. Keterkejutan Samir rupanya belum berakhir saat tanpa sengaja ia mendongakkan kepalanya ke atas langit-langit kamar. Di sana ia melihat pemandangan yang lebih membuatnya emosi hingga urat-urat lehernya mencuat dan terlihat jelas demikian juga dengan wajahnya yang berubah merah menahan amarah.
Bagaima bisa ia tidak emosi saat melihat di atas langit-langit kamar Ricko terdapat foto Sadira dalam ukuran raksasa. Kemarahan Samir sudah sampai ke ubun-ubun saat membayangkan jika Ricko menggunakan foto-foto Sadira itu memenuhi khayalan *** pemuda itu setiap malam. Tentu saja fikiran itu langsung terbersit di otak Samir melihat semua yang ada di dalam kamar Ricko tersebut. Saat itulah Samir mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arah kamar. Ia sudah bisa menduga jika itu adalah Ricko. Samir yang sudah gelap mata akibat merasa jika adik bungsunya itu sudah dilecehkan oleh Ricko meski hanya gambar saja yang ada disana sudah ingin membuat bonyok wajah sok polos pemuda itu saat ini juga.
Sungguh Samir merasa sakit hati karena perbuatan Ricko yang menyimpan foto-foto sang adik meski foto-foto itu pose sang adikmasih terlihat wajar ternamun tetap saja foto-foto itu tanpa seizin Sadira karena sangat terlihat jika semua foto itu diambil secara diam-diam. Samir sadar jika Ricko bisa saja orang yang telah menculik sang adik dan entah dimana pemuda itu menyembunyikannya. Dan Samir bertekad akan membuat pemuda itu mengakui kejahatannya dan menunjukkan dimana sang adik berada.
Ckreekk!
Bug!
Bug!
Bug!
Tanpa aba-aba begitu Ricko masuk ke dalam kamar Samir langsung melayangkan bogemnya ke arah Ricko. Ricko yang sama sekali tidak mengetahui keberadaan Samir tentu saja tidak siap dan langsung menjadi sasaran empuk Samir. Meski begitu setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Ricko pun mulai melawan. Namun semua itu sia-sia saja karena Samir bukan orang sembarangan. Ia sudah mengantongi sabuk hitam saat usianya 18 tahun. Dan ia juga sudah sering mengikuti kompetisi beladiri baik di sekolah, kampus maupun secara pribadi. Jadi Ricko pada akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan Samir. Puas menghujami Ricko dengan pukulannya, Samir mencengkram kaos yang dikenakan Ricko dan menarik Ricko yang sudah babak belur untuk mendekat kearahnya.
"B***g**k lu! berani sekali lu jadiin adek gua buat objek khayalan mesum lu!" sembur Samir tepat di wajah Ricko yang terlihat sudah lemas.
"Gu... gua ga berbuat seperti itu Sam!" sahut Ricko meski terdengar lemah.
"Gu cinta sama Dira... gua gak mungkin melecehkannya meski hanya melalui fotonya saja" sambung Ricko tak terima.
"Lalu maksud lu apa dengan memajang foto-foto adek gua hah?"
"Udah gua bilang gua cinta sama Dira... gua hanya ingin melihat wajahnya setiap saat Sam"
"Gua gak percaya! sekarang katakan... dimana lu sembunyiin adek gua!" bentak Samir.
"Gua gak sembunyiin Dira, Sam! gua ga sekejam itu untuk menculik Sadira dari kalian... jikalau pun gua mengiinginkan Dira, gua akan melakukannya dengan baik-baik dengan membuat adek lu itu jatuh cinta sama gua..." sahut Ricko.
"Tapi lu tahu kan adek lu itu malah jatuh cinta sama cowok ingusan itu! meski gua akui gua marah pada kenyataan itu tapi gua ga pernah berfikiran untuk menculik Dira!" sambung Ricko yang membuat Samir melepaskan cengkramannya.
"Jika bukan lu lalu siapa?" kini suara Samir terdengar pilu.
Ya... saat melihat foto-foto Sadira di kamar Ricko membuat Samir berfikir jika ia telah menemukan penculik adiknya itu. Dam meski marah sebenarnya di dalam hatinya terbersit rasa lega karena sebentar lagi akan menemukan keberadaan sang adik. Tapi dengan pengakuan Ricko barusan harapan itu langsung menghilang. Samir merasa dihempaskan ke dalam jurang saat menghadapi kenyataan jika sang adik belum bisa ia temukan.
__ADS_1
"Maaf Sam... jika apa yang gua lakukan membuat kamu marah... tapi sumpah demi apa pun gua ga menculik Dira... gua bahkan juga ikut mencari keberadaannya Sam, tapi gua belum berhasil" ucap Ricko saat melihat Samir yang hancur.
"Dira... kamu dimana?" gumam Samir dengan perasaan hancur.