Cinta Gadis Bercadar

Cinta Gadis Bercadar
Adu mulut dengan mami


__ADS_3

Handphone Riki berdering, ia mengeluarkan sebuah handphone dari dalam kantong sweater nya terlihat jelas nama " Mami " di sana ia izin untuk keluar sebentar .


" Maaf saya izin keluar dulu mau angkat tlpn "


" iya silahkan " * ny.kumala mempersilahkan nya untuk mengangkat telpn


" Ada apa mami , Riki lagi dirumah sakit "


" what!! siapa yang sakit ngapain kamu dirumah sakit nak "


" tadi Riki gak sengaja nabrak perempuan habis angkat telpon mami "


" ya ampun jadi udah gimana kondisinya mami ke sana ya sekarang "


Blm selesai bicara mami memutus panggilan telpn .


" Aduuuh... yang ada mami datang makin ribet " * Riki


Benar saja tidak berapa lama mamipun sampai dirumah sakit begitu bertemu ny.kumala mami bahagia sekali mereka tidak menyangka cara pertemuan mereka seperti ini


" Loh, jeng Kumala ?"


" iya jeng saya sudah tau kalau nak Riki ini anak jeng Rina "


" ya ampun kok gak bilang sama mami kalau ada jeng Kumala "


" mami gak nanyak "


" sayang, kamu tau gak jeng Kumala ini sahabat mami dekat sekali , beliau punya putri nama nya Katrine dan Wiwi cantik sekali"


" Iya mi , Riki udah tau "


" ahh... bagus dong jadi mami gak susah susah lagi buat kenalin kalian "


" mi Riki lagi di timpa musibah masa mami masih ada pikiran buat kenalin Riki ke perempuan lain "


" kalau soal Wiwi yang kamu tabrak masalahnya sudah selesai biar Tante aja yang lanjutin pengobatan nya lagian Wiwi juga gak parah cuma lecet aja "


" makasih Tante kalau begitu , Riki pulang ya mi "


" loh kok pulang mami kan baru sampai masa kamu pulang "


" Riki capek ma ada urusan sebentar "


" Riki duduk dulu mami sama Tante Kumala berencana ingin menjodohkan putrinya Katrine yang cantik sama kamu sayang kira kira Riki bersedia nak ?"


" mi, berapa kali lagi sih kami terus terusan jodoh jodohin aku, aku udah bilang mi aku gak mau aku bukan anak kecil lagi, aku duda sudah punya tanggung jawab, Riki minta stop menjodohkan Riki sama siapapun Riki gak mau "


Riki benar benar marah kali ini, ia benar benar tidak menerima perjodohan yang ibu nya lakukan , ia pergi meninggalkan rumah sakit begitu saja , sbelum ia pergi ia tidak lupa dengan tanggung jawab nya karena sudah membuat Wiwi luka ia masuk kedalam ruangan Wiwi meminta nomor rekening Wiwi dan mengirim sejumlah uang untuk pengobatan ny sampai sembuh.


" Lu masuk bisa ketuk pintu dulu kan "


" maaf, saya buru buru, karena dokter sudah menyatakan kamu baik baik saja, jadi gak ada yang perlu di khawatir kan lagi, saya mau pamit masih banyak urusan yang blm saya selesaikan, saya minta nomor rekening kamu bisa ?"


Wiwi menatap Riki dengan ragu dan tetap memberikan nomor rekening nya pada pria itu.


" Sudah saya sudah transfer coba kamu cek "


" sudah , sudah masuk makasih ini terlalu banyak menurut aku "


" simpan saja atau pakai buat beli skincare kamu "


" kamu ngejek ya "

__ADS_1


" gak saya gak ngejek"


" kamu sengaja ngejek aku karena wajah aku jerawatan gini "


" bukan aku yang bilang , kamu sendiri yang sadar diri , maaf saya permisi "


Rikipun keluar dari ruangan dan melewati ibu dan sahabatnya yang berdiri di depan ruangan begitu saja .


" Maaf ya jeng, anak saya memang begitu "


" iya gak papa jeng "


Katrine menarik tangan ibunya menjauh dari mami Rina


" Ma, apa apaan sih kenapa sih mama terusss jodoh jodohin aku , aku udah bilang aku gak perlu di jodoh jodohin nanti juga jodoh aku bakal datang sendiri"


" kapan ? kapan jodoh kamu datang kalau bukan kami cari apasalah nya sih lagian yang jodoh kan juga ganteng kerjaan bagus masa depan kamu cerah nantinya "


" ma, aku gak perlu mau dia ganteng mau masa depan cerah aku gak butuh uang ma "


" haa... sudahlah susah bicara sama kamu intinya nurut apa kata mama "


Keegoisan ibunya yang terus menerus memaksanya untuk menikah membuat Katrine Merasa tertekan ia lebih suka berada di luar bekerja seharian dari pada harus bertemu ibunya yang terus memberondongnya dengan pertanyaan harus menikah .


