BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Pencarian


__ADS_3

Sadira merasa sangat ketakutan saat melihat dokter Andrew berjalan semakin mendekat ke arahnya. Gadis pemberani itu kini tampak rapuh saat harus berhadapan dengan dokter gila itu. Hal ini terjadi selain karena tubuhnya yang belum sepenuhnya fit juga karena ia tahu jika dokter itu bisa bertindak licik dengan menggunakan obat-obatan untuk melumpuhkan mangsanya. Apa lagi kini ia bukan hanya memikirkan nasibnya sendiri tapi juga nasib Bara dan juga Ricko. Sebab kemungkinan Bara juga telah tertangkap oleh dokter Andrew saat Sadira melihat dokter itu yang keluar sendiri terlebih dahulu dari dalam rumahnya.


"Ya Allah... hamba mohon lindungilah hamba... juga kak Ricko dan kak Bara..." do'anya dalam hati.


Dokter Andrew tampak berjalan dengan tenang mendekati ke tempat dimana kini Sadira bersembunyi. Dalam fikirannya pasti gadis incarannya itu tengah merunduk ketakutan diantara tanaman pagar itu. Senyuman i**l*s tercetak dibibirnya. Setelah sampai di depan tanaman pagar tetangganya itu ia pun bersiap seakan hendak menyergap mangsanya. Dan...


Hap!


Krusaakk!


Brughh!


"Arrggh... s**t!" seru dokter Andrew mengumpat saat ia hanya menyusruk ke tanaman dan terjerembab diantara ranting dan daun tanaman tanpa menemukan Sadira.


Tak lama seekor kucing muncul tiba-tiba dari dalam tanaman dan langsung menyerangnya. Sepertinya kucing itu terganggu dengan ulah dokter itu yang mengejutkannya saat bersantai di bawah tanaman pagar.


"Owh s**t! sial sekali..." ucapnya sambil berusaha untuk menangkis kucing yang menyerangnya itu.


Dan setelah bergumul beberapa saat akhirnya sang kucing pun melepaskannya setelah dokter Andrew berhasil memukul kucing itu sehingga membuatnya takut dan segera melarikan diri dari sana. Tidak puas dengan apa yang tadi ditemukannya, dokter Andrew kembali memeriksa sekitar tempat itu. Ia pun segera menyibakkan dedaunan dan ranting tanaman dengan kasar demi bisa menemukan keberadaan Sadira. Namun sayang meski ia sudah mengobrak abrik tanaman itu sampai agak rusak, tapi ia tetap saja tidak bisa menemukan mangsanya. Dokter Andrew merasa bertambah kesal. Ia mengacak rambutnya dengan frustasi. Tapi tidak mungkin juga ia memotong habis tanaman milik tetangganya itu untuk bisa menemukan Sadira. Bisa-bisa ia malah dituntut oleh tetangganya itu karena dianggap sudah merusak property milik orang lain.


"Apa mungkin bocah s**l*n itu sudah menyuruh Tara untuk pergi sebelum ia masuk ke dalam rumah?" batin dokter Andrew mulai frustasi.


Sebab jika itu benar maka kedoknya akan segera terbongkar dan kejahatannya selama ini akan diketahui oleh semua orang.


"Arrrgh s**l!" teriaknya keras.


Kemudian dokter Andrew segera beranjak dari tempat itu untuk kembali ke dalam rumah. Ia juga sempat melepaskan ikatan satpam rumahnya dan menyuruh pria itu untuk segera menutup pintu gerbang dan menguncinya. Ia juga mewanti-wanti agar tidak memperbolehkan orang asing datang ke rumahnya. Satpam itu hanya bisa mengangguk patuh tanpa berani bertanya tentang gadis yang tadi mengaku telah diculik oleh tuannya itu. Baginya pekerjaan disana lebih penting sehingga ia tidak akan mencampuri urusan tuannya.


