DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Suara Barito


__ADS_3

Hari ujian telah tiba, Hazal sudah bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah. Tiba-tiba ponsel nya bergetar, ada telepon dari Yafet.


"Hai....kau sudah bangun?"


"Iya, aku mau berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama ujian sekolahku. Bukan kah di New York sudah hampir tengah malam?"


"Ya...aku masih sibuk untuk mempersiapkan ujian akhir ku besok."


"Kau rajin juga ternyata 🤭🤣."


"Baru tau? hahahahha. Aku tidak ingin jadi mahasiswa abadi di sini."


"Jangan lupa traktir aku ya jika nilai mu bagus."


"Oke...semoga ujian mu berjalan dengan baik. Aku tidak sabar menunggu mu di sini. Jangan sampai kau baru lulus tahun depan."


"Jika aku lulus tahun depan, apakah kau akan menungguku?"


"Mungkin aku akan segera melamar mu."


"Dasar kau !! Jika kau ada di sini, aku akan melemparkan wajahmu dengan bantal ini. Aku gak mau menikah muda."


"Hahahahhahaha....." Yafet tertawa terbahak-bahak.


"Kau juga....ujian mu harus bagus, jangan sampai aku melihat mu menjadi angkatan paling tua di kampus nanti. Aku sudah sampai di sekolah. Bye."


"Bye."


****


Ujian sekolah hari ini sedang berlangsung, pengawas ujian sedang membagikan kertas-kertas soal ujian dan lembar jawaban.


Hazal memulai mengerjakan soal ujian nya. Satu persatu mulai dari soal nomor 1 sampai dengan nomor 50 sudah ia selesaikan semua. Sementara waktu ujian masih berlangsung, gadis itu tampak termenung memikirkan Yafet


"Semoga ujian akhirnya hari ini bisa berakhir dengan baik."


Bel sekolah berbunyi tanda waktu ujian telah berakhir, Hazal berdiri dan menyerahkan lembar jawaban ujian kepada pengawas dan dia berpapasan dengan Ozcan. Mereka berdua membicarakan soal ujian hari ini sambil berjalan menuju ke parkir mobil.


"Hai....Hazal."


"Oh hai.... Ozcan."


"Bagaimana ujian hari ini? Aku lihat kau mengerjakan nya dengan cepat."


"Wah....kau sampai memperhatikan ku seperti itu. Ya...menurut ku ujian hari ini tidak terlalu susah."


"Kau pasti mendapat nilai yang bagus nanti."


"Ya.... semoga. Kuharap kau juga."


"Hazal, setelah lulus kau akan kuliah di mana?"


"Aku akan mendaftar di Columbia University, New York. Tapi aku masih menunggu tes ujian masuk dulu."


"New York ya?" Terlintas dalam pikiran Ozcan, bukankah Yafet sekarang ada di sana. Ozcan menghembuskan nafasnya perlahan, dan berkata dalam dirinya sendiri


"Wajar jika Hazal akan kuliah di New York, karena kakaknya ada di sana. Tapi itu artinya....aku akan berpisah dengan Hazal.


"Kalau kau, Ozcan? Kau akan kuliah dimana?"


"Aku akan kuliah di Istanbul."


"Semoga kita bisa lulus ujian akhir ya, Ozcan."


"Ya...Hazal."


Setelah sampai di halaman parkir sekolah, mereka pun berpisah.


*****

__ADS_1


Setelah tiga hari menjalani ujian akhir sekolah, hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah bagi Hazal. Mata pelajaran yang cukup sulit buat Hazal, semalam dia belajar cukup serius, dan menolak panggilan telepon Yafet dan pesan pribadi dari kakak angkatnya itu. Karena dia tidak ingin konsentrasi nya terganggu.


Dengan teliti Hazal membaca soal satu per satu. Ada sekitar lima soal yang dia ragu jawabannya. Dia menggoyang-goyangkan kaki nya ke meja ujiannya mencoba untuk berpikir. Tetapi karena tingkah laku nya itu mengakibatkan dia di tegur oleh pengawas ujian, karena di nilai mengganggu jalan nya ujian. Hazal pun menutupi wajahnya karena malu.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, waktu ujian berakhir. Pengawas ujian mengambil lembar jawaban di meja masing-masing siswa. Ketika hendak melangkahkan kaki nya keluar kelas, tiba-tiba ponsel Hazal bergetar. Ozcan mengirim pesan singkat ke ponsel Hazal.


"Nanti sore kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu keluar."


"Ya...katakan di mana tempatnya? Nanti kita akan bertemu di sana."


"Nanti jam 5 sore aku akan menjemputmu di rumah."


"Oke....aku tunggu."


Ozcan tersenyum melihat pesan terakhir dari Hazal. Ini adalah kencan pertamanya dengan Hazal. Belum bisa di bilang kencan karena Ozcan belum menyatakan perasaan nya kepada gadis muda itu.


