
Sadira mengerjapkan matanya perlahan sebelum akhirnya ia membuka kedua matanya. Saat baru saja membuka matanya ia terkejut saat menyadari jika saat ini ia tidak tengah berada di dalam kamarnya. Ingatannya langsung terbayang saat terakhir ia tak sadarkan diri saat seseorang membekapnya dengan sapu tangan yang sudah dibubuhi dengan obat bius. Mengingat hal itu Sadira langsung tersadar jika saat ini ia pasti tengah berada di tempat penculiknya. Sadira langsung hendak bangun dari tidurnya namun aneh, ia sama sekali tidak dapat menggerakkan semua anggota tubuhnya itu. Saat ia ingin bersuara hanya gumaman saja yang keluar dari tenggorokannya. Sadira langsung merasa panik saat menyadari kondisinya saat ini.
"Ayah... bunda... tolong Dira!" teriaknya dalam hati.
Air matanya pun langsung menetes dari kedua kelopak matanya tanpa bisa ia tahan. Saat ini ia sungguh merasa sangat tidak berdaya karena sama sekali tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Hanya kedua bola matanya saja yang bisa ia gerakkan untuk memindai tempatnya berada saat ini. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dari arah luar. Tak lama tampak seorang wanita paruh baya datang dengan membawa nampan berisi makanan.
"Nona Tara sudah bangun?" ucapnya lembut sambil meletakkan nampan diatas nakas disamping tempat tidur Sadira.
Sadira yang menyadari jika wanita itu memanggilnya dengan nama lain langsung hendak protes, namun tentu saja hanya suara gumaman saja yang bisa keluar dari mulutnya sehingga wanita itu tidak mengerti maksud dari Sadira.
" Non Tara jangan panik seperti ini... yang sabar, saya tahu nona pasti masih belum bisa menerima keadaan nona saat ini. Tapi yakinlah jika suatu saat nanti nona pasti akan sembuh..." ucap wanita itu lembut saat melihat kedua mata Sadira yang bergerak cemas.
Wanita itu juga mengelus pundak Sadira perlahan mencoba untuk menenangkan gadis itu. Setelah dirasa Sadira mulai tenang, wanita itu pun kemudian mencoba untuk mengalihkan perhatian gadis itu pada hal lain.
"Perkenalkan, saya bik Ijah yang akan merawat nona... sekarang lebih baik saya bersihkan tubuh nona Tara dulu ya..." ucap wanita itu sambil mengambil peralatan mandi yang ternyata sudah tersedia di dalam kamar tersebut.
Wanita itu juga menyediakan pakaian baru untuk ganti bagi Sadira.
"Saya ambilkan air hangat dulu di kamar mandi ya non..." sambungnya sambil membawa baskom untuk tempat air.
Tak lama wanita itu pun kembali dan kemudian mulai melucuti pakaian Sadira dan mulai mengelap tubuh gadis itu dengan menggunakan handuk yang dibasahi dengan air hangat. Meski merasa risih karena ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain kecuali saat sakit oleh sang bunda, namun Sadira tidak dapat menolak karena keadaannya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sambil membersihkan tubuh Sadira, wanita itu terus berbicara berharap membuat gadis itu merasa lebih baik.
"Nona Tara tahu? saat tuan muda menceritakan tentang nona yang kecelakaan dan kehilangan kedua orangtua nona serta harus mengalami kelumpuhan membuat saya ikut prihatin. Tapi saya yakin jika tuan muda pasti akan menolong nona dan menyembuhkan nona hingga bisa hidup normal... karena tuan muda adalah dokter yang sangat hebat. Dia juga mengatakan akan membawa nona berobat ke luar negeri jika keadaan nona sudah membaik karena disana peralatannya lebih modern..." terang wanita itu disela-sela kegiatannya.
Sadira hanya bisa mendengarkan perkataan wanita itu tanpa bisa menyela. Ia yang kini sudah lebih tenang dan bisa berfikir jernih pun mulai berkonsentrasi mendengarkan cerita wanita yang ada dihadapannya itu berharap wanita itu bisa memberinya sedikit informasi siapa yang telah membawanya ke tempat ini dan juga dimana sebenarnya saat ini ia berada.
"Jadi wanita ini tidak tahu jika aku sedang diculik oleh tuannya? dan dia mengira jika aku begini karena kecelakaan... ya Allah apa yang harus hamba lakukan agar bisa meminta bantuan untuk keluar dari tempat ini?" batin Sadira sambil menitikkan air mata.
"Non Tara jangan menangis lagi... setelah ini nona sarapan agar nona memiliki tenaga..." ucap bi Ijah saat melihat Sadira kembali menitikkan air mata.
