
Begitu ia pergi aku memilih masuk kedalam kamar menghindari pertanyaan demi pertanyaan umi
"ya Tuhan apa yang terjadi dengan rumah tangga putriku? aku merasa dia seperti menyimpan beban berat " ucap umi di dalam hati .
Pagi harinya
umi dan Abi berpamitan untuk pulang ke desa sebab melihat kondisi kesehatan ku pun sudah berangsur angsur membaik.
"Abi sama umi pamit ya nak jaga diri mu baik baik "
"iya Abi trimakasih "
Seketika.air mataku mengalir di pelukan kedua orangtuaku sekuat tenaga aku mencoba menutupi apa yang sedang aku rasakan tapi aku hanya manusia biasa akan hancur sehancur nya ketika sakit dan lemah .
"jangan menangis nak , gadis baik baik aja kan nak"
"gadis baik baik aja umi Abi"
"umi sama Abi pulang ya nak"
tak bisa menjawab lagi aku hanya menggangukkan kepalaku
__ADS_1
umi dan abipun pergi menaiki mobil pribadi bang Riki untuk pulang kedesa
"bi umi merasa gadis sedang memikul beban yang sangat berat umi khawatir bi"
"Abi juga merasakan hal itu umi tapi semoga saja tidak terjadi apa yang kita takuti ini"
"semoga aja bi cuma perasaan umi aja "
Malam ini , kami hanya berdua menjaga putra dan putri kami.
bang Riki terus memandangi aku saat aku menyusui kedua anak ku
"maaf kan Abang dek"
"maafkan Abang sudah menyia nyiakan adek dan menyakiti adek "
aku tersenyum mendengar pernyataan bang Riki, ada rasa bahagia di dalam hatiku Allah maha membolak balikkan hati hambanya, tapi apa gunanya bang Riki sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan akan ketuk palu setelah aku lepas melahirkan.
" aku sudah melahirkan bang, dan gugatan Abang akan sah di pengalidan dan sudah sah d mata agama dan Negara"
bang Riki tiba tiba bersujud di kaki ku lalu berkata " maaf kan aku dek, jikalau aku bisa memutar waktu itu semua tak akan pernah terjadi"
__ADS_1
"nasi sudah jadi bubur bang, aku harus trima kenyataan pahit ini begitu juga kedua anak ini harus siap aku besarkan tanpa seorang ayah"
"maaf kan Abang dek"
kata kata maaf yang terus terlontar dari mulutnya menyesali apa yang terlah terjadi.
"jauh jauh hari sudah gadis maafkan bang, mungkin jodoh kita cuma sampai disini bagaimana pun juga Abang adalah ayah dari anak anak ku tak ada rasa benci di dalam hati dan diriku bang untuk Abang aku ikhlas bang menerima kenyataan ini, Abang jaga diri Abang baik baik "
tak kuasa menahan tangis penyesalan nya ia berlari berdiri membelakangi aku
lalu berkata kembali
" Rujuklah dengan Abang dek"
"maaf bang itu cuma mimpi bang , kita gak akan pernah bisa bersatu lagi kecuali gadis harus menikah lagi dengan lelaki lain dan menjandakan gadis lagi baru bisa Abang nikahi kembali"
ia menelan ludah nya bulat bulat , minim nya pengetahuan bang Riki mengenai agama membuat ia merasa enteng untuk mengucapkan ikrar cerai .
ia keluar dari kamar begitu mendengar penjelasan ku yang ternyata mami sudah berdiri di depan pintu kamar mendengar pembicaraan kami
"sudah terlambat nak , engkau tega membuang berlian demi mendapatkan timah, ini keputusan yang menurutmu benar silakan melewatinya"
__ADS_1
Kabar persalinan ku terdengar ke pengadilan pagi nya surat undangan persidangan datang kerumah .