Sedangkan Sadira tampak menghela nafas lega sat melihat dokter Andrew masuk ke dalam rumahnya, meski saat ini seluruh tubuhnya masih bergetar karena ketakutan. Ya... Sadira tadi memang bersembunyi di antara tanaman pagar, namun saat ia melihat dokter Andrew berjalan mendekat ke arah tempat persembunyiannya ia masih sempat berpindah tempat persembunyiannya ke dalam sebuah kardus bekas yang bertumpuk di samping bak sampah di dekat sana. Sadira tampaknya juga harus berterima kasih pada kucing tadi yang sempat mengalihkan perhatian dokter Andrew.


Sementara itu tuan Sam dan yang lainnya tengah dalam perjalanan menuju ke tempat dimana Sadira kini berada. Sepanjang perjalanan mereka semua terdiam larut dalam fikiran mereka masing-masing. Amira tak henti-hentinya merapalkan do'a demi keselamatan sang putri. Ia berharap keadaan putrinya akan baik-baik saja saat nanti mereka bertemu. Tuan Sam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Untung saja jalanan yang mereka lewati cukup lengang karena ini hari libur dan sudah hampir tengah hari.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit akhirnya rombongan itu sampai juga di lokasi tempat Sadira berada. Meski gadis itu belum terlihat namun titik koordinat GPS dari ponsel yang tadi digunakan oleh Sadira untuk menghubungi tuan Sam dan Amira sudah tepat. Mereka pun segera berhenti dan keluar dari dalam mobil untuk mencari keberadaan Sadira.


"Dira!" seru Amira memanggil putrinya itu.


"Ssst... jangan keras-keras Ra!" kata tuan Sam khawatir jika apa yang dilakukan oleh Amira akan membahayakan keselamatan Sadira karena bukan tidak mungkin jika saat ini Sadira masih bersembunyi karena masih belum merasa aman.

__ADS_1


Dan itu berarti jika penjahat yang menculiknya mungkin saja masih ada di sekitar sana. Tuan Sam langsung memberikan kode untuk menyisir tempat itu untuk menemukan keberadaan Sadira. Mereka pun langsung berpencar. Sadira yang tadi sempat terlelap sebentar terbangun saat ia merasa telinganya sayup-sayup mendengar suara sang bunda. Gadis itu pun berusaha keluar dari tempat persembunyiannya. Saat ia baru saja menyembulkan kepalanya dari dalam kardus, ia dapat melihat jika kedua orangtuanya dan yang lainnya tengah berjalan menyebar mencarinya.


"Bunda!" teriak Sadira saat melihat Amira berjalan tak jauh dari tempatnya bersembunyi.


Amira yang mendengar suara Sadira pun langsung menoleh ke arah suara. Begitu pun dengan tuan Sam dan yang lainnya, karena mereka belum menyebar jauh. Saat melihat Sadira yang bersusah payah keluar dari dalam kardus membuat Amira langsung memekik bahagia dan segera berlari ke arah putrinya itu. Serentak yang lainnya pun mengikutinya.


"Dira!" seru Amira sambil memeluk tubuh putri bungsunya itu.


Air mata Amira menetes karena bahagia setelah berhari-hari dalam kekalutan memikirkan nasib putrinya itu. Tuan Sam dan yang lainnya pun mendekat ke arah keduanya. Tuan Sam bahkan ikut memeluk tubuh Sadira bersama Amira. Hal itu juga diikuti oleh si kembar. Keluarga itu pun menangis bahagia dengan saling berpelukan. Setelah beberapa saat mereka pun mengurai pelukannya. Amira yang masih merasa tidak percaya jika kini putrinya telah ditemukan dan telah berada dihadapannya pun tidak henti-hentinya menghujani wajah putrinya itu dengan ciuman.


Tuan Sam terpaksa menyadarkan Amira agar menghentikan tindakannya karena mereka harus segera membawa Sadira pergi dari sana dan membawa gadis itu ke rumah sakit agar dapat diperiksa kesehatannya.


"Sudah Meyaa... kita harus segera membawa Sadira ke rumah sakit agar bisa diperiksa kesehatannya..."


Amira yang tersadar dengan perbuatannya pun langsung berhenti dan meminta maaf karena terlarut dalam kegembiraannya.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang..." ucap Amira sambil tersenyum.


