BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Hidup Baru


__ADS_3

Hari ini Anna tiba di Inggris dengan diantar oleh kedua orangtuanya. Mereka langsung menuju ke apartemen Anna di Oxford. Dia telah mendapatkan tempat magang di rumah sakit yang ada di kota itu. Sengaja ia tidak menunda waktu magangnya agar ia mempunyI kesibukan dan tidak larut dalam kesedihan atas kematian Raja. Anna tidak tinggal sendirian karena sebelumnya tuan Bram sudah menyuruh salah satu Artnya di rumah untuk datang terlebih dahulu ke apartemen Anna untuk menemani Anna selama di Oxford. Karena Anna akan melanjutkan studinya maka tuan Bram sengaja menempatkan Art dengan usia paruh baya agar bisa membantu Anna menjaga cucunya saat lahir nanti.


Tuan Bram dan nyonya Sarah langsung kembali ke Indo setelah mengantarkan Anna ke apartemennya. Karena Anna sudah mengenal Art yang bertugas membantunya membuat kedua orangtua Anna bisa tenang meninggalkan putri mereka.


"Jika ada apa-apa langsung hubungi papa atau mama oke?" kata nyonya Sarah saat mereka akan berpisah.


"Iya ma..." sahut Anna patuh.


"Ikuti juga nasehat bi Siti karena dia sudah berpengalaman dan memiliki dua orang anak..." sambung nyonya Sarah.


Anna kembali mengangguk. Sedang tuan Bram tampak tak bisa berkata-kata karena masih berat meninggalkan Anna sedirian tanpa Raja. Pria itu hanya bisa memeluk putrinya dengan erat saat berpamitan.


"Anna janji akan baik-baik saja disini pa..." ucap Anna yang mengetahui kegundahan papanya.


Tuan Bram mengangguk dan mengecup kening putrinya itu dalam sebelum akhirnya melangkah bersama nyonya Sarah meninggalkan apartemen Anna. Setelah kepergian kedua orangtuanya Anna langsung masuk ke dalam apartemen. Anna memandangi seluruh isi apartemennya. Tak terasa air matanya kembali menetes karena di tempat itu ada banyak sekali kenangannya bersama Raja.


"Non... yang sabar... ikhlaskan Den Raja..." ucap bi Siti yang mengetahui kesedihan majikannya.


"Iya... terima kasih bi... aku istirahat di kamar dulu ya... nanti panggil aku saat makan malam..." sahut Anna sambil mencoba untuk tersenyum.


"Baik non..."


Anna pun masuk ke dalam kamarnya. Dipandanginya tempat tidur tempat biasanya ia dan Raja menghabiskan waktu bersama. Kembali air matanya menetes.


"Maafkan mama sayang... tapi mama janji setelah ini mama tidak akan menangis lagi... kita akan terus mengenang papamu dengan senyuman..." ucapnya lirih sambil mengelus perutnya yang membuncit.


Setelah itu Anna menyibukkan dirinya dengan menata kamarnya. Ia lalu menggantung foto Raja di dinding tepat di depan tempat tidurnya. Ia berharap agar saat akan tidur dan bangun ia dapat terus melihat wajah Raja.


Beberapa bulan kemudian...


Anna baru saja mengerjakan sholat subuh saat ia tiba-tiba merasakan kontraksi pada perutnya. Ia yang sudah banyak diberi tahu tentang tanda-tanda wanita yang akan melahirkan tampak tenang dan mulai mengatur nafasnya. Tak lama kontraksi itu tiba-tiba saja menghilang. Anna menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya ia tahu jika ini hanya kontraksi palsu dan ia belum saatnya untuk melahirkan. Apa lagi memang HPL nya masih satu minggu lagi. Bahkan kedua orangtuanya sudah berencana datang dua hari lagi agar bisa mendampinginya saat persalinan nanti. Anna pun melanjutkan kegiatannya untuk bersiap berangkat ke rumah sakit tempatnya magang.


Hari ini terjadi kecelakaan beruntun yang mengakibatkan banyak korban. Oleh karenanya rumah sakit tempat Anna magang pun mendapatkan banyak pasien yang berdatangan korban dari kecelakaan tersebut. Anna pun masuk dalam tenaga medis yang membantu korban kecelakaan itu meski ia tengah hamil besar. Saat tengah membantu salah satu pasien yang terluka cukup parah Anna kembali merasakan kontraksi pada perutnya. Namun Anna berusaha menahan rasa sakit yang menderanya karena saat ini ia tengah menangani luka pasien yang cukup parah.


