
Anisa dengan telaten Menyuapi sang suami, entah kenapa pagi ini tiba-tiba saja Afnan Manja ingin di suapi oleh Sang istri
" Terimakasih sayang, karena Kamu sangat sabar Melayani ku " kata Afnan mengelus Pipi sang istri
" Bukan nya ini adalah salah satu Kewajiban istri yang harus sekali melayani dan Memajukan suaminya " jawab Anisa sambil tersenyum
Afnan mengecup kening sang istri " kamu memang istri idaman Bunda "
" Jangan banyak memuji Ayah, Nanti Hidung Bunda terbang " kata Anisa tersenyum malu
Afnan mencubit Hidung Anisa " Ayah semakin cinta sama Bunda, Teruslah bersikap Malu-malu seperti ini karena Ayah menyukainya " kata Afnan
" Makanan nya sudah habis, ayo Ayah segera pergi ke Proyek nanti di tunggu sama yang lain " kata Anisa Menyuruh Suaminya untuk pergi
" Tenang aja Bunda, di sana sudah ada Raffi yang Mengerjakan pekerjaan, lagian aku membayar mereka agar ayah tidak lelah bekerja, cukup lelah ketika bersama bunda saja " goda Afnan
" Mulai deh mesum nya " kata Anisa sambil menggelengkan kepalanya
" Kan sama bunda, kalo sama yang lain mana berani nanti ayah di Cincang sama bunda "
" Awas saja jika macam-macam " ancam Anissa
" Iihhh takutttttt " kata Afnan yang langsung mencium kening Anisa lalu pergi
" Assalamualaikum...." Kata Afnan ketika sudah di depan pintu
Anisa yang melihat kelakuan suaminya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Tingkah Sang suami yang seperti anak-anak itu
" Tadi aja bilang nya tidak apa-apa, Jika pergi siang eh tau nya malah pergi juga " gerutu Anisa
Anisa langsung membereskan Meja makan bekas makan tadi, Lalu ia mencari cucian kotor untuk di cuci nya. Walaupun ada mesin cuci tapi Anisa masih menggunakan tangan karena menurut nya Lebih bersih menggunakan tangan dari pada menggunakan mesin cuci.
Setelah usai mencuci, Anisa segera menjemur Pakaian Yang sudah ia rendam menggunakan Pewangi pakaian
" Assalamualaikum... "
Anisa yang sedang Mencuci pakaian langsung menoleh kearah Suara
" Wa'alaikumsalam.. " jawab Anisa
" Neng.."
" Maaf kang, ada perlu apa Akang ke sini? " Tanya Anisa
Yudi melihat Perut Anisa yang terlihat besar lalu tersenyum sinis " bagai mana kabar mu Neng? " Tanya Yudi
" Alhamdulillah.. kabar Nisa baik Kang " jawab Anisa
" Tapi maaf kang, Bukan nya Anisa mengusir tapi Anisa merasa tidak enak jika Kita mengobrol berdua, Sebaiknya Akang datang lagi ke sini ketika Suami Anisa ada di rumah, Anisa tidak ingin ada fitnah " kata Anisa sopan
Yudi menyunggingkan senyumnya " Apa setakut itu kamu sama suamimu sehingga aku ingin ngobrol sama kamu saja tidak bisa? " Kata Yudi
Anisa tersenyum " Sudah tugas seorang istri untuk menjaga Kehormatan keluarga Nisa kang, Kalo Nisa takut wajar karena Anisa tidak ingin Suami Anisa berfikiran yang tidak-tidak ketika melihat Anisa ngobrol berdua dengan Kang Yudi " jawab Anisa masih sopan
" Dulu saja kamu tidak begini kepada ku Bisa, Dulu kamu malah memasukan pria itu kedalam rumah padahal Kamu masih sah menjadi istriku "
" Nisa tidak pernah berniat untuk memasukan pria kedalam rumah, lagian Waktu itu Anisa sudah kecewa dengan Akang yang telah menikah lagi di belakang Anisa jadi Jika akang Mau mengungkit masa itu Nisa lah yang lebih tersakiti dari pada akang, Nisa harus kehilangan anak Nisa dan juga suami yang telah berkhianat kepada Nisa "
Yudi menunduk ia tidak bisa berkata-kata lagi jujur saja Jika dirinya Sungguh Menyesali dengan keputusan nya saat itu, andai saja dirinya tidak gelap mata Dan mau berjuang untuk keluarga kecil nya mungkin Yudi tidak akan kehilangan Anak dan juga istri yang Begitu Soleh dan berbakti kepada suaminya.
