
Ayana dan Deni saling pandang... keduanya tak menyangka jika mama mereka bukanlah satu-satunya korban dari wanita itu. Opa mereka juga sudah menjadi korban terlebih dahulu.
"Apa yang akan kamu lakukan Jihan?" terdengar suara pak Suryono seperti seseorang yang tengah terkejut dan merasa terancam.
"Tentu saja menyingkirkanmu pak tua..." suara Jihan kini terdengar dingin.
"A... apa?" kini suara pak Suryono terdengar berat.
"Kamu fikir aku tidak menyiapkan sesuatu sebelum aku menemuimu kali ini?" lalu terdengar kekehan Jihan yang seolah mengejek pak Suryono.
Tak lama terdengar suara seperti sengatan listrik dan teriakan pak Suryono yang tersetrum.
"Kau fikir kau punya kekuatan untuk melawanku hah? rasakan! bagimana rasanya tersetrum seperti ini? sakit?" tanya Jihan pada pak Suryono.
"Aarrrggh!" terdengar erangan lirih pak Suryono.
"Kau tahu... ring pada jantungmu itu akan bereaksi vatal saat ini... dan tak akan ada yang tahu jika aku yang telah menghabisimu... karena mereka semua akan mengira jika karena penyakit jantungmu itu kumat dan mengakibatkan nyawamu melayang...." terdengar suara Jihan yang terkekeh karena merasa semua rencananya sempurna.
Samar masih terdengar erangan kesakitan pak Suryono, namun itu tidaklah lama. Karena kemudian tak lagi terdengar suara dari bibir pria baya itu.
"Selamat menemui menantu kesayanganmu itu pak tua... jangan khawatir aku tidak akan menyakiti keluargamu yang lain jika mereka tidak menghalangi jalanku sepertimu... terutama mas Rendra... karena aku benar-benar mencintainya..." sambung Jihan.
Kemudian terdengar langkah kaki orang yang menjauh. Dari suaranya itu seperti suara heels wanita. Kedua bocah yang sedang mendengarkan rekaman itu pun bisa menduga jika Jihan tengah berjalan keluar ruangan. Tak lama terdengar suara pintu tertutup. Dan rekaman itu pun berakhir.
Ayana dan Deni pun menelan ludah mereka kasar. Bulu kuduk keduanya pun meremang. Bak melihat film horor namun tanpa gambar. Lebih tepatnya seperti mendengar sandiwara radio seperti jaman dulu saat televisi belum populer.
"Dia... seperti seorang psikopat..." desis Deni.
Ayana pun mengganggukkan kepalanya tegas sangat setuju dengan penilaian adiknya itu. Karena rekaman itu tidak ada kelanjutannya, keduanya pun langsung membawa alat perekam itu dengan memasukkannya ke dalam ras ransel Deni.
"Apa kita akan langsung pulang kak?" tanya Deni saat keduanya sudah berada di luar rumah bu Ratri.
"Kakak akan menghubungi ayahnya Dira dulu dek, lalu kita menyerahkan rekaman ini padanya..."
"Baiklah..."
__ADS_1
Ayana pun langsung menghubungi nomor tuan Sam. Mendengar keterangan Ayana, tuan Sam pun langsung berjanji akan segera menjemput Ayana dan Deni sekaligus mengambil rekaman yang sudah mereka dapatkan. Setelah itu keduanya pun menunggu tuan Sam di depan rumah bu Ratri setelah Ayana memberikan lokasi dimana dirinya kini berada. Dua puluh menit kemudian tampak sebuah mobil mendekat ke arah dua kakak adik itu. Dan saat sang pengemudi membuka jendela tampak tuan Sam lah yang ada di dalam mobil. Ayana dan Deni langsung di ajak masuk ke dalam mobil. Lalu mereka langsung pergi dari tempat itu.
"Apa kalian sudah makan siang?" tanya tuan Sam pada kedua kakak adik itu.
Ayana dan Deni pun kompak menggelengkan kepala mereka. Kemudian tuan Sam pun membawa keduanya ke sebuah restoran dan menyuruh Ayana dan Deni untuk makan siang di sana. Selesai makan siang, Ayana dan Deni menyerahkan alat perekam beserta isinya pada tuan Sam.
"Semoga ini bisa menjerat tante jahat itu ke penjara...." ucap Ayana saat menyerahkan benda itu pada tuan Sam.
"Iya Ay... om harap kalian berdua tetap bersabar dan tidak gegabah, secepatnya om akan mengungkapkan semuanya dan membawa kasus ini ke pengadilan..."