Semakin lama rasa sakit akibat kontraksi itu pun terus berlanjut membuat tubuh Anna sedikit bergetar karena menahan sakit.


"Anda kenapa?" tanya perawat yang tengah membantunya, saat melihat wajah Anna yang memucat.

__ADS_1


"Sepertinya aku akan melahirkan sus..." ucap Anna pelan sambil terus melakukan tugasnya meski sambil menahan rasa sakit.


"Kalau begitu aku akan mencari dokter pengganti... agar anda bisa ditangani..." ujar perawat itu langsung berlari mencari bantuan.


Sambil menunggu, Anna menyelesaikan tugasnya untuk merawat pasiennya. Baru saja ia selesai mengobati luka pasiennya kontraksi itu kembali menyerangnya bahkan membuat Anna harus berpegangan erat pada brankar pasien yang ada di depannya demi menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Saat itulah perawat yang tadi membantunya datang bersama dokter pengganti dan perawat lain. Mereka langsung berganti tugas.


Anna langsung didudukkan di kursi roda untuk dibawa ke ruang bersalin. Saat menuju ruang bersalin wanita itu masih sempat menghubungi Artnya di apartemen bahwa ia akan melahirkan sehingga menyuruh Artnya itu untuk segera menyusulnya ke rumah sakit. Bi Siti yang mendapat kabar dari Anna jika akan melahirkan langsung bergerak cepat. Segera ia meraih tas berisi peralatan untuk Anna dan bayinya yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tak lupa wanita paruh baya itu juga menghubungi kedua orangtua Anna bahwa putri mereka itu akan melahirkan.


Sementara Anna sedang diperiksa seorang dokter kandungan yang selama ini menanganinya.


"Baru bukaan delapan... jadi masih harus menunggu sampai bukaan sempurna ya..." terang dokter.


Anna hanya menganggukkan kepalanya karena menahan sakit.


"Apa ada keluargamu yang akan menemani?"


"Sebentar lagi bibiku akan datang..." sahut Anna sambil tersenyum.


Dokter itu pun merasa lega. Tidak tega rasanya bila melihat Anna berjuang sendirian tanpa kehadiran salah satu keluarganya. Semua rekan kerjanya di rumah sakit sudah tahu jika wanita itu sudah kehilangan suaminya beberapa bulan yang lalu. Mereka sangat kagum dengan ketegaran Anna yang mampu melanjutkan hidupnya dengan baik setelah kehilangan suaminya dalam keadaan mengandung. Karena itu pula mereka juga sering membantu Anna jika wanita itu mengalami kesulitan.


Bi Siti datang untuk menemani Anna tiga puluh menit setelah Anna menelfonnya. Wanita paruh baya itu dengan sabar mendampingi Anna yang tengah menunggu proses persalinannya yang pertama. Meski kedua orangtuanya tidak berada disampingnya karena jarak yang jauh namun kehadiran wanita paruh baya itu sedikit membuat Anna lebih rileks dan tidak begitu gugup menghadapi persalinannya.


"Yang kuat sayang... bertahanlah... aku ada disini..."


Reflek Anna langsung menoleh ke arah suara yang berasal dari samping kanannya. Seketika matanya melebar saat ia melihat wajah suaminya berada tepat dihadapannya.


"MB..." desisnya sambil menahan rasa sakit.


Raja tampak menganggukkan kepalanya dan dapat Anna rasakan genggaman hangat tangan suaminya. Anna menoleh ke arah dokternya saat sang dokter kembali memberi instruksi untuk kembali mengejan. Anna pun patuh dan melakukan semua perintah sang dokter. Saat melihat jika dokter dan perawat yang membantunya seolah tak menyadari kehadiran Raja membuat Anna yakin jika hanya dia yang bisa melihat suaminya itu. Meski begitu Anna tetap merasa bahagia karena Raja tetap hadir mendampinginya meski hanya rohnya saja.


Setelah mengejan yang kesekian kalinya akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang menggema di ruangan itu. Anna menghebuskan nafanya lega saat mendengar suara tangis bayinya.


"Terima kasih Honey Bee..." terdengar suara Raja berbisik lembut di telinga Anna.


Dan bukan itu saja, Anna juga dapat merasakan kecupan lembut suaminya pada keningnya. Anna memejamkan matanya berusaha meresapi setiap momen yang dirasakannya saat ini. Meski tidak akan ada yang mempercayai jika ia menceritakan kehadiran suaminya saat persalinannya, namun Anna tidak perduli. Baginya kehadiran Raja sangat berarti meski entah itu kejadian nyata atau hanya halusinasinya saja.