Sadira menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak bunda... kita harus menyelamatkan kak Bara dan kak Ricko terlebih dahulu..." terang Sadira cepat.


"Kak Ricko tadi berusaha menolongku lari dari penculik itu kak... tapi kami ketahuan. Dan akhirnya kak Ricko tertangkap. Sedangkan aku berhasil melarikan diri..."


"Lalu bagaimana bisa Bara juga terlibat?" tanya Samir lagi.


"Tadi saat aku berhasil keluar dari sana aku sempat dicegat oleh satpam disana, dan saat itu tidak sengaja kak Bara menemukanku dan lalu menolong, tapi aku memintanya untuk menyelamatkan kak Ricko sedang aku menghubungi bunda untuk meminta bantuan... tapi sedari tadi aku tidak melihat kak Bara keluar dari rumah itu baik sendirian atau bersama kak Ricko... Sedang tadi penjahat itu juga sempat keluar untuk mencariku... aku takut bunda... kak Bara juga tertangkap..." terang Sadira dengan suara serak.


Amira langsung memeluk Sadira kembali. Ia melayangkan tatapannya pada sang suami. Tuan Sam yang faham dengan arti sorot mata Amira pun menganggukkan kepalanya. Ia kemudian membawa anak buahnya beserta yang lainnyan untuk mengggeledah rumah dokter Andrew untuk mencari Bara dan juga Ricko. Sementara Amira akan membawa Sadira ke rumah sakit diantar oleh dua orang anak buah tuan Sam.


Sementara itu dokter Andrew tengah asyik meracik ramuan miliknya sambil menunggu kedua mangsanya itu tersadar. Meski tadi ia sempat kecewa saat tidak bisa menemukan Sadira kembali, namun ia sudah merasa sedikit lebih baik karena sebagai gantinya ia bisa mendapatkan Ricko dan pemuda sok pahlawan yang tadi menyusup ke dalam rumahnya. Tanpa ia sadari jika kini sudah ada beberapa orang yang sudah menyusup ke dalam rumahnya. Gerakan mereka yang terlatih bisa dengan mudah melumpuhkan satpam rumah dokter Andrew. Tuan Sam juga sudah mengetahui dengan siapa saat ini ia berurusan.


Berkat Lukas dan ahli IT dari Raja mereka dengan mudah meretas data pemilik rumah yang ditunjuk oleh Sadira sebagai rumah milik orang yang sudah menculiknya. Meski dokter Andrew terlihat seperti orang kebanyakan dan terlihat normal selama kesehariannya, namun fakta yang diungkapkan oleh Sadira membuat semua orang berfikir jika dokter itu mempunyai kelainan jiwa.


"Kita semua harus hati-hati dan waspada karena kita tidak tahu seberapa licik dokter itu... bisa saja dia sudah menyiapkan jebakan untuk menangkap para penyusup di rumahnya..." kata tuan Sam mengingatkan sesaat sebelum mereka semua menerobos masuk ke dalam rumah dokter Andrew.


Semua orang mengangguk patuh. Kemudian mereka pun menerobos masuk dengan langkah senyap. Anak buah Raja yang ikut tampak ikut andil besar dalam memuluskan penyergapan itu. Dengan keahliannya mereka bisa membuka pintu rumah yang terkunci dengan mudah dan tanpa menimbulkan suara. Setelah berhasil masuk, mereka langsung menyebar untuk memeriksa semua sisi rumah. Jumlah mereka yang berdua belas orang pun dengan cepat bisa menyisir keadaan rumah dengan baik. Salah satu anak buah Raja bahkan berhasil mengamankan bik Ijah yang tengah berada di dalam kamarnya. Wanita paruh baya itu baru saja selesai mengobati luka di pelipisnya setelah tadi sempat pingsan akibat di dorong oleh Sadira.

