
Siang ini Anisa membereskan Rumah nya terutama kamar yang akan di gunakan oleh tamu yang akan menginap atau bisa di bilang menyewa kamar itu.
Bukan hanya kamar yang di rapihkan oleh Nisa bahkan Nisa juga membuat warung kecil di depan rumah nya untuk berjualan nasi dan lauk pauk yang lain nya, itu karena usulan Bu rt karena nanti pasti akan banyak pekerja bangunan yang mencari tempat makan, Lumayan kan untuk menambah penghasilan
'' Neng '' Sapa Bu rt
Nisa yang sedang menyapu halaman langsung menoleh ke arah suara '' Bu rt '' balas Nisa sambil tersenyum
'' Sini Neng ini Ibu bawakan makanan untuk kamu '' Ucap Bu rt sambil membuka rantang yang di bawa nya di atas kursi kayu
'' Wah ini pasti enak Bu '' Ucap Nisa sambil duduk di kursi dan menaruh sapu lidi nya di samping
'' Ini Ibu buatkan untuk kamu, kamu kan habis melahirkan harus banyak makan yang seperti ini agar kokotor yang ada di tubuh kamu bersih '' Ucap Bu rt
Nisa tersenyum '' Terimakasih ya bu; Ibu perhatian sekali kepada Nisa '' Anisa merasa tidak enak karena Bu rt dan Pak Rt selalu membantu dirinya
'' Jangan merasa tidak enak seperti itu, Ibu senang jika bisa membantu Neng Nisa '' Jawab Bu rt
Bu rt menyayangi Nisa seperti kepada anak nya sendiri karena selma lima belas tahun ini Bu rt belum di karunia buah hati, walaupun mereka sudah berusaha kesana kemari bahkan sampai berobat kepada Dokter tapi mungkin karena Allah belum mengijinkan maknya belum di beri kepercayaan.
Nisa tersenyum '' Terimakasih ya bu '' ucap Nisa tulus
'' Iyah Nak, sekarang makan lah keburu dingin '' Ucap Bu rt
Anisa langsung melahap makanan yang di bawakan oleh Bu rt dengan lahap nya. Anisa merasa dirinya memiliki orang tua kembali apa lagi Bu rt dan Pak Rt tidak pernah segan untuk membantu dirinya
" Bagai mana apa semua nya sudah siap untuk besok kamu buka warung?" tanya Bu RT
" Sudah Bu, semua nya sudah siap " Jawab Anisa sambil tersenyum
" Alhamdulillah.. kalo begitu ibu ikut senang, semoga besok warungnya ramai ya "
" Amin Bu "
Karena hari sudah mulai sore dan Ibu RT juga sudah pamit untuk pulang, Anisa duduk di atas tempat tidur sambil membaca Buku resep peninggalan Mendiang ibu nya.
Anisa dengan teliti membaca buku resep itu sampai-sampai Anisa tidak sadar karena ketiduran.
~ Di Kota
__ADS_1
Di sebuah perusahaan besar seorang pria sedang duduk di kursi kebesaran nya dengan jari-jari yang masih aktif di Laptop
" Bos "
" Hm.. ada apa?" tanya nya
" Besok kita harus pergi ke Kota B untuk membuka peresmian pembuatan Hotel "
" Kamu atur saja " jawab Nya
" Is kau ini, Jika ngomong itu lihat wajah ku " keluh nya
" Dan apa kau tidak lihat jika aku sedang sibuk dengan laptop " jawab Nya
" Cih, Laptop saja yang kamu pikirkan apa kamu tidak ingin berkencan " ledek Raffi sambil terkekeh
" Pergi kau dari sini atau Aku pecat Sekarang juga agar kamu tidak bisa memberikan Nafkah kepada istri tercinta mu itu " Kesal Afnan sambil melemparkan Pulpen ke arah Raffi
" Hahaha, Santai santai bos, Aku lebih memilih keluar dari sini dari pada harus kehilangan kerjaan ku, karena jika aku kehilangan kerjaan ku maka Surga dunia pun tidak akan aku rasakan lagi " Raffi langsung pergi meninggalkan Ruangan Afnan karena takut di pecat oleh nya.
