Cinta Anisa

Cinta Anisa
Rumah Sakit


__ADS_3

Bu Ani dan pak Yusuf sudah satu jam lebih menunggu Di depan UGD


Bu Ani langsung menghampiri Dokter yang keluar dari Ruangan UGD. Bu Ani dan pak Yusuf sangat terkejut ketika mendengar ucapan dokter


" Tapi bagai mana dengan keadaan menantu saya dok "


" Menantu ibu sudah mulai membaik, Hanya saja saya minta jangan membuat Nona Anisa cemas dan juga stres karena itu bisa membuat Pendarahan dan saya tidak tau apa yang akan terjadi Jika itu terulang kembali, apa lagi Sepertinya Nona Anis pernah Ke guguran itu membuat Kandungan Nona Anisa lemah dan rentan ke guguran "


Bu Ani menutup mulut dengan tangan nya " Pah.. hiks.."


" apa kami sudah boleh menjenguk Menantu saya dok " ucap Pak Yusuf


" Boleh tapi tunggu di pindahkan dulu ya " kata dokter itu


" Iyan dok, Terimakasih " kata Pak Yusuf


" Pah, apa Anisa tidak bahagia menikah dengan anak kita sehingga ia setres " lirih Bu Ani


" Mah jangan ngomong sembarangan, Jika Anisa tidak bahagia mana mungkin dia antusias mendengarkan cerita Masa-masa Afnan kecil "


" Lalu apa yang membuat Anisa setres pah hiks.. "


" Kita tanyakan itu kepada Afnan nanti, sepertinya ini ada hubungan nya dengan anak itu, tadi pagi sebelum menelpon Afnan Nisa masih baik-baik saja tapi setelah menelpon Anisa langsung murung dan tidak banyak bicara " ucap Pak Yusuf


Afnan yang mendapatkan kabar dari Raffi tentang Istrinya ia sangat murka


" Di mana mereka " tanya Afnan


" Di kolam renang " jawab Raffi


Afnan berjalan ke kolam renang seperti orang kesetanan bahkan ia tidak menggubris orang yang menyapa dirinya


" Mana handphone ku, dan siapa yang sudah lancang mengangkat telpon dari istriku hah!!! Bentak Afnan


Resti dan Elif langsung menunduk takut


" Ada apa kak, kenapa Kakak marah-marah " tanya Resti bingung


" Saya tanya sekali lagi siapa yang sudah dengan lancang nya mengangkat telpon dari handphone ku!! "


" Elif, tadi pagi Elif mengangkat telpon dari operator handphone kakak " jawab Resti jujur


Elif yang di sebut nama nya langsung mengangkat kepalanya


Plak..

__ADS_1


Satu tamparan mendarat di pipi Elit " kau sangat lancang sekali sudah menyentuh handphone ku "


Resti yang bingung kenapa kakak nya harus marah hanya karena telpon dari operator


" Kakak kenapa kakak Menampar Elif " ucap Resti tidak terima


Elif yang masih memegangi pipinya yang kebas hanya bisa menatap Afnan dengan lekat


" Tanyakan kepadanya, apa yang sudah dia bilang kepada istriku sehingga saat ini istriku masuk ke rumah sakit " ucap Afnan yang langsung pergi meninggalkan Elif dan juga Resti


" Ini semua karena kakak " teriak Elif yang membuat langkah Afnan terhenti


" Andai saja kakak membalas cintaku mungkin aku tidak akan melangkah sejauh ini, kakak tidak pernah menganggap ku sebagai wanita kakak selalu menganggap ku sebagi Sahabat dari Resti hiks..."


Afnan tidak ingin mendengarkan ucapan Elif, apapun alasan nya tetap saja Elif Salah apa lagi sudah menyangkut soal Istrinya


Raffi menatap Elif dengan jengah " kau keterlaluan " ucap Raffi yang langsung pergi meninggalkan Resti dan Elif


Resti yang melihat Elif menangis bukan nya Iba ia malah ikut kesal karena kelakuan Elif yang keterlaluan


" Kenapa Lo melakukan ini semua, dan kenapa tadi pagi Lo bohong kepada gue jika yang menelpon itu operator bukan Kak Nisa " tanya Resti


" Lo itu bukan cinta tapi obsesi, kalo Lo cinta Lo tidak akan melakukan sejauh ini justru Lo akan merelakan orang yang Lo cintai untuk bahagia bersama pilihan nya " lanjut Resti


Elif menatap Resti " Lo tau sendiri kan kalo gue sangat cinta sama Kak Afnan, kenapa Lo gak pernah mendukung gue kenapa!! " Teriak Elif


Afnan dan Raffi langsung terbang ke ibu kota, Afnan benar-benar merasa bersalah kepada Anisa