"Kami mohon agar om bisa secepatnya melakukannya... karena sebentar lagi papa dan tante jahat itu akan menikah..." kata Deni mencoba memberitahu tuan Sam bahwa waktu mereka semakin sedikit.
"Kapan mereka akan menikah?"
"Dua minggu lagi om..."
"Baiklah... dalam dua minggu om akan usahakan untuk menyelesaikannya..." ujar tuan Sam memberikan janjinya.
"Jika bisa, mungkinkah om mau mengungkapkannya tepat di saat mereka akan menikah?" tanya Ayana.
"Kami ingin mereka semua malu karena sudah mendukung wanita jahat itu om, terutama papa..." terang Ayana yang diangguki oleh Deni pertanda bocah itu juga setuju dengan ide kakaknya.
Sebenarnya ini mungkin bisa dikatakan adalah balas dendam keduanya pada sang papa dan keluarganya yang telah menyia-nyiakan sang mama. Tuan Sam menatap kedua kakak beradik itu dengan tatapan iba. Jika saja Rendra tidak melakukan hal yang menjijikkan itu dengan sengaja menjebak Siska dan melakukan kekerasan pada wanita malang itu mungkin keduanya masih akan mengungkap kematian Siska tanpa harus mempermalukan Rendra dan keluarganya dimuka umum. Tapi nasi sudah menjadi bubur... apa yang kau tanam itulah yang akan kau tuai...
Kekejaman Rendra dan fitnahnya pada Siska sudah membuat luka yang teramat dalam bagi kedua buah hati mereka. Dan kini bukan rasa hormat dan sayang yang Ayana dan Deni berikan pada Rendra ayah mereka, tapi rasa benci dan kecewa karena kelakuan bejat pria itu pada Siska.
"Baiklah... om akan mengatur semuanya agar terungkap saat pernikahan keduanya..."
Ayana dan Deni langsung tersenyum senang. Meski ada rasa miris membayangkan bagaimana malu dan kecewanya Rendra dan keluarganya saat semua kebenaran terungkap.
"Baiklah sekarang om akan antar kalian pulang..." kata tuan Sam setelah mereka menyepakati semuanya.
Dalam perjalanan ke rumah Rendra, semuanya terdiam dan larut dalam fikiran masing-masing. Ayana dan Deni sengaja minta diturunkan agak jauh dari kediaman mereka karena tak ingin ada yang memcurigai mereka. Tuan Sam pun menuruti permintaan keduanya. Dan saat akan masuk ke dalam rumah Ayana dan Deni juga sengaja tidak masuk secara bersamaan agar mereka semakin tidak dicurigai.
Setelah mendapatkan bukti rekaman suara di ruangan pak Suryono, tuan Sam pun langsung menghubungi Raja, tuan Bram dan juga Lukas. Sebab sekarang mereka sudah mendapatkan bukti yang cukup kuat untuk menyeret Jihan ke penjara. Hanya saja sesuai dengan permintaan kedua anak Siska maka semuanya akan dibeberkan saat acara pernikahan Rendra dan Jihan dilaksanakan.
__ADS_1
Keempat orang dewasa itu pun sepakat berkumpul di rumah tuan Sam. Mereka akan mencocokkan bukti rekaman suara dan juga rekaman cctv di ruangan pak Suryono. Jika benar cocok maka tinggal mengeksekusi pelaku kejahatan yang sudah bertahun-tahun lolos dari jerat hukum. Dan seperti yang telah direncanakan maka malam itu keempatnya langsung berkumpul dan mencocokkan semua bukti yang ada. Betapa terkejutnya mereka saat mendengar rekaman percakapan dimana Jihan mengakui jika ia juga telah membunuh ayah dari Rendra. Dan dari rekaman itu juga mereka tahu jika semua kejahatan Jihan itu karena ia sudah memiliki dendam terhadap keluarga Suryono akibat sang ayah yang dipenjarakan karena korupsi di perusahaan keluarga Suryono.
"Jadi ini alasannya Jihan begitu ngotot untuk menikah dengan Rendra meski butuh waktu belasan tahun lamanya untuk mewujudkan keinginannya..." kata tuan Bram.
Dia tak menyangka ada seseorang yang bisa begitu licik hingga bisa menghindar dari jerat hukum selama belasan tahun. Dulu dia memang pernah berada diposisi Rendra dimana ia terpikat pada wanita lain dan melupakan istrinya. Tapi ia tak setega itu untuk menyakiti istrinya sendiri dan memfitnahnya hanya demi wanita lain.
