DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Jawaban Teka-teki Bagian Kedua


__ADS_3

Hazal keluar dari Gedung Kejaksaan dengan kepala yang pening. Hampir satu hari ini, ia hanya memikirkan teka-teki Ted Baxter.


Kenapa Ted Baxter tidak langsung mengatakan nama penjahat itu, kenapa dia harus susah payah memberiku teka-teki seperti ini?


Sebuah bunyi klakson dari mobil yang ada di belakangnya, membuyarkan lamunan Hazal. Mobil tersebut membunyikan klaksonnya kembali untuk yang kedua kalinya, Hazal segera menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Hazal langsung berjalan menuju dapur. Ia mencari istri Ted Baxter, ternyata wanita itu sedang mencuci beberapa alat masak. Hazal memberikan amplop yang berisi sepucuk surat dari Ted Baxter dan selembar foto kepada Nuran.


"Apa ini, Nona?" tanya Nuran setelah ia mengeringkan telapak tangannya dan mengambil amplop dan foto itu dari tangan Hazal.


"Ini dari almarhum suamimu, dia menulis surat ini ketika ia masih di dalam penjara. Dia menitipkan surat ini pada salah satu temannya yang ada di penjara," kata Hazal ketika memberikan dua benda peninggalan Ted Baxter kepada Nuran.


Nuran melihat foto dirinya dan Ali ketika anaknya itu masih berumur 5 tahun. Wanita itu terus memandang lekat foto tersebut. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.


"Apa kau masih membencinya?" tanya Hazal pelan sambil menyentuh salah satu pundak Nuran.


Wanita itu kemudian menangis sesenggukan di pelukan Hazal. Ia tak berkata apa-apa. Hanya terdengar suara tangisannya dan tubuhnya yang gemetar.


Hazal mengusap punggung Nuran sambil berkata, "Besok setelah proses otopsi selesai, polisi akan memakamkan jenazah almarhum suamimu. Jika kau ingin menghadiri pemakamannya, aku bisa mengantarmu."


"Se-seharusnya Nona... lebih membencinya da...daripada a-aku, karena Ted... Nona ke-kehilangan orang tua kandung Nona," isak tangis Nuran yang masih dalam pelukan Hazal.


Hazal melepaskan pelukannya, memegang kedua pundak Nuran dan memandang wajah wanita yang berusia 40 tahunan itu, "Kau, aku dan almarhum suamimu, adalah korban dari kejahatan orang itu. Orang yang menjadi dalang dari pembunuhan orang tuaku."


"Almarhum suamimu tidak akan menjadi pembunuh bayaran, jika tidak bertemu dengan orang jahat itu. Kau dan Ali... tidak akan menderita seperti ini!" seru Hazal sambil berjalan membelakangi Nuran.


Nuran memainkan jari jemari tangannya, apa yang dikatakan putri angkat majikannya ini memang benar. Seandainya waktu bisa berputar kembali.


"Kau sangat baik, Nona Hazal. Semoga Nona bisa menemukan orang jahat itu dan menghukum nya," dukung Nuran.


"Aku pasti akan menemukannya, Nuran. Pasti...! Hari pembalasan itu pasti akan terjadi!" seru Hazal dengan penuh keyakinan, sambil melingkarkan tangannya di pundak Nuran. Tetapi manik matanya menatap tajam ke arah pisau dapur yang tergantung di rak piring.


Di saat kedua wanita ini saling berpelukan di dapur, kehadiran Yafet mengejutkan mereka.


"Hazal..., ternyata kau di sini! Sejak dari tadi aku menunggumu di Bandara!" seru Yafet yang segera menarik tangan Hazal menjauhi Nuran. Pria itu membawa Hazal berjalan memasuki lorong koridor rumahnya di lantai bawah.


"Oh... astaga! Aku lupa, kalau hari ini Carina dan yang lainnya pulang kembali ke negara mereka!" Hazal memukul keningnya sendiri, merutuki memori pikirannya yang mulai berjalan lambat.

__ADS_1


"Setelah dari Kantor Polisi, kau kemana?" tanya Yafet dengan wajah seriusnya, seolah-olah ingin menginterogasi Hazal. Tetapi tatapan mata elang itu tidak bisa menipu, bahwa ia tidak bisa memarahi Hazal.


Hazal melihat sekelilingnya, tidak ada siapapun di sekitarnya. Ia kemudian menggandeng tangan Yafet, mengajak pria itu ke kolam renang, yang ada di belakang rumah mereka. Kedua insan ini duduk di salah satu kursi kayu yang panjang, yang biasanya di gunakan untuk berjemur.


"Aku ingin bicara denganmu," kata Hazal dengan suara berbisik.


"Ada apa? Apa ada hal yang serius?" Yafet terlihat penasaran dengan sikap Hazal. Mereka saling duduk bersebelahan.


Hazal menunjukkan dua gambar burung phoenix yang di buat oleh Ted Baxter kepada Yafet. Pria itu mengernyitkan dahinya.


"Ted Baxter yang membuatnya. Ia menggambar ini sebelum ia terbunuh." Hazal menunjukkan satu gambar yang sudah selesai dengan sempurna.


"Sedangkan yang ini, Ted Baxter menggambarnya sewaktu Ismail sedang menginterogasinya." Hazal menunjukkan gambar yang lain, yang masih belum selesai.