Walaupun Raffi dan Afnan adalah sahabat dari semasa Kuliah tapi Jika sedang di Perusahaan Raffi akan selalu menghargai dan menghormati Afnan sebagai Bos di perusahaan nya
" Yang dia pikirkan hanya surga dunia, apa dia tidak memikirkan bagai mana jika dia sudah mati nanti " Gerutu Afnan lalu Fokus kembali kepada pekerjaan nya
AFNAN RIFALDI. di usia 29thn yang sudah sukses dengan perusahaan yang di dirikan nya sendiri tanpa bantuan dari Orang tua nya
Pria bertubuh gagah Tampan dan mapan ini Yang selalu di Gilai oleh para wanita Namun Tidak ada satupun wanita yang bisa menarik hati Afnan, Bahkan sang ibu pun Samapi lelah mengenalkan Gadis anak teman-teman nya kepada Afnan karena selalu di tolak dengan alasan bukan tipe dirinya
Sedangkan sang ibu sudah Khawatir dengan Putra satu-satunya itu di usia nya yang hampir menginjak usia 30tahun tapi masih sendiri belum memiliki Pasangan Hidup padahal Banyak teman-teman nya yang sudah menikah ada juga yang sudah memiliki Anak, Entah wanita yang seperti apa yang di cari oleh Afnan
~ Keesokan Hari nya
Anisa bangun lebih pagi karena harus pergi ke pasar untuk belanja sayuran daging-dagingan karena hari ini ada peresmian pembukaan Pembangunan
Nisa pergi ke pasar dengan menggunakan angkutan Umum " Kiri Mang " ucap Anisa ketika angkot sudah sampai di Pasar
" Ini mang uang nya " Anisa memberikan ongkos angkot lalu pergi ke dalam pasar
Di pasar Anisa membeli Ikan, sayur, dan juga Ayam tidak lupa Lauk pauk yang lain nya juga
__ADS_1
" Mang cabai merah berapa ?"
" Seratus ribu sekilo Neng " Jawab penjual
" Gak bisa kurang Mang "
" Gak bisa neng, sekarang Nuju arawis " jawab nya
Anisa membuang napas nya lalu membeli nya satu kilo Unyil sekalian stok di kulkas, Tidak hanya cabai Merah, bahkan Anisa membeli perbumbuan yang lain nya juga
Dua jam Anisa berkeliling di pasar Akhirnya nya dia sampai juga di rumah nya dan memulai memasak Nasi dan mencuci semua bahan yang akan di masak nya
Jam delapan Pagi Anisa baru saja usai memasak dan, Makan sudah tersusun rapih di atas etalase
" Wah Neng sudah siap ya " Sapa bibi
Anisa tersenyum " Iyah Bi " Jawab Anisa
" Kalo gitu bibi mau sayur sama ikan goreng nya Neng " Pinta bibi
" Boleh Bi, Alhamdulillah.. pelanggan pertama " Ucap Anisa tersenyum sambil membungkus pesanan bibi
" Semoga laris Ya Neng "
" Amin, mudah-mudahan saja bi, apa lagi kan hari ini kata nya,orang-orang peroyek sudah mulai aktivitas ya Bi "
" Iyah Neng, Kata nya sih hari ini "
" Ini Bi " Anisa memberikan kantong keresek dengan berisi sayur Dan juga Ikan
" Ini Neng uang nya "
Anisa langsung mencari kembalian dan memberikan nya kepada Bibi
" Wah Neng apa ini tidak terlalu kemurahan ?" tanya bibi melihat kembalian yang di berikan oleh Anisa " Nanti kamu rugi loh Neng "
" Tidak bi, Lebih baik mengambil untung sedikit bi yang penting banyak pelanggan yang datang " jawab Anisa
" Wah kalo gini, bibi bisa tiap hari ini mah belanja di warung kamu neng "
__ADS_1
Anisa Terkekeh mendengar ucapan Bibi