Setelah selesai memandikan dan mengganti pakaian Sadira wanita itu pun mulai menyuapkan bubur pada gadis itu untuk sarapan. Meski Sadira tidak begitu menyukai bubur, namun gadis itu terpaksa memakannya karena hanya itu yang bisa ia makan saat ini karena untuk menggerakkan mulutnya pun ia kesusahan. Selesai makan bi Ijah pun pamit untuk membawa bekas makan Sadira. Sementara wanita itu pergi, Sadira mulai memikirkan cara bagaimana ia bisa mengetahui dimana kini ia berada.
"Apa aku bisa membuat kode agar wanita tadi mau membawaku keluar dari kamar ini ya? karena jika bisa keluar setidaknya aku bisa mengira-ngira dimana saat ini aku berada... tapi bagaimana caranya? sedang untuk menggerakkan jariku saja aku tidak bisa... ya Allah berilah keajaiban agar aku bisa keluar dari sini dan kembali ke keluargaku..." do'a Sadira.
Keluar dari kamar Sadira, bi Ijah segera menuju ke dapur di lantai bawah untuk meletakkan piring kotor bekas makan Sadira. Baru saja ia menapakkan kakinya di tangga terakhir, ia sudah ditunggu oleh majikannya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya bi?"
"Kelihatannya dia masih syok tuan... dan dia masih belum percaya dengan apa yang saya katakan tentang kejadian yang menimpanya" terang bi Ijah takut-takut.
"Hem... kalau begitu kamu harus terus mengatakan seperti yang sudah saya perintahkan setiap kali kamu mengurusnya... lama kelamaan dia pasti akan pasrah dan percaya" ujar orang itu dengan tatapan mengintimidasi.
"Ba... baik tuan... kalau begitu saya permisi dulu ke belakang..." kata bi Ijah berusaha lari dari hadapan sang majikan.
"Hemmm..." sahut sang majikan datar.
Setelah kepergian bi Ijah, majikan dari wanita paruh baya itu pun berjalan ke lantai atas untuk melihat keadaan Sadira. Dengan perlahan orang itu membuka pintu kamar Sadira dan masuk ke dalam. Sadira yang masih tersadar tampak memandang waspada ke arah pintu saat mendengar suara pintu di buka.
"Selamat pagi Tara sayang..." sapa seseorang yang membuat Sadira terkejut saat melihatnya.
Bagaimana tidak... Sadira mengenali orang itu... tapi mengapa orang itu menculiknya dan apa tujuannya? batin Sadira. Apa lagi orang itu malah memanggilnya dengan nama Tara, padahal orang itu tahu siapa sebenarnya dirinya.
"Tidak usah takut sayang... aku akan memperlakukanmu dengan baik dan tidak akan menyakitimu..." sambung orang itu sambil berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Sadira.
"Untuk sementara kita tinggal di sini... dan setelah situasinya aman kita akan segera pergi jauh dan hidup bersama selamanya..." ucapnya lagi sambil mengelus pipi Sadira lembut.
Meski orang itu berlaku lembut padanya, namun tidak bisa dipungkiri jika Sadira masih tetap takut pada orang yang telah menculiknya itu. Apa lagi orang itu sampai mengganti namanya dan mengarang cerita tentang kejadian yang menimpanya. Gadis itu meyakinkan diri untuk tetap waspada pada orang yang ada dihadapannya itu karena bukan tidak mungkin orang itu akan melakukan hal buruk jika moodnya rusak.
Sementara itu keluarga Sadira masih berusaha mencari dimana gadis itu berada. Raja pun memanggil anak buahnya yang ada di New York untuk membantu dalam pencarian Sadira. Sahir dan Samir yang juga cemas memikirkan nasib adik bungsu mereka pun tidak bisa berkonsentrasi saat mengikuti perkuliahan mereka. Sepanjang menjalani jam kuliahnya keduanya tampak tidak bisa berkonsentrasi. Bayangan tentang sang adik dalam bahaya membuat keduanya merasa sangat cemas. Saat jam mata kuliah berakhir keduanya langsung bergegas kembali ke rumah demi mendapatkan kabar terbaru tentang pencarian sang adik.
Ricko baru saja keluar dari kelasnya saat melihat Sahir dan Samir yang terlihat terburu-buru menuju ke mobil mereka. Penasaran, pemuda itu pun segera menuju ke mobilnya untuk mengikuti keduanya. Saat melihat kedua kakak beradik itu menuju ke rumah mereka, Ricko langsung mengembangkan senyumannya. Dielusnya sebuah kotak kado yang sedari kemarin tergeletak di samping kursi kemudinya. Sementara itu Sahir yang tengah mengemudikan mobilnya merasa jika ada yang sedang mengikutinya.