Sejak tiga hari yang lalu, ketika di dengarnya bahwa Hazal akan kuliah di New York, Ozcan memutuskan bahwa ia harus menyatakan perasaan nya kepada Hazal sebelum gadis itu pergi. Tapi dia perlu keberanian ekstra, bahkan untuk mengajak Hazal keluar pun, Ozcan hanya berani mengajaknya melalui pesan singkat di ponsel nya. Pemuda itu tidak punya keberanian untuk mengajak Hazal secara langsung.


******


Sore ini Hazal sedang bersiap-siap di kamarnya, dia sedang mencari baju yang sesuai untuk keluar bersama Ozcan. Teman nya itu tidak mengatakan bahwa mereka akan pergi ke mana. Hanya mengajak nya keluar.


"Apa yang harus aku pakai? Celana panjang, celana pendek, rok pendek atau rok terusan?"


Cukup lama dirinya memilih baju yang akan dia pakai. Sudah beberapa pasang baju yang ia keluarkan dari dalam lemarinya. Kemudian akhirnya Hazal memutuskan untuk memakai atasan berwarna putih dengan leher berbentuk sabrina dan rok pendek di atas lutut dengan motif polkadot. Dia menyisir rambutnya yang halus berwarna coklat dan memberinya hiasan jepit mutiara di sebelah kanan kepalanya.


Setelah bersiap-siap, Hazal turun ke lantai bawah, bunyi hentakan sepatu hak tinggi nya tuk......tuk.....tuk..... membuat wajah ibunya yang dari tadi sibuk memotong buah di meja makan mencari sumber bunyi tersebut.


Tampak Hazal turun menapaki anak tangga satu per satu. Ibu angkatnya melihat gadis itu dengan perasaan kagum dan heran.


"Kau hendak kemana, Hazal ?"


"Ozcan, teman sekolah ku mengajak aku keluar sore ini, Bu. Kami ingin refreshing sebentar setelah menghadapi ujian terakhir hari ini."


"Baiklah sayang, bersenang-senang lah. Jangan pulang terlalu malam."


"Baiklah, Bu."


Seorang pelayan membuka pintu rumah itu, dan mempersilahkan Ozcan untuk masuk ke dalam rumah.


Ozcan melangkahkan kaki nya dan di sambut oleh Nyonya rumah itu,


"Halo, bibi." sapa Ozcan dengan senyuman ramahnya kepada Meral.


"Halo, nak. Kau pasti teman sekolahnya Hazal ya?"


"Betul, bibi. Perkenalkan nama saya Ozcan." ucap Ozcan dengan sopan dan mengulurkan tangan nya kepada Meral.


Meral membalas jabatan tangan Ozcan. Wanita paruh baya itu melihat wajah dan penampilan Ozcan, dan bergumam dengan dirinya sendiri...


"Dilihat dari wajah dan penampilan nya sepertinya dia adalah pemuda baik-baik. Baru kali ini Hazal pergi berdua dengan teman laki-laki nya."


Meral mempersilahkan Ozcan untuk duduk di ruang tamu, kemudian dia berjalan ke dalam hendak memanggil Hazal.


Lima menit kemudian Hazal sudah berada di ruang tamu, Ozcan tampak terpesona melihat penampilan Hazal saat ini.


"Hari ini kau sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik saat kau tidak mengenakan baju seragam sekolah."


Suara Hazal membuyarkan lamunan Ozcan. Segera pemuda itu tersadar, dan mereka berdua berpamitan kepada Meral.


********


Setelah berjalan-jalan mengitari salah satu mall terbesar di Istanbul, Hazal dan Ozcan berada di sebuah kafe dengan suasana outdoor yang memperlihatkan suasana matahari hampir terbenam.


Di kafe itu, Hazal dan Ozcan bertemu dengan teman-teman nya yang lain dan mereka saling berfoto selfie, Hazal meminta salah satu temannya untuk memotret dirinya dengan menggunakan kamera ponsel milik temannya.



Gadis itu terlihat sangat cantik dengan balutan busananya. Kemudian dia mengirimkan foto tersebut ke ponsel Yafet, dan mengirim pesan pribadi kepadanya

__ADS_1


"Hai....bagaimana dengan ujian mu hari ini? Aku sedang menikmati hari bebas ku hari ini."


Tapi tidak ada jawaban dari ponsel Yafet. Hazal menunggu beberapa menit. Tetap tidak ada jawaban. Ternyata Yafet belum membuka ponsel nya. Kemudian Hazal memasukkan ponsel itu ke dalam tas nya.


Tampak beberapa anak sekolah ini sedang menikmati kegembiraan mereka selepas hari ujian yang menakutkan. Mereka menikmati aneka es krim dan kentang goreng yang mereka pesan.