"Ismail? Sejak kapan kau akrab dengan Kapten Polisi itu? " tanya Yafet yang mulai tidak fokus dengan penjelasan Hazal. Ia merasakan sinyal buruk melihat cara Hazal memanggil kapten polisi tersebut.


"Sejak tadi siang, aku bersamanya," jawab Hazal spontan.


"Oh... aku mengerti sekarang. Kenapa kau melupakan jadwal mu ke Bandara, karena kau sedang bersama Kapten Polisi itu!" sindir Yafet.


Hazal mendengus kesal, "Bukan itu yang ingin aku bicarakan!"


Hazal memiringkan tubuhnya, membuatnya bisa dengan jelas menatap wajah Yafet. "Kau ingat, kemarin kita bertemu di taman? Setelah acara pernikahan mu."


Yafet hanya menjawabnya dengan gumaman.


"Setelah aku pulang dari taman, di tengah jalan Ted Baxter menghubungiku. Dia memberitahuku bahwa dia ingin bertemu denganku sebelum ia masuk ke ruang sidang. Dia ingin mengatakan siapa yang telah menyuruhnya," jelas Hazal sambil menatap mata elang itu.


"Lalu...?" Yafet tambah penasaran, pria itu terlihat semangat mendengarkan cerita Hazal.


"Lalu pagi ini Ted sudah menjadi mayat. Tetapi dia tidak melupakan janjinya padaku. Dia telah menyiapkan semuanya, sebelum dia terbunuh, dia sudah memberikan petunjuk melalui gambar burung ini," ucap Hazal sambil memainkan ujung kertas.


"Apa maksudmu gambar ini ada artinya?" tanya Yafet sambil mengambil kembali kertas itu dari tangan Hazal.


"Ya... menurut ku seperti itu. Ted menitipkan gambar ini ke salah satu temannya di penjara. Aku sudah menanyakan Ismail tentang burung ini, tetapi dia juga tidak mengerti." Hazal meletakkan kedua tangannya ke belakang menyentuh kursi panjang yang menahan tubuhnya.


"Menurut mu? Apa ini tentang lambang seseorang atau sekelompok orang atau apa?" tanya Yafet sambil menaikkan salah satu kakinya di kaki yang lain.

__ADS_1


"Yang aku tahu, gambar ini adalah sesuatu yang berkuasa di negara kita. Entah orang atau sesuatu yang lain....."


"Atau perusahaan?" Yafet memotong penjelasan Hazal.


Hazal mengernyitkan dahinya, "Perusahaan? Perusahaan yang sangat besar dan berpengaruh di negara kita?"


Yafet hanya mengangkat kedua bahunya, "Mungkin, itu hanya tebakanku."


"Apa kau mempunyai kenalan atau daftar perusahaan yang menggunakan lambang burung?" Hazal mendekatkan dirinya ke tubuh Yafet, saat pria itu mengambil ponselnya dari saku celananya.


Yafet mencari nomor sekretarisnya pada layar ponselnya, tetapi dengan cepat Hazal mengambil ponsel pria itu. Membuat pria itu mengernyitkan dahinya ke arah Hazal.


"Aku tidak ingin orang luar mengetahui masalah ini!" seru Hazal yang masih menggenggam ponsel pria itu.


"Aku pikir kau...." Yafet tidak melanjutkan ucapannya. Laki-laki itu hanya tertawa dan tersenyum memandang langit yang sudah gelap sejak tadi.


"Pikiranmu terlalu jauh," ucap Hazal dengan tawa kecilnya sambil mengusap rambut hitam Yafet dan mengembalikan ponsel pria itu.


Membuat Yafet memegang tangan wanita itu dan mereka saling memandang. Yafet memasukkan beberapa anak rambut di belakang telinga Hazal. Pemandangan bak sepasang kekasih itu disaksikan oleh Selina yang sejak tadi berdiri di atas balkon memperhatikan dua anak Aksal itu.


Yafet berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati kolam renang. Air biru itu seakan bersinar memantulkan cahaya rembulan. Ia melihat sosok bayangan seseorang yang berdiri di atas.


Selina...!


Mata elang itu menatap tajam ke arah Selina. Istrinya itu hanya tersenyum sinis melihat wajah suaminya, yang sejak kemarin belum di lihatnya. Wanita Inggris itu segera membalikkan badannya, masuk kembali ke dalam rumah.


Sebelum Hazal menyadari keberadaan Selina, Yafet segera menarik tangan Hazal. Mengajak wanita itu untuk pergi di samping bangunan rumahnya. Di tempat ini, tidak ada orang lain yang bisa melihat mereka dari atas.


"Ada apa?" tanya Hazal tiba-tiba. "Kenapa kau membawa ku ke sini?"


"Aku tahu..., dimana kita bisa mencari siapa musuh orang tuamu!" seru Yafet. "Penjahat yang telah merencanakan ini semua, pasti adalah musuh orang tuamu!"


"Dimana kita bisa mencarinya?" tanya Hazal yang sudah tidak sabar mendengar jawaban Yafet.


"WATERSIDE MANSION DANNER," jawab Yafet dengan wajahnya yang penuh keyakinan. "Aku yakin, pasti semua rahasia orang tuamu ada di sana!" Mata elang itu memancarkan sesuatu yang berkilat.


❤️ Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian. Terimakasih 🤗😊


__ADS_2