__ADS_1


Namun setelah hampir setengah jam mereka memeriksa setiap sudut ruangan, mereka belum juga menemukan Bara dan juga Ricko. Bi Ijah yang diinterogasi mereka awalnya sempat memberikan keterangan yang berbelit karena masih berusaha melindungi majikannya. Namun setelah mendapatkan paksaan dari anak buah Raja yang biasa melakukan hal tersebut akhirnya wanita paruh baya itu pun menyerah dan mau memberikan informasi yang diketahuinya. Namun bi Ijah juga tidak bisa memberikan informasi banyak, pasalnya wanita paruh baya itu tadi sempat pingsan dan jadi tidak mengetahui keberadaan majikannya.


Sementara itu di dalam ruangan tersembunyinya, dokter Andrew tengah tersenyum saat melihat Ricko dan Bara yang mulai tersadar secara bersamaan. Kedua pemuda itu awalnya tampak linglung dan tidak mengenali ruangan dimana keduanya kini berada. Namun keduanya langsung tersadar saat keduanya sama-sama saling bertatapan secara bersamaan.


"Kak Ricko?"


"Bara?"


Ucap keduanya secara bersamaan. Keduanya langsung menyadari tentang apa yang sedang terjadi pada mereka tanpa harus saling menjelaskan.


Prok... prok... prok!


"Bagus sekali... kalian berdua sudah sadar..." ucap dokter Andrew sambil bertepuk tangan.


"Lepaskan kami dokter!" pinta Ricko.


"Melepaskan kalian katamu? kalian sudah membuatku kehilangan Tara ku... jadi kalian berdua harus membayarnya dengan mahal!" seru dokter Andrew dengan marah.


Ada rasa lega dihati Bara dan juga Ricko saat mendengar perkataan dokter Andrew. Itu berarti jika saat ini Sadira sudah berhasil menyelamatkan diri. Meski kekhawatiran mereka akan keselamatan mereka berdua juga tidak kalah besar, namun dengan selamatnya Sadira membuka kemungkinan lebih besar bahwa akan ada yang datang untuk menolong mereka.


"Sekarang, aku akan membuat karya baru... dan itu akan melibatkan kalian berdua..." ucap dokter Andrew sambil menyeringai kejam.


Doktet Andrew berjalan dengan santai ke arah meja yang berisikan beberapa peralatan medis mirip dengan yang ada di ruang operasi. Dengan hati-hati ia memilih alat yang akan digunakannya sambil bersenandung riang.


"Ta.. ta... tara... ra..."


Ricko dan Bara kini cemas dengan tingkah yang ditunjukkan oleh dokter Andrew yang seperti sikopat. Sedangkan di sisi lain Raja dan yang lainnya mulai berfikir jika dokter Andrew pasti belum meninggalkan rumahnya itu karena mobil miliknya masih berada di depan rumah. Begitu pun dengan barang-barang pribadi dokter itu.


"Apa mungkin dokter gila itu memiliki ruangan rahasia?" cetus Sahir.


Semua orang langsung menoleh ke arah pemuda jangkung itu dengan tatapan berbinar.


"Kamu benar nak... mungkin saja itu yang terjadi. Sebab di tidak mungkin bisa memindahkan Bara dan Ricko dari tempat ini sendirian..." sahut tuan Sam.


"Kalian dengar? sekarang periksa lagi setiap sudut ruangan dan cari adanya kemungkinan adanya ruang rahasia di rumah ini!" titah Raja pada anak buahnya.


Dengan cepat ke 7 anak buahnya pun langsung menyebar. Begitu juga dengan tuan Sam dan yang lainnya. Tuan Sam dan Sahir bergegas memeriksa ruang kerja dokter Andrew. Feelling mereka mengatakan jika pasti ada suatu petunjuk di ruangan itu. Dengan hati-hati dan teliti keduanya memeriksa ruangan itu. Sahir bahkan berusaha menarik semua buku dari dalam raknya seperti yang sering ia baca dan lihat baik dibuku mau pun film petualangan dan detektif yang digemarinya. Namun nihil... hingga akhirnya tanpa sengaja pemuda itu merasakan ada bagian yang berbeda pada salah satu lemari buku tersebut. Kayunya terasa lebih ringan meski banyak buku yang ada didalamnya. Sehingga lemari itu dapat dengan mudah untuk digeser.

__ADS_1


"Ayah lihat!" seru Sahir pada tuan Sam.


__ADS_2