" Maaf Kang, Nisa harus masuk. Jika ada yang ingin akang bicarakan lagi Akang bisa datang ke sini lagi ketika Suami Anisa ada di rumah " kata Nisa
" Anisa pamit, Assalammualaikum... " Ucap Anisa yang meninggalkan Yudi yang masih menunduk menyesali apa yang sudah ia perbuat
" Anisa..." Lirih Yudi namun Anisa sudah masuk kedalam rumah dan menutup Pintu rumah dengan rapat-rapat
" Ada apa kamu ingin menemui istri saya? Apa kamu menyesal telah melepaskan berlian dan mengungut batu krikil? " Ledek Afnan
Ternyata sedari tadi Afnan ada di sana, Afnan mendengarkan pembicaraan Anisa dengan Yudi, Sebagai seorang suami Afnan sangat bangga kepada Anisa yang bisa menjaga Kepercayaan dan juga kehormatan keluarga
Yudi menoleh ke arah Afnan " ya Saya menyesal karena melepaskan Anisa untukmu, Tapi Saya bahagia karena Anisa telah hidup bahagia " lirih Yudi
" Jika kamu bahagia melihat kebahagian Istriku lalu untuk apa kamu datang ke sini dan mencari istri saya?" Tanya Afnan yang masih menahan kekesalannya
" Saya datang ke sini bukan untuk Menyakitinya atau pun merebut nya dari Mu, tapi.." Yudi menunduk ia membuang napas nya pelan
" Saya ke sini karena ingin meminta bantuan kepada Anisa untuk Membeli rumah Ibu saya, Karena saat ini ibu saya sedang berada di rumah sakit dan membutuhkan uang yang banyak " ucap Yudi sambil menunduk
Afnan menepuk bahu Yudi, Afnan meredam Amarah nya kepada Yudi karena Ternyata Yudi tidak bermaksud Macam-macam kepada istrinya " jika itu yang kamu butuhkan maka urusan nya bukan kepada istri saya, kamu bisa bicara langsung kepada saya " kata Afnan
Yudi mengangkat kepalanya " jadi Kamu mau membeli Rumah ibu saya? " Tanya Yudi
Afnan mengangguk " Kamu bawa saja Surat-surat nya lalu hubungi Asisten saya, biar dia yang mengurus semua nya, tapi setelah ini jangan pernah kamu muncul lagi di hadapan istri saya karena saya tidak ingin melihat Istri saya Menangis ataupun sedih hanya karena luka yang sudah kering tapi harus tergores lagi " kata Afnan dengan tatapan tajamnya
Yudi mengangguk " ia saya janji " kata Yudi dengan wajah yang sumringah
" Sekarang pergi lah, dan hubungi Asisten saya " kata Afnan dan di balas dengan anggukan oleh Yudi
Awalnya Afnan pulang ke rumah karena ia melupakan Handphone yang ia taruh di atas meja dekat lemari kamar namun siapa sangka jika Afnan harus melihat keberadaan Yudi yang sedang mengobrol dengan sang istri.