"Lihatlah Anna... bayimu lahir sehat dan sempurna... dan jenis kelaminnya laki-laki..." terang sang dokter sambil memperlihatkan bayi Anna sebelum akhirnya dibawa untuk dibersihkan.

__ADS_1


"Alhamdulillah..." ucap Anna lirih sambil tersenyum saat melihat wajah bayinya untuk pertama kalinya, kemudian ia pun menoleh ke arah suaminya tadi berada bermaksud untuk melihat reaksi suaminya itu, namun pria itu sudah tidak ada di sana.


Anna mendesah sambil tersenyum kecil. Bagaimana bisa ia berharap jika suaminya masih tetap berada di sana jika jelas-jelas kenyataannya suaminya itu telah meninggal dunia. Meski getir namun Anna tetap tersenyum karena baginya sudah suatu keajaiban suaminya bisa mendampinginya meski alam mereka telah berbeda.


Setelah beberapa saat akhirnya Anna bisa dipindahkan ke ruang perawatan dimana ia menunggu bayinya untuk melakukan IMD. Saat itulah ia baru teringat akan siapa yang akan mengazankan bayinya. Bu Siti yang baru saja masuk ke dalam ruangannya setelah diizinkan oleh dokter langsung ditanya oleh Anna.


"Bi... menurut bibi nanti siapa yang akan mengazankan bayiku? soalnya papa sama mama masih belum sampai..." ucapnya sedikit cemas.


"Nona jangan khawatir... tadi bibi sudah tanya sama perawat yang membawa bayinya non... katanya tadi sudah ada yang mengazankan..." terang bi Siti.


"Siapa?" tanya Anna penasaran.


"Bibi lupa tanya non..." sahut bi Siti merasa bersalah.


"Ga pa-pa bi... akhirnya aku bisa tenang karena putraku sudah ada yang mengazankan... tapi nanti kita harus bertanya siapa yang sudah mau menolong mengazani putraku... karena aku harus berterima kasih padanya" ucap Anna.


Bi Siti pun mengangguk menyetujui perkataan nonanya. Tak lama seorang perawat masuk ke dalam ruang perawatan Anna. Ia membawa bayi Anna untuk melakukan IMD. Anna yang baru pertama kali melakukannya tampak sedikit gugup. Namun bi Siti dan perawat yang bersama putranya dengan telaten membimbing ibu muda itu untuk memberikan ASI pertamanya pada sang putra. Setelah beberapa saat Anna sudah mulai terbiasa dan ia sangat bahagia saat melihat putranya dapat m**y*s* dengan lahap.


Pagi hari saat Anna terbangun ia sangat bahagia saat melihat kedua orangtuanya sudah berada didepannya.


"Mama... papa..." panggilnya dengan air mata bahagia.


"Selamat sayang... kamu sudah menjadi seorang ibu..." ucap nyonya Sarah sambil memeluk putri sulungnya itu.


Tuan Bram pun tampak berkaca-kaca melihat putrinya sudah melahirkan dan memberikannya seorang cucu. Setelah nyonya Sarah mengurai pelukannya, giliran tuan Bram yang memeluk tubuh Anna dengan sayang.


"Papa bangga padamu sayang... kau telah berjuang dengan berani meski tanpa kami disisimu... terima kasih sudah memberikan papa cucu yang tampan dan sehat..."


"Papa sudah melihat putraku?"


"Sudah sayang... tadi saat kami kemari kau masih tertidur... jadi kami pergi menengok putramu dulu" terang tuan Bram sambil tersenyum.


"Dia mirip dengan kak Raja kan pa?"


"Iya sayang... dia sangat mirip dengan Raja papanya..." sahut tuan Bram kembali berkaca-kaca.


"Jangan bersedih pa... aku sudah baik-baik saja... apa lagi sekarang ada putraku yang sangat mirip dengan kak Raja... aku jadi merasa tidak terlalu kehilangan dirinya jika menatap wajah putra kami..." ujar Anna yang tak ingin membuat kedua orangtuanya bersedih mengingat statusnya yang kini menjadi janda setelah kematian Raja.

__ADS_1


Kedua orangtuanya pun tampak tersenyum demi melihat ketabahan putri sulung mereka itu. Benar kata Raja dulu yang pernah mengatakan jika Anna tak selemah seperti yang terlihat dari luarnya. Tapi sebaliknya Anna memiliki kekuatan tersembunyi dalam menghadapi ujian hidupnya.


__ADS_2