Sesekali pemuda itu melirik sekilas ke arah spion mobilnya. Dan benar saja... ia melihat sebuah mobil yang sedari tadi mengikutinya. Hatinya merasa geram karena mengetahui siapa si pemilik mobil itu.
"B***g**k! apa maksudnya mengikuti mobilku sedari tadi sih?" geram Sahir.
Pemuda itu pun langsung menghentikan mobilnya tiba-tiba saat mereka hampir sampai di gerbang komplek rumahnya. Setelahnya ia langsung membuka pintu dan keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri mobil yang sedari tadi mengikutinya itu. Samir terlonjak terkejut saat Sahir tiba-tiba menghentikan mobil mereka secara mendadak. Ia sudah sempat ingin memaki kakak kembarnya yang sudah berbuat seenaknya itu. Namun langsung ia urungkan saat melihat sang kakak langsung keluar dari dalam mobil dengan wajah emosi.
"B***g**k! keluar lu dari dalam mobil!" teriak Sahir sambil memukul kap mobil yang sedari tadi mengikutinya itu dengan sangat keras.
Samir yang berada dibelakang Sahir pun terkejut dengan sikap Sahir yang tidak bisa mengontrol emosinya saat ini.
__ADS_1
"Kak!" serunya sedikit tercekat.
"Keluar lu b***i!" teriak Sahir semakin emosi karena sang sopir tak mau keluar dari dalam mobilnya.
Tak lama pintu mobil pun dibuka perlahan dari dalam mobil. Dan muncullah sang sopir yang membuat Samir terkejut.
"Ricko?" gumamnya pelan.
"Apa maksud lu ngikutin kita heh?"sentak Sahir saat Ricko baru saja menjejakkan kedua kakinya di samping mobilnya.
"So... sorry Sam, gua ga bermaksud ngikutin kalian berdua... gua cuma mau ngasih kado buat adik lu Dira, sebab kemarin gua belum sempat memberikannya..." terang Ricko sedikit gugup.
Bagaimana tidak... saat ini tampang Sahir sudah berubah mengerikan mirip malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya saat ini juga.
"Kak..." ucap Samir sambil mengelus lengan sang kakak pelan demi meredakan emosi Sahir yang tengah meledak-ledak.
"Maaf Ricko... saat ini kami memang tidak dalam keadaan baik-baik saja... jadi lebih baik kamu pulang saja" suruh Samir tanpa penjelasan lebih lanjut.
"Tapi kenapa? aku hanya ingin memberikan kado untuk Sadira... bukan untuk mengganggu kalian berdua apa lagi Dira..." sahut Ricko yang tidak terima niat baiknya malah ditolak mentah-mentah.
"Bukan begitu Rick... kalau pun kamu ikut kami ke rumah, kamu juga tidak akan bisa ketemu sama Dira... dia..." ucap Samir tercekat saat mengingat keadaan sang adik yang belum juga diketahui keberadaannya.
"Dira kenapa Sam?" tanya Ricko penasaran.
"Dia diculik Rick..." terang Samir dengan suara lemah.
"Apa! kapan?" seru Ricko dengan wajah yang memucat.
"Kemarin... saat kami makan malam di restoran untuk merayakan ulang tahunnya..." terang Samir.
Sedang Sahir sudah kembali ke dalam mobil dan membiarkan sang adik untuk berbicara dengan Ricko. Sebenarnya ia sedikit merasa bersalah pada temannya itu karena tadi sudah membentak dan membuat keributan. Tapi egonya saat ini membuatnya enggan mengucapkan kata maaf pada Ricko. Apa lagi fikirannya yang kalut karena hilangnya Sadira membuat pemuda itu langsung tersulut emosi saat Ricko seperti mengikuti mobilnya tadi. Sementara Ricko tampak mulai memaklumi sikap Sahir tadi setelah Samir menjelaskan segalanya. Pemuda itu pun menitipkan kado untuk Sadira agar disimpan untuk diberikan pada gadis itu saat nanti sudah ditemukan.
"Terima kasih Ricko... kamu sudah perhatian sama adik aku itu..." ujar Samir sambil tersenyum penuh terima kasih.
"Iya sama-sama... Dira itu sudah seperti adik aku sendiri..." ucap Ricko berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aku tahu..." sahut Samir sambil tersenyum.
Setelah itu Samir pun pamit dan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Kini ia yang mengemudikan mobil itu, karena sang kakak telah terlebih dahulu duduk di kursi penumpang.