
Benar saja setelah beres makan Damar membawa Killa ke dalam kamar pribadi miliknya, Ia juga menunjukan Lemari pakaian yang sudah di isi dengan beberapa pakaian untuk Killa ganti.
" Loh ko ada pakaian wanita? " tanya Killa heran
Damar tersenyum " Ini baju ganti untukmu. Mas sengaja Menaruh nya beberapa untuk jaga-jaga siapa tau saja kamu ingin mandi atau apa " jawab Damar
Killa mengangkat sebelah alis nya " Ada-ada saja kamu ini Mas " Ucap Killa. Killa cukup Kagum dengan kamar pribadi milik Damar walaupun tidak sebesar kamar damar yang ada di Rumah namun Ini Cukup nyaman bahkan sangat Rapih
" Apa Mas Sering tidur di sini? "
" Terkadang, Jika kerjaan sedang banyak dan tidak ada waktu untuk pulang ya Mas akan tidur di sini " jawab Damar jujur Bahkan Damar sangat jarang pulang ia lebih nyaman tidur di perusahaan dari pada di rumah karena Sang Ibu yang selalu menjodoh-jodohkan dirinya dengan anak-anak sahabatnya.
" Oh " jawab Killa ber oh ria " Pantas saja di sini terlihat sangat rapih " Tidak heran jika kamar ini terlihat rapih ternyata emang suka di gunakan oleh Damar
" Yaudah kamu Istirahat di sini, Gunakanlah kamar ini sesuka hati mu. Mas harus Meeting dulu " ucap Damar yang di balas anggukan oleh Killa
" Jika butuh sesuatu kamu bisa minta kepada Sekertaris yang ada di depan "
" Iyah " Jawab Killa Yang sudah duduk di ujung tempat tidur
Sebelum pergi Damar mengecup kening Killa terlebih dahulu baru ia pergi Meeting.
Setelah kepergian Damar Killa merebahkan tubuhnya karena ia memang merasa lelah " Ada apa dengan jantungku ini, kenapa jantungku selalu saja berdegup kencang ketika sedang bersama Mas Damar " Ucap Killa kepada dirinya sendiri
Killa melamun ia memikirkan bagai mana nasib dirinya Nanti, dan ada juga pikiran yang aneh-aneh yang melintas di pikirannya. Karena merasa lelah dengan berbagai pikiran Killa akhirnya tertidur dengan memeluk Bantal Guling.
~ DI RUMAH ADAM
Hari sudah mulai sore matahari sudah mulai tenggelam itu tandanya Hari sudah memasuki Malam.
" Selamat Malam semuanya " sapa Daren yang baru turun dari tangga
" Malam Juga Ponakan Aunty " jawab Resti sambil tersenyum
" Ayo makan malam " Ajak Adam Kepada Ponakannya itu. Daren Langsung mengangguk Dan mengikuti langkah Sang paman
__ADS_1
Di meja makan sudah ada Adi yang sudah siap untuk makan Malam " Halo Kak " Sapa Adi
" Heum " jawab Daren duduk di kursi yang kosong
" Ini Aunty masakan kesukaan mu " Resti langsung mengisi piring milik Daren setelah ia mengisi piring milik sang suami
" Mah, apa piring ku akan kosong? " tanya Adi sambil bercanda
Resti Tersenyum " tentu tidak Boy, sini Biar mamah Yang isi " ucap Resti mengambil piring milik Adi. Dengan senang hati Adi memberikan piring miliknya kepada sang Mamah.
Mereka makan malam dengan tenang Tidak ada suara di antara mereka hanya ada dentingan Sendok dan garpu.
Setelah usai Makan, Mereka tidak langsung masuk kedalam kamar. Mereka berbincang di ruang Tengah Sambil menonton Tv
" Daren, Aunty dengar Bunda dan ayah mu akan menyusul mu ke sini "
" Iyah Aunty, Mungkin Bunda takut jika anaknya akan bandel seperti di sana " jawab Daren. Daren tidak mempermasalahkan Ayah dan bunda nya untuk menyusul bahan Daren senang karena sang Bunda sudah mau datang lagi ke Indo dengan begitu Daren akan memberikan kejutan yang sangat luar biasa kepada sang Bunda.
" Alhamdulillah.. Jika bunda mu sudah berani untuk pulang ke Indo, itu yang kami tunggu-tunggu apa lagi Kalian tinggal di sana sudah sangat lama "
" Sudahlah mah, semuanya sudah berlalu lagian Kini Anisa akan pulang jangan di ingat-ingat lagi " ucap Adam mengelus Pundak sang istri.