"Kau tahu kak... melihat Rendra aku seperti melihat masa laluku... tapi aku sungguh tak mengerti dengan jalan fikiran Rendra yang lebih memilih wanita penggoda itu dan menyiksa istrinya... jika dia memang muak dengan istrinya kenapa dia tidak menceraikannya saja? kenapa ia harus memfitnah Siska segala? apa dia tidak sadar jika sebenarnya yang berselingkuh itu adalah dirinya sendiri..." kata tuan Bram pada sang kakak ipar.
"Kau dan Rendra jelas berbeda Bram... kau menikah dengan Sarah karena kalian saling cinta... meski kau pernah tersesat dan membuat kesalahan namun hatimu masih ada pada istrimu hingga kau bisa segera tersadar sebelum keluargamu benar-benar hancur..." terang tuan Sam.
"Sedang Rendra... sejak awal ia membenci Siska dan ia menyalahkan wanita itu karena tidak bisa kembali pada cintanya... karena itulah ia seolah tak berperasaan saat menjebak istrinya sendiri demi bisa berpisah" sambung tuan Sam.
"Benar... pria seperti Rendra pasti merasa jika hanya dia yang menderita... dan merasa sebagai korban... dia tidak mau mengerti jika dalam hal ini Siska juga sama..." ujar Raja ikut menimpali.
"Intinya... dia orang yang egois yang hanya memikirkan keinginannya sendiri tanpa mau melihat dari sisi orang lain" sambung Lukas.
Ketiga orang yang lainnya pun mengangguk setuju. Dan malam itu juga Lukas langsung mengurus semuanya, karena ia juga harus mencari bukti kejahatan ayah Jihan dahulu untuk memperkuat semua bukti yang sudah mereka kumpulkan saat ini. Sedangkan di rumahnya, Ayana dan Deni semakin gelisah. Apa lagi semua orang sudah mulai mempersiapkan acara pernikahan Rendra dan Jihan. Kedua bocah itu lebih memilih pura-pura sibuk dengan pekerjaan sekolahnya dari pada harus melihat persiapan pernikahan Rendra yang terlihat sangat mewah. Mereka semua seolah sudah tidak mengingat lagi tentang kematian Siska yang tragis.
Rasa bersalah pada Rendra pun seakan menguap dan tak berbekas sama sekali. Dalam hati pria itu hanya ada rasa bahagia karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa menikahi wanita yang sangat cintainya. Dari dalam kamarnya Ayana dan Deni tampak menatap sinis pada semua anggota keluarga yang heboh dalam mempersiapkan pernikahan Rendra dan Jihan.
"Lihat saja... siapa yang akan menangis dalam penyesalan pada akhirnya nanti jika semuanya sudah terungkap!" gumam Ayana memandang ke arah Rendra yang tengah tersenyum bersama Jihan saat memeriksa kartu undangan yang baru saja selesai dicetak.
"Sabar kak... sebentar lagi mereka semua akan membayar atas semua kesakitan yang selama ini mama rasakan saat menjadi menantu di keluarga Suryono... dan akan aku pastikan jika papalah orang yang akan paling merasa menyesal..." sambung Deni yang berdiri di samping sang kakak.
"Ya... kau benar dek... mereka akan merasakan kesakitan yang sama bahkan lebih atas perbuatan mereka pada mama kita..." ucap Ayana sambil menggenggam tangan Deni dengan erat.
Deni pun langsung membalas genggaman san kakak tidak kalah eratnya...
"Ma... maaf jika Deni baru sadar dan baru bisa sebentar dalam membahagiakan mama... tapi Deni janji... wanita i***s itu tidak pernah bisa masuk dalam keluarga kita... pengorbanan mama tidak akan pernah sia-sia..." batin Deni dengan mata yang memerah.
Bocah sepuluh tahun itu sungguh tidak bisa menahan rasa marah dan bencinya pada sang papa dan semua orang yang telah menyakiti mamanya. Jika bukan karena fitnah dan hasutan mereka tentu sejak dulu ia akan lebih dekat dengan sang mama. Dan seperti juga sang kakak, ia pasti akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan mamanya untuk membalut luka yang sudah ditorehkan sang papa dan keluarganya. Rasa sesal masih menghantui bocah sepuluh tahun itu. Sesal karena begitu mudah percaya pada papanya dan yang lain hingga ia menjauh dari mamanya.
.......
Lihat karya baru aku yang mengangkat gendre yang berbeda dari karya-karyaku yang sebelumnya.... SECOND LIFE AS MY MASTER
__ADS_1