" Sabar bro.. gue yakin Anisa baik-baik saja " ucap Raffa menepuk bahu Afnan


" Bagai mana gue bisa tenang jika istri gue sedang terbaring lemas di rumah sakit " Afnan Mengacak-acak rambut nya


" Andai saja gue gak teledor mungkin Tidak akan seperti ini kejadian nya, Nisa maafkan Mas Nisa " Gumam Afnan


Raffi tidak menyangka jika Cinta Afnan sangat besar untuk Anisa


Resti hanya bisa diam tanpa bicara karena ia takut kakak sepupunya itu tambah marah dan murka


Ya Resti ikut pulang ke ibu kota dan meninggalkan Elif di Kota M karena Resti masih kesal kepadanya


Jam sudah menunjukan jam sembilan malam, Afnan tidak langsung pulang kerumah, ia langsung mendatangi rumah sakit tempat Anisa di rawat


Ceklek


Afnan masuk keruangan sang istri di sana Bu Ani dan Pak Yusuf sedang duduk di sopa

__ADS_1


Pak Yusuf yang melihat putra nya yang datang langsung berdiri dan melemparkan tinjuan kearah perut Afnan


Bugh..


" Laki-laki kurang ajar, Papah tidak pernah mengajarkan mu untuk berbuat yang tidak-tidak di luar sana apa lagi Samapi mengkhianati Istrimu sendiri "


Afnan yang sedang memegangi perut nya yang sakit tidak menjawab ucapan Papah nya Anggap saja jika pukulan papah nya adalah balasan dari kecerobohan nya sendiri. Afnan berjalan kearah Anisa yang sedang tertidur


" Puas kau hah! Puas kamu sudah membuat menantu dan calon cucuku Kritis Puas kamu!!! " Bentak Pak Yusuf


" Pah tenang, ini di rumah sakit " ucap Bu Ani


" Apa, Anisa hamil? Hik.."


" Pikirkan saja kerjaan mu kau tidak perlu memikirkan Menantuku lagi karena aku akan membawa cucu serta menantuku pergi jauh dari mu agar kau puas dengan hasil kerja mu " kata Pak Yusuf tegas


" Tidak, Anisa tidak akan kemana-mana dia hanya milikku pah " Tolak Afnan


" Aku sangat mencintai Anisa pah, jangan pisahkan kami aku mohon, aku janji aku tidak akan pernah mementingkan kerjaan lagi pah " Afnan memohon di kaki Pak Yusuf agar tidak membawa istri serta anak nya


Anisa tadi sempat bangun tapi Anisa tidak bilang soal telpon yang di angkat oleh Seorang wanita. Anisa hanya bilang sedang merindukan Afnan yang sibuk bekerja.


" kau sangat keterlaluan, setelah keluar dari rumah sakit Anisa akan tinggal bersama kami, kamu setuju atau tidak masa bodoh karena papah tidak membutuhkan persetujuan dari mu " kata Pak Yusuf tegas


" Pah hiks.. "


Bu Ani baru kali ini melihat putra nya yang memohon sambil menangis, rasanya sangat tidak tega melihat putranya seperti ini


" Bangunlah nak " ucap Bu Ani membawa Afnan untuk duduk di sopa


" Mah, aku benar-benar minta maaf mah, ini semau murni kelalaian Afnan, jangan pisahkan Afnan dengan Anisa Mah "


Bu Ani mengangguk " ia Mamah tidak akan memisahkan kalian tapi untuk saat ini Anisa butuh perawatan yang ekstra karena kandungan nya sangat lemah, usia kandungan nya baru berusia tiga Minggu dan masih rentan. Mamah ingin menjaga dan merawat Anisa Samapi benar-benar dia sembuh " kata Bu Ani


" kamu juga bisa tinggal bersama kami, mana mungkin kami memisahkan kamu dari Anisa, mamah tau jika anak Mamah ini sedang Bucin kepada Anissa " lanjut Bu Ani


" Terimakasih mah, terimakasih " ucap Afnan


" Karena kamu sudah datang, mamah dan papah ijin untuk pulang dulu besok baru kamu akan ke sini lagi " kata Bu Ani


Sejujurnya Bu Ani ingin tetap menjaga Anisa di sini tapi Bu Ani harus memberikan ruang untuk anak dan menantunya ngobrol dan meluruskan kesalahpahaman di antara mereka berdua


" Iyah Mah, terimakasih mah pah sudah menjaga Anisa " ucap Afnan


Tatapan Pak Yusuf masih tatapan tajam kepada Anak prianya ini

__ADS_1


" Awas saja jika Samapi Menantuku menangis ataupun bersedih karena mu, Jiak semua itu terjadi maka kaulah taruhan nya " Ancam Pak Yusuf


__ADS_2