Kedua nya saling menolak perjodohan ini, Riki dengan kesal kembali kerumah nya .


Ia benar benar tak nyaman tinggal dirumah ia berencana untuk sementara waktu tinggal di apartemen nya sebelum masalah perjodohan ini selesai, setelah selesai membereskan pakaiannya ia tidak sengaj bertemu kakaknya di ruang tengah.


" Mau kemana dek ?"


" kak, * menunduk , (menghela nafas) Riki mau tidur apartemen dulu "


" kenapa ? kok tumben "


" bukan karena perjodohan kan ?"


Riki terdiam ia memalingkan wajahnya , kakak mendekati nya dan berkata " kakak tau apa yang kamu rasakan, kalau memang tidak bisa menerima orang baru kerja orang yang menurut kamu pantas menemani kamu di hari tua nanti "


"(menelan ludah ) Riki gak tau mau ngomong apa kak , yang jelas Riki gak bisa menerima terus menerus di jodohkan sama mami, mungkin mami bosan Riki ada disini "


" (menepuk pundak adiknya ) dek, gak ada orangtua yang bosan melihat anaknya , mungkin mami kasihan lihat kamu "


" gak ada yang perlu di kasihani kak dari aku kak , aku udah tau mana yang baik mana yang buruk jangan di paksa seperti ini "


Tiba tiba mami ikut menyambar pembicaraan keduanya


" Mami tidak maksa mami cuma gak mau kamu terus terusan berharap sama apa yang gak akan mungkin terjadi "


" maksud mami ?"


" kamu masih berharap kan sama gadis , berharap bisa membina rumah tangga kembali sama dia , dengar Riki sampai kapan pun mami gak akan setuju "


" mami "


kakak menahan tangan mami


Riki menahan air matanya sambil mengetup mulutnya .


" ya udahlah mi, Riki pamit "


" mau kemana kamu "


" Riki mau ke apartemen Riki mau nenangin diri disana "

__ADS_1


Mami menangis beliau benar benar merasa bersalah atas ucapan yang sudah beliau ucapkan .


" mami tenangkan diri mami "


" mami gak tau lagi mau ngomong apa adik kamu memang keras kepala "


" mami , gak sepenuhnya kesalahan ada sama Riki, mungkin dia butuh ruang untuk menenangkan dirinya kita harus mengerti "


" mami lakukan ini demi dia Erika "


" erika.tau mi, gak semua yang menurut kita benar , benar di mata orang lain mi , menurut Erika biar saja Riki menentukan jalan hidupnya kita orang asing hanya perlu mendoakan yang terbaik untuk dia "


"jadi kamu setuju dia rujuk dengan gadis ?"


" apasalahnya mi, lagipula gadis itu wanita yang baik dia sudah pernah jadi bagian keluarga kita kan "


" Tapi mami gak mau disalahin terus sama mertuanya "


" ayolah mi, kita doakan aja semoga mertuanya mendapat hidayah biar gadis dan mami gak di salahin terus kan , lagian kasihan cucu mami Adam sama Ainun harus jauh dari papa mereka , apa mami gak kasihan ?"


" kasihan sih, jujur mami sayang sama mereka tapi mami gak mau kalau mertua gadis itu datang kesini maki maki kita "


" mungkin dia akan datang apalagi dia baru tau, tapi Erika nyakin seiring waktu dia akan baik kok mi "


mami melihat ke Erika dengan jauh lebih tenang .


" ya sudah, apapun keputusan Riki mami percaya sama dia "


" nah gitu dong mi"


keduanya saling berpelukan .


" coba mami telpn Riki kasih tau dia kalau mami akan dukung apapun keputusan nya "


" sekarang ?"


" yaa... sekarang dong mi "


" ya udah sebentar "


* di apartemen Riki yang sedang menikmati secangkir kopi dan pemandangan indah di malam hari terganggu dengan bunyi handphone nya yang terus menerus berdering


" ada apa mami telpon aku "


Dua kali panggilan masuk di abaikan olehnya , panggilan ketiga di angkat nya


" hallo mi "


" hallo nak, mami kenapa telpn mami gak di angkat Riki marah sama mami ? maafin ya nak mami janji gak akan larang kamu lagi mau menentukan keputusan apapun mami akan dukung , kalaupun Riki memilih rujuk dengan gadis mami restui nak "


Riki tersenyum ia bahagia sekali mendengar perkataan ibunya


" makasih mi ini yang Riki mau trimakasih mi"


" sama sama nak, jangan lama lama tinggal di apartemen ya besok kamu pulang lagi "


" insyaallah mi "


" ya sudah selamat malam sayang "


" malam mi "


Riki loncat kegirangan karena mendapat lampu hijau dari ibunya

__ADS_1


" yeesss"


__ADS_2