__ADS_1
Di dalam rumah Anisa tidak merasa sedih berpisah dengan Yudi namun Anisa menyesali sali datang ke rumah ibu mertua nya waktu itu, Andai saja waktu itu Anis tidak pergi ke rumah ibu mertua nya mungkin saat ini putrinya masih berada di samping nya dan andai saja waktu itu dirinya tidak ceroboh mungkin Dirinya tidak akan kehilangan Putri pertama nya
" Maafkan Bunda ya sayang " gumam Anisa menghapus air mata nya karena ada yang membuka pintu Rumah
" Assalamualaikum... "
" Wa'alaikumsalam.. loh ko Ayah pulang lagi? " Tanya Anisa heran
" Hehehe.. iya Ayah lupa meninggalkan handphone di kamar makanya Ayah pulang lagi buat mengambil nya " jawab Afnan
Afnan melihat wajah Cantik istri nya terlihat sembab seperti habis menangis namun Afnan tidak ingin menanyakan nya biarkan istrinya sendiri yang bercerita
" Oh, sebentar Biar Bunda ambilkan " kata Anisa yang langsung pergi ke kamar dan mengambil Handphone milik sang suami
" Ini Ayah " kata Anisa memberikan handphone kepada Afnan
" Terimakasih bunda, kalo begitu Ayah pergi dulu ya " kata Afnan
" Ayah.." Panggil Anisa
" Iyah Bunda Ada apa? " Tanya Afnan menoleh
Anisa tersenyum " tadi Ada Kang Yudi ke sini tapi Bunda menyuruh nya pergi dan meminta kembali lagi ketika Ayah sudah ada di rumah " kata Anisa
Afnan tersenyum mendengar ke jujuran dari sang istri " oh, Yasudah paling nanti juga jika ada perlu akan kembali lagi, jangan terlalu di pikirkan ya " kata Afnan mengelus pipi sang istri
" Iyah ayah " jawab Anisa mengangguk mengerti
~DI KOTA
Adam dan juga Oma Lida baru saja pulang dari rumah sakit, Pemeriksaan Oma cukup membuang waktu lama karena Adam meminta dokter untuk memeriksa Oma Dengan detail dan juga Telaten membuat Oma Melotot melihat tingkah Cucunya ini
" Oma pokonya tidak mau pergi ke rumah sakit dengan mu lagi " keluh Oma Linda
" Assalammualaikum.. dulu Oma " tegur Resti yang berjalan mendekat ke arah omah
Oma dan Adam Langsung mengucapkan " Assalamu'alaikum... Maaf lupa " kata Adam cengengesan
" Wa'alaikumsalam.. ada apa kenapa Sampai lupa Mengucapkan salam? " Tanya Resti yang duduk di samping Oma linda
" Tanya saja sama suamimu itu, dia sangat menyebalkan bahkan lebih menyebalkan " keluh Oma
" By... " Tanya Resti menatap sang suami untuk meminta penjelasan
Adam membuang napas nya pelan dan menceritakan semaunya kepada Sang istri
Sedangkan Resti membuang napas nya pelan " By, Aku tau Haby Cemas dengan keadaan Oma tapi Haby juga jangan memaksakan kehendak sendiri By, Di usai Oma yang sudah tidak muda lagi Akan cepat Lelah jadi Haby harus mengerti dengan kondisi Oma " tegur Resti yang mendengar cerita dari Sang suami bagai mana Adam Memaksa Oma untuk melakukan Cek sana cek sini
Adam mengerutkan keningnya lalu menyenderkan tubuhnya ke sopa
'' iyalah Maaf '' Kata Adam
Resti yang melihat sikap Sang suami yang seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya
'' Ayo Oma, Resti Antar Oma kedalam kamar '' Ajak Resti dan di balas Anggukan oleh Oma Linda
Resti mengantar Oma kedalam kamar lalu membaringkan oma di Atas tempat tidur
'' Oma istirahat ya, Biar Resti Ambilkan cemilan Buat Oma '' kata Resti sambil tersenyum
'' Cucu menantu '' panggil Oma Linda
Resti yang awalnya akan pergi langsung menoleh ke arah Oma '' Iya Oma Ada apa? '' Tanya Resti
'' Duduk lah dulu '' Pinta Oma
Resti dengan patuh duduk di samping Oma Linda '' Ada apa Oma? '' Tanya ulang Resti
Oma tersenyum lalu menggenggam tangan Resti '' Oma senang Jika Cucu Oma yang nakal itu memiliki Istri yang sangat baik dan sangat perhatian sepertimu Nak. Oma harap pernikahan kalian di penuhi dengan kasih dan sayang Amin.. '' Kata Oma
