
Semua keluarga begitu senang mendapat kabar kehamilan gadis namun di tengah tengah kebahagiaan terjadi hal yang tidak di inginkan, Adam di larikan kerumah sakit karena demam tinggi.
Dokter menyarankan agar secepat mungkin Adam mendapat pendonor darah karena hasil laboratorium menyatakan Adam terkena anemia berat.
"astaghfirullah, apa yang harus saya lakukan dok "
"segera mungkin cari pendonor darah aB+ Bu untuk Adam "
"ambil darah saya saja dok" ucap anhar
"baik sebaiknya bapak segera ke PMI ya pak untuk di cek golongan darahnya "
"trimaksih dok"
Anhar bergegas ke PMI di sebelah rumah sakit
dan tak berapa lama ia kembali dengan wajah sedih
"kenapa sayang ?"
"golongan darah aku gak cocok sama Adam "
"aku gak ada gunanya " sambungnya sambil beberapa kali memukul tembok
"sayang.. bagaimana kalau aku aja donor ya ?"
"sayang kan lagi hamil gak di rekomendasikan donor untuk ibu hamil"
"jadi kita harus gimana sementara Adam secepatnya dapat pendonor "
"sebentar aku pergi dulu ya sayang" ucap anhar pergi begitu saja meninggalkan rumah sakit saat itu juga, ternyata ia bergegas kerumah Riki, ia mengira Riki masih tinggal di rumahnya sesampainya dirumahnya ia di sambut asisten rumah tangga.
"siang mbak "
"siang pak"
"ada Riki ?"
"mohon maaf pak Riki sudah tinggal di luar negeri pak"
"luar negeri gimana mbak?"
"semenjak mantan istrinya menikah lagi pak Riki sudah tinggal di luar negeri pak"
"ya ampun sampai sepatah hati itu di tinggal nikah sama istriku " kata anhar di dalam hatinya
"boleh saya minta nomor telepon.nya ? Adam lagi dirumah sakit butuh darah jalan satu-satunya untuk menolong Adam ya ayahnya "
mendengar perjelas an anhar segera berlari kedalam untuk memanggil nyonya nya.
kemudian nyonya pun keluar
"ada apa ?"
__ADS_1
"mohon maaf Bu saya mengganggu waktunya saya kesini mencari Riki tapi yang saya dengar Riki sudah tidak tinggal di sini lagi, apa boleh saya minta nomor telepon nya Adam sedang di rawat di rumah sakit membutuhkan darah secepat nya jalan satu satunya pertolongan dari ayahnya sendiri Bu"
"astaghfirullah ya sebentar saya hubungi anak saya ya "
"Tut Tut Tut"
"good afternoon mom"
"hallo sayang, Adam "
"Adam kenapa.mi ?"
"Adam masuk rumah sakit dan butuh donor darah "
"ya tuhan.. sakit apa Adam mi?"
"mami kurang tau yang jelas Adam butuh darah dan pertolongan kamu sayang"
"ok ok Bu nanti malam saya sampai di Indonesia"
"iya sayang mami juga langsung ke rumah sakit aja "
"ok mi" memutuskan panggilan telpon
" Saya segera kerumah sakit, sampai kan pada istrimu sabar ya "
"trimakasih Bu , kalau begitu saya pamit pulang dulu Bu soalnya istri dan anak saya tinggal di rumah sakit "
"iya nak anhar "
Malam harinya
benar saja, Riki sudah sampai di bandara Indonesia ia segera mungkin menuju rumah sakit untuk memastikan kondisi anaknya
" saya sudah di depan rumah sakit " ucapnya melalui telpon
tak perlu menunggu lama anhar muncul dari dalam rumah sakit untuk menjemputnya di depan rumah sakit
"sudah lama nunggu bro ?"
"gak kok baru aja aku disini"
"kalau gitu ayo kita ke kamar Adam "
"silahkan "
Tampaknya ia jauh lebih santai dan tenang, wajahnya juga sudah jauh berubah, mungkin Riki berhasil untuk move on .
Sesampainya di depan kamar Adam, Riki menghampiri ibundanya yang masih setia menunggu kedatangan putranya
"good night mom"
"night sayang, mami senang kamu pulang"
__ADS_1
"iya mi, apapun akan Riki lakukan demi anak anak "
"bagus, papip bangga sama kamu"
ucap papip menepuk pundak Riki
"Mana Adam ?"
kata Riki pada gadis yang berdiri di sebelah ibundanya
"didalam bang"
"maaf, boleh minggir sedikit saya mau lewat" ucap Riki
Gadispun mempersilahkan Riki untuk masuk kedlam kamar melihat kondisi anaknya .
Riki terdiam begitu melihat Riki yang blm sadarkan diri
"putra ku Adam " ucap nya sambil mencium tangan kecil malaikat nya
"maafkan papa, maafkan papa nak"
"sayang, sebaiknya kamu segera ke ruang donor darah biar Adam dapat darah ya sayang"
"baiklah mi"
Riki bergegas menuju ruang donor darah, meskipun harus menunggu setelah berhasil transfusi beberapa jam kemudian bisa melakukan transfusi ke Adam.
Di luar ruangan Adam selesai transfusi, Riki gadis dan suami berdiri di depan kamar dimana Adam di rawat
" trimakasih bang sudah jauh jauh terbang dari US untuk Adam aku gak bisa berkata apa apa lagi"
"sama sama, itu udah kewajiban aku juga kan orangtua dia"
"trimakasih ya bro udah berbesar hati buat datang "
"sama sama bro udah santai aja kalau ada apa apa sama anak anak aku kabari aku secepatnya bro jangan sampai kayak gini, yang bikin saya gak habis pikir kenapa bisa Adam sampai parah gitu ? apa kamu udah gak bisa jagain Adam sama Ainun ? atau karena kamu sudah menikah dan sebentar lagi akan jadi ibu dari anak suami kamu sampai kamu terlantarkan anak anak ku ?"
"bro.. gadis gak pernah terlantarkan anak anak kalian "
"maaf, saya bertanya sama gadis selaku ibu dari anak anak ku bukan dengan mu saya ingin mendengar secara langsung apa alasan dia "
"tapi bro " gadis meremas tangan suaminya memintanya diam .
"maaf bang bukannya aku gak mampu mengurus anak anak, dan ini juga gak ada kaitannya soal kehamilan aku, aku mengaku salah aku lalai tapi kedepannya aku janji akan lebih fokus mengurus anak anak"
"begitulah sifat orang bukan nya sblm kejadian di hindari tapi nunggu kejadian dulu baru di hindari haduuuh , saya sudah hafal betul kalau perempuan sudah menikah lagi waktu kasih sayang untuk anak anak nya pasti akan berkurang karena ada waktu baru untuk suami dan anak nya nanti, ini harus jadi pertimbangan ku kedepannya bisa jadi Ainun dan Adam akan aku tarik hak asuhnya "
"aku mohon jangan bang "
"kamu udah jelas jelas gak mampu "
"aku mampu bang "
__ADS_1
"sudahlah, urus saja rumah tangga mu Yang baru urusan anak anak itu menjadi tanggung jawab ku "
ucap nya lalu pergi .