" Uncle benar Aunty, Semua itu sudah berlaku kini kita doakan saja kebahagiaan Untuk Bunda lagian Masih ada aku di sini " kata Daren sambil tersenyum
" Kamu sudah Dewasa Boy " Puji Adam yang di balas senyuman oleh Daren " Oh iya, waktu itu Adi bilang Ada Wanita yang sangat mirip dengan Bunda mu? "
" Iyah Uncle, Malah sekarang kami berteman baik " jawab Daren
" Wah bagus dong, kalo begitu kali-kali Ajak ke sini biar Aunty mu ada teman " Ucap Adam
" Boleh-boleh lagian Aunty punya anak kaya gak punya Anak, lihat tuh orang-orang lagi ngobrol ia malah asik sendiri dengan handphonenya " keluh Resti sambil menyindir Adi yang sedari tadi memainkan Handphone miliknya
Adi yang mendapatkan sindiran langsung menolah dan menunjukan gigi putihnya " Apa mamah ku sayang, kenapa heum? Kan anak mu ini sedang menarikan menanti untuk Mamah agar mamah bisa Ada teman di rumah " Elak Adi padahal dirinya sedang bermain Game
" Serius? Kalo anak Mamah sedang Carikan mantu Untuk Mamah? " seru Resti
__ADS_1
" Boy, jangan ngawur kalo ngomong Kasian mamah mu jika ia berharap lebih " tegur Adam kepada Adi
" Sorry Pah, Mah. " ucap Adi yang langsung memeluk sang mamah
" Lepaskan Mamah mu " Tegur Adam yang tidak terima jika istrinya di peluk-peluk oleh Anaknya
" Is, Papah menyebalkan " Hardik Adi " Lagian kenapa, Mamah gak buatkan adik Untukku? " Tanya Adi heran
Resti tersenyum. bukan Resti tidak ingin memiliki anak banyak tapi karena sang suami yang tidak mengijinkan alasannya karena Adam yang tidak ingin melihat istrinya ke sakitan.
" Ayo jawab Pah, pertanyaan Anakmu " Kata Resti melirik kearah sang suami
Adam membuang napasnya pelan " Karena Papah sangat sayang kepada Mamah mu makanya Papah tidak mengijinkan Mamah mu untuk memiliki Anak lagi. Asal kamu tau Papah melihat Mamah mu melahirkan dirimu saja Hati papah sangat perih dan merasa di tusuk-tusuk jarum melihat perjuangan Mamah mu demi kamu " kata Adam " Karena saat Itu Mamah mu bertaruh nyawa "
Adi semakin memeluk sang mamah dengan Erat " Terimakasih Mah, karena Mamah sudah bertaruh nyawa untuk Adi. Adi janji, Adi akan menjadi anak yang mamah banggakan dan akan membahagiakan Mamah sampai tua Nanti " ucap Adi
Resti mengelus pipi sang anak " Anak Mamah sudah besar ya, Mamah bangga. " ucap Resti mencium pipi sang anak
" Sayang, Jangan banyak-banyak " keluh Adam, ia tidak terima jika sang istri mencium pipi anaknya
" Lah memang nya kenapa? " tanya Adi
" Bibir Mamah mu hanya milik Papah " Ucap enteng Adam yang langsung membawa sang istri kedalam pelukan nya.
Daren tersenyum kecil, ia sudah terbiasa melihat Ayah nya yang selalu Posesif kepada sang Bunda bahkan Sang Ayah lebih parah dari pada uncle. Sangat ayah akan membawa sang Bunda ke dalam kamar dengan Terang-terangan di depan mata dirinya.
" Uncle, Aunty. Aku pamit ke kamar ya " Pamit Daren
" Iyah sayang. tidurlah hari sudah malam " kata Resti " Dan kamu juga Boy, pergilah ke kamar mu dan tidur "
" Siap Mah. " Jawab Adi yang langsung pergi
Sedangkan Daren sudah masuk kedalam kamar nya ia langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur " Bund, Daren rindu " gumam Daren
Selama Daren berada di indo, Daren belum pernah menghubungi Sang Bunda. Daren takut jika dirinya tidak kuasa melihat kesedihan Sang Bunda apa lagi Daren sangat tau bagai mana Sang Bunda jika sudah sedih.
__ADS_1