'' Cucuku, Oma Minta kamu terus mencintai suamimu dan selalu ada di samping suamimu walaupun keadaan mungkin tidak akan terus berada di atas tapi kamu harus yakin kepada suamimu kalo Dia akan terus membahagiakan mu walaupun bukan dengan materi ''
Oma bicara seperti itu karena oma tidak ingin terus menjanjikan hal yang manis kepada Resti karena roda itu berputar kadang di atas kadang pula di bawah. Walaupun harta Adam tidak akan habis tujuh turunan tapi jika Allah sudah menghendaki dan mengambil semua harta milik Adam apa boleh buat mereka harus bisa pasrah dan menerima itu semua
'' Oma. Oma jangan ngomong kaya gitu, Resti janji Resti akan selalu ada di samping Mas Adam bagai mana pun keadaan nya, Resti mencintai dan menyayangi Mas Adam itu tulus bukan melihat seberapa banyak harta Mas Adam tapi seberapa banyak Mas Adam memberikan ketulusan dan kasih untuk Resti '' Jawab Resti
" Terimakasih ya, Kamu memang Anak yang baik, Oma jadi Tenang jika harus sudah meninggalkan Cucu nakal Oma itu "
" Oma jangan ngomong seperti itu, Oma pasti akan selalu sehat dan akan melihat cicit Oma nanti " kata Resti sambil tersenyum. Jujur saja Jiak Resti paling tidak ingin ada perpisahan Karena itu akan sangat menyakitkan
Oma tidak menjawab ia hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan Resti dengan pelan
Resti keluar kamar ketika Melihat Oma tertidur ia Langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan Malam dengan di bantu oleh Bibi
Sedangkan Adam ia melanjutkan Pekerjaan kantor di Ruangan kerja nya. Adam Akan bekerja di rumah untuk sementara waktu karena ia tidak ingin meninggalkan Oma apa lagi Pas dia dengar dari dokter kalo Keadaan Oma tidak baik-baik saja, Dan Keluarga di minta untuk bersiap jika suatu saat nanti Oma meninggalkan mereka semua untuk selama nya.
" Bi, Tolong di bersihkan sayuran nya ya, Soalnya aku mau buat Sayur Sop " pinta Resti
" Iyah Neng " jawab nya
__ADS_1
Resti tersenyum lalu melakukan pekerjaan yang lain nya agar cepat beres
Setelah satu jam lebih Akhirnya masakan Resti siap juga, Resti Menata makanan nya di atas meja makan di sana ada makanan sehat untuk Oma, karena Oma di larang memakan makanan yang berlemak atau pun yang pedas
" Bi. Aku mau mau panggil Suamiku dulu ya, tapi tolong Siapkan makanan untuk Oma biar nanti Aku yang antar ke kamar Oma " kata Resti
" Baik Neng " jawabnya
Resti langsung pergi ke ruangan kerja Adam sebelum masuk Resti mengetuk pintu terlebih dahulu
Tok.. tok.. tok...
" By.." panggil Resti
" Masuk sayang " jawab Adam di dalam ruangan nya
Ceklek...
" By, ayo kita makan malam dulu " ajak Resti
" Sebentar lagi sayang, ini tanggung aku lagi rapat dulu " jawab Adam Jujur
Resti membulatkan Kedua mata nya " by.." lirih Resti yang malu lalu meninggalkan ruangan Adam
Sedangkan Adam ia malah Terkekeh melihat Sang istri yang lari keluar Ruangan nya
Resti meninggalkan ruangan Adam dengan wajah yang merah karena malu, Resti pikir Suaminya hanya mengerjakan pekerjaan biasa saja tidak sedang melakukan Vidio
" Huh.. hampir saja aku tambah malu jika Tadi menghampiri haby lalu... " Resti memegang kepalanya memikirkan nya saja Bikin Resti malu
Karena tidak ingin terus memikirkan Soal tadi, Resti langsung mengambil Nampan yang akan di bawa ke kamar Oma, Karena ini sudah jadwalnya Oma makan malam dan minum Obat
" Oma, kita makan malam dulu ya " ajak Resti membawa nampan kedalam kamar. Resti tersenyum ketika melihat Oma yang masih tertidur
Resti Duduk di samping Oma, lalu Membangunkan Oma " Oma, makan malam dulu yuk " Resti menaruh nampan di atas meja lalu membangunkan Oma namun....
