
Bagai luka yang terkena irisan bawang perih sekali untuk meninggalkan rumah kenangan bersama almarhum suaminya.
berderai air mata mengalir saat gadis membenahi pakaian putra putrinya ia benar benar tidak mampu menutupi kesedihan nya.
" Kenapa sakit sekali rasanya untuk meninggalkan rumah ini ya Allah, rasanya kaki ini juga berat untuk melangkah jauh dari rumah ini "
Melihat kesedihan ibunya yang mendalam , sebagai anak laki laki Adam peka dengan perasaan ibunya, ia terus memberikan semangat untuk ibunya untuk tetap kuat dan tegar menghadapi cobaan yang datang menghampiri ibunya.
" Umi, jangan nangis lagi ya, Adam nyakin umi pasti bisa melewati ini semua "
"trimakasih ya nak, slalu ada didekat umi slalu jagain umi dan adik adikmu ibu seneng sekali punya anak seperti kalian nak "
Sorepun tiba, satu persatu barang milik mereka di bawa keluar rumah.
mereka berdiri di depan pintu rumah, sembari menunggu ibu mertua untuk memberikan kunci rumah untuknya.
Tidak berapa lama, mertuanya pun datang dan berhenti tepat di depan mereka .
Turun dari dalam mobil dengan tatapan sinis memandang gadis dan Adam.
" umi mohon kamu kontrol emosimu ya nak "
" iya umi , Adam coba untuk kontrol umi"
" Gimana , sudah selesai beres beresin pakaian kalian "
" sudah ibu "
" tunggu apa lagi kalian sudah bisa pergi "
__ADS_1
" iya Bu, ini kuncinya "
ucapnya sambil memberikan kunci ke tangan ibu mertuanya
" bagus trimakasih, silahkan pergi "
" iya Bu "
Saat akan pergi Ibrahim menahan tangan ibuny untuk pergi ia masih blm paham apa yang sedang terjadi
" Kita mau kemana umi , kenapa kita pergi, ini kan rumah umi sama Abi "
sambil berlutut di kaki putranya gadis menjelaskan apa yang sedang terjadi
" sayang, kita pergi ya dari sini "
anak yang tak berdosa itu lari menghampiri neneknya untuk mendapat jawaban nya
" nenek kenapa usir Kami dari rumah ini, ini rumah Abi, ini rumah kami nenek jahat "
Ibrahim terus merengek sambil menarik baju neneknya
Tidak mampu menjelaskan pertanyaan Ibrahim nenek memalingkan wajahnya dari cucunya .
gadis langsung menghampiri Ibrahim dan memeluk nya
" sayang, sayang dengar umi "
" lihat mata umi nak dengar kan umi "
__ADS_1
" Nenek gak ada usir kita nak, mama yang pengen pergi dari rumah ini sayang"
" kenapa umi , inikan rumah Abi "
" iya sayang betul tapi itu dulu sekarang bukan rumah kita lagi "
Ibrahim sedikit tenang setelah mendapat jawab dari ibunya.
" ayo tunggu apa lagi "
" iya Bu "
Gadis mengulurkan tangannya pada ibu mertua tapi jabatan tangannya di tolak oleh ibu mertua
" Sudah lah gadis pergilah, kamu senang kan saya suruh pergi dari rumah ini karena dengan begitu kamu bisa bebas kemana saja semau mu kan, bahkan kamu juga bisa menikah dengan mantan suami mu itu lagi "
Emosi Adam mulai naik, begitu tau dari raut wajah putranya gadis menggenggam tangan Adam dan berbisik " jangan nak ingat pesan umi"
Adam menghela nafas dan memejamkan matanya untuk mengurangi rasa emosinya.
Tak membalas pernyataan ibu mertua gadis tersenyum sambil berkata " gadis pamit ya Bu assalamualaikum "
Kemudian mereka pergi,
" selamat tinggal mas , selamat tinggal rumah kenangan kita, maafkan aku mas aku harus pergi demi kenyamanan anak anak kita, dan demi kebaikan kita bersama "
kata gadis didalam hatinya.
Meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama suka cita semasa hidup dengan almarhum suaminya membuat gadis benar benar patah hati ia benar benar terluka
__ADS_1