Tak lama kemudian, Hazal melangkahkan kaki nya seorang diri menuju toilet wanita. Ketika hendak membuka pintu toilet tersebut, tanpa sengaja dia mendengar suara barito dari seorang pria dewasa yang akan masuk ke toilet pria. Pria itu sedang berbicara di ponsel dengan seseorang. Hazal masih mendengarkan suara pria itu.


"Sepertinya aku mengenal suara itu. Tapi di mana? Dan siapa dia?"


Hazal membalikkan badannya, dia ingin melihat wajah pria itu. Tapi pria yang memakai jaket hitam itu sudah masuk ke toilet pria, Hazal hanya melihat dari belakang tubuh pria itu. Pria dengan tinggi sekitar 180 cm, berperawakan tegap, dan tidak ada sehelai rambut pun di kepalanya.


Kemudian Hazal melangkah masuk ke toilet wanita, kepalanya masih terus berpikir suara siapa itu. Hazal memejamkan matanya, berusaha mengingat suara yang sama seperti milik suara pria itu.


Dalam pikiran dan telinga Hazal terngiang suara barito yang sama seperti milik pria di toilet itu. Pria itu mengatakan...


"... sebentar lagi aku akan mengirim kalian berdua ke neraka."


Seketika itu juga Hazal mengalami sakit kepala yang hebat, dia berteriak kesakitan dan memegang kepalanya. Orang-orang yang ada di dalam toilet itu mendekati Hazal dan menanyakan keadaannya.


"Kau tak apa-apa, nak? Wajahmu kelihatan pucat. Duduklah dulu." kata seorang wanita yang kira-kira umurnya hampir sama dengan ibu angkatnya.


Hazal membuka matanya, dan dilihat nya dirinya masih berada di dalam toilet, bukan di rumah sakit.


"Aku tak apa-apa, Bibi." ujar Hazal


"Apa kau sakit? Kau tadi berteriak kesakitan memegang kepala mu."


"Ya sedikit sakit. Tapi sekarang aku sudah agak baik kan. Terimakasih Bibi atas bantuan mu."


Hazal ingin segera keluar dari toilet, dia ingin segera mencari pria itu. Tapi keinginannya itu di tahan oleh wanita yang menolongnya. Wanita itu melihat Hazal masih berjalan dengan sempoyongan.


"Aku tidak apa-apa, Bibi. Aku ingin segera keluar dari sini."


Akhirnya wanita itu mengijinkan Hazal keluar dari dalam toilet wanita.


Gadis itu melangkahkan kaki nya, dia menunggu di depan pintu antara toilet pria dan toilet wanita. Kemudian di jumpai nya Ozcan keluar dari toilet pria. Hazal pun bertanya kepada temannya itu...


"Apakah di dalam ada seorang pria bertubuh tinggi besar dan berkepala botak?"


"Kurasa tidak ada....di dalam tadi hanya ada aku dan seorang anak kecil yang berusia sekitar sepuluh tahun."


"Ozcan, bisakah kau masuk lagi dan mencari pria yang aku maksud tadi?"


Dengan kebingungan, akhirnya Ozcan masuk kembali ke toilet pria. Dia dalam toilet pria, dia mencari pria yang di maksud oleh Hazal. Sekitar dua menit kemudian, Ozcan keluar.


"Tidak ada pria yang kau maksud, Hazal."


"Dimana pria itu, aku harus menemukan nya." kata Hazal dalam hati nya.


Hazal kemudian melangkahkan kaki nya keluar ke arah pembatas kaca yang ada di pinggir lantai. Dari situ dia bisa melihat pengunjung mall yang berlalu lalang yang ada di lantai bawahnya. Pandangan nya mencari sosok pria itu.


"Siapa dia, Hazal ? Apakah kau mengenalnya?" tanya Ozcan yang penasaran dengan tingkah laku Hazal saat ini.


"Dia.....dia....adalah saudara jauh ayahku." jawab Hazal yang berbohong kepada Ozcan.


"Bagaimana aku bisa bicara jujur pada Ozcan, jika pria itu kemungkinan adalah pembunuh orang tuaku." kata Hazal dalam hati.


Hazal terus mengamati pengunjung mall yang ada di lantai bawah. Tapi pria itu tidak ada di setiap lantai. Seperti hilang di telan bumi. Hazal menggertak kan giginya dan mengepalkan tangan nya sekuat yang dia mampu. Dia telah kehilangan jejak pria itu.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih kasih buat teman-teman yang sudah membaca tulisan novelku ini. Aku harap kalian menyukainya. Jangan lupa untuk kasih


🤗 Like


🤗 Rate


🤗 Komentar dan

__ADS_1


🤗 Vote kalian yah....


Nantikan kisah Hazal di episode selanjutnya. 🤗


__ADS_2