" Oma..." Lirih Resti ketika Menggoyangkan lengan Oma namun tangan Oma malah terjatuh begitu saja
" Oma, jangan becanda Oma hiks " Resti terus menggoyangkan lengan Oma lalu berteriak sekencang mungkin untuk memanggil Sang suami
" Habyy!!!!!!! " Teriak Resti sekencang mungkin
Adam yang mendengar teriakan Resti langsung lari dan meninggalkan rapat
" Ada apa? " Tanya Adam yang melihat Resti sudah menangis tersedu-sedu sambil menatap Oma
Adam berjalan mendekat ke arah Resti " Oma kenapa sayang?" Tanya Adam karena melihat Oma yang tertidur tenang
Resti yang sedang menangis langsung menoleh ke arah sang suami " Oma by, Oma hiks..."
Adam menggelengkan kepalanya " tidak, kamu jangan becanda " kata Adam
Resti sudah tidak bisa menjawab Ucapan Adam ia hanya bisa menangis
Adam duduk di depan Oma lalu menggoyangkan Tubuh Oma " Oma jangan becanda Oma, Adam mohon bangun Oma " kata Adam
Adam jadi teringat dengan perkataan Dokter Yang menyuruh dirinya untuk bersiap Jiak Suatu saat Oma pergi begitu saja
Adam pria dingin yang selalu terlihat Gagah dan garang kini air mata nya luluh bahkan Adam Tidak menangis sesegukkan ketika melihat Oma yang sudah tidak bernapas lagi
~JAM SATU MALAM
Semua keluarga telah di hubungi oleh Resti termasuk Afnan dan juga Anisa untuk segera datang ke kota
Bu Ani dan Pak Yusuf datang ke rumah Adam dengan membawa koper karena Bu Ani dan Pak Yusuf sedang berada di luar kota dan langsung pulang ketika mendengar kabar dari Resti
" Nak Adam " kata Bu Ani mengelus Pundak Adam yang sedang duduk di depan Oma yang sudah tertidur nyaman
Adam menoleh, Adam masih menangis dalam diam " yang sabar ya Nak, Oma sekarang sudah tidak merasa kesakitan lagi, Oma sudah tenang di alam sana dan sudah di tempatkan disisinya " kata Bu Ani
" Aku tidak menyangka jika Oma akan pergi secepat ini Mah, Selama ini Oma yang selalu ada di saat Adam sedang terpuruk Atau pun sedang sakit " lirih Adam
" Jangan begini Nak, kasian Oma, Oma pasti merasa tidak tenang jika Melihat kita terus bersedih seperti ini " kata Bu Ani
" Kita harus ikhlas dan harus menerima ini, ini sudah kehendak Allah Nak " kata Pak Yusuf
Adam mengangguk Ia benar-benar merasa kehilangan bahkan Adam merasa kehilangan separuh jiwa nya
" Kamu harus kuat Nak, lihat istri mu dia juga sangat terpuruk dan Sangat sedih namun Karna tidak ingin melihat Oma tidak bahagia di sana Makanya Ia berpura-pura tegar seperti itu " kata Bu Ani
Adam melihat ke arah Resti, Adam melihat kedua mata Resti memerah mungkin karena menahan Tangis nya
" Samperin istrimu dan beri semangat untuk nya, biar para tamu Mamah dan papah yang tangani " kata Bu Ani dan di balas dengan anggukan oleh Adam
Adam berjalan ke arah Resti dan Duduk di samping Resti dengan membawa Resti kedalam pelukan nya
Resti yang mendapatkan pelukan tidak tahan lagi untuk menahan tangis nya. Resti sangat terpukul ia sangat menyesal telah meninggalkan Oma sendirian di kamar
" By, Ini salah aku by, andai saja Aku tidak meninggalkan Oma sendirian mungkin saat ini Oma masih bersama kita hiks.." Resti memukul dada sang suami dengan pelan sambil terisak
__ADS_1
Adam memeluk Resti sambil mengusap Punggung Resti " ini bukan Salah kamu Sayang, Ini sudah kehendak Allah, jangan menyalahkan dirimu sendiri " kata Adam mencoba untuk menenangkan Resti walaupun dirinya juga sedang tidak baik-baik saja tapi Adam harus